
Nayara berusaha untuk menerima kenyataan bahwa hidupnya sudah tidak bisa diselamatkan lagi. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan. Wanita itu terisak dalam tangisannya sembari mencoba untuk menutup kedua matanya.
Namun, saat Nayara mencoba menutup kedua matanya, tiba-tiba ponselnya berdering hingga membuat kedua matanya terbuka secara paksa. Dengan sigap Nayara meraih benda pipih yang ada di dekatnya. Terlihat panggilan masuk dari seorang pria yang tidak lain adalah suaminya sendiri.
Wanita itu menatap ragu ke arah ponselnya. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Haruskah dia menekan tombol hijau? Ataukah tombol merah? Jika iya menekan tombol merah, otomatis Dave akan semakin cemas akan keberadaan dirinya. Tapi, bila dia menekan tombol hijau, apa yang harus dia katakan kepada Dave?
Nayara pun memutuskan untuk mengangkat panggilan itu.
“Hallo, Dave.” Dia menyapa pria yang ada di balik sambungan telefon itu dengan suara seraknya.
[[“Kau ada di mana?”]] suara panik pria itu dapat didengar jelas oleh Nayara. [[“Kenapa kau pergi secara diam-diam dan tak memberitahu semua orang?”]] tanya Dave, suara pria itu terdengar sedikit ketus.
Nayara mengusap air mata yang membanjiri permukaan pipinya. “A-aku sedang berada di rumah orang tuaku, Dave. Maafkan aku yang tiba-tiba pergi begitu saja tanpa memberitahu dirimu dan keluargamu. Tapi tenang saja, aku akan segera kembali ke sana,” balas Nayara.
[[“Harusnya kau membangunkanku untuk itu, aku bisa menemanimu pergi ke sana,”]] papar Dave. [[“Pulanglah, aku menunggumu.”]]
“Aku akan pulang secepatnya.”
Nayara memutuskan panggilan.
Perempuan itu meletakkan kembali ponselnya di samping tempat ia tidur. Sejenak Nayara terdiam, ia memandangi langit-langit kamar pasien yang sekarang ia tempati. Tidak ada pilihan lain bagi Nayara saat ini selain harus pulang ke rumah mertuanya, atau jika tidak Dave dan yang lain akan tahu tentang kebenaran yang ia sembunyikan.
“Maafkan aku telah melanggar janjiku padamu, Dok.”
Nayara melepaskan semua alat-alat yang dipasang di tubuhnya satu persatu dengan sedikit hati-hati. Kemudian ia segera turun dari ranjang pasien. Ia pergi mengambil barang-barangnya yang ada di sofa. Sebelum keluar dari rumah sakit, Nayara mempersiapkan penampilannya terlebih dahulu. Perempuan itu tak lupa untuk mengenakan rambut wig-nya.
Setelah merasa penampilannya cukup baik seperti pada awal ia datang kemari, Nayara pun bergegas meninggalkan ruangan itu. Namun, sebelum ia meninggalkan rumah sakit, Nayara memutuskan untuk membayar semua tagihannya lebih dulu serta menebus obat yang sudah diberikan oleh Dokter Richard padanya.
Nayara sudah selesai membayar semua tagihan dirinya dan menebus semua obat di Apotek Rumah Sakit. Perempuan itu memesan taxi online, tak lama kemudian taxi yang dipesan oleh Nayara sudah tiba di depan Rumah Sakit.
Nayara langsung pergi masuk ke dalam taxi.
“Pak, antarkan saya ke alamat Xxx, ya!” perintahnya pada sang sopir taxi
“Baik, Non.”
Sopir itu menyetujui perintah Nayara. Mereka pergi meninggalkan perkarangan Rumah Sakit tanpa menunggu lama.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja untuk sopir mengantarkan Nayara kembali ke CB Mansion.
__ADS_1
“Ini, Pak, uangnya. Terima kasih banyak ya, Pak.”
Nayara tersenyum hangat sembari memberikan beberapa lembar uang kepada sopir taxi itu.
Dengan cepat gadis itu turun dari dalam kabin mobil. Ia berjalan membawa tubuhnya masuk ke dalam rumah mewah milik mertuanya.
“Kakak Ipar,” sapa Angelina. “Kakak dari mana saja? Semua orang tampak mencemaskan Kakak sejak tadi, termasuk Paman Calvin dan Bibi Riana,” imbuh Angeli.
