Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
Sweet Heart


__ADS_3

Deruan angin malam berembus dengan tenang, didalam keheningan suasana malam yang telah larut, seorang wanita cantik dengan memakai piyama bewarna putih polos berdiri di sebuah balkon di luar kamarnya. Terlintas rasa bersalah dan kesedihan yang menggunung di dalam hatinya.


Tepat pada hari ini, sudah masuk minggu ketiga, di mana hubungannya tak jua membaik bersama suaminya. Pria yang menikahinya melalui perjodohan antara kedua orang tua mereka.


Sikap dingin yang dimiliki oleh Dave tak kunjung mencair, semakin hari, perlakuan pria itu semakin acuh tak acuh, seakan tak menginginkannya untuk tetap berada di dalam rumah ini sebagai istrinya lagi. Sebuah kesalahpahaman yang terjadi antara mereka membuatnya harus menelan kenyataan pahit bahwasannya hidupnya hanya dipenuhi oleh luka dan air mata.


“Apakah sedikit saja aku tak berhak untuk bahagia, Tuhan? Jika memang benar semesta tak mengizinkanku untuk berbahagia meski hanya sebentar, mengapa aku masih diperizinkan berada di dunia ini?” lirihan dari wanita yang merasa terabaikan, dia menatap kosong ke arah langit yang bersinar terang dihiasi oleh bintang-bintang.


“Sampai kapan aku harus menelan rasa ini sendirian? Bahkan, dia yang kuanggap sebagai obat, justru ikut menorehkan sebuah luka.” Nayara mengembuskan nafasnya kasar ke udara, rintihan pelan keluar dari ujung bibirnya, bola matanya menerawang ke langit, memandangi indahnya malam yang sudah larut.


Hawa dingin mulai mencekam ke tubuhnya, membuat wanita itu sedikit mengigil kedinginan, dia pun memutuskan untuk segera masuk dan beristirahat di dalam kamar mereka. Gadis itu melangkahkan kedua kakinya masuk ke sana, lalu pandangan matanya melihat seorang pria yang tertidur pulas di atas ranjang mereka.


Ada rasa ingin mendekapnya, ingin berbagi rasa sakit yang kini memeluknya dengan erat, seakan tak ingin pergi dari tubuhnya itu. Melihat Dave tertidur pulas di atas ranjang sedikit membuatnya legah, sepertinya benih cinta dan kasih mulai merayap memasuki ruang hati, meskipun terlihat samar-samar.


“Kau sangat tampan sekali, meskipun tertidur.”


Nayara melangkahkan kedua kakinya mendekat ke arah ranjang untuk menutupi tubuh pria yang bertelanjang dada itu dengan selimut yang ada di dekatnya, dia takut jika Dave akan sakit terkena angin malam yang baginya sangat dingin seperti ini.


“Entah sampai kapan hubungan ini akan terus seperti ini, Dave. Meskipun seperti ini, aku tak bisa berbuat lebih banyak lagi, aku hanya bisa meminta, jika aku diberikan waktu panjang untuk tetap bernafas, aku ingin menghabiskannya bersamamu, sebagai cinta terakhir di hidupku, hanya kau yang aku punya, meski kita tidak saling mencintai. Tetapi kau adalah suamiku.”


Nayara menyelimuti tubuh pria itu dengan sebuah selimut, saat bergumam memandangi wajah Dave, tanpa dipinta olehnya, air mata jatuh menetes ke permukaan pipi cantiknya.


“Apakah aku terlalu lemah untuk melewati masalahku saat ini, Dave? Apakah aku terlalu lebay untuk berpura-pura tegar di hadapan semua orang?” Nayara membatin, sebuah senyuman kecut sedikit menghiasi wajahnya.


“Tanpa obat penenang, mungkin aku akan mati saat ini juga. Bisakah kau membantuku menjawab, Dave? Harus sampai kapan aku bertahan dengan obat anti depresi ini?” tanyanya dalam hati, bibirnya terbungkam erat tanpa mengeluarkan suara.


Dave yang sejak tadi mendengar isakan suara tangis yang terdengar samar-samar pun membuka paksa kedua bola matanya, dia terganggu dengan suara itu. Entah siapa yang menangis di tengah larutnya suasana malam ini, hingga mengusik ketenangannya.


Kedua bola matanya menangkap sosok wanita tengah duduk di tepian ranjang, dia tahu bahwa itu Nayara. Dave yang tahu bahwa itu Nayara segera membalikkan tubuhnya. Dia tidak ingin melihat wajah istrinya itu untuk saat ini, pria itu menutup telinganya dengan menggunakan bantal.


Nayara yang merasakan sesuatu yang bergerak pun membalikkan tubuhnya ke arah belakang, terlihat Dave—suaminya telah terbangun dan merubah posisi tidurnya.

__ADS_1


“Kau sudah bangun?” tanya Nayara pada pria itu, senyuman indah terukir di wajah cantiknya meskipun terlihat sedikit canggung.


Dave hanya diam mematung tanpa menjawab apa yang ditanyakan oleh wanita di belakangnya, bayang-bayang kejadian beberapa waktu lalu masih menghantui pikirannya saat ini.


Tak percaya, namun semua itu adalah kenyataan. Entah sampai hubungan mereka akan seperti ini.


“Dave,” lirih Nayara. Dia mendesahkan nafasnya kasar ke udara, tatapan matanya beralih menatap langit-langit kamar, berusaha kuat agar air mata tak kembali tumpah di hadapan Dave. “Dave, jika kau membenci dan tidak ingin aku berada di sini, katakanlah, aku bisa pergi dan tak akan kembali ke hadapanmu.” Nayara menuangkan sedikit pembicaraan yang sangat ingin dia sampaikan pada pria itu.


