Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
Aku, Kau, Dan Dia


__ADS_3

Nayara yang merasa heran dengan suasana di dalam kamarnya pun memutuskan untuk mencari sang suami, tidak biasanya Dave pergi selama ini meninggalkannya di dalam kamar sendirian.


Ke mana perginya Dave?


Apakah mungkin ada sesuatu yang tidak beres di luar sana? Entahlah.


Nayara rasa dugaan hatinya benar.


Wanita itu dengan cepat menguncir rambutnya, lalu berjalan keluar dari dalam kamar, dia pun menuruni anak tangga untuk sampai di lantai bawah, mencari suaminya—Dave.


Pandangan mata wanita itu menatap heran ke arah Lucio berada, postur tubuh yang sangat dia kenali. Akankah dugaannya benar bahwa laki-laki yang duduk di hadapan mertua dan suaminya itu adalah mantan kekasihnya?


Rasa penasaran dan heran menjalar di dalam tubuhnya, dia pun mempercepat langkah kakinya untuk sampai di ruang tamu.


Bola mata Nayara membulat penuh saat melihat Lucio berada di hadapannya lagi, pandangan matanya seakan tak percaya, jantungnya berdegub dengan sangat kuat, tak percaya dengan apa yang dia lihat.


Lucio menyadari kehadiran Nayara di hadapannya, namun pria itu berusaha tegar, seakan-akan tak mengenalinya. Ternyata benar, Nayara sudah memiliki pria lain. Dan, laki-laki yang ada di hadapannya ini adalah pria yang dilihatnya mengantarkan Nayara pergi bekerja.


Rasa sesak dan nyeri menjalar secara perlahan, mengetuk pintu hatinya kembali. Pria yang tadinya berceloteh mendadak diam dengan kehadiran Nayara.


Dave memperhatikan Lucio dan Nayara secara bergantian, ada apa ini?


Apakah pria ini adalah pria yang dia lihat di dalam boutique bersama istrinya itu?


“Dan ternyata benar, Nayara mengkhianatiku.” Lucio membatin, senyuman miring pun sedikit terhias di wajahnya.


Keheningan tercipta saat kehadiran Nayara berada di ruang tamu, mereka hanya saling memandangi satu sama lain.


“Kalau tidak ada yang ingin ditanyakan lagi, saya izin undur diri, karena ini sudah sangat malam,” ujar Lucio ramah, dia menaikkan pandanganny menatap orang tua gadis itu.


“Lain kali hati-hati jika membawa kendaraan, kau tahu itu bisa menyebabkan dirimu dan orang lain dalam bahaya,” sanggah Devania pada pria yang ada di sampingnya itu. Wajah tampan laki-laki itu membuatnya tak bosan untuk memandanginya secara terus-terusan.


Lucio tersenyum manis menatap ke arah Devania. “Baik, aku akan lebih berhati-hati dalam berkendara,” jawabnya. “Om, tante, saya izin pamit undur diri,” pamitnya.


“Baiklah, hati-hati di jalan, ya, Nak.” Riana tersenyum.

__ADS_1


“Kau akan pulang setelah menabrak adikku?” Suara dingin Dave menghentikan gerak Lucio yang hendak bangkit dari sofa.


Lucio mendongak menatap Dave. “Maaf, saya sudah menyelesaikannya di sini secara musyawarah, dan saya pun mengakui apa yang saya perbuat, lalu apa yang harus saya lakukan lagi di sini?” tanya Lucio dengan heran.


“Brengsek!”


Dave melayangkan tangannya menampar permukaan pipi pria yang saat ini berdiri di hadapannya. Tatapan matanya berapi, menunjukkan kemarahan dan emosi yang bersarang di dalam diri yang dipendamnya beberapa waktu lalu, saat ini dia sudah berhadapan dengan pria yang bermesraan dengan istrinya di dalam boutique itu.


Lucio terkejut dengan apa yang baru saja terjadi pada dirinya, dia pun memegangi pipinya dengan satu tangannya.


“Dave, apa yang kau lakukan?!” teriak Nayara spontan terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.


“Apa-apaan ini, Dave?!” teriak Calvin marah kepada anak tertuanya itu, dia segera bangkit dari tempatnya, berjalan mendekati Dave dan Lucio yang berhadapan itu.


“Mengapa kau menamparku?” tanya Lucio menatap tajam ke arah Dave penuh selidik. Dia tidak melakukan kesalahan apa pun, tapi mengapa pria ini menamparnya?


“Mengapa?” ketus Dave kesal. “Kau tahu siapa aku?” lanjut Dave bernada tinggi.


Seketika Lucio mengalihkan pandangan matanya, dia menatap Nayara yang ada di samping Dave tengah menahan pria itu agar tak baku hantam dengannya, sepertinya Nayara sudah menikah dengan Dave.


Tampak raut wajah cemas dan khawatir terhias di wajah cantik mantan kekasihnya itu, cinta yang dulu menggunung untuknya kini perlahan memudar, meskipun dalam jangka waktu yang lama.


Nayara membulatkan bola matanya penuh, dia terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Lucio. Seketika dadanya terasa nyeri, bak ditujam oleh ribuan belati di dadanya.


“Pada waktu itu aku tidak tahu bahwa dia sudah menikah, karena statusnya adalah—”


“Berhenti!” Nayara berteriak dengan cukup keras hingga membuat Lucio menghentikan pembicaraannya. “Jangan katakan apa pun, kumohon!” lanjutnya, dia menatap Lucio dengan penuh permintaan.


