Menggauli Siluman Ular

Menggauli Siluman Ular
16. Hutang Arta Bayar Nyawa


__ADS_3

Herman benar-benar sedang jatuh. Perusahaannya sepi orderan. Anak lelaki semata wayangnya yang benama Rendy terjaring kasus narkoba.


Karena anak lelaki tunggal Herman berusaha dengan cara apapun, termasuk suap sana-sini agar Rendy bebas dari hukuman. Karena itu rumah miliknya dan mobil Rubicom andalannya Herman jual.


Namun itu belum cukup. Karena setelah Rendy bebas dari jeratan hukum. Herman perlu melakukan perawatan Rendy agar kecanduan narkobanya bisa dihilangkan. Karena sudah tidak punya harta berharga lagi yang bisa Herman jual untuk biaya pengobatan Rendy. Terpaksa Herman berhutang sama Rontho seorang rentenir kenalannya.


Herman hutang dihitung-hitung ada tiga ratus juta. Andalan Herman adalah menunggu orderan proyek dari Pemda setempat. Tetapi karena sedang pandemi Corona, Pemerintah lebih mengutamakan upaya pencegahan dan penanggulangan Corona daripada proyek yang tidak begitu penting. Sehingga janji mengembalikan hutang kepada Rontho terus molor.


Selama ini Rontho sudah berkali kali nagih kepada Herman. Selalu saja Herman beralasan seperti kejadian sore ini.


"Bagaimana Mas...!? Apa sudah ada uang...saya sedang butuh Mas. Dan ini sudah cukup lama lho...padahal sampean janji dalam tiga bulan akan dibayar. Dan ini sudah berjalan lebih dari tujuh bulan Mas...!" Ujar Rontho kepada Herman.


"Yah....saya penginnya sih cepat bayar hutang kepada sampean. Tetapi proyek sedang macet...Pemda lebih mementingkan penanganan Corona atau Covid 19 daripada proyek yang biasa diberikan kepada saya. Untuk ini mohon pengertian Mas Rontho..!" Jawab Herman.


Rontho mendengus kemudian dia mengatakan. "Saya sudah cukup sabar lho Mas...dari janji tiga bulan...ini malah sudah lebih tujuh bulan...hutang sampean berikut bunga sudah lima ratus juta lho..!"


Mendengar keterangan Rontho Herman sempat kaget. "Lho perasaan saya kan sudah nyicil...Mas..!" Ujar Herman menyangkal keterangan Rontho.


"Ya saya tahu sampean sudah nyicil...tetapi cicilan itu tidak artinya karena bunga terus berjalan...dan sampean tidak cepat-cepat melunasi...sehingga bunganya makin tinggi..!" Kilah Rontho.


Mendengar keterangan Rontho Herman agak terpancing emosinya dengan mengatakan "Seingat saya hutang saya tidak sampe lima ratus juta. Hutang saya kan cuma tiga ratus juta. Dan saya sudah bayar secara nyicil sekitar tiga ratus lima puluh juta...mustinya hutang saya tidak sebesar itu..!" Tegas Herman.


"Ya benar, tetapi saat sampean nyicil kan masih ada sisa hutang...nah sisa hutang berikut bunganya itulah yang menjadi banyak. Berbeda nek sampean langsung bayar lunas...!!" Bantah Rontho.


Mendengar bantahan Rontho Herman makin tersulut emosinya.


"Kalau begitu caranya sampean mau menangnya sendiri ya..!?" Bentak Herman dan mau tidak mau Rontho juga ikut panas.


" Lho kok sampean begitu...saat hutang sampean kan tahu aturannya....eh sekarang kok sampean bisa begitu..!" Debat Rontho.


"Pokoknya kalau memberatkan saya tidak akan melunasi...!" Tegas Herman.


"Waduh, sampean nyari penyakit...!" Rontho masih mencoba bersikap tenang.


"Terserah apa kata sampean...akan saya ladeni...!" Herman berkacak pinggang. Sementara Rontho terlihat menahan emosi.


"Jadi niat sampean gak akan bayar ya..!?" Tanya Rontho kepada Herman.


"Ya saya tidak akan melunasi sebab menurut hitungan saya hutang saya sudah lunas...sampean keterlaluan...silahkan lapor polisi saya malah senang..!" Tantang Herman.

__ADS_1


Mendengar tantangan Herman, Rontho dengan bergumam mengatakan "Percuma ribut...jika sampean niatnya begitu...baiklah. lihat saja yang akan terjadi nanti...tunggu saja..!" Rontho pergi meninggalkan rumah Herman sembari bersungut-sungut.


Herman tidak peduli terhadap ucapan Rontho. Herman anggap ancaman Rontho hanya omong kosong.


Hari berganti. Waktu bergulir dengan cepat. Tidak terasa sejak pertengkaran antara Herman dan Rontho sudah sebulan. Dan sejak itu Rontho sepertinya tidak peduli dengan hutang Herman.


Sementara itu Herman kembali dirundung duka. Isteri tercinta, Rani sakit batuk darah. Sudah ke rumah sakit. Tetapi sakitnya tidak kunjung sembuh. Dari hasil foto rontgent tidak terlihat sakitnya. Karena itu atas saran tetangga, Herman juga minta bantuan orang pintar alias dukun. Menurut orang pintar ada sesuatu di rongga dada Rani. Sesuatu apa orang pintar tidàk dapat menjelaskannya.


Kian hari sakit Rina makin parah. Sehