
Pemandangan di pagi hari yang cerah dengan kilauan mentari pagi yang terik dan dihiasi oleh burung-burung berterbangan di langit membuat mata memandangnya menjadi jatuh cinta kepada alam yang tak henti-hentinya membuatnya merasa kagum.
Keindahan alam tak pernah diragukan lagi.
Nayara yang telah berpakaian rapih pun berdiri di depan jendela kamar seraya menatap ke arah langit indah. Hati yang awalnya merasa damai dan tentram kini berubah menjadi gelisah dan khawatir.
Bagaimana bisa dia menjelaskan kepada Lucio bahwasaannya dia sudah menikah dengan Dave? Lalu, bagaimana bisa dia menjelaskan kepada Dave bahwa dia sebenarnya telah memiliki kekasih?
Hanya saja pada saat dia dijodohkan, Lucio tidak tahu sama sekali bahkan keberadaanya tak ada di Amerika. Pria itu sedang mengawasi proyek pembangunan di Indonesia.
Nayara tahu kesibukan Lucio sebagai seorang pemimpin tunggal, yang memegang semua ahli dati ayahnya—Lucas Argiantara.
Pria blesteran yang memiliki hati lembut serta tutur kata yang sopan itu berhasil memikat hatinya. Namun, semesta seakan menolak untuk mereka bersama-sama.
Apa pun yang menjadi takdirmu, akan mencari jalannya sendiri. Jika bukan takdirmu, maka semesta memiliki banyak cara untuk memisahkannya.
Wanita yang berdiri di dekat jendela itu sudah berpakaian rapih hendak pergi. Saat hendak memutuskan untuk menemui Lucio, entah mengapa keraguan menyelimuti hatinya. Akankah dia sanggup untuk menjelaskan kenyataan pahit yang harus ditelan oleh Lucio setelah dia pulang ke Amerika untuk menemuinya?
Entahlah.
Nayara membulatkan keputusannya, dia harus memberitahu Lucio yang sebenarnya. Mau pria itu membencinya atau tidak, itu adalah urusannya. Tugasnya adalah menjelaskan sesuatu yang memang terjadi.
“Kau hendak ke mana, Nayara?”
Suara itu terdengar tiba-tiba membuatnya berhenti melangkah. Dia menoleh ke samping saat sudah hampir keluar dari dalam kamar, terlihat Dave yang sudah membuka matanya, pria itu terbangun disaat dia hendak pergi.
Bibirnya terbungkam seketika, tak mampu untuk berkata. Bagaimana jika Dave kecewa dengan apa yang dia lakukan? Tidak. Dave tidak boleh tahu bahwa dia akan pergi menemui Lucio di luar sana. Di tempat yang sudah mereka janjikan.
“Ka-kau sudah bangun, Dave?” Nayara terlihat kaku di hadapan suaminya. Akan tetapi, wanita itu berusaha untuk tetap tenang.
“Seperti yang kau lihat.” Dave mengembangkan senyuman di wajah tampannya. “Kau rapih sekali, hendak ke mana?” Dave bertanya dengan heran.
__ADS_1
“Aku akan bekerja, Dave. Aku akan pergi ke Boutiqe milikku.” Nayara tersenyum menjawab pertanyaan Dave. “Ada klein yang ingin mengambil pakaiannya,” lanjutnya lagi.
“Boutiqe?” Dave mengerutkan dahinya heran. “Sejak kapan kau memiliki Boutiqe?”
“Sudah lama, Dave. Aku izin pergi dahulu, ya.”
“Kau pergi sendirian?”
“Seperti yang kau tahu.”
“Jangan!”
“Kenapa?”
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendirian. Aku akan mengantarkanmu pergi ke sana.” Dave bangkit dari ranjang, dia hendak pergi menuju kamar mandi, berniat membersihkan diri.
“Aku bisa pergi sendiri—”
“Tidak ada penolakan, Nay! Atau kau tidak usah pergi sama sekali.”
***
Saat sebuah mobil melaju di lintasan jalan sepi, dedaunan kering berterbangan ditiup oleh angin, terpaan angin membuat Nayara menjadi tenang. Rasa gelisah bercampur cemas menghilang dari hatinya.
Sesekali dia melirik ke arah Dave, namun di antara mereka tak ada percakapan sama sekali. Keheningan tercipta, membalut keduanya.
Dave hanya fokus dengan jalan raya, sedangkan Nayara duduk mematung di sebelahnya tak berani membuka pembicaraan.
