Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
Mengetahui Kebenaran


__ADS_3

“Sus, ke mana perginya pasien kita?”


 Dokter Richard menatap heran ke arah sekeliling ruangan, pria itu tidak menemukan keberadaan Nayara sama sekali di dalam sana. Hal itu membuat dada sang Dokter menjadi bergemuruh, ia takut bila hal buruk terjadi pada pasiennya.


 “Semua alat-alat di dalam ruangan ini lengkap, Dok. Sepertinya pasien sengaja meninggalkan ruangan ini,” jawab sang Suster.


 “Siapkan semua alat-alatnya, Sus. Kita harus pergi mencarinya, aku tidak ingin hal buruk terjadi pada Nayara. Aku yakin dia kembali ke rumahnya,” kata Dokter penuh penegasan pada Suster.


 “Baik, Dok. Saya akan menyiapkan semuanya dengan cepat.”


 Suster itu bergegas pergi meninggalkan ruangan. Sedangkan Dokter Richard langsung membuka layar ponselnya, ia mencari data lengkap Nayara untuk melihat alamat tempat tinggal yang ditinggalkan oleh Nayara pada beberapa pekan lalu.


 Dokter Richard mendapatkan alamat itu, ia pun segera pergi meninggalkan kamar pasien. Ia bergegas menemui suster yang tadi ia berikan perintah.


 “Sus, semuanya sudah siap?” tanya Dokter.


 “Sudah, Dok. Mari kita pergi!” kata Suster itu.


 “Let’s go!”


 Dokter dan Suster itu pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka pergi ke alamat yang sudah didapatkan oleh Dokter Richard.


 


** 


“Permisi, apa benar ini kediaman Calvin Brawster?” tanya Dokter Richard pada satpam yang berjaga di depan gerbang rumah mewah itu.


 “Benar, Pak. Ada yang bisa dibantu?” tanya Satpam itu pada sang Dokter.


 “Bisakah saya masuk ke dalam sekarang? Saya sedang ada urusan penting,” kata Dokter.


 “Baik, Pak.”


 Satpam membukakan pagar dengan cepat, membiarkan mobil sang Dokter masuk ke dalam perkarangan rumah mewah milik atasan mereka.


 Dokter Richard memarkirkan mobilnya tepat di halaman depan rumah mewah itu. Dengan cepat ia bersama sang suster keluar dari dalam kabin mobil dengan membawa alat-alat medis yang ada di dalam sebuah mini box.


 Keduanya berjalan masuk ke dalam rumah itu. Dokter datang di waktu yang tepat.


 Melihat kedatangan seorang Dokter membuat semua orang menjadi bingung dan bertanya-tanya, termasuk Dave yang baru saja tiba di ruang tengah.


 “Nayara!” seru Dokter Richard saat melihat Nayara jatuh pingsan di atas lantai, terlihat perempuan itu baru hendak diangkat oleh anggota keluarganya.

__ADS_1


 “D-dokter,” kata Dave heran. “S-siapa yang mengundang Anda datang kemari?” tanya Dave heran. “D-dan k-kenapa Nayara bisa seperti ini, Mam?” tanya Dave menuntut kepada maminya—Riana.


 “Bawa Nayara ke atas sofa, saya akan memeriksa keadaannya!” perintah sang Dokter dengan tegas, ia tidak mau membuang-buang waktu.


 Davi dan Darren membopong tubuh kakak ipar mereka ke atas sofa. Kedua pria itu merebahkan tubuh Nayara di atas sana dengan cepat dan hati-hati.


 “Sus, keluarkan semua alat-alat kita!” perintah Dokter Richard pada asistennya.


 “Siap, Dok.”


 Suster itu segera melaksanakan apa yang diperintahkan oleh sang Dokter padanya.


 Dokter Richard memeriksa keadaan Nayara, lalu memasang beberapa alat medis di tubuh Nayara. Tindakan itu membuat semua orang menjadi kebingungan dan bertanya-tanya sendiri. Siapa sosok Dokter ini? Dan mengapa bisa hadir di rumah mereka tanpa adanya undangan? Bagaimana bisa?


 “Siapa dirimu, Dok?”


 Selaku kepala keluarga Calvin memberanikan diri  mengajukan pertanyaan itu.


 “Dokter pribadi yang menangani penyakit menantumu selama beberapa pekan terakhir,” jawab Dokter Richard tanpa menoleh ke arah Calvin berada.


