
Gemuruh suara dari langit terdengar beradu, telah menandakan dengan pasti hujan akan turun dengan lebat. Kilatan-kilatan putih mulai menampakkan cahayanya memenuhi langit di atas sana, perlahan-lahan dentingan suara air hujan terdengar dari atap bangunan itu yang mulai berjatuhan menuju ke bawah.
Hujan telah turun, dan jam telah menunjukkan pukul lima sore lewat beberapa menit. Kehadiran Dave yang sudah ditunggu oleh Nayara tak kunjung datang. Sudah hampir tiga jam lebih dia menunggu kedatangan suaminya, namun tidak ada hasil apa pun. Sedangkan, dia sudah mengirimkan pesan kepada pria itu. Namun tak kunjung dibalas. Jangankan untuk membalasnya, dilihat saja pun tidak.
Ke mana perginya Dave?
Apakah pria itu dalam bahaya?
Meskipun dia tidak mencintai Dave, akan tetapi mengapa rasa gelisah dan cemas bergelut di dalam hatinya?
Nayara yang merasa gelisah pun sekilas melihat ke arah benda pipih yang ada di atas meja yang sedikit jauh darinya, dia tidak berani untuk memegang benda pipih itu disaat cuaca sedang tidak baik-baik saja.
“Apakah kau begitu sibuk hingga tak kunjung datang menjemputku?” Nayara membatin, dia menatap ke arah luar, menatap rintikan deras air hujan yang jatuh ke tanah.
Terpaan angin yang kuat mengenai atap bangunan itu membuat Nayara terperanjat kaget bersama karyawannya, Nada.
“Nona, Anda tidak apa-apa?” tanya Nada pada Nayara yang bangkit dari tempat duduknya.
“A-aku baik-baik saja, Nada.” Nayara tersenyum kecut saat Nada bertanya padanya, entah jawaban apa yang dia beri, sedangkan kenyataannya dia tidak baik-baik saja.
“Sepertinya Anda sedang banyak masalah, Nona. Ada apa?” tanya Nada penasaran, karena tidak biasanya atasannya itu bersikap aneh seperti ini. Biasanya, Nayara dan Nada selalu bertukar cerita setiap harinya.
Bagi Nayara, Nada adalah karyawan serta sahabat yang mampu memahami dirinya, dia mampu menjadi tempat untuknya bersandar disaat terpaan angin kuat menerjang kekokohan dirinya.
Dia adalah wanita yang dibesarkan oleh luka dari keluarganya, tumbuh besar dan berjuang dengan keringatnya sendiri, terlahir sebagai anak yang tak diinginkan, karena orang tuanya hanya mementingkan kelahiran anak laki-laki daripada perempuan.
Bagi keluarganya, anak perempuan adalah anak pembawa sial, yang tidak bisa diandalkan dalam apa pun.
Nayara termasuk wanita tangguh, dia mampu bertahan tanpa rasa ingin menyerah disaat mentalnya dihancurkan, dan kesadarannya hampir direnggut paksa oleh orang tuanya, di mana mereka berlomba-lomba membuat Nayara menjadi gila.
Tekanan kuat itu dikuatkan oleh Lucio, pria yang sangat dicintai. Sebuah anugerah terindah yang pernah Nayara milikki, namun sekarang? Semua sudah usai.
Akankah kebahagiaannya bersama Lucio bisa terulang kembali dengan sosok yang baru, yaitu Dave?
Akankah Dave bisa membantunya tetap kuat untuk bertahan hidup dalam kekejaman dunia ini?
__ADS_1
Dihancurkan paksa oleh kenyataan, dikuatkan oleh keadaan.
“Nona.” Nada mengibaskan tangannya ke hadapan wanita itu. “Cuaca sangat buruk, sebaiknya Anda jangan melamun,” celetuk Nada mengingatkan. “Apakah Anda sedang kedinginan, Nona?” sambungnya lagi bertanya pada wanita itu.
Nayara tersenyum simpul, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak, Nada. Aku tidak kedinginan, di sini hangat, kok,” jawabnya jujur.
“Saya tahu bahwa Anda kedinginan, Nona,” papar Nada. Dia pun hendak bangkit untuk pergi mencari penghangat di ruang atas untuk atasannya. Namun belum sempat pergi, lengannya di tahan oleh Nayara.
“Aku tidak kedinginan, Nada. Duduklah di sini.”
***
Hujan telah berhenti di tengah larut malam, Nayara yang masih berada di Boutique itu pun memutuskan untuk segera kembali ke rumah mertuanya, karena mereka masih tinggal di sana.
Entah ke mana perginya Dave, Nayara tidak tahu pasti. Dia hanya ingin pulang ke sana.
Rasanya perlakuan Dave sangat membuatnya kecewa. Pesan yang telah dikirimkannya hanya dibaca oleh Dave, tanpa dibalasnya sampai saat ini.
Melintasi jalan raya yang cukup sepi dengan tetesan-tetesan air hujan membasahi diri dan pakaiannya, baju putih yang dia kenakan telah terpercik noda-noda percikan air oleh kendaraan yang melintas. Melewati jalan yang cukup panjang dengan berjalan kaki membuatnya cukup kewalahan, namun dia sudah sampai di sebuah rumah mewah milik mertuanya.
