
Di sebuah tempat hiburan yang sangat ramai oleh pengunjung kelas atas, di mana tempat berkumpulnya para miliarder. Lucio Argiantara, pria tampan yang dikenal dengan dermawan dan lemah lembut kini mencoba menenangkan pikirannya yang kacau beberapa minggu belakangan ini. Sakit dan hancur ia rasakan.
Pengorban, cinta, dan kesetiaan yang dia berikan kepada Nayara kini telah pupus dikhianati. Rasa sakit itu masih saja bersarang di dalam dirinya, dia berusaha keras untuk melupakan mantan kekasihnya itu, namun tak jua terlupakan.
“Sampai kapan minuman ini akan menemaniku melupakanmu?” Lucio membatin, menatap sebuah gelas berisi minuman beralkohol itu, dia meneguknya perlahan-lahan.
Dia yang dahulu terlihat sangat rapih dan menunjukkan keceriaanya kini terlihat sangat kusut dan gusar, seperti cahaya kehidupannya telah meredup di dalam diri.
Lucio adalah pria yang diidamkan oleh para wanita, namun sangat disayangkan laki-laki itu tidak bisa membuka hatinya kembali untuk menerima orang baru setelah pengkhianatan Nayara padanya.
Bagaimana tidak, wanita yang dia anggap sebagai wanita satu-satunya yang dia cintai setelah ibunya pun menghancurkannya secara tiba-tiba, saat pulang dari memantau pembangunan proyek besar.
“Aku terlalu bodoh untuk percaya dengan omong kosongmu itu, Nay. Kau yang kuanggap sebagai pelangi kini memberikan badai di hidupku.” Lucio kembali meneguk segelas minuman keras yang ada di dalam genggaman tangannya.
Di bawah cahaya lampu remang-remang di dalam sebuah club malam, dia menenangkan pikirannya. Kembali ke Amerika hanya untuk melihat cintanya itu, namun yang dia dapatkan adalah sakit dan kekecewaan yang amatlah mendalam.
Lucio merasa sudah sedikit baikan dengan dibantu oleh minuman keras itu pun segera berdiri dan hendak meninggalkan club, dia ingin kembali ke apartemen penyewaannya di sini, sebelum kembali berangkat ke Negara Asal, di mana orang tuanya menetap.
Sebagai anak satu-satunya, dia harus tetap berusaha baik-baik saja demi membanggakan orang tuanya, dia akan kembali ke Negara Asal, saat kondisinya sudah benar-benar membaik agar orang tuanya tidak kecewa melihat kondisinya saat ini.
Pria itu berjalan menelusuri koridor club, saat keluar dari sana, dia langsung bergegas menuju parkiran VIP, di mana mobilnya dia parkirkan. Sebuah kendaraan bewarna hitam elegant, mobil sejuta kenangan yang dia lalui bersama Nayara.
Lucio masuk ke dalam mobil dan memakai sabuk pengamannya, dia menghidupkan mesin mobil, lalu menginjak pedal gas untuk segera meninggalkan parkiran.
Melintasi jalan raya yang sudah sangat sepi membuatnya mengenang kisah lalu, di mana mereka selalu menghabiskan hari-hari penuh warna, canda, tawa, yang mereka habiskan setiap waktu di akhir pekan, kini sudah tak ada canda dan tawa lagi.
Brak!
Lucio tersadar saat dia menabrak sesuatu di depannya, dia mengusap kasar wajahnya, bagaimana dia bisa tidak fokus saat mengendari mobil?
Pria itu segera keluar dari dalam mobilnya, dia melihat seorang wanita tengah mengendari sepeda motor terjatuh ke tepian jalan raya, dia melihat darah segar mengalir dari kening wanit itu ke permukaan pipinya. Lucio terkejut, dia segera mendekat ke arah wanita yang terjatuh itu.
“Nona, kau tidak apa-apa?” tanya Lucio khawatir, bagaimana tidak dia tak khawatir, sedangkan, dia menabraknya.
