
“Kenapa kau tidak menceritakan yang sebenarnya padaku, Nay?” Suara dingin pria itu terdengar di kedua telinga Nayara yang berada di atas ranjang.
Nayara mendongak menatap ke arah Dave yang sudah menatapnya dengan sorot mata tajam, binik mata indah itu memancarkan kilauan amarah yang dapat dia artikan sendiri. “Sudahlah. Lagian sekarang kita sudah menikah, dan aku sudah terbebas dari rasa sakit itu, Dave.” Wanita itu perlahan menurunkan pandangan matanya, seakan binik matanya tak mampu untuk membalas tatapan itu.
“Jika sudah seperti ini, aku tidak bisa berdamai dengan ayahmu, aku akan pergi untuk meminta pertanggung jawaban darinya. Kita akan mengurus kasus ayahmu, atas kasus visum.” Dave menegaskan kalimatnya, dia pun segera menutup lembaran buku kecil di tangan sebelah kirinya. Tatapannya masih melekat pada sang istri.
Nayara sedikit syock mendengar ucapan sang suami, dia pun tak bisa berkata. Bibir seakan enggan untuk berkata jangan.
“Dave kumohon jangan lakukan hal itu.” Wanita itu bangkit dari ranjang, dia mendekatkan diri ke arah Dave berada. “Bagaimanapun dia adalah ayahku, jangan sakiti ayahku, please.”Nayara memegangi lengan Dave, dia menatap wajah pria itu dengan penuh harap.
“Nay, luka fisik bisa disembuhkan, berbeda dengan luka hati. Sampai kapanpun itu akan membekas, ayahmu harus diberikan pelajaran,” papar Dave serius. Dia membalas tatapan Nayara. “Tidak seharusnya kau menerima pernikahan ini dan mengorbankan dirimu hanya karena keegoisan ayahmu.” Dave menggertakan giginya marah.
“Kita sekarang sudah menikah, Dave. Dan aku baik-baik saja setelah itu, kumohon jangan lakukan apa pun pada keluargaku, bagaimanapun mereka yang membesarkanku,” pinta Nayara pada pria itu.
“Buka pakaianmu!”
“Bu-buka?” Nayara terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Dave. Dia tampak heran. “Bu-buka pakaianku? U-untuk apa?” sahutnya heran dan gugup.
__ADS_1
“Buka!”
“U-untuk apa, Dave?!”
Dave tersenyum menyeringai, kemudian dia memposisikan badannya berhadapan lebih dekat dengan sang istri, dia perlahan maju mendekat hingga jarak di antara mereka hanya sedikit. Nayara merasakan hal aneh, dia mencoba mundur beberapa langkah ke belakang, namun dengan cepat sebuah tangan kekar menahan tubuhnya agar tetap berdiri di tempatnya.
“Kau ingin ke mana?” Dave bertanya, dia perlahan menggiring tubuh sang istri menuju ranjang mereka.
“D-dave, apa yang akan kau lakukan?!” teriak Nayara di telinga pria itu. Dia mencoba memberontak dari pria itu. Namun sangat disayangkan, kekuatan laki-laki itu dua kali lipat dari kekuatannya.
Keheningan menyelimuti suasana sepasang perempuan dan laki-laki di sebuah taman, tak ada sahutan ataupun jawaban yang keluar dari bibir mungil Angelina. Darren menunggunya tanpa bosan, dia yakin bahwasannya Angeli akan menerimanya. Sampai kapanpun dia akan terus menanti sampai waktu itu tiba untuk mereka bersama.
“Bagaimana bisa kita bersatu, Kak? Dengan hatiku yang masih mencintai pria lain,” sahut Angelina berbicara setelah keheningan menyelimuti suasana keduanya. “Aku takut untuk memulainya kembali dan aku sangat takut mengecewakanmu, Kak.”
Darren menoleh. “Mengecewakanku?” Dia bertanya, ekspresi wajahnya tampak tidak suka dengan kata yang baru saja diucapkan oleh Angelina. “Cinta bisa datang kapanpun, cinta hadir karena terbiasa. Hanya tergantung padamu, Angeli. Kau mau atau tidak. Itu saja.”
Angelina mengangguk pelan di hadapan Darren. “Ya, Kak. Aku mau.”
__ADS_1
“Really?”
“Yes.”
“Thank you so much, Angeli. I really-really love you! Stand by me okay!”
Darren merasa sangat bahagia dengan ucapan Angelina yang menerima pernyataan cintanya kali ini, senyuman dan raut wajah pria itu sangat terpancar jelas bahwa dia sedang merasa bahagia sekali. Dia pun menggendong Angelina masuk ke dalam pelukannya bangkit dari kursi roda tersebut. Sebuah ciuman mesra dan penuh cinta dia berikan di dahi Angelina.
“Sehangat ini ternyata cintamu padaku, Kak. Apakah aku termasuk wanita beruntung di dunia yang dicintai olehmu?” Angelina membatin, dia hanya bisa tersenyum saat Darren menggendongnya. “Maafkan aku yang belum bisa mencintaimu, Kak. Tetapi aku berjanji akan melupakan cintaku pada kak Dave untukmu. Terima kasih telah menerima wanita cacat sepertiku.” Angelina membatin, perlahan tangannya mulai menyentuh pipi lembut pria itu.
“Aku mencintaimu, Angeli.”
Mendengar perkataan tulusnya membuat hatinya sedikit nyeri, bagaimana bisa dia membalas ucapan dari pria itu bahwa dia tidak mencintainya? Angelina hanya bisa membalasnya dengan seuntai senyuman di bibirnya.
“Terima kasih telah mencintaiku dengan tulus, Kak.” Dia membelai pipi Darren dengan tangannya, tatapan mereka bertemu dan saling memandangi satu sama lain.
“Aku mencintaimu dengan sangat, mau kondisimu seperti apa pun, jika aku mencintaimu, maka tak ada kata tak mungkin untuk kita tidak bersama.”
__ADS_1