
“Apa yang membuatmu yakin menikah denganku, Nayara?” tanya Dave pada gadis yang tengah terduduk manis di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Dia tampak sangat cantik dengan mengenakan baju tidur bewarna hitam dengan rambut terurai tanpa diikat. “Apakah kau akan bersandiwara di dalam pernikahan ini?” lanjutnya lagi, dia berjalan mendekat ke arah mini sofa yang ada di dalam kamar mereka.
Kamar pengantin yang didekorasi sangat indah dan mewah dihiasi oleh taburan bunga mawar merah di atas ranjang dan sekitarnya. Malam ini, malam yang biasanya dianggap sangat indah oleh pasangan pengantin yang baru saja menikah. Tapi tidak dengan mereka. Rasa canggung dan gugup sangat dirasakan oleh keduanya. Sebisa mungkin, Dave akan menjadi suami yang baik untuk Nayara. Meski cinta di antara keduanya belum ada. Dia yakin, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu
Sebuah keputusan yang tidak akan dia sesali, menikahi Nayara.
“Saat sebuah keputusan sudah diambil dengan pasti, apakah tersirat ketidakpercayaan dan penyesalan di dalamnya?” Wanita bernama Nayara itu meletakkan ponselnya di atas nakas yang ada di samping ranjang, lirikan bola matanya menatap Dave yang ada di mini sofa di hadapannya. “Bagaimana bisa aku menyesali keputusan yang sudah aku ambil, Tuan?” Senyuman indah terukir dengan sangat cantik di wajah ranumnya.
“Kau benar. Maafkan aku yang belum bisa mencintaimu,” ujarnya jujur tentang hatinya. “Aku ingin kau tidak akan menceritakan apa pun yang terjadi di antara kita ke orang tuaku,” pintanya penuh harap menatap wajah gadis itu dari kejauhan.
“Tenang saja, Tuan. Aku bukan tipe wanita seperti itu.” Nayara kembali tersenyum manis.
Melihat senyuman indah yang diukir sang istri membuat Dave sangat heran. Mengapa wanita ini selalu menunjukkan senyuman saat bicara dengannya. Apakah ada sesuatu yang disembunyikan? Tapi, apa?
“Hmm, ya, aku tahu itu, Nay. Tapi—” Dave merasa sangat ambigu.
“Apa yang membuatmu menghentikan pembicaraanmu, Tuan?” tanya Nayara dengan nada pelan.
Tok-tok-tok!
Saat tengah berbicara, tiba-tiba suara ketukan pintu kamar terdengar di kedua telinga mereka. Awalnya, keduanya saling pandang satu sama lain. Lalu, Dave segera bangkit dari tempatnya. Dia berjalan menuju ke pintu kamar, hendak membukakan pintu. Melihat siapa yang mengetuk.
Saat pintu terbuka, terlihat seorang pria tengah berdiri tegap di depan ambang pintu.
“Ada apa, Darren?” tanya Dave heran pada sang adik. Tidak biasanya Darren menemuinya di jam istirahat seperti ini.
__ADS_1
“Papi memintamu untuk menemuinya di ruang pribadinya, Kak,” sahut Darren serius. Dia menatap wajah sang kakak dengan dalam. “Pergilah menemuinya.”
“Baik, aku akan segera menemui papi di ruangannya, terima kasih, Darren.” Dave sedikit terkejut, namun dengan cepat dia sembunyikan rasa terkejutnya itu.
Mendengar jawaban dari kakak tertua membuat Darren segera pergi meninggalkannya. Sedangkan, Dave hanya menatap kepergian Darren sampai menghilang dari pandangannya.
“Ada apa?” sela Nayara bertanya pada sang suami yang hanya mematung saat adiknya telah pergi dari hadapan mereka.
“Ah, tidak ada.” Dave mengusap kasar wajahnya, kemudian menatap ke arah Nayara. “Aku akan pergi menemui papi terlebih dahulu di bawah, istirahatlah di sini. Aku akan kembali setelah ini.” Dave mengembangkan senyuman di wajahnya.
Dave berjalan keluar dari dalam kamar. Pandangan matanya menyusuri setiap sudut ruangan, tak ada tanda apa pun, tetapi mengapa hatinya sangat tidak tenang? Ada apa ini? Apakah ada sesuatu yang ingin dibahas oleh sang ayah padanya? Tapi apa? Sangat tidak biasanya Calvin hendak berbicara dengannya di dalam ruang pribadinya.
Apa yang sudah dia lakukan hingga Calvin memintanya datang ke dalam ruang pribadi?
“Papi,” panggil Dave. Dia berjalan mendekat ke arah mini sofa. Di mana sang papi berada.
“Duduklah terlebih dahulu, Dave.” Calvin memasang wajah seriusnya.
Dave menelan salivanya dengan kasar, tidak biasanya dia melihat Calvin berwajah serius seperti ini di hadapannya. Di dalam ruangan ini hanya ada mereka berdua, hal itu membuat Dave semakin penasaran.
Ada apa?
“Papi ingin berbicara denganku?” tanya Dave. “Apa yang ingin Papi bicarakan?” tanya Dave langsung, dia sudah tidak sabar mendengarkannya.
Calvin menarik nafasnya dalam-dalam, lalu mengembuskannya dengan perlahan. Tatapannya mengunci binik mata indah anak tertuanya. “Apa benar bahwa kau mencintai Angelina, Dave?” tanyanya tegas.
__ADS_1
Seketika Dave terdiam lama. Akankah dia jujur pada pria di hadapannya ini?
“Dave, Papi bertanya denganmu,” deham Calvin.
“Hmm, benar, Pi. Papi tenang saja, lagian Dave sudah menikah, sepertinya hal itu tidak perlu untuk kita bahas lagi, Pi. Dave, ‘kan, sudah punya istri,” elak Dave tidak enak hati saat mengingat kembali kisahnya dengan Angelina.
“Mengapa kau tidak jujur dengan hatimu pada waktu itu, Dave?” tanyanya lagi.
“Sebaik-baiknya cinta adalah mengiklashkan, Pi. Dia bukan untuk Dave. Lagian, Darren mencintainya.” Dave membalas tatapan dalam dari pria itu.
“Darren mencintai Angelina?” Calvin mengerutkan dahinya heran. “Apa yang kau katakan, Dave?” tanya Calvin.
“Darren mencintai Angelina lebih dari Dave mencintainya. Dave sudah membulatkan keputusan untuk menikahi Nayara,” jawab Dave.
“Calvin ..., Sayang!” teriakan heboh dari luar ruangan membuat keduanya terperanjat.
Keduanya bangkit dari tempat duduk mereka, lalu berlari ke luar mencari sumber suara yang terdengar sangat panik. Riana berlari mendekati Calvin sambil menangis, dia langsung memeluk Calvin dengan sangat erat.
“Hei, ada apa denganmu, Sayang?” tanya Calvin heran melihat sang istri menangis di dalam pelukannya. “Ri, ayo bicara denganku, ada apa denganmu?” Calvin ikut cemas dan panik melihat sang istri.
“De—”
“Devania mengalami kecelakaan bersama Angelina, sekarang mereka ada di rumah sakit!” teriak Davi dari kejauhan.
“A-apa?!”
__ADS_1