
KEESOKAN HARINYA.
Seorang wanita cantik yang telah berpakaian rapi tengah bercermin. Dia duduk di meja rias miliknya seraya mengenakan make-up, hari ini adalah hari spesial untuknya. Di mana dia telah membuat janji untuk bertemu dengan Lucio.
Laki-laki yang berhasil memikat hatinya setelah sekian banyak pria yang mencoba mendekatinya. Jujur saja bahwa dia menyukai Lucio, fisiknya yang bisa terbilang sempurna, dan hatinya yang lembut. Penilaian Devania terhadap Lucio sangatlah bagus, ia yakin bahwa Lucio bisa bahagia bersama dengannya.
Devania tahu bahwa lelaki itu adalah mantan kekasih kakak iparnya, namun dia tidak memperdulikan hal itu. Lagian mereka sudah putus, dan menjalani kehidupannya masing-masing.
Setelah selesai mengenakan make-up, dia segera bangkit dari sana. Dia hendak segera pamitan kepada orang tuanya dan pergi menemui pria yang sudah memikat hatinya itu. Rasa tidak sabar untuk bertemu dengan Lucio teramat besar sekali di dalam dirinya.
Perlahan Devania keluar dari dalam kamarnya, dan menuruni anak tangga dengan cepat. Kedua bola matanya menangkap pemandangan indah, di mana seluruh anggota keluarga sedang berkumpul sarapan pagi bersama-sama di meja makan. Sepertinya pembahasan begitu asik sekali, membuat Devania begitu penasaran.
Apa yang mereka bahas di pagi hari seperti ini? Ya, sepertinya dia ketinggalan kereta karena terlambat turun untuk sarapan pagi bersama. Akan tetapi, hal itu tidak membuatnya berkecil hati, karena dia akan menemukan Lucio.
“Good morning, Momy, Dady!” sapa Devania, dia menebarkan senyuman manis kepada semua anggota keluarganya. Dia menciumi kedua pipi Riana dan Calvin secara bergantian.
Riana tersenyum lebar menatap putri bungsunya itu. “Good morning to, My Heart,” balas Riana terkekeh. “Kamu mau ke mana?” tanyanya heran, dia menatap pakaian putrinya itu sangat rapih dan aroma wangi di tubuh putrinya sangat harum. Sepertinya dia akan pergi. Pergi ke mana sepagi ini?
“Good morning to, My Princess.” Calvin tersenyum lebar mendapati sikap manis putrinya.
“Em, ke mana ya kira-kira?” Devania menggoda Riana sambil terkekeh. “Mami mau tau aja,” elaknya tertawa kecil.
Riana mengerutkan dahinya heran. “Anak Mami sudah pintar seperti itu, ya,” celetuk Riana, dia mencubit pelan pinggang putrinya yang berdiri di sampingnya.
“Awww! Sakit, Mami!” marahnya tidak suka. “Mami seperti tidak pernah muda saja,” ocehnya dengan bibir cemberut.
__ADS_1
“Kau mau ke mana?” suara dingin itu membuat Devania menghentikan pembicaraannya, dia menatap asal sumber suara. Dia menatap wajah kakak tertuanya—Dave, yang menatapnya secara sinis. “Jika Mami sama Papi bertanya padamu dengan serius, jangan pernah kau menganggapnya sebuah candaan, Devania. Hargai mereka, paham?!” tegas Dave dengan sorot mata tajam bak elang yang mengincat mangsanya.
“Eh, i-iya, Kak. Maaf.”
“Katakan sekarang, kau mau ke mana?!” tanya Dave dengan nada sedikit tinggi.
Devania menundukkan wajahnya ke bawah tanpa menatap sang kakak. “Aku akan pergi bersama Lucio, Kak ...,” lirihnya menjawab pertanyaan dari sang kakak tertua.
Dave berdecih seketika. “Kau akan pergi dengan sialan itu?” Dia meremehkan Lucio di hadapan Devania.
“Kak, kau—”
“Berhenti!” teriak Calvin marah, dia menatap keduanya dengan sorot mata tajam. “Pergilah dan hati-hati di perjalanan, dan ingat satu lagi, Devania. Jangan pulang terlalu lama, jaga dirimu di luar sana. Jika ada apa-apa cepat hubungi Papi dan kakak-kakakmu.”