“Aku adalah kekasih yang menjalin hubungan dengannya, aku kembali ke sini hanya untuk melihatnya, karena apa? Karena aku bertugas di Luar Negri, aku meninggalkannya di sini sendirian tanpa membawanya, dan pada saat aku kembali, dia sudah menikah denganmu secara diam-diam tanpa berkata apa pun padaku, sakit bukan? Tentunya.” Lucio berterus terang dengan semua orang yang ada di dalam ruangan tersebut. Menumpahkan isi hatinya. “Meninggalkannya demi memperjuangkan masa depan agar keindahan tercipta saat setelah menikah, tapi apa yang aku dapatkan? Sebuah pengkhianatan antara aku, kau, dan dia. Jangan menjudge bahwa aku-lah yang merebutnya darimu.”


Mendengar penjelasan Lucio membuat semua orang tak percaya, bahkan Dave sekalipun tak menyangka. Nayara yang merasa bersalah hanya terdiam mematung tak menjawab apa yang disampaikan oleh mantan kekasihnya itu.


Lucio kembali menatap Dave dan Nayara secara berganti. “Kau tenang saja, aku sudah memutuskan untuk tidak menganggunya lagi sejak saat itu, aku tak pernah mendekatinya lagi, karena apa pun yang memang ditakdirkan untukku, sejauh apa pun, selama apa pun akan tetap kembali ke dalam pelukanku, tetapi Tuhan telah memberikan yang terbaik untukku, untukmu, dan untuk Nayara.” Lucio menepuk pundak Dave berulang kali dengan pelan, dia menatap ke arah laki-laki itu dengan dalam.


“Aku tak pernah menyesal telah mencintainya, aku tak pernah menyesal telah dikhianati olehnya, jaga dia dengan baik, dia rela mengkhianatiku hanya demi menikah denganmu.”

__ADS_1


Dave menepis kasar lengan Lucio dari pundaknya, dia menatap pria itu dengan sorot mata mematikan. “Tak perlu berdrama di hadapanku, tak perlu mengutarakan isi hatimu, aku tidak ingin mendengarnya!” bentak Dave marah.


Lucio mendesahkan nafasnya pelan ke udara. “Aku tidak berdrama di hadapanmu, yang perlu kau tahu bahwa aku dengan istrimu sudah tak memiliki hubungan apa pun lagi. Jika bertemu denganku di manapun, jangan pernah membawa masalah ini lagi, karena aku ingin melupakan semua yang sudah pernah terjadi antara aku, kau, dan dia.” Lucio mengembangkan senyuman di wajah tampannya.


“Di sini yang menjadi korbannya adalah dia, di mana kakak dan kakak ipar menikah karena perjodohan dari orang tua mereka. Sungguh cinta yang menyakitkan baginya.” Devania membatin menatap Lucio dengan kasihan.


“Tak ada gunanya kalian berdebat masalah yang sudah tak bisa diputar kembali, berhentilah bersikap kekanak-kanakan. Kalian sudah bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak baik untuk diri kalian,” sanggah Riana menengahi Dave dan Lucio yang berdebat mempermasalahkan cinta.


“Ada banyak perempuan di muka bumi ini, berhentilah seakan-akan perempuan di dunia ini hanya satu,” sindir Calvin kesal terhadap Dave dan Lucio.


“I know.” Lucio mengangguk. “Jika begitu, saya izin untuk segera undur diri.” Lucio berpamitan, dia pun mengulurkan tangannya ke hadapan Dave untuk mengajaknya berdamai. “Tidak ada yang perlu kita peributkan hal yang sudah terjadi. Berdamai lebih baik bukan?”


“Parasmu tidak hanya tampan, tetapi hatimu juga lebih tampan, dan kau lebih bijak dari kakakku, kau membuatku sangat tertarik!” seru Devania memuji Lucio di hadapan sang kakak.


***


Devania mengantarkan Lucio kembali ke dalam mobilnya yang ada di depan halaman rumah utama, dia tak henti-hentinya merasa kagum dengan pria yang tanpa disengaja bertemu dengannya. Apakah ini suatu keistimewaan untuknya bertemu dengan pangeran dari khayangan?


“Mengapa kau begitu bijak?” tanya Devania tiba-tiba saat berhadapan dengan Lucio.


Lucio memicingkan matanya. “Aku tak sebijak apa yang kau pikirkan, Gadis Kecil!” kekehnya menertawakan gadis itu.


“Kau membuatku sangat kagum padamu, bolehkah aku meminta nomor handphone-mu?”


“Untuk apa kau meminta nomorku?” goda Lucio tertawa kecil.


“Ya, untuk apa saja.” Devania tersenyum lebar, menunjukkan barisan giginya yang begitu rapat, bak kuda.


“Xxxxxxxxxx0xx.”


“Baik, aku sudah mencatatnya, terima kasih banyak. Hati-hati di jalan!” seru Devania.


“Kau sangat unik, Gadis Kecil. Dah!”


Devania melambaikan tangannya melihat pria itu sudah masuk ke dalam mobil dan akan segera pergi meninggalkan perkarangan rumah utama.

__ADS_1


Entah mengapa pria itu memiliki kharisma yang begitu kuat hingga membuat gadis itu tertarik padanya, seakan tanpa sadar dia meminta nomor handphone laki-laki yang tak dia kenali itu. Biasanya, Devania sangatlah dingin dan tidak suka jika ada pria yang mendekatinya, tetapi berbeda dengan Lucio.


Apakah itu cinta sejak pandangan pertama?


__ADS_2