“N-nona?!” Sang penjaga yang melihat Nayara berdiri di depan gerbang pun segera berlari untuk membukakan pintu gerbang, dia sangat terkejut melihat Nayara yang memakai pakaian basah dan kotor tersebut. Ke mana perginya tuan Dave sehingga membiarkan nona Nayara seperti ini?
“Terima kasih, Pak.” Nayara membalas dengan senyuman kecut, dia memegangi tubuhnya yang terasa mengigil, berjalan masuk ke dalam halaman, menuju rumah mewah itu.
Saat masuk ke dalam rumah tersebut, Nayara dihentikan oleh seorang wanita berkursi roda bersama seorang pria yang tidak lain adalah Darren.
“Kakak ipar.” Darren memanggil namanya heran, menatap pakaian Nayara yang sangat kotor itu, dia memperhatikan dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Kakak dari mana saja? Mengapa pakaian Kakak sangat kotor seperti itu?” tanya Darren heran.
Nayara seketika terdiam mendengar jawaban dari bibir sang adik ipar. “A-aku baru saja pulang dari rumah orang tuaku, kebetulan mobilku sedang rusak di bengkel, jadi aku memutuskan untuk kembali dengan berjalan kaki,” sahutnya berbohong. Dia berpura-pura memainkan drama agar Darren percaya padanya, dia tidak ingin menyalahkan Dave atas apa yang sudah terjadi.
“Mobil kakak rusak?” sahut Angelina. “Tapi, bukankah tadi pagi Kakak diantar oleh kak Dave?” Angelina menatap penuh penasaran.
“Kau benar. Tetapi, Dave sedang banyak urusan di kantornya, jadi aku memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuaku dan membawa mobilku, tapi saat di perjalanan, mobilku tiba-tiba mogok,” kilahnya mengelak dari kebenaran yang ada.
“Baiklah, sebaiknya Kakak segera mengganti pakaian, Kakak bisa saja sakit karena terlalu lama memakai pakaian basah itu,” tutur Angelina tersenyum ramah pada Nayara.
__ADS_1
“Terima kasih banyak perhatianmu, Adik Ipar. Aku tinggal dulu, ya. Selamat malam untuk kalian.” Nayara segera melangkahkan kedua kaki jenjangnya meninggalkan dua orang tersebut.
Darren memandangi Nayara hingga pergi dari pandangan matanya. Ada yang aneh. Batinnya.
“Sepertinya dia menyembunyikan sesuatu.”
“Angeli, apakah hanya aku yang merasa ada yang tidak beres dengan kakak ipar?” tanya Darren, dia masih kebingungan.
Angelina mengangguk pelan. “Seperti yang kita lihat, sepertinya memang benar begitu, Kak,” paparnya.
“Yaudah, aku antar kamu pulang, ya. Sudah malem, kamu sebaiknya cepat tidur.”
Sesampainya di depan pintu kamar, Nayara memberanikan diri untuk masuk ke dalam sana, dia sudah tak dapat menahan rasa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Lama-lama dia bisa saja mati kedinginan dan membeku.
Saat tangannya membuka perlahan pintu kamar, kedua bola matanya menebar ke sekeliling kamar, tak ada tanda-tanda pria itu berada di dalam kamar ini, hal itu membuat Nayara semakin heran dan penasaran.
Apakah Dave benar-benar sibuk hingga tak juga kembali? Ataukah dia ada lembur di kantor?
Mungkin memang benar seperti itu, sepertinya Dave belum pulang.
Nayara berjalan masuk ke dalam kamar, dia perlahan mendekat ke arah lemari dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri di dalam sana.
“Sudah puaskah kau bermain bersama pria lain di tempat kerjamu?”
Suara itu membuat Nayara menghentikan aksinya, dia menatap ke arah sumber suara. Terlihat pria tampan yang tidak lain adalah Dave yang baru saja keluar dari sebuah pintu, yang tidak lain adalah ruang kerjanya.
“K-kau sudah pulang?” tanya Nayara kaget.
“Kau kaget dengan kehadiranku?” Dave terkekeh, dia pun mulai berjalan mendekat ke arah Nayara. “Aku kira kau adalah wanita baik yang bisa menjaga kehormatanku sebagai suamimu, namun kenyataannya tidak seperti apa yang aku bayangkan. Nayara, wanita yang kuanggap baik ternyata memiliki dua kepribadian ganda, dia bahkan membawa laki-laki asing masuk ke dalam tempat kerjanya dengan mesra.” Dave tersenyum miring. Dia tidak habis pikir dengan apa yang dilihatnya tadi.
Semua seperti mimpi baginya. Wanita yang seakan bersikap polos dan baik hati ternyata seperti itu di belakangnya.
“D-dave, a-aku tidak seperti apa yang kau bayangkan,” sanggah Nayara mencoba berkata jujur. Dia merasa ketakutan saat melihat aura yang terpancar dari wajah tampan suaminya itu. “Aku bisa jelaskan semuanya padamu,” pungkasnya.
“Jelaskan?” Dave mengangkat satu alisnya, dia berdiri tegak di hadapan Nayara dengan tangan dilipat di depan dada. “Aku tidak peduli dan aku tidak mau mendengar apa pun yang kau jelaskan, semua sudah cukup jelas di mataku!”
__ADS_1
“Dave, please. Dengarkan aku.”