“Kita sudah sampai, Nay.” Dave memberhentikan mobilnya saat telah sampai di sebuah Mini Boutique itu, dia memarkirkan mobilnya di depan tempat usaha sang istri.
“Baiklah, terima kasih, Dave. Aku akan pulang nanti setelah urusanku selesai. Kau akan ke mana?” tanya Nayara, dia pun segera turun dari dalam mobil pria itu.
__ADS_1
“Jika kau sudah pulang, aku akan menjemputmu kemari, nanti aku akan mengirimkanmu pesan. Aku akan ke kantor untuk mengurus semua urusan yang belum kelar sejak kemarin-kemarin,” tuturnya menjawab pertanyaan sang istri.
“Baiklah, Dave. Hati-hati di jalan, jangan lupa makan siang untukmu.” Nayara tersenyum, dia berdiri di samping pintu mobil seraya melambaikan tangannya ke arah Dave.
“Terima kasih, Nay. Kau juga jangan lupa untuk itu.” Wajah yang tadi biasa saja menjadi tersenyum hangat menatap ke arah Nayara berada.
“Sebentar, Dave. Ada yang lupa!” serunya, dia membuka kembali pintu mobil dan masuk ke dalamnya, dia menarik lengan Dave, lalu menciumi punggung tangan lelaki itu. “Hanya itu saja. Hati-hati di perjalanan.” Nayara kembali keluar dari dalam mobil.
“Yaudah, jaga dirimu di sini. Jika ada apa-apa cepat hubungiku!” ucapnya penuh penegasan.
“Baik.”
Seperginya mobil Dave dari pandangannya, Nayara mulai melangkahkan kedua kakinya untuk masuk ke dalam Boutique, saat hendak masuk ke dalam sana, sebuah tangan kekar menahannya. Terlihat pria tampan yang sudah tak asing lagi di matanya, pria yang dia kenal dari aroma khasnya. Lucio menatapnya dengan tajam serta mematikan.
Nayara menjadi terdiam. Seketika dia mati kutu. Tak mampu untuk bergerak, tubuhnya seakan mati rasa. Bibir terbungkam dengan sendiri. Hati terasa nyeri saat Lucio telah berada di sini sebelum dia duluan yang sampai. Apakah pria itu melihat semuanya?
“Siapa dia, Nayara?” selidiknya dengan mata tajam bak elang yang siap memangsa musuhnya. Dia menarik lengan Nayara untuk masuk ke dalam Boutique. “Siapa dia, Nay?” tanya Lucio, dia menutup rapat pintu Boutique itu.
Lucio mendekap Nayara ke dinding ruangan, pandangan matanya menebar ke seluruh ruangan. Tak ada tanda-tanda adanya karyawan di lantai bawah. Mungkin mereka pada sibuk di lantai atas. “Jawab aku, Nay?!” marahnya pada wanita di hadapannya. Hati pria itu terasa tersayat perih tanpa adanya tetesan darah yang keluar.
Nayara mematung di tempat, dia hanya bisa menatap wajah Lucio dengan matanya. Tanpa terasa, air mata mengalir ke permukaan pipinya tanpa dipinta. Dia bisa melihat jelas api amarah yang berlebur menjadi kekecewaan yang mendalam di mata pria itu.
Kata maaf pun belum tentu bisa membuat Lucio memaafkan dirinya.
Lucio melihat wanita itu menangis pun menjadi tak tega, dia melepaskan Nayara, kemudian jemari tangannya mengusap air mata yang jatuh dari pipi wanita itu dengan lembut. “Maafkan aku yang membuatmu takut, Nay. Aku tidak bermaksud seperti itu. Maafkan aku.” Setelah mengusap air mata wanitanya, dia menjauhkan diri dari Nayara.
Dia gagal menjadi seorang laki-laki ketika dia melihat wanitanya menangis karenanya.
Sebesar ini cinta untuk Nayara. Akan tetapi, siapa yang bersama kekasihnya itu? Apakah Nayara berselingkuh di belakangnya?
Nayara melihat perubahan pria itu, dia terlihat gusar saat menghempaskan tubuhnya ke mini sofa di dalam ruangan, hatinya ikut merasakan sakit saat melihat Lucio.
__ADS_1
“Maafkan aku, Lucio.”
Lucio mendongak mendengar ucapan Nayara. “Maaf? Maaf untuk apa, Nay? Untuk apa? Apakah kau bermain gila di belakangku? Apakah ini kado yang kau berikan untukku disaat aku tengah sibuk menjalankan bisnis, Nay?”