Hening.


Masih tidak ada jawaban dari pria itu membuat hati kecil wanita itu terasa nyeri. Sakit, tapi tidak berdarah. Entah bagaimana lagi dia harus berkata pada pria yang seperti mati rasa padanya.


“Jika ini keputusanmu yang selalu membuatku seperti mengemis untuk meminta maaf karena kesalahpahaman yang terjadi antara kita, izinkanku untuk pergi dari hadapanmu, ini maumu, dan terima kasih atas kehangatan yang pernah kau berikan untukku, Dave.”


Nayara bangkit dari ranjang, dia mendekat ke arah sebuah lemari pakaian untuk mengemaskan barang-barang miliknya, dia berniat untuk enyah dari hadapan Dave untuk selamanya, sudah tak ada lagi tempatnya di hati pria itu. Dia terkurung rasa yang bersalah karena tak mampu menjelaskan tentang apa yang sebenarnya terjadi.


Memang benar, kesaksian di depan mata jauh lebih membuat semua orang percaya, ketimbang penjelasan yang sebenarnya.


“Jika ini adalah yang terbaik untuk kita, maafkan aku yang tak sempurna menjadi seorang istri, Dave. Mungkin dengan keputusanku untuk pergi adalah yang terbaik untukmu, untukku, dan untuk kita ke depannya.” Nayara membatin di dalam diri.


“Dave, aku pergi.”


Nayara tersenyum menatap pria yang mematung di atas ranjang tanpa menatap ke arahnya, memang benar nyatanya bahwa Dave sudah tak menginginkannya lagi.


Wanita itu dengan cepat melangkahkan kedua kakinya untuk keluar dari dalam kamar yang tak sedikitpun memberikan warna kehidupan. Pernikahan yang hanya berjalan satu bulan ini sudah tak ada harapan untuk membaik.


Dave yang mendengar suara pintu terbuka pun segera bangkit dan mengejar Nayara agar tidak pergi, dia melihat Nayara yang sudah hampir menuruni anak tangga pun segera menarik lengan wanitanya dengan cepat.


“Please, don't go, My Wife! I'm sorry!” Dave mendekap wanitanya dengan erat.


Nayara membulatkan bola matanya dengan sempurna saat melihat reaksi Dave yang memeluknya dengan erat. Pelukan ini terasa sangat hangat di tubuhnya, entah mengapa sangat terasa nyaman.

__ADS_1


Dave menggendong tubuh Nayara tiba-tiba dan membawanya kembali masuk ke dalam kamar mereka beserta koper yang dibawa oleh Nayara.


“Duduklah.” Dave sedikit tersenyum simpul menatap Nayara.


Nayara mendongak menatap binik mata pria yang berjongkok di hadapannya. “Aku tak mengerti dengan sikapmu, Dave. Mengapa kau melakukan ini semua padaku?” tukas Nayara. “Kau bersikap tak peduli, lalu aku memutuskan untuk pergi dari hidupmu, kau menahanku untuk tak pergi, apa yang kau mau dariku?!” Nayara sedikit emosi melihat perlakuan sang suami padanya.


“Maafkan aku, Nay. Maafkan aku, jangan pernah pergi dariku, aku mencintaimu. Ketahuilah itu.” Dave menggapai kedua pipi lembut itu dengan kedua telapak tangannya, dia mengelus lembut pipi Nayara. “Ketika mata melihatnya secara tak sengaja, saat itu pula hati dan otak seakan tak ingin tahu dan tak ingin mengetahui lebih dalam, meskipun apa yang dilihat oleh mata itu hanya sebuah kesalahpahaman, maafkan aku.”


“Tiga minggu kau bersikap tak acuh padaku, Dave. Aku selalu berjuang untuk menjelaskannya padamu, lalu? Apa yang kau lakukan padaku? Aku memasakkan sarapan untuk kau makan, namun tak sedikitpun kau mencicipi hasil masakanku, kan?” Nayara berdecih kesal, dia mengeluarkan apa yang dipendamnya terhadap Dave—suaminya.


“Maafkan aku, Nay. Izinkan aku untuk memperbaiki semuanya, aku ingin menjadi suami yang baik untukmu, dan membangun rumah tangga yang harmonis. Mau, 'kan?” Dave memegangi kedua tangan Nayara, lalu menciumi punggung tangan wanita itu dengan mesra.


“Aku mencintaimu, maafkan sikapku terhadapmu, maafkan aku.” Tak henti-hentinya pria itu meminta maaf atas apa yang sudah dia lakukan terhadap Nayara.


“Secepatnya kita akan pindah ke rumah kita sendiri, dan, ya, usaha boutique milikmu akan aku pindahkan ke samping rumah yang akan kita tempati,” ujar Dave.


“P-pindah?” Nayara bingung. “Ke-kenapa harus pindah, Dave?” tanyanya dengan heran.


“Kita sudah berumah tangga, Nay. Aku ingin kita menjalani rumah tangga yang lebih baik dari ini. Dan untuk boutique aku pindahkan biar kau tidak kenapa-kenapa disaat aku bekerja, ada satpam, dan pelayan yang turut menjagamu disaat aku tak ada di rumah.”


“Tapi, Dave—”


“Untuk istriku, tidak ada yang harus dinilai dengan uang, tidak ada tapi-tapian, aku akan mengurus semuanya dengan segera.”


Nayara tersenyum manis, entah harus bersedih atau bahagia mendapati Dave yang kembali seperti awal pernikahan mereka. Kecemburuan membutakan segalanya.


“Aku mencintaimu, Nay.”


“Aku juga mencintaimu, Dave.”


“Tetaplah bersamaku sampai akhir hayatku.”

__ADS_1


__ADS_2