
Di dalam sebuah ruangan, seorang wanita tengah mencoba menenangkan hatinya, dia berusaha kuat agar menjelaskan kesalahpahaman antara dirinya dan Lucio, yang merupakan kekasihnya itu. Rasa sesak dan nyeri sejak tadi menggantung di dalam diri. Mencoba mengusik ketenangan hati yang sejak kemarin sudah berdamai dengan kenyataan.
Namun hari ini, hatinya diguncang sekuat-kuatnya, mencoba menahan rasa sakit dan hentakan kuat dari kenyataan.
Lucio yang sejak tadi hanya berdiam diri di atas mini sofa pun memejamkan matanya perlahan, lalu membukanya kembali. Dia menaikkan pandangan matanya, melirik sekilas ke arah Nayara yang ada di hadapannya hanya mematung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanitanya itu. Dia tidak tahu pasti.
“Hati yang sudah lama menemukan caranya untuk bahagia kau goreskan begitu dalam, Nay. Apakah ini bentuk cintamu terhadapku? Aku pergi untuk kita, aku sibuk dalam hal bisnis tentunya untuk masa depan kita yang akan menghabiskan waktu bersama sampai akhir nanti. Aku tak habis pikir bahwa kau sanggup untuk mengkhianati cinta kita.” Lucio mengutarakan isi hatinya pada Nayara, dia menatap dalam netra mata yang saat ini membalas tatapannya.
Mendengar apa yang diucapkan oleh Lucio membuat nafas Nayara terasa sesak. Air mata kembali turun. Netra mata lelaki itu tampak sangat kecewa. Nayara bisa membacanya. “Maafkan aku ...,” lirih Nayara merasa bersalah atas keputusan yang telah dia ambil
“Kata maaf pun tak mampu mengembalikkan hati yang sudah terlanjur mencintaimu.” Lucio membuang wajahnya, dia berniat untuk segera pergi dari sana.
“Tunggu!” Nayara menarik lengan pria itu. “Aku akan menjelaskannya padamu,” sambungnya.
“Apa yang ingin kau jelaskan padaku, Nay?” tanya Lucio, dia menatap lengan yang ditahan oleh Nayara. Dia melepaskannya dengan kasar. “Terima kasih telah menjadi pelangi yang memberikan keindahan di dalam hidupku. Cukup sampai di sini kisah kita, jangan ada lagi drama yang menggantung yang kau permainkan di hadapanku.”
Apa yang diucapkan Lucio membuat Nayara tercengang. Pria itu sudah memutuskan untuk pergi dari hidupnya tanpa mendengarkan penjelasan darinya.
Tatapan kosong wanita itu memandangi bayangan pria yang dia cintai pergi sampai menghilang. Kenangan manis, suka-duka, canda-tawa, semua kisah bersama Lucio hancur karena kesalahpahaman tanpa penjelasan yang benar darinya.
Tak apa jika begitu, setidaknya dia sudah berusaha untuk menjelaskan. Akan tetapi, semesta mencoha menolaknya untuk berbicara kepada laki-laki itu.
“Nona sudah datang?”
Mendengar suara dari arah belakang membuat Nayara terkesiap, dia menyeka air matanya dengan cepat agar karyawannya tidak tahu bahwa dia menangis.
“Eh, Nada. Kamu dari mana?” tanya Nayara, dia membalikkan badannya menatap ke arah Nada—karyawan toko.
“Saya habis membereskan lantai atas, Nona. Tadi ada Randy yang menjaga di bawah, apakah Nona tidak bertemu dengan Randy?” tanya Nada heran.
Nayara mengerutkan dahinya heran. “Tidak. Memangnya ke mana dia? Sejak tadi aku belum bertemu dengannya,” papar Nayara jujur.
“Ah, mungkin Randy sedang mengantar orderan pelanggan atau menjemput mereka untuk kemari, Nona.” Nada tersenyum canggung di hadapan Nayara. “Aish, ke mana perginya dia?!” Nada membatin kesal.
“Ya sudah, ayo kita mulai bekerja.”