***
Melihat foto tersebut membuat hatinya nyeri seketika. Meskipun bibir mengatakan ia telah melupakan kisah asmaranya bersama Nayara, akan tetapi hati tidak bisa berbohong. Dia masih mencintai wanita itu, bahkan foto bersama Nayara masih tersimpan utuh di galeri ponselnya. Dia tidak menghapus kenangan tersebut di ponsel miliknya, bahkan chatting mesra yang pernah mereka lakukan tidak dia hapus.
Sesayang itu dia kepada Nayara. Namun apalah daya jika takdir tak mengizinkan mereka untuk kembali bersama-sama.
“Jika dia adalah jodohku, maka semesta sekalipun tak membiarkannya menjadi milik pria lain, selain aku. Berbahagialah dengan pilihanmu itu, Nay. Aku mencintaimu untuk sekarang, tetapi aku berjanji untuk tidak menghancurkan kebahagiaanmu dengan pilihanmu itu.” Lucio membatin di dalam diri, menatapi foto yang ada di layar ponselnya. Sakit tentu ia rasakan. Namun apa boleh buat untuk saat ini? Selain mengiklashkan?
“Hai!” Devania menepuk pundak Lucio secara tiba-tiba sambil menyengir.
Lucio yang terkejut pun segera menutup ponselnya, dia memutar tubuhnya untuk melihat siapa yang datang. Dia cukup kaget akan kehadiran Devania secara tiba-tiba di sini. Akankah wanita itu mengetahui bahwa dia sedang memandangi wajah kakak iparnya bersama kakaknya? Ah, entahlah. Semoga saja itu tidak.
__ADS_1
“H-hai, mengapa kau mengejutkanku?” Lucio sedikit grogi dengan kehadiran Devania saat ini.
Wanita itu tersenyum sumringah. Lalu dia segera mengambil posisi duduk di hadapan Lucio, mereka berhadapan satu sama lain di meja yang sama. Devania meletakkan ransel mininya di atas meja, lalu kembali fokus nenatap ke arah Lucio berada.
“Tidak ada. Apakah yang aku lakukan salah?” tanyanya dengan wajah polosnya, kemudian diiringi oleh suara tawa.
Lucio menghela nafas panjang di hadapan Devania, lalu mengusap kasar wajahnya dengan satu telapak tangan miliknya. “Kau bisa saja membuatku jantungan, Gadis Kecil!” Lucio mendesahkan nafasnya pelan ke udara. “Bagaimana jika aku mati mendadak?” Dia mengomel.
“Ck! Bagaimana kau mati mendadak? Aku tidak gila untuk membuatmu seperti itu,” elak Devania gemas. Dia pun menarik hidung mancung milik pria itu. “Kau sangat-sangat menggemaskan.”
Melihat tingkah konyol Devania membuat Lucio hanya bisa menggelengkan kepalanya berulang kali hingga membuatnya tak habis pikir dengan gadis aneh di hadapannya ini. Dia terlihat begitu kekanak-kanakan sekali.
“Bersikaplah sewajarnya.” Suara dingin Lucio akhirnya keluar. Apa yang dilakukan oleh Devania menurutnya terlalu berlebihan, dan dia tidak suka akan hal itu.
“Why?”
“Tidak ada.”
“Baik-baiklah, maafkan sikapku.” Devania merasa bersalah atas sikapnya yang membuat Lucio tidak nyaman. “Mengapa raut wajahmu seperti sedang menutupi sesuatu? Apakah kau memiliki masalah?” tanya Devania penasaran. Dia ingin tahu apa yang terjadi dengan Lucio.
Lucio melontarkan tatapan tajam ke arah Devania, hal itu membuat Devania menundukkan wajahnya ke bawah. Mengapa kali ini sikap Lucio berubah? Tidak seperti kemarin saat bertemu dengannya. “Apa maksudmu?” Lucio menaikkan satu alisnya. “Tidak perlu bertanya lebih kepadaku, paham?” sinis Lucio tidak suka.
Bersambung ...,
...----------------...
__ADS_1
Spoiler vidio Lucio & Devania saya update di akun instagram saya. @Oktavianii_Offc. Jangan lupa di follow dan lihat, ya. Insya Allah akan update rutin kembali, thank🤍💗🤍