Menggauli Siluman Ular

Menggauli Siluman Ular
14. Teror Kaki Gajah


__ADS_3

Warkonah janda beranak tiga. Dia ditinggal mati suaminya sejak tiga tahun yang lalu. Ketiga anaknya sudah berumah tangga. Anak pertama dan kedua telah punya rumah sendiri. Hanya anak ketiga atau si bungsu yang masih tinggal serumah.


Dia namanya Tini dan sudah nikah dengan Warno. Selama ini kehidupan mereka damai tenteram. Tidak masalah. Hanya tiga hari terakhir ini Warkonah mengaku sulit tidur.


"Dan yang paling meresahkan adalah semalam...!" Ujar Warkonah kepada keponakanya Sopari yang kebetulan main ke rumahnya.


"Emangnya semalam ada apa Bi..!?" Tanya Sopari kepada Warkonah.


"Semalam...sudah susah tidur...tiba-tiba seperti ada orang berjalan suaranya gede banget...suara jejakan kakinya benar-benar gede dan luar biasa..!" Papar Warkonah.


"Terus bagaimana...Bi..!?" Tanya Sopari lagi.


"Ya suara orang berjalan dengan suara berat terus berlangsung hingga jam tiga pagi, ini tidak saja menakutkan namun juga sangat mengganggu...!" Urai Warkonah.


"Apa nggak sebaiknya panggil orang pinter untuk melihat dan mengusirnya Bi...!?" Ujar Sopari.


"Ya idemu cukup bagus...apa kamu punya kenalan Ri..orang seperti itu..!?" Tanya Warkonah.


"Ada Bi....namanya Mas Giri. Apa coba kuminta tolong kepadanya Bi..!?"


"Ya boleh kamu coba minta bantuannya sana..!"


"Kalau Bibi setuju aku akan ke Mas Giri sekarang..!?" Tegas Sopari dan Warkonah cuma mengangguk.


Warkonah cuma mengangguk setuju dan Sopari langsung pergi ke tempat Sugiri tukang pijat refleksi yang juga pintar ngusir makhluk halus.


Rumah Sugiri tidak begitu jauh masih satu kampung sehingga hanya sekitar lima belas menit Sopari sudah sampe lokasi.


Rumah Sugiri tidak begitu besar. Tetapi cukup nyaman.


"Assalamu'alaikum...!" Sopari menyampaikan salam dan dijawab salam yang sama dari dalam.


"Ohw ada tamu...mari silahkan masuk...!" Sapa Sugiri ramah dan Sopari mengikuti masuk ke dalam rumah.


"Ada apa Mas...kok tumben dolan ke rumahku..!?" Ujar Sugiri kepada Sopari.


"Ya Mas Giri...sebenarnya sudah lama aku pengin silaturahmi kemari...tetapi takut mengganggu Mas...!" Jawab Sopari diplomatis.


"Ohw alaaahhh...ngganggu apa-an. Emangnya aku Presiden sehingga waktuku gak bisa terganggu..!?" Jawab Sugiri sembari bergurau.


"Baiklah Mas...begini aku datang ke sampean karena disuruh Bibiku Warkonah...dia mau minta bantuan Mas Giri...untuk melihat gangguan di rumahnya yang dilakukan makhluk tidak kasat mata..!" Papar Sopari.


"Aku tidak keberatan...tapi ntar aku lihat dulu ya lokasinya..!?" Jawab Sugiri.


"Bisakah siang ini Mas Giri bareng sama aku ketemu Bi Warkonah dan lihat rumahnya..!"


"Bisa..ayoh aku bonceng motormu saja ya..Mas..!?"


"Monggo itu lebih baik..!"


Setelah pamitan kepada isterinya Sopari dan Sugiri berboncengan motor beat merah menuju rumah Warkonah.

__ADS_1


Sementara Sopari mengirim pesan WA Warkonah bahwa Sugiri akan datang bersamanya. Tujuannya agar Warkonah menyiapkan minuman dan segala sesuatunya.


Seperti berangkatnya, pulangnya pun hanya membutuhkan waktu lima belas menit.


Karena sudah di WA Sopari sehingga Warkonah sudah berada di depan rumah untuk menyambut Sugiri.