Sedangkan dari kejauhan, seorang pria yang ada di dalam mobilnya tengah menatapi sebuah tempat dengan tatapan tajam dan penasaran. Siapakah laki-laki yang bersama istrinya di dalam sana?
Dave yang merasa kesal pun membanting telapak tangannya ke arah stir yang ada di hadapannya. Bibir indah itu menjadi mengerut, seakan menolak kenyataan apa yang baru saja dia lihat.
Tak mau memikirkan masalah itu, dia pun memutuskan untuk segera melanjutkan perjalanannya menuju kantor sebelum terlambat. Sebab, sebagai pemimpin utama, dia harus disiplin.
__ADS_1
Sikap disiplin dapat memberikan contoh yang baik bagi karyawan kantor.
Bukankah begitu?
Menjadi seorang pemimpin yang memiliki sikap yang patut dicontoh dengan baik adalah tujuan utamanya.
Dia ingin semua karyawannya dapat disiplin dan memiliki karakter yang baik.
Seruan angin menerpa diri yang duduk di dalam mobil sambil melajukan kendaraan roda empat itu menuju kantor, dia melampiaskan rasa itu pada pedal gas. Memainkannya dengan intens.
“Sial. Mengapa hatiku terasa nyeri seperti ini?!” gumamnya tak terima, menggerutu sepanjang perjalanan.
Akankah ini api cemburu?
Kecepatan tinggi yang dia lalui membuatnya dengan cepat sampai di sebuah gedung pencakar langit, yang bertulis BW GROUP. Desain minimalis dengan bangunan tinggi itu membuat siapa saja menjadi jatuh hati pada bangunan kokoh yang menjulang tinggi ke atas itu.
Dave disambut hangat oleh para satpam yang berjaga di depan gedung, dua orang pria memakai pakaian hitam lengkap membukakan pintu mobil, mempersilakan pria itu turun dari dalam sana, dia segera keluar dari dalam sana seraya membawa benda pipih-nya yang dia letakkan di dasboard mobil.
“Parkirkan mobilku!” Dave melemparkan kunci mobilnya kepada salah satu pria berbadan kekar di hadapannya.
“Baik, Tuan.”
Mendengar jawaban itu membuat Dave hanya tersenyum simpul, suasana hatinya untuk hari ini kurang baik. Dia segera melangkahkan kedua kakinya masuk ke dalam gedung mewah pencakar langit itu, pandangan matanya menebar ke sekeliling ruangan, melihat para karyawan yang sudah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.
“Siapa dia, Nay? Apakah dia kekasihmu?” gumam Dave. “Mau dia kekasihmu, mau dia selingkuhanmu, mau dia siapa, aku tidak peduli, terserah padamu.” sambungnya lagi menggerutu.
Dave membuka layar laptop di hadapannya, saat koneksi telah tersambung, dentingan-dentingan notifikasi e-mail begitu banyak membuatnya semakin merasa pusing. E-mail yang harus dia cek begitu banyak, dan belum lagi memeriksa status perkembangan saham di perusahaan ini.
Menjabat sebagai CEO bukanlah hal mudah, Dave akui hal itu. Sebab, dia seringkali merasa sakit kepala dan ingin menyerah saat tak dapat menyelesaikan permasalahan yang dikatakan sangat sulit baginya.
Tok-tok-tok!
Bunyi ketukan pintu ruangan membuat Dave menoleh, mengalihkan pandangannya yang sibuk menatap layar laptop sejak tadi. Dia pun segera menyahut. “Silakan masuk!”
Pintu terbuka lebar, tampak seorang pria berbadan kekar masuk ke dalam ruangannya seraya sedikit membungkukkan badannya ke bawah. “Tuan, ini kunci mobil Anda.” Pria itu menyerahkan sebuah kunci ke hadapan Dave.
“Baik, terima kasih. Silakan pergi!” Pria itu dengan dingin berkata, tangannya melambai ke atas, memberikan kode agar laki-laki itu segera hengkang dari pandangan matanya. “Jangan lupa menutup kembali pintunya.”
