Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
Sayatan Luka


__ADS_3

“Semua sudah jelas bahwa kau telah mengkhianati, Nay! Aku terlalu b*doh memilih menikahimu daripada harus memilih wanita yang sangat aku cintai!” Dave berdecak kesal, menatap Nayara dengan sudut mata yang sudah tak dapat lagi digambarkan kemarahannya saat ini.


Mendengar apa yang diucapkan sang suami membuat hati kecil wanita itu menangis, seakan tersayat oleh kenyataan. Benar dugaannya selama ini bahwa Dave mencintai wanita lain, dan terpaksa harus menikah dengannya.


Saat ini, dia terjebak di antara dua laki-laki yang salah paham dengannya, bahkan tak mau sedikitpun mendengarkan penjelasannya.


“Apakah hanya karena kau melihat di depan mata kepalamu, kau sudah menghakimi dan berbicara bahwa aku adalah wanita kotor yang tak pantas untuk mendapatkan cinta darimu, Dave?” tanya Nayara tegas, dia menatap Dave dengan dalam.


“Ck! Sudah jelas di depan mataku kau akan menghindar dan akan mengatakan bahwa aku lah yang salah paham denganmu? Kau terlalu pintar untuk bersandiwara, Nay!”


Nayara terdiam, sudut bibirnya mengunci rapat. Dia hanya mematung, memandangi wajah tampan sang suami.


“Ada apa ini, Kak?!”

__ADS_1


Mendengar suara yang tiba-tiba ada di dalam ruangan membuat keduanya segera menoleh, terlihat Devania bersama Davi yang ada di dalam kamar mereka.


“Keluarlah!” teriak Dave marah.


Devania mengerutkan dahinya heran saat melihat raut wajah Dave yang sangat terlihat penuh amarah, dia bahkan tak berani untuk mendekat, namun Davi segera melangkahkan kedua kakinya mendekatkan diri ke arah sang kakak.


“Kau membentak kakak ipar, Kak?” tanya Davi menuntut jawaban. “Ingatlah, papi tidak pernah mengajarkan kita untuk merendahkan derajat wanita meski hanya dengan membentaknya! Membentak seorang wanita tidak menjadikanmu sebagai laki-laki keren, Kak!” marah Davi pada Dave.


“Sudahlah, Davi. Ini masalah kami, kalian tidak perlu ikut campur. Kakak bersama Dave, baik-baik saja.” Nayara mengalihkan permasalahan, dia tidak mau Dave—suaminya dicap buruk oleh adik-adik iparnya.


Nayara hanya tersenyum kecut menatap kepergian dua adik iparnya, lalu dia berjalan menuju ke arah pintu untuk menutupnya agar tak ada orang yang masuk ke dalam kamar mereka.


“Kau lihat sendiri apa yang sudah kau perbuat, 'kan? Kau menghancurkan citraku di depan adik-adikku!” bentak Dave kembali marah, pria itu meremas kepalanya dengan kasar. “Sudahlah, mulai sekarang terserah padamu!”

__ADS_1


Dave berjalan keluar dari dalam kamar mereka, meninggalkan istrinya berada di sana sendirian.


Kepergian Dave membuat air mata yang membendung tak lagi ingin dibendung, butiran bening mengalir deras membasahi kedua pipi, kaki yang tadi memapah tubuh agar tetap berdiri, kini tak lagi mampu menopang tubuh agar tetap berdiri.


Tubuhnya ambruk jatuh ke lantai, dia menangis—meluapkan amarah yang dia pendam sendirian selama ini.


Dave yang dianggapnya sebagai obat, ternyata menjadi luka terbesar saat ini yang kembali menyayat nya.


Dua hati yang salah paham dengannya saat ini, bibir tak mampu menjelaskan lagi, hanya air mata yang menjadi saksi atas rasa sakit yang dia rasa.


***


Sayup-sayup angin berembus dengan tenang ke arah seorang wanita yang tengah berdiri di sebuah balkon di luar kamarnya, dia memandangi langit malam yang sedikit bewarna biru tua yang ke-ungu-an itu, melepaskan dahaga yang bersarang di dalam diri. Reaksi obat penenang sudah berjalan, membuatnya lebih tenang sekarang.

__ADS_1


Nayara mengembangkan senyuman saat melihat para bintang berkelip di kejauhan, menghiasi langit di tengah larut seperti ini.


“Jika semesta tak mengizinkanku untuk bahagia, setidaknya jangan berikanku air mata.”


__ADS_2