“Bagaimana bisa aku tidak apa-apa, kau lihat bahwa aku terluka?” ringis Devania, dia memegangi kepalanya yang terasa sangat perih.
“Ayo aku bantu, kepalamu terluka.” Lucio memberanikan diri memegangi wanita itu untuk masuk ke dalam mobilnya, dia hendak memberikan pertolongan kepada wanita yang ditabraknya. “Masuklah, aku akan mengobatimu,” ucap Lucio.
__ADS_1
Devania menepis lengan Lucio yang memintanya untuk masuk ke dalam mobil dengan pelan. “Tidak, aku akan segera pulang, jika aku pulang terlambat, maka orang tuaku akan mencariku, aku tidak ingin mereka khawatir,” tolak Devania secara halus.
Lucio meremas rambutnya sedikit kasar, dia mengembuskan nafasnya panjang. “Kau akan pulang dengan darah menetes di kepalamu, Nona?! Yang benar saja,” desirnya nada tinggi. “Aku tidak ingin menjadi pelaku yang tidak bertanggung jawab. Ayolah! Aku akan mengobatimu,” lanjutnya penuh penekanan.
“Orang tuaku pasti mencariku!” teriak Devania di wajah pria itu marah. “Kau punya mata, 'kan?! Sebaiknya kau membawa kendaraanmu secara hati-hati! Aku bisa mengobati lukaku sendiri!” bantahnya.
“Kau akan membiarkan orang tuamu bersedih melihat anaknya terluka?” selidik Lucio, dia menaikkan alisnya menatap Devania dengan tertawa geli. “Orang tuamu akan marah padaku, jadi masuklah, aku akan mengobatimu, jangan keras kepala!” titahnya tegas.
Devania terdiam saat pembicaraan yang dikatakan oleh pria itu benar. Dia harus mengobati lukanya agar orang tuanya tidak marah ataupun bersedih melihat kondisinya saat ini, dia pun masuk ke dalam mobil pria itu, Lucio ikut masuk ke dalam kabin mobil untuk mengobati wanita yang ditabraknya.
Lucio mengambil sebuah kotak obat yang ada di dalam laci penyimpanan di dalam mobil, dengan perlahan dan penuh kelembutan, pria itu membersihkan noda darah yang hampir mengering di wajah cantik milik Devania, wanita yang tanpa disengaja ditabrak oleh Lucio.
“Aiih, tak bisakah kau pelan-pelan mengobatinya? Ini sangat sakit sekali,” ringis Devania pada Lucio yang membersihkan luka di kepalanya.
“Sabarlah, Nona. Aku sudah membersihkannya dengan sangat hati-hati.” balas Lucio, tangannya masih menari di kening wanita itu untuk membersihkan darah yang mengering di sana.
Devania hanya diam, sesekali bola matanya mengunci pandangan menatap wajah tampan pria yang ada di sampingnya yang kini membersihkan luka di kepalanya dengan sangat hati-hati sekali.
Parasnya yang tampan, perlakuannya yang lembut, dan nada bicaranya yang sopan membuat Devania tertegun. Masih ada laki-laki di dunia ini yang bersikap seperti dia.
“Aku busa pulang sendiri,” tolak halus dari wanita itu, dia sedikit menarik sudut bibirnya ke atas, hingga terbentuk sebuah senyuman manis di wajah cantiknya.
“Kau akan pulang sendiri? Kau tidak takut melintasi jalan raya yang sangat sepi seperti ini, Nona? Ini cukup bahaya bagimu, aku akan mengantarkanmu untuk pulang,” balas Lucio penuh penekanan yang tak dapat ditawar lagi.
“Cih, kenapa kau selalu memaksaku?” cibir Devania dengan tersenyum sinis.
“Bukankah memaksa demi kebaikan lebih baik daripada membiarkan yang akan membuatmu dalam bahaya?” balas Lucio bergurau dengan gadis yang ditabraknya itu.
