Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
MCFD : Episode Sembilan


__ADS_3

“Apakah kau mencintainya?” tanya Nayara pada sang suami yang terus memperhatikan seorang wanita yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan keadaan tak sadarkan diri. Sejak awal ke rumah sakit, tatapan dan perlakuan Dave sangat berbeda.


 


Siapa sebenarnya wanita yang ada di atas ranjang pasien ini? Apakah mantan kekasihnya? Tetapi yang dia tahu, wanita itu adalah adiknya. Tapi mengapa perlakuan Dave sangat berbeda?


 


“M-mencintainya?” Dave kaget mendengar pertanyaan yang lolos dari bibir sang istri. Dia menyembunyikan sikap terkejutnya dengan cepat.  “Mana mungkin aku mencintainya, dia adikku, Nay. Jangan salah tanggapan. Seorang kakak akan cemas dan khawatir saat adiknya mengalami sesuatu yang buruk,” elak Dave  serius menatap binik mata wanita itu.


 


“Benarkah? Tapi mengapa aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu, Tuan?” tanya Nayara heran. Dia ingin tahu tentang Dave.


 


“Nay, dia adikku! Sampai kapanpun dia adalah adikku!” tegas Dave nada tinggi.


 


Mendengar jawaban tinggi dari sang suami membuat Nayara seketika membeku. Dia hanya ingin tahu kebenarannya. Apa memang benar suaminya itu menyimpan sesuatu darinya?


 


“Kalian kembali lah ke rumah, Papi dan mami bersama Davi dan Darren akan di sini untuk menjaga Devania bersama Angelina,” ucap Calvin yang tiba-tiba berjalan masuk ke dalam ruang perawatan. Di mana dua orang wanita cantik tengah tak sadarkan diri.


 


“Tapi, Pi—”


 


“Dave, kembali lah, Nak. Kalian baru saja menikah, habiskan malam kalian bersama.”


 


“Baiklah, Pi. Jaga diri Papi di sini dan jaga mami.”


 


***


 


 Nayara turun dari dalam mobil lebih dulu daripada Dave, dia bergegas menuju kamar mereka.  Sesampainya di kamar, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk yang bertabur bunga mawar merah, dia menghadap ke arah dinding kamar yang ada di depannya.


 

__ADS_1


Rasa sesak sejak tadi menusuk hatinya.


 


“Kau kenapa, Nay?” tanya Dave saat dia sudah masuk ke dalam kamar pengantin. Dia mengunci pintu kamar dan mendekatkan diri ke arah ranjang, dia hendak ikut merebahkan dirinya di sana. Di samping sang istri.


 


“Tidak ada,” sahutnya tanpa menatap ke arah Dave, dia memunggungi laki-laki itu.


 


“Apakah kau marah padaku?” tanyanya lirih. “Jika aku bersalah, maafkan aku,” lirihnya.


 


“Tidak ada yang salah denganmu, Tuan.”


 


“Berhentilah memanggilku dengan sebutan Tuan! Aku bukan tuanmu! Aku suamimu!” tegasnya marah pada Nayara, dia menarik lengan sang istri hingga memutar tubuhnya menatap ke arahnya. “Kau marah denganku?” tanyanya lagi.


 


“Tidak.” Nayara menatap Dave. Kemudian senyuman hangat kembali terukir di wajah cantiknya. “Tidak ada yang salah, Dave.”


 


 


Nayara menghela nafas panjang. “Apakah ada yang salah dengan senyumanku? Bersedih tidak akan membuatku menghilangkan rasa sakit, Dave. Aku hanya bisa tersenyum dan tersenyum agar semua orang tahu bahwa aku baik-baik saja.” Wanita itu memalingkan wajahnya dari pria itu, kemudian memposisikan duduknya di hadapan Dave.


 


“Maksudmu?”


 


Diam.


 


“Lihatlah ini.” Nayara membuka sedikit pakaiannya, memperlihatkan bagian tubuh yang memar  kepada Dave. “Luka ini menghinggap di tubuhku, itulah alasan besar mengapa aku selalu tersenyum.” Dia mengangkat wajahnya menatap pria itu, bola matanya sudah dipenuhi air mata yang berlinang di pelupuk mata.


 


“A-apa itu? Me-mengapa bisa lebam seperti itu?” tanya Dave, dia memberanikan diri untuk menyentuh luka yang ada di bahu sang istri.

__ADS_1


 


“Jangan menyentuhnya.” Nayara menahan lengan Dave untuk tidak menyentuh permukaan luka yang ada di bahunya. “Cukup aku yang tahu tentang rasa sakit. Jangan bertanya lagi padaku mengapa aku selalu tersenyum.” Dia menarik sedikit sudut bibirnya untuk tetap tersenyum di hadapan Dave.


 


Luka lebam terdapat di sekujur tubuhnya dari beberapa hari yang lalu saat dia ingin menolak perjodohan dengan Dave—laki-laki yang dianggapnya hanya bisa merendahkan derajat wanita. Nayara sempat menolak keras perjodohan ini, tetapi apa boleh buat. Saat dia menolaknya, justru luka lebam dan memar yang dia dapatkan dari sang ayah yang sangat gila harta dan jabatan. Mereka tega memperlakukan anak gadisnya sedemikian rupa hanya untuk kebahagiaan sementara.


 


“Katakan padaku, apa ini? Dan mengapa tubuhmu banyak luka?!” geram Dave. Dia menangkup wajah cantik wanita itu dengan kedua tangannya. “Mengapa? Katakanlah, aku di sini, di sini bersamamu. Kau tidak sendirian, Nayara.” Dave menatapnya dengan dalam.


 


Nayara mencoba menjauhkan wajahnya dari sang suami. “Tidak ada. Aku di sini baik-baik saja seperti yang kau tahu, Dave.”


 


“Kau membohongiku!”


 


“Ya, kau benar. Aku membohongimu, aku baik-baik saja. Ayo kita tidur. Aku lelah.”


 


Dave pasrah dengan sikap Nayara padanya, dia tahu bahwa wanita itu tidak baik-baik saja. Dia akan mencari tahunya sendiri setelah Nayara tertidur.


 


“Tidurlah. Aku akan menyusulmu nanti.”


 


“Kau tidak ingin tidur denganku?”


“Aku akan menyusulmu nanti.”


“Baik.”


 


Nayara merebahkan kembali dirinya di atas ranjang empuk, dia memunggungi pria itu. Entah mengapa saat kembali mengingat kejadian itu membuatnya sakit. Hanya Dave yang bisa dia percaya dan menjadi perlindungannya saat ini. Dia harap, Dave adalah laki-laki baik yang akan menjaganya.


 


“Aku percaya bahwa kau adalah laki-laki baik, Dave. Terima kasih telah memberikannya untukku, Tuhan. Meskipun aku belum mengenalnya lebih dalam, tetapi aku percaya bahwa garis takdir jauh lebih indah daripada rasa sakit ini. Hanya dia yang kupunya saat ini.” Nayara membatin. Kemudian mencoba memejamkan matanya. Melepaskan rasa sakit yang menggema di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2