
Saat Dave terbangun dari tidurnya, ia tidak melihat kehadiran Nayara di dalam kamar yang mereka tempati. Hal itu membuatnya menjadi bingung sendiri. Ke mana perginya Nayara? Mungkinkah istrinya itu sedang berada di dapur?
Demi memastikan benar atau tidak dugaannya, pria itu pun memutuskan untuk segera bangkit dari atas ranjang. Namun, sebelum ia turun ke lantai bawah, ia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu di dalam kamar mandi. Atau jika tidak dia akan diomeli oleh maminya—Riana.
Riana sangat tidak suka jika anak-anaknya tidak membersihkan diri di pagi hari.
Selesai membersihkan diri, Dave segera meninggalkan kamar. Kedua matanya menyusuri setiap sudut rumah. Dia mencari ke sana-kemari, berharap Nayara ada di salah satu ruangan. Namun nyatanya harapan itu hanyalah menjadi harapan. Ia tidak dapat menemukan keberadaan istrinya.
Davi dan Darren yang berada di ruang keluarga tanpa sengaja melihat kakak tertua mereka sedang berjalan seperti orang kebingungan pun memutuskan untuk menemuinya.
“Kak Dave!” seru Davi dan Darren berbarengan, mereka berdiri tegap di hadapan Dave hingga membuat laki-laki itu terpaksa menghentikan langkah kakinya.
“Hmm?” Dave berdeham kasar sembari menatap kedua adik laki-lakinya secara bergantian. “Kenapa kalian menghalangi jalanku?” tanyanya heran serta tak mengerti ada apa dengan kedua adiknya.
Darren mengangkat satu aslinya ke atas. “Seharusnya kami yang bertanya padamu, Kak. Ada apa denganmu? Mengapa kau berjalan seperti sangat gelisah?” tanya Darren menuntut, kedua matanya berfokus pada pria di hadapannya.
“Apa yang dikatakan Kak Darren benar, Kak Dave. Ada apa denganmu?” tanya Davi menimpali.
Dave menghela napasnya panjang ke udara setelah ia mendengar pertanyaan dari kedua adiknya. “Aku sedang mencari Nayara, apa kalian melihat keberadaannya?” tanya Dave langsung, ia sudah lelah mencari Nayara.
Darren mengedikkan kedua bahunya. “Tidak, Kak,” jawab Darren.
“Aku melihatnya tadi pagi, Kak.” Davi menjawab dengan sedikit antusias. “Tapi, apakah dia belum kembali ke kamarnya sampai sekarang?” tanya Davi pada kakaknya.
Dave menggeleng. “Jika dia sudah kembali ke kamar, aku tidak akan mungkin mencarinya saat ini,” decak Dave kesal.
“Ah, iya-ya, kau benar juga Kak Dave.” Davi menggaruk kepalanya yang terasa tidak gatal sama sekali hanya untuk menghilangkan rasa kaku di hadapan kedua kakak laki-lakinya. “Maafkan aku,” paparnya.
“Abaikan saja,” balas Dave. “Apakah Nayara ada meninggalkan pesan padamu, Davi?” tanya Dave mengintrogasi sang adik dengan wajah begitu serius.
Davi mengangguk. “Ya, Kak. Kakak Ipar meninggalkan sedikit pembicaraan padaku. Dia mengatakan bahwa dia hanya ingin berkeliling Mansion untuk mencari udara segar, bila sudah, dia akan kembali ke kamar. Tapi, kurasa ini sudah terlalu lama jika hanya untuk mencari udara segar,” imbuh Davi.
“Benar itu Kak Dave. Tidak mungkin mencari udara segar selama ini!” timpal Darren.
__ADS_1
Dave memejamkan matanya sejenak, kemudian membukanya kembali secara perlahan. Ia mencoba menepis pikiran buruk yang menghunus masuk ke dalam otaknya secara kasar.
“Cek semua CCTV yang ada di Mansion sekarang!” perintahnya tegas pada kedua adik laki-lakinya.
“Baik, Kak. Kami akan melakukannya untukmu.”
Darren dan Davi menyetujui perintah itu. Keduanya pun bergegas menuju ke ruang keamanan yang ada di Mansion. Sedangkan Dave melanjutkan aksinya—mencari keberadaan sang istri.
“Kak Davee!”
Seruan dari seorang wanita membuat langkah kaki Dave terhenti. Ia membalikkan badannya ke belakang untuk melihat siapa yang memanggil namanya.
“Why, Nia?” tanya Dave heran pada adik bungsunya—Devania.