Canda dan tawa kembali menghiasi suasana di dalam mobil penuh kenangan bersama Nayara dengan gadis yang tak dikenalnya. Perlahan rasa sedih yang menjalar di tubuhnya merayap pergi dari sarangnya, membiarkan hati kembali menemukan caranya untuk bahagia tanpa mengingat rasa sakit kembali.
***
“Apakah kau akan singgah terlebih dahulu?” tanya Devania pada saat mereka telah sampai di halaman rumah besar milik sang ayah.
Lucio mengangguk pelan. “Seperti yang kau pikirkan bahwa aku akan menemui ayahmu untuk berbicara,” ujarnya.
Devania mengerutkan dahinya heran. “Buat apa kau bertemu dengan ayahku?” tanyanya heran. Baru kali ini dia bertemu sosok laki-laki aneh yang tidak dia kenali ingin bertemu dengan sang ayah.
__ADS_1
“Ada yang ingin aku sampaikan pada ayahmu, ayahmu ada, 'kan?” tanya Lucio ramah pada gadis itu.
“Ya."
“Baik, ayo bawa aku bertemu dengan ayahmu.”
Lucio dan Devania berjalan keluar dari dalam kabin mobil, mereka bergegas untuk masuk ke dalam rumah mewah milik ayahnya, Lucio ingin menyampaikan kebenaran bahwa dia sudah menabrak Devania.
Sebagai seorang pria sejati, bukankah harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia perbuat? Meskipun itu secara tidak disengaja.
“Siapa dia, Devania?” tanya Dave saat melihat sang adik membawa seorang pria ke dalam rumah. Dia memperhatikan wajah Devania yang berbalut perban. “Ada apa dengan wajahmu?” Dave yang berjalan menuju lantai bawah memperhatikan Devania dengan heran. Dia pun mempercepat langkah kakinya mendekat ke arah sang adik.
“Sepertinya aku sudah tak asing lagi dengan wajah ini? Seperti pernah melihatnya, apakah aku pernah mengenalinya?” Dave membatin saat berhadapan dengan Lucio, dia memperhatikan Lucio dari bawah hingga ke atas.
Lucio menatap Dave sama herannya, sepertinya dia pernah melihat kehadiran Dave, tapi di mana?
“Ada apa ini?”
Suara itu membuat ketiganya menoleh, mereka melihat sosok pria berbadan kekar yang sudah mulai keriput bersama seorang wanita yang tidak lain adalah Riana.
“Ada apa dengan keningmu, Nia?” tanya Calvin dengan nada mulai tinggi, dia melontarkan tatapan tajam menuntut jawaban yang pasti dari putrinya itu.
Devania yang dituntut jawaban dari ayah dan kakak laki-laki tertuanya pun terdiam seketika, bibirnya terbungkam, tak mampu untuk turut menjawab pertanyaan itu.
“Siapa laki-laki ini?” lanjut Calvin bertanya.
Lucio yang berdiri di samping Devania pun menatap ke bawah, melihat kaki jenjang wanita itu tampak bergetar berhadapan dengan orang tuanya sendiri.
Riana yang melihat suasana canggung pun memutuskan untuk berbicara. “Sebaiknya kalian duduklah terlebih dahulu, dan baru berbicara dengan santai,” sarannya. “Ayo, Nak. Duduklah terlebih dahulu.” Riana mengajak Lucio duduk di sofa di ruang tamu rumah mereka.
“Sekarang katakan, kau siapa? Dan tujuanmu datang kemari, dan kau, Devania, jelaskan ada apa dengan keningmu,” ucap tegas dari Calvin.
“Maksud kedatangan saya kemari untuk meminta maaf karena telah menabrak putri Om secara tidak sengaja pada waktu ingin kembali, dan saya datang kemari untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah saya perbuat,” ujar Lucio berkata jujur kepada semua orang yang ada di hadapannya.
Hening.
“Apa yang kau katakan barusan?! Kau menabrak putriku?!”
__ADS_1