"Wah terima kasih ya Allah...Mas Giri mau rawuh kesini...!" Sambut Warkonah dan Sugiri menyambutnya dengan ucapan salam.


"Mungkin Mas Giri sudah mendengar cerita dari Sopari ya....!? Ya aku minta tolong Mas Giri untuk mendeteksi gangguan macam apa yang ada di rumahku ini...tolong Mas...jika harus diusir tolong bantu mengusirnya..!" Pinta Warkonah kepada Sugiri.


"Ya ntar kulihat dulu Bi...boleh saya masuk rumah untuk melihat-lihat..!?" Ujar Sugiri.


"Ohw silahkan...jangan sungkan-sungkan. Anggap saja rumah sendiri..!"


Dan Sugiri melangkah masuk diikuti Sopari sebagai penunjuk jalan. Sementara Warkonah menyiapkan minuman dan makanan.


Pertama Sugiri melihat ruang tengah dan Sopari menanyakan. "Bagaimana ruang tengah Mas...!?"


"Cukup aman...coba tolong bukakan kamar ini dan yang itu...!" Ujar Sugiri kepada Sopari dan yang bersakutan membuka kamar seperti yang diminta.


Sugiri segera melihat dan meneliti dua kamar itu dengan menggunakan tenaga prana. Kedua telapak tangan Sugiri mengembang dan semacam radar tangan itu mendeteksi seluruh kamar. Sembari bergumam Sugiri mengatakan tidak ada getaran jadi dianggap aman.


Dan Sopari mengajak Sugiri untuk melihat kamar ketiga. Sama seperti tadi, Sugiri menggunakan tangannya sebagai radar untuk mendeteksi dan kembali dia mengatakan aman.


Sopari terus membimbing Sugiri ke dapur dan kamar mandi. Sampe di dapur Sugiri terhenti. "Kayaknya dari daerah sini gangguan itu...!" Ujar Sugiri sembari mengembangkan telapak tangannya sebagai radar.


Setelah dapur Sugiri giliran melihat kamar mandi dan WC.


"Tetapi karena ini siang hari makhluknya tidak ada...sedang kosong..namun ini tempatnya..!" Jelas Sugiri. Sopari cuma mengangguk. Dan setelah mereka sudah melihat lokasinya. Sopari mengajak Sugiri kembali ke ruang tamu untuk minum.


"Sudah lihat semua Mas..dan bagaimana menurut penelusuran Mas Giri..!?" Tanya Warkonah kepada Sugiri dengan terlebih dulu meminta tamunya meminum minuman dan makanan yang disediakan.


"Sudah Bi..sudah kulihat semua. Sudah kutemukan lokasinya. Hanya karena siang hari...aku belum lihat makhluknya..!" Jawab Sugiri.


"Terus bagaimana..!?"


"Ya jika Bibi tidak keberatan...Ntar malam aku kesini lagi dan mudah-mudahan bisa ketemu...selanjutnya aku akan coba komunikasi dengannya...baru aku tahu apa yang musti dilakukan..!"


"Ya monggo kami percaya penuh kepada Mas Giri...silahkan..!" Warkonah memberi mandat sepenuhnya kepada Sugiri.


Sesuai dengan janjnya sekitar jam delapan atau ba'da Isya Sugiri datang ke rumah Warkonah. Keponakannya, Sopari juga sudah standby..Anaknya Tini ikut juga menyaksikan. Hanya menantu Warkonah, yakno Warno yang tidak nampak. Menurut Tini suaminya sedang melaut.


Jadi kali ini Sugiri dikelilingi hampir semua keluarga Warkonah.


"Apa bisa kami mulai...Bi..!?" Tanya Sugiri kepada Warkonah.


"Lho monggo...kan mandat sudah saya serahkan penuh ke sampean..!" Jawab Warkonah sembari mempersilahkan Sugiri.


"Kalau gitu ayoh Mas Pari kita ke lokasi tadi siang..!" Ajak Sugiri kepada Sopari.


Keduanya segera menuju ke kamar mandi dan WC yang nampak gelap.

__ADS_1


"Mas Pari mbok sampean ngomong kepada Bi Warkonah supaya lampu di kamar mandi dan WC biarkan nyala...sebab makhluk begituan senang di tempar-tempat lembab dan gelap..!" Ujar Sugiri memperingatkan Warkonah lewat Sopari.