“Apa kau mencari keberadaan kakak ipar?” tanya Devania dengan nafas memburu.
Dave mengangkat satu aslinya ke atas, kemudian mengangguk pelan. “Kau tahu di mana dia berada?” tanya Dave serius.
“Tidak!” Devania menggeleng. “Tapi aku melihat kakak ipar pergi dari Mansion dengan berjalan kaki, saat aku ingin memanggilnya, dia keburu pergi naik taxi, Kak.” Devania menjelaskan semua yang dia lihat kepada kakaknya.
Detak jantung Dave seakan ingin berhenti saat ia mendengar penjelasan dari Devania. Mungkinkah Nayara pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya hingga ia pergi secara diam-diam meninggalkan Mansion tanpa berbicara apa pun pada dirinya dan kepada semua orang, juga membohongi Davi?
Entahlah. Tapi yang jelas saat ini Dave hanya butuh penjelasan dari Nayara langsung.
**
Di Rumah Sakit.
“Dok, mengapa aku bisa berada di sini?”
Pertanyaan itu langsung diajukan oleh Nayara saat dirinya baru saja membuka kedua matanya. Ia menatap heran ke arah sekeliling ruangan yang ia tempati saat ini. Otaknya berpikir keras, mengingat kejadian yang terjadi. Sialnya, ia tidak bisa mengingat apa pun.
__ADS_1
Dokter Richard menghentikan aktivitasnya yang tengah sibuk berbincang dengan para team medisnya ketika ia mendengar suara Nayara.
“Rilex, Nay. Oke?” Dokter meminta gadis itu untuk tetap tenang.
Nayara mengikutinya.
“Kau sudah jatuh pingsan sebanyak dua kali saat hendak menjalani pemeriksaan. Dan sekarang kondisimu sudah berhasil diperiksa olehku dan team medis lainnya. Dari hasil yang didapatkan, kondisimu semakin memburuk. Kau harus mendapatkan perawatan lebih saat ini,” jelas Dokter Richard pada pasiennya.
Nayara menatap lusuh. “Dok, apakah aku tidak bisa pulang ke rumahku saat ini?” tanya Nayara.
“Benar,” jawab Dokter. “Kau harus dirawat di sini untuk mendapatkan pertolongan selama beberapa hari ke depan,” imbuhnya.
Dada wanita itu bergemuruh ketika mendengar ucapan Dokter Richard.
“T-tapi, Dok. A-aku harus segera pulang,” kata Nayara lirih. “Semua orang pasti sedang mencariku saat ini,” timpalnya, menatap Dokter penuh harap.
Dokter membelai lembut pucuk kepala Nayara. “Jika aku bisa, aku pasti membantu. Tapi sayangnya aku tidak bisa berbuat lebih jauh, aku hanya ingin memberikanmu pengobatan untuk saat ini agar rasa sakitmu sedikit berkurang. Kau tenang saja, Nayara. Aku akan mencoba menghubungi keluargamu.”
“T-tidak, Dok! Kumohon.” Nayara menggenggam tangan sang Dokter, memohon agar pria itu tidak mengambil tindakan untuk menghubungi keluarganya. “Biarkan semua ini menjadi rahasia kita berdua. Aku tidak ingin membuat semua orang bersedih karena diriku.”
Melihat wajah sedih Nayara membuat hati sang Dokter semakin merasa kasihan. Ia mencoba untuk menahan air matanya agar tidak tumpah di hadapan Nayara. Jika ia bersedih atas kondisi Nayara, Nayara pasti akan semakin bertambah down.
“Jika ini sudah menjadi keputusanmu, maka baiklah Nay. Aku akan mencoba mengikuti apa yang kau pinta padaku. Tapi satu yang kupinta darimu, tetaplah ikuti pengobatan ini demi dirimu sendiri,” pesan sang Dokter.
Nayara terisak dalam tangisnya. “Baik, Dok.”
Kondisi Nayara saat ini benar-benar memilukan. Siapa pun yang melihatnya pasti akan merasa sedih, tapi Nayara tidak ingin hidup di atas rasa kasihan dari orang lain terhadap dirinya.
“Jaga dirimu baik-baik.”
Dokter Richard berlalu pergi meninggalkan Nayara seorang diri di dalam ruangan itu. Ia pergi dengan keadaan hati yang hancur, di mana ia tidak bisa berbuat lebih jauh untuk menentang kehendak Nayara. Padahal, disaat seperti ini Nayara harusnya mendapatkan support dari orang-orang terdekatnya, seperti suaminya.
__ADS_1