Mengejar Cinta Four D

Mengejar Cinta Four D
MCFD : Episode Enam


__ADS_3

“Apa yang ingin Kakak katakan padaku?” tanya seorang wanita cantik dengan wajah ranumnya, bulu mata sedikit letik itu selalu memikat pandangan Dave, dia sangat suka memandangi wajah cantik dan anggun anaknya sang paman dan bibi yang sejak kecil bermain dengannya di kala orang tuanya sedang sangat sibuk.


Dave hanya memandanginya tanpa bicara, dia seakan enggan untuk berbicara dengan jujur, padahal dia sudah meniatkan dari hatinya untuk berbicara dengan jujur tentang kenyataan yang sebenarnya. Bibir yang sejak tadi ingin segera berbicara tiba-tiba menjadi membisu, seakan tak ada tenaga untuk mengatakannya, dia belum siap untuk melihat perubahan raut wajah wanita yang ceria ini menjadi kecewa karena keputusannya.


“Kenapa Kakak hanya diam saja? Apakah Kakak tidak ingin bicara denganku? Jika seperti itu, lantas mengapa Kakak mengajakku bertemu?” tegur Angelina pada laki-laki yang ada di sampingnya hanya berdiam diri saja.


“Aku belum siap untuk melihat kekecewaanmu, Lina.” Pria itu membatin, dia membuang wajahnya dari hadapan Lina, menatap ke arah lain untuk menahan rasa sesak di dalam diri ini, mengapa rasanya sangat sulit sekali untuk berkata bahwa dia akan segera menikah kepada Lina?


“Apakah jika aku mengatakannya kau akan tetap menjadi Lina yang aku kenal?” lirihnya bertanya kepada wanita itu tanpa memandanginya, dia masih belum ingin menatap wajah gadis itu, dia begitu rapuh untuk hal ini.


Angelina mengerutkan dahinya heran, dia tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak. “Apa yang Kakak maksud?” tanyanya masih dengan penasaran.


“Aku akan segera menikah dengan wanita yang aku cintai,” ucapnya dengan lantang, mencoba menjadi pria tegas agar wanita itu segera menghilangkan rasa cintanya terhadap dirinya. “Aku harap kau tidak akan mengganggu kehidupanku sebagai laki-laki yang kau cintai, aku adalah kakakmu, dan kau adalah adikku, tolong hapuslah rasamu terhadapku. Aku harap kau tidak akan kecewa denganku karena aku selalu mengatakannya padamu untuk menghapuskan rasa cinta itu,” sambungnya lagi dengan penuh penegasan.


Lina hanya terdiam mematung di tempatnya berada, dia tidak menyangka dengan apa yang baru saja dia dengarkan, dia kira Dave mengajaknya bertemu di luar untuk membahas hal yang sudah dia impikan, namun semua itu tidak sesuai dengan ekspetasinya, apakah ini adalah mimpi? Apakah dia sedang mimpi buruk kali ini?


Air mata yang hendak turun dari kelopak matanya dengan cepat dia seka agar tak tumpah di hadapan laki-laki itu, dadanya terasa sangat sesak saat mengetahui cintanya mencintai wanita lain. Penantiannya selama bertahun-tahun kini pupus begitu saja. Tidak ada yang lebih sakit dalam permasalahan cinta saat tahu pria yang kita cintai ternyata mencintai wanita lain.


“A-apakah tidak ada tempat sama sekali untukku di hatimu, Kak?” tanyanya dengan lirih, nadanya terdengar sangat kecewa sekali. Dia memberanikan menatap binik mata yang menjadi favorite-nya itu dengan dalam. “Jika cinta ini memang tak seharusnya ada padaku, maafkan aku yang mencintaimu, izinkan aku untuk melepaskanmu dengan iklash, Kak.”

__ADS_1


Angelina tak kuasa menahan air mata itu agar tidak jatuh, rasa sakit sangat menggema di hatinya, dia tertunduk seketika air mata jatuh dengan deras, dia merasakan kecewa yang sangat dalam pada dirinya.


Dave terdiam mematung menatapi Angelina, dia ingin sekali memeluknya untuk sekarang, tetapi dia sadar bahwa dia akan segera menikah dengan Nayara, dia harus kuat untuk menyudahi semuanya.


“Berdirilah dan jangan menangis karena cinta, kau tidak boleh lemah. Tetaplah kuat seperti Angeli yang dulu aku kenal, kau adalah adikku dan aku kakakmu. Kemarilah!” tegas Dave pada wanita itu, hatinya ikut terasa nyeri saat melihat Angelina menangis di hadapannya, dia merasa gagal menjadi seorang laki-laki ketika melihat wanita yang dia cintai menangis karenanya.