***
Rerumputan hijau dengan hiasan bunga yang sudah bermekaran di taman membuat sebuah halaman menjadi indah dan enak dipandang oleh mata, kekaguman seorang gadis cantik pecinta alam itu tak henti-hentinya memandangi sebuah bunga yang selalu dia tanam di halaman belakang rumah mewah milik majikan ayahnya.
__ADS_1
“Kenapa kau sangat menyukai bunga, Angelina?” tanya Devania pada sahabatnya itu. Dia melirik wanita yang sedang asik menciumi tanaman yang ada di dalam genggamannya.
”Bunga itu cantik, Nia. Coba kau lihat. Dia sangat cantik dan harum, aku ingin menjadi seperti bunga yang dapat memberikan keharuman bagi semua orang, terutama orang tuaku,” sahutnya menjawab. Dia masih dengan menciumi aroma bunga lavender di tangannya. Bunga yang sangat cantik dan menawan.
“Aku tahu itu cantik, Lina. Tapi, aku tidak menyukai bunga, bukankah kau bisa menyukai hal-hal lain seperti berenang, bermain basket dan hal lainnya,” imbuh Nia memberi saran.
“Setiap individu memiliki kesukaannya masing-masing, Devania. Aku tak bisa memaksamu untuk menyukai bunga, dan begitupula denganmu, cobalah untuk menciumnya. Ini sangat harum.” Angelina mendekatkan bunga tersebut ke indera penciuman milik sahabatnya itu.
“Kau benar, Angeli. Ini sangat harum!” Devania berseru dengan mata bebinar. Seumur-umur, baru kali ini dia mencium aroma bunga lavender secara dekat. Selama ini, dia selalu mencium aroma sabun cair berbau lavender.
“Kalian sedang apa di sini?” deham Darren tiba-tiba, dia bertegak pinggang di hadapan Angelina dan Devania.
“Kau mengejutkanku, Kak!” seru Devania protes tak terima.
“Kau selalu seperti itu,” kilah Darren tersenyum simpul. Dia mengacak rambut Devania gemas. “Pergilah! Anak kecil tidak boleh duduk bersama orang dewasa di sini!” usir Darren pada sang adik.
“Kau mengusirku lagi, Kak?!” Devania melontarkan tatapan tajam kepada kakaknya itu. “Berani sekali kau mengusirku,” cibirnya kesal.
“Kakak pikir aku masih bayi, gitu?!”
“Ck-ck!” Darren tertawa. “Kau tetaplah bocah kecil bagiku, Nia.”
“Sudahlah, kalian selalu saja bertengkar setiap bertemu.” Angelina mencoba mendamaikan keadaan, dia sudah lelah untuk menyaksikan kakak-adik yang selalu bertengkar di hadapannya.
“Baiklah, Sayang. Ayo kita pergi, biarkan Nia di sini mengurus tanamanmu.”
“S-sayang?” Devania terkejut saat Darren mengucapkan kata 'sayang' pada sahabatnya—Angelina. “Kak, kau memanggilnya dengan kata sayang? Apakah aku tidak salah mendengarnya?”Gadis itu menuntut jawaban dari sang kakak, dia menatap binik mata keduanya saling bergantian.
“Tidak seperti yang kau kira, Devania,” elak Angeli merasa tidak enak.
“Telingamu masih bagus, 'kan? Lalu, untuk apa kau kembali bertanya padaku?” Darren berdecak kesal pada adiknya.
“Sikapmu sama saja seperti kak Dave!” cecarnya marah.
“Karena aku adalah adiknya. Bukankah kau juga adiknya?” Darren mengangkat satu alisnya menatap Devania.
Devania terlihat sangat cantik dan menggemaskan baginya, wajah cantik dengan bibir ranum itu sangat menenangkan siapa saja yang memandanginya. Gadis kecil yang dulu bergelayut manja di lengannya kini sudah beranjak dewasa.
Devania tidak lagi menjadi bayi yang harus dia asuh. Kini dia sudah bisa berjalan, berlari, bahkan usianya sudah hampir matang dan cukup untuk membinah rumah tangga.
“Kita adalah satu, Kak.”
__ADS_1
“