 Jawaban yang diberikan oleh pria itu membuat semua orang terkejut, serta tak percaya.


 “Menangani penyakit?” Calvin mengerutkan dahinya. “Penyakit apa yang kau katakan, Dok?” tanya Calvin sedikit bernada tinggi.


 “Lanjutkan, Dok. Kami semua akan menunggu.” 


** 


Dokter Richard mengajak semua anggota keluarga Nayara untuk berbicara serius di salah satu ruangan yang di mana Nayara tidak ada agar ia bisa berterus terang dengan tenang.


 “Nayara telah mengidap penyakit ganas selama beberapa tahun terakhir,” kata Dokter mengawali pembicaraan.


 “Penyakit ganas? Apa itu, Dok?” tanya Dave tidak sabar.


 “Nayara mengidap kanker otak stadium akhir.” Dokter menatap semua orang secara satu persatu. “Nayara tidak bisa dipastikan bisa bertahan lebih lama di Dunia ini. Kemungkinan besar ia bisa bertahan hanya satu bulan ke depan.”


 Damn!


 Detak jantung Dave seakan berhenti ketika ia mendengar penjelasan dari Dokter Richard. Bagaimana bisa ia menerima semua ini?


 “Apa yang kau katakan ini, Dok!” bentak Calvin marah, pria paruh baya itu tidak bisa menerima semua kebenaran yang baru saja disampaikan oleh Dokter Richard.


 “Calv, tenangkan dirimu.” Riana memegang pundak suaminya, berusaha menenangkan pria itu. “Jangan gunakan emosimu, mari kita dengarkan semua penjelasan ini sampai akhir.”

__ADS_1


 “Nayara meminta saya untuk merahasiakan semua ini dari kalian. Dan pada hari ini saya terpaksa mengatakan yang sebenarnya karena saya tidak tahan melihatnya menderita seorang diri, kondisi Nayara semakin hari semakin memburuk. Dan saya harap Nayara mendapatkan dukungan dari kalian semua di detik-detik terakhir hidupnya.”


 Semua orang yang mendengar penjelasan dari Dokter Richard hanya bisa terdiam. Tak ada satu pun yang bisa berkata-kata lagi. Mereka tampak tak percaya bahwa Nayara selama ini menyembunyikan luka dan rasa sakitnya seorang diri tanpa ada satu pun orang yang mengetahuinya. Benar-benar wanita yang tidak mau menyusahkan orang lain.


 “Apakah Nayara tadi pagi menemuimu, Dok?” Dave bertanya.


 “Ya, dia datang kepadaku. Awalnya dia hanya ingin periksa, tapi saat mau menjalankan pemeriksaan, Nayara jatuh pingsan sebanyak dua kali. Mau tidak mau, Nayara harus dirawat. Dia sudah berjanji padaku untuk menjalankan perawatan itu di Rumah Sakit, tapi nyatanya Nayara mengingkari semua itu dan kembali kemari.”


 Dokter menjelaskan segalanya. Tidak ada hal yang ia tutup-tutupi dari keluarga Nayara.


 “Tanpa kalian sadari kondisi Nayara saat ini benar-benar memilukan. Mulai dari rambutnya yang mulai botak, berat badannya yang turun drastis. Nayara menutupi rambut aslinya menggunakan wig agar tidak ada satu pun yang curiga dengan dirinya.  Saya harap kalian lebih peka terhadap dirinya.”


 Air mata yang menggenang di kedua pelupuk mata Dave pecah karena ia sudah tak kuasa menahan rasa sedih yang menusuk ke dalam hatinya sedari awal dokter itu menceritakan kebenaran tentang istrinya.


 “Mengapa kau menyembunyikan semua ini dariku, Nay? Mengapa!?” batin Dave.


 “Kak, tenang.” Devania mencoba menghibur sang kakak yang kini tampak begitu terpukul atas berita yang mereka dapatkan. “Kakak Ipar akan baik-baik saja, percayalah.”


 Devania memeluk kakak tertuanya. Ia mencoba memberikan kekuatan untuk pria itu.


 “Jika kau lemah seperti ini aku yakin kakak ipar pasti akan ikut lemah,” bisik Devania. “Kau harus kuat, Kak! Oke?” tegas Nia.


 “Bagaimana aku bisa baik-baik saja setelah aku mendengar semua ini, Nia. Aku tidak sanggup, aku tidak kuat. Tolong.”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2