Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
MCFD : Episode Sebelas


__ADS_3

Beberapa hari kemudian ...,


“Apakah keadaanmu sudah membaik, Angeli?” tanya Darren pada wanita yang tengah terduduk di atas kursi roda di halaman belakang rumah mewah milik sang ayah—Calvin Brawster. Dia menjaga Angeli dengan setulus hati, tak ada paksaan ataupun lainnya.


Gadis yang ada di atas kursi roda itu pun menoleh dan tersenyum hangat. “Seperti yang Kakak tahu bahwa aku sudah membaik sekarang,” jawabnya seraya tersenyum hangat dengan pria itu. Dia menunjukkan lesung indah di pipinya. “Terima kasih telah merawatku dengan baik, Kak.” Dia kembali tersenyum menatap Darren.


“Baguslah jika keadaanmu sudah membaik, Angeli. Kau ingin ikut denganku?” tawar Darren, dia menatap wajah cantik Angeli dengan dalam.


“Ke mana, Kak?” tanya gadis itu heran. “Ke tempat yang akan membuat hari ini indah, Angeli.” Darren berdeham pelan, dia merapikan anak rambutnya. “Kau mau?” lanjutnya lagi bertanya.


“Kak Darren!”


Teriakan dari jauh membuat keduanya segera menoleh ke arah belakang, terlihat si cantik dan periang Devania tengah bertegak pinggang dari kejauhan dan memekik memanggil namanya. “Devania?” Darren berucap lirih.


“Hayo, Kakak ngapain berduaan aja di sini sama Angeli?” goda Devania tersenyum jahil melihat sang kakak yang ada di samping sahabatnya itu. Dia mendekati Darren dengan cepat. “Cie, Kakak! Ada yang lagi kasmaran nih,” celetuknya gembira.


“Kasmaran?” Darren mengernyitkan dahinya heran. “Siapa yang kau sebut kasmaran, Devania?” lanjut Darren bernada protes.


“Ya, Kakak-lah! Masa iya, hewan! Ada-ada aja!” sahutnya mengomel dengan bibir dimajukan. “Kau sudah membaik Angeli?” tanya Devania pada gadis yang tengah terduduk di atas kursi roda itu.


Angeli mengembangkan senyuman di wajah ranumnya. “Seperti yang kau lihat, Nia. Aku sudah membaik, dan ya ..., aku tidak separah apa yang kau bayangkan,” tawa Angeli pecah seketika di hadapan sahabatnya itu.


“Aku serius bertanya denganmu, Lina. Mengapa kau menganggapnya sebagai candaan?” protes Nia cemberut.


“Lihatlah wajahmu, Devania. Kau begitu jelek saat cemberut,” ejek Darren terkekeh melihat tingkah laku sang adik bungsunya itu. “Berhentilah menggangguku, lebih baik kau mengganggu Davi saja di sana,” ujarnya memberi saran yang baik pada si bungsu.


“Kak Davi?”


“Ya. Pergilah.”


“Kakak mengusirku?”

__ADS_1


“Tidak. Aku hanya memberimu saran.”


“Saran? Saran apa seperti itu?” Devania menatap tajam ke arah Darren. “Kakak mau aku adukan ke papi sama mami?” ancamnya tidak main-main pada Darren.


“Sejak kapan adikku pandai mengadu ke papi sama maminya?” Darren merasa gemas dengan tingkah laku si bungsu, dia pun mengacak rambut wanita itu hingga kusut.


“Kakak berhentilah!” Devania menggeram marah, dia mencoba menghindari serangan lengan pria itu dari kepalanya. “Angeli, lihat kakakmu ini!”


“Dia kakakmu, Nia.” Angelina hanya tertawa lucu melihat aksi di depan matanya—di mana menyaksikan dua kakak adik yang saling bertengkar.


Devania berhasil lepas dari serangan sang kakak, dia pun meninggalkan Darren bersama sahabatnya dengan cepat, apabila tidak pergi, mungkin rambutnya sudah habis diserang oleh kakaknya—Darren.


“Hmm, Angeli. Apakah kau tidak mau ikut denganku?” deham Darren, dia pun merapikan pakaiannya di hadapan Angeli.


“A-apa?” Wanita itu berucap tanpa menatap wajah Darren.


“Kau tidak ingin ikut denganku?” tanya Darren lagi, dia mengucapkan kembali perkataannya.


