
Di dalam kamar, seorang wanita tengah terduduk lemah tak berdaya. Dia menangis dalam diam di tengah larutnya keheningan malam, tak ada yang mampu memahaminya untuk saat ini, kecuali diri sendiri. Air mata turun membasahi kedua pipi—mewakilkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini.
“Tak seharusnya cinta ini datang di antara kita, maafkan aku yang terlalu berharap lebih darimu, Kak Dave.” Dia membatin seraya menyeka air mata itu dengan kasar dengan kedua tangannya, entah mengapa malam ini dia sangat tak bisa mengontrol diri untuk tidak baik-baik saja. Setiap manusia mempunyai titik lemah kehidupan bukan?
“Lihatlah, Kak! Aku begitu lemah untuk melepaskanmu, hiks-hiks, maafkan aku yang belum bisa melupakan cintaku padamu, Kak! Aku berjanji pada saat hari pernikahanmu tiba, aku akan benar-benar melepaskanmu, di mana hari itu aku akan menatapmu untuk yang terakhir kalinya sebagai wanita yang mecintaimu.” Gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk di dalam kamarnya, dia menatap ke arah langit-langit kamarnya. “Cinta ini begitu besar untukmu hingga rasa sakitnya sama besarnya.”
Sakit. Itulah yang dia rasakan. Penantian selama bertahun-tahun lamanya terbalaskan dengan kekecewaan yang sangat besar hingga sangat sulit untuk dia terima.
Mengalah demi kebahagiaan orang yang dia cintai adalah prioritas utamanya. Tak apa dia merasakan sakit atas kebahagiaan pria itu. Melihat senyuman manis Dave sudah sangat membuatnya bahagia.
Seiklash-iklashnya cinta adalah mengalah demi kebahagiaan orang yang kita cintai.
“Jika beralih hati itu mudah bagiku mungkin saat ini aku tidak menangisimu lagi, besok adalah hari pernikahanmu dengannya, semoga hatiku bisa lebih tegar daripada malam ini, Kak.”
***
HARI PERNIKAHAN ...
__ADS_1
Di Sebuah Gedung ternama di Kota digelar sebuah pesta megah pernikahan dari dua keluarga kaya raya di Kota ini, penyatuan dua rekan bisnis terikat dengan ikatan keluarga, di mana mereka menikahkan putra dan putrinya dalam ikatan suci.
Janji suci pernikahan sudah diucapkan oleh keduanya, semua acara berjalan dengan lancar tidak ada halangan ataupun gangguan dari manapun, saat ini kedua pengantin itu tengah berfoto mesra di atas panggung dekorasi.
“Kini statusmu sudah menjadi istriku dan aku suamimu, apa pun yang terjadi di dalam rumah tangga kita jangan pernah mempublishnya pada siapa pun,” bisik Dave pada sang istri saat mereka berpose pelukan di hadapan sang fotografer, dia memeluk Nayara dari depan dengan erat, satu tangannya memeluk pinggang ramping sang istri.
“Sebisanya aku akan menjadi istri yang baik untukmu.” Nayara tersenyum hangat menatap Dave.
“Satu, dua tiga! Cekrek!”
Foto-foto mesra keduanya tertangkap dengan sangat cantik oleh sang fotografer.
“Suaramu sangat mengganggu sekali.” Dave menggerutu pelan saat Devania berada di hadapannya dan sang istri bersama Angelina. Senyuman yang tadi terhias di wajahnya dengan perlahan memudar saat melihat kehadiran Angelina di samping sang adik.
“Selamat atas pernikahanmu, Kak. Semoga kalian selalu bahagia dan cepat diberikan buah hati yang lucu,” sahut Angelina memberikan ucapan selamat kepada pria dan wanita itu, dia mengembangkan senyuman hangat di wajahnya. “Selamat juga untukmu, Kakak Iparku, jangan sungkan untuk menghabiskan waktu dengan kami berdua, ya.” Sambungnya lagi.
“Terima kasih untuk adik-adikku. Kemarilah!” Dave merentangkan kedua tangannya—mempersilakan keduanya untuk memeluknya, senyuman paksa terlihat di wajahnya.
__ADS_1
Kedua wanita itu memeluk Dave dengan erat, untuk yang terakhir kalinya Angeli memeluk laki-laki itu. Sesuai janjinya malam itu bahwa dia akan benar-benar mengikhlaskan sang pujaan hati. Air mata tak lagi turun membahasi pipi, dan hati tak lagi merasa perih melihat pria itu bersanding mesra dengan wanita yang dia cintai. Mungkin inilah yang namanya benar-benar mengikhlaskan—saat cinta telah menemukan caranya tersendiri.
“Izinkan aku untuk membawakan nyanyian untukmu, Kak.” Angelina menebarkan senyumannya menatap ke arah Dave dan Nayara. “Ayo, Nia. Kita nyanyi untuk ikut memeriahkan acara pernikahannya Kak Dave,” ajaknya pada Devania.
“Ah, iya, aku hampir saja lupa bahwa kita ingin menyumbangkan lagu untuk kakak kita satu ini.”
“Kalian ingin bernyanyi?” Dave menaikkan satu alisnya heran. Dia tahu bahwa kedua adiknya ini sangat tidak suka menyanyi. Mengapa mereka tiba-tiba hendak menyanyi. “Kakak tahu bahwa kalin tidak suka bernyanyi, mengapa kalian hendak bernyanyi?” tanyanya dengan heran. Menatap Devania dan Angelina secara bergantian satu sama lain.
“Karena hari ini adalah hari spesial Kakak dan Kakak Ipar, maka kami akan menghadiahkannya untuk kalian,” sanggah Angelina dengan cepat. “Iya, ‘kan, Nia?” lanjutnya lagi.
“Kalian adalah adik yang sangat romantis,” puji Nayara tersenyum menatap ke arah Angelina dan Devania.
“Tentu saja, Kakak Ipar, apalagi Kak Dave adalah kakak tertua kami,” pungkas Devania. “Kami akan segera memberikan kalian lagu terbaik.”
Angelina dan Devania meminta mic kepada sang pembawa acara, mereka hendak segera menyanyikan sebuah lagu dengan judul BEFORE YOU GO yang dinyanyikan oleh LEWIS CAPALDI. Salah satu lagu yang mewakilkan perasaan Angeli saat ini.
Dave mendengarkan dengan baik saat lagu sudah mulai dinyanyikan oleh kedua adik perempuannya itu, entah mengapa lagu itu sangat dihayati oleh Angelina sedangkan Devania biasa saja, seketika rasa bersalah di dalam diri kembali muncul dibenaknya.
__ADS_1
Apakah lagu yang dibawakan oleh Angeli merujuk padanya?