Angelina menyeka air matanya dengan kasar, dia kembali menatap binik mata pria itu. “Izinkan aku untuk memelukmu, Kak, sekali saja dan untuk terakhir kalinya. Setelah itu, aku akan melupakanmu dan membiarkanmu bahagia dengan wanita pilihanmu.” Angelina mendekatkan dirinya dengan pria itu, dia segera memeluknya dengan erat, menangis di dalam dekapan Dave.


“Seiklash-iklashnya cintaku padamu adalah membiarkanmu bahagia bersama pilihanmu. Jika kau bisa bahagia tanpa kehadiranku, mengapa harus aku sesali?” Lina membatin.


Dave membalas pelukan dari wanita itu, dia mengelus punggung Angelina dengan penuh kelembutan. “Maafkan aku egois, Lin. Aku tidak bisa menjadi pria tegas, maafkan aku yang tidak bisa bersama denganmu, sebagai kakak tertua, aku harus mengalah demi adikku—Daren, suatu saat kau bisa merasakan kehangatan cinta darinya.” Dave membatin.


Sepulangnya dari sebuah taman di pinggiran Kota, mereka hanya berdiam diri di dalam mobil, tidak ada percakapan antaranya, hanya ada keheningan yang tercipta diiringi alunan nada musik yang ada di dalam mobil.


Keputusan yang sudah diambil oleh Lina adalah yang terbaik, dia memutuskan untuk cintanya pergi. Mau sekuat apa pun dia mencoba menahannya, jika Dunia tidak mengizinkan, maka akan tetap terpisah juga.


‘Level tertinggi mencintai adalah mengikhlaskan’


Sesampainya di rumah utama, Angelina turun lebih dulu dan bergegas meninggalkan pria itu, dia ingin berdamai dengan hatinya terlebih dahulu. Dia tidak kecewa kepada Dave, hanya saja dia merasa amat kecewa dengan dirinya sendiri, mengapa bisa dia tidak bisa move-on sejak dahulu dan berharap cintanya akan terbalaskan?

__ADS_1


“Aku tahu kau kecewa denganku, Lin. Tapi ini adalah kebaikanku dengan adikku, maafkan aku. Aku harus mengalah, aku tak ingin hanya karena seorang wanita hubunganku dengan adikku akan hancur. Maafkan aku.” Lirih Dave dengan pelan, dia menatap punggung wanita itu dari dalam mobil hingga menghilang dari pandangannya. “Aku yakin ini adalah yang terbaik untukku, untukmu dan untuk adikku, aku sadar bahwasanya aku hannyalah seorang anak angkat dari mami sama papi, aku sadar diri untuk hal itu.” Dave mendesahkan nafasnya pelan ke udara, kemudian dia beranjak hendak keluar dari dalam kabin mobil.


“Kau dari mana saja, Kak?” tanya Davi saat melihat sang kakak berjalan di hadapannya.


“Ah, kau! Mengagetkanku saja, Davi. Mengapa kau masih ada di sini saat larut malam seperti ini?” selidik Dave mengalihkan pembicaraannya Davi.


“Mencari udara segar, kalau kau sendiri dari mana, Kak? Kau terlihat sangat gusar sekali akhir-akhir ini, ada apa denganmu? Apakah kau sangat gugup untuk segera menikah?” goda Davi terkekeh kecil menatap sang kakak. Dia sangat suka menggoda Dave.


“Ya, aku sangat gugup sekali, Davi. Ayo masuk! Sudah larut malam. Anak kecil tidak boleh tidur terlalu larut,” canda Dave, dia merangkul pundak sang adik untuk masuk ke dalam rumah.


“Ah, kau bisa saja menggodaku, Kak! Apakah kau tidak bisa melihat bahwa adikmu ini sudah tumbuh dewasa?” decit Davi dengan berpura-pura marah pada kakaknya itu.


“Meskipun kalian sudah tumbuh dewasa, kalian tetaplah adik kecil bagiku, Davi. Dan aku, adalah kakakmu.” Dave menyindir dengan tepat, dia tersenyum semringah menatap sang adik.


“Kenapa bajumu tercium aroma parfume wanta, Kak? Kau habis dari mana?” selidik Davi dengan serius, dia menciumi pakaian sang kakak.


Dave tersenyum simpul menatap sang adik yang selalu penasaran dengan apa yang setiap dia lakukan.


“Apakah kau lupa bahwa kakak habis melangsungkan pertemuan dengan wanita itu, Davi? Apakah kau lupa bau parfume mami?” ujar Dave mengelak, dia memiliki alasan yang pas setiap kali Davi ingin menyelidiki dengan penasaran setiap apa yang dia lakukan.

__ADS_1


__ADS_2