Mendengar lirihan dari wanita itu membuat hatinya terasa sedikit nyeri. Dia pun menumpuh satu kakinya di hadapan Angeli, yang terduduk manis di atas kursi roda. Perlahan jemari tangannya mengangkat wajah manis wanita itu agar tidak tertunduk ke bawah. “Aku tidak pernah merasa direpotkan olehmu, Lin. Yang aku tanya padamu, kau mau atau tidak? Hanya itu. Jawab saja dengan jujur dari hatimu.” Darren mengelus pipi Angelina dengan jemari tangannya yang halus.


“Kak, aku—”


“Ngel, aku sama sekali tidak pernah merasa direpotkan olehmu,” seloroh Darren tegas. “Please, jangan merasa seperti itu.”


“Tapi, Kak. Aku hanya wanita lumpuh yang—”


“Stttt!” Darren menahan bibir wanita itu dengan jemari tangannya. “Kau wanita sempurna di mataku, Lin. Tidak ada yang cacat darimu, kau wanita sempurna di mataku.” Darren memberikan kepercayaan agar wanita itu tidak merasa dirinya tak beharga.


“Bukankah itu kenyataannya, Kak?” Angelina menaikkan pandangan matanya menatap binik mata pria yang berjongkok di hadapannya. “Maaf, aku hanya bisa merepotkan mu, Kak.”


***

__ADS_1


Di sebuah taman indah dengan berbagai jenis bunga sudah bermekaran, menunjukkan keindahan alam yang mereka miliki tersendiri, memperlihatkan warna-warninya kehidupan.


“Ngel.”


“Iya, Kak?”


“Aku tahu kau mencintai seseorang di luar sana, yang fisiknya jauh dariku. Aku hanya seorang pria biasa, bisakah aku mendapatkan cinta itu darimu?” tanya Darren pada wanitanya.


Angelina terdiam membisu di tempatnya, tak ada ucapan yang dia bicarakan. Keheningan menyelimuti keduanya. “Kakak tahu bahwa aku sudah tak bisa berjalan lagi dengan sempurna. Aku takut, Kak. Takut untuk memulainya kembali,” seloroh Angelina.


“Apa yang kau takutkan? Apakah aku pernah mempermasalahkan dirimu? Tentu tidak, Angeli. Aku mencintaimu lebih dari diriku sendiri, apa kau mau menjadi pasangan hidupku, Angelina?” Darren menatap dalam netra indah milik wanita itu, dia berjongkok di hadapan Angeli seraya menyodorkan sebuah cincin berlian untuk Angelina.


Terdiam mendengar lamaran mendadak dari laki-laki itu, Angelina menatapnya tak percaya. Akankah ini mimpi baginya? Apa yang harus dia jawab bahwa dia tidak mencintai Darren?


Bukan hanya sekali atau dua kali laki-laki ini menyatakan cintanya, tetapi hari ini sudah masuk ke sekian kalinya.


“Aku berbicara padamu, Angeli.”


“Kak, aku—”


“Aku tahu bahwa hatimu bukan milikku, Lina. Pilihanmu hanya ada dua, kau mampu menerimaku atau tetap bertahan pada hati yang sudah jelas milik orang lain,” tukas Darren tersenyum hangat. Dia tak pernah bosan memandangi wajah cantik sang wanita pengisi hatinya itu.


“Kak, kau—”


Darren berdiri, dia memasukkan cincin itu kembali ke dalam saku celananya, kemudian memasukkan kedua tangannya di dalam saku celana. Dia berdiri tegap di samping Angelina.


“Aku tahu kau mencintai kak Dave, Lina. Bukankah hatimu masih miliknya?” sahut Darren bertanya.


“K-kakak tahu dari mana?” ucapnya bertanya dengan gugup, perlahan lirikan matanya menatap binik indah pria itu.


“Walaupun tak ada yang memberitahuku tentang kebenarannya, tetapi aku bisa melihatnya sendiri. Dari perlakuan kak Dave padamu, dan perlakuanmu ke kak Dave. Bahkan saat kau belum sadarkan diri, yang paling cemas dan khawatir adalah kak Dave,” ujarnya berterus terang. “Kak Dave sudah menjadi milik orang lain. Apakah kau masih akan bertahan dengan hatimu yang mencintai pria yang sudah beristri?”

__ADS_1


__ADS_2