Nayara tersenyum kecut. “Maaf, Angeli. Aku baru pulang dari rumah orang tuaku, aku tidak ke mana-mana, kok.” Nayara berbohong pada gadis berkursi roda itu. “Bagaimana keadaanmu hari ini? Kau baik-baik saja?” tanya Nayara, ia memperhatikan Angeli dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
“Seperti yang Kakak lihat bahwa aku baik-baik saja.” Angeli menebar senyuman. “Sebaiknya sekarang Kakak masuk ke dalam rumah, semua orang menunggu Kakak.”
“Kau benar, Angeli. Baiklah.” Nayara tersenyum hangat menatap gadis cantik itu. “Apa kau juga ingin ikut masuk ke dalam? Jika iya, aku akan membawamu ke sana,” ajak Nayara ramah.
“Tidak. Sebaiknya Kakak saja, aku hanya ingin berada di sini selama beberapa waktu,” tolak Angeli halus. “Pergilah, Kak.” Angeli meminta wanita itu untuk segera masuk ke dalam rumah.
Perempuan itu tersenyum simpul menatap ke arah Angeli berada, lalu tak lama kemudian ia pun bergegas meninggalkan teras. Ia berjalan masuk ke dalam rumah mewah. Kedua matanya membola ketika ia melihat seluruh keluarga besar suaminya sudah berkumpul rapi di ruang keluarga. Apa yang dikatakan oleh Angeli ternyata benar kalau semua orang tengah menunggu kepulangan dirinya.
“Nayara,” sapa Riana, perempuan itu segera menghampiri menantunya. “Kau baik-baik saja, Nak?” tanyanya penuh perhatian, ia memperhatikan Nayara dari ujung kepala hingga ke ujung kaki.
Nayara membalas tatapan ibu mertuanya. “Tenang saja, Mam. Aku baik-baik saja, kok. Maaf sudah membuat kegaduhan di rumah ini,” ucap Nayara merasa bersalah.
“Tidak apa-apa, tapi lain kali kau tidak boleh melakukan hal yang seperti ini lagi, ya?” pinta Riana pada menantunya.
“Baik, Mam.”
Nayara mengalihkan pandangan matanya ke arah suaminya, Dave, terlihat pria itu seperti sangat badmood. Mungkinkah Dave marah padanya?
__ADS_1
“Dave,” lirih Nayara. Wanita itu melangkahkan kedua kakinya mendekat ke arah Dave berada. “Maaf.”
Hanya kalimat itulah yang bisa ia katakan saat ini pada suaminya.
Dave tak menggubris sama sekali.
Ia mendiamkan Nayara selama beberapa detik, lalu berlalu pergi begitu saja meninggalkan ruang tengah. Pria itu pergi menyusuri anak tangga untuk sampai di lantai atas, tepat di mana kamarnya berada.
Nayara memandangi kepergian suaminya yang begitu saja dari hadapannya dengan rasa kecewa dan sesak. Ia merasa begitu bersalah pada laki-laki itu. Tapi, apa yang harus dia lakukan sekarang? Entahlah, Nayara tidak memiliki kekuatan saat ini.
“Ma, Paa, maafkan Nayara, ya?” Perempuan itu menatap wajah Calvin dan Riana secara bergantian. “Darren, Davi, dan Devania, maafkan aku juga, ya?”
“Tidak apa-apa, Kak. Lain kali kau harus berbicara, ya?” kata Triple D secara kompak.
“Istirahatlah, Nak. Kau pasti lelah ‘kan?” kata Calvin.
“Susul lah suamimu, Nak. Dia butuh dirimu saat ini,” usul Riana.
“Baik, Maa, Paa.”
Nayara mencoba menguatkan diri dan hatinya untuk bertemu secara empat mata dengan suaminya. Namun, saat ia hendak melangkahkan kedua kakinya meninggalkan ruang keluarga, tiba-tiba saja rasa sakit menyerang dirinya begitu hebat hingga membuat pandangan matanya mendadak menjadi sangat gelap, alhasil perempuan itu jatuh pingsan. Tubuhnya ambruk ke atas lantai.
Semua orang yang berada di ruang keluarga mendadak terkejut dengan hal itu. Riana yang terkejut pun berteriak memanggil putra tertuanya—Dave—dengan sangat kuat.
“Daveeeeeeee!” teriak Riana histeris karena melihat menantunya jatuh pingsan.
Dave yang baru saja tiba di depan ambang pintu kamarnya mendadak menjadi menghentikan langkah kakinya untuk masuk ke dalam kamar. Ia pergi meninggalkan ambang pintu kamarnya dengan cepat menuju ke lantai bawah untuk melihat apa yang terjadi. Dalam benaknya bertanya, kenapa maminya berteriak memanggil namanya dengan sangat kuat? Tidak biasanya maminya bersikap seperti ini.
__ADS_1