"Stop Mas...kayaknya dia ada..!" Ujar Sugiri sembari memberi tanda kepada Sopari supaya berhenti di depan kamar mandi.


"Ohw kamu rupanya..!?" Ujar Sugiri seperti berbicara sendiri. Namun Sopari tahu Mas Giri sedang mencoba berkomunikasi dengan makhluk ghoib yang diduga mengganggu Warkonah.


"Kenapa kamu mengganggu heh...!? Ada salah apa pemilik rumah denganmu..!?" Sugiri bertanya lagi kepada makhluk yang tidak terlihat.


Dari gerakannya Sopari tahu bahwa telah terjadi dialog. Sebab sesekali terlihat Mas Giri manggut-manggut. Entah maksudnya apa, ntar kalau selesai baru kutanyakan, ujar Sopari dalam hati.


Dan dialog antara Sugiri dan makhluk tak kasat mata itu berlangsung sekitar setengah jam.


"Jadi itu alasanmu dan keputusanmu...ya..!? " tanya Sugiri kepada makhluk yang tidak terlihat. Setelah Sugiri manggut-manggut lagi.


"Baiklah...semua syaratnya coba kupenuhi..tetapi mulai detik ini kamu jangan berulah lagi..ya.!?" Setelah itu Sugiri ajak Sopari musyawarah dengan Warkonah.


Dihadapan Warkonah Sugiri menceriterakan hasil pertemuannya dengan Mbah Pitut si kaki gajah.


Mbah Pitut adalah penunggu pohon nangka di sebelah rumah Warkonah. Entah dengan alasan Warkonah menebang pohon nangka yang besar itu.


Karena rumahnya dirusak Mbah Pitut yang berkaki gajah marah kepada Warkonah dan dia terus mengganggu.


"Benarkah Bibi menebang pohon nangka sebelah rumah? Kenapa ditebang Bi..!?" Tanya Sugiri kepada Warkonah.


Janda tua beranak tiga itu membenarkan. Bahwa dia terpaksa nebang pohon nangka karena menuruti kata orang.


Menurut tetangganya pohon nangka tidak bagus ditanam dipinggir rumah.


"Jadi saya tebang Mas..!" Ujar Warkonah.


"Nah itulah Bi...sehingga Mbah Pitut jengkel..!" Ujar Sugiri.


"Mohon nanya Mas, tadi Mas Giri manggut-manggut kenapa? Tadi saya mau nanya nggak enak..!" Sopari ikut menyela pembicaraan dengan betanya kepada Sugiri.


Sugiri menjelaskan dia manggut-manggut setelah diberi tahu bahwa makhluk itu bernama Mbah Pitut.


Dan dia manggut-manggut lagi setelah diberi tahu alasan Mbah Pitut ngamuk.


Dalam kesempatan itu Sugiri mengingatkan lagi kepada semua yang hadir. Bahwa jika melakukan sesuatu hendaknya dimulai dengan bacaan basmalah.


Karena bahwa kita hidup di dunia tidak hanya yang nampak banyak juga yang ghoib.


Mereka hidup bareng dengan kita. Kita juga harus toleransi dengan mereka jika tidak ingin kita diganggu.


"Aku sudah meminta maaf kepada Mbah Pitut...ingat ini jangan dipahami bahwa kita menyembah mereka. tidak. Tetapi menghormati sesama makhluk itu wajib dan itulah mengapa saya minta maaf kepada dia..!" Jelas Sugiri.


Menurut Mas Giri Mbah Pitut pun menyatakan permintaan maafnya karena terpaksa mengganggu keluarga Warkonah sebagai wujud protes dari tindakan Warkonah.


Dan selanjutnya Sugiri mengatakan biarkan Mbah Pitut disitu dan dia berjanji tidak akan mengganggu lagi. Asalkan setiap malam Jumat disediakan kopi pahit rokok tuton dan pisang rebus. "Sekali lagi itu bukan bentuk persembahan...tapi anggaplah itu bagian dari sodaqoh..sodaqoh kepada sesama makhluk ciptaan Allah...!: tegas Sugiri.


-------

__ADS_1


Happy reading.. Jan lupa voment ya 🙏🙏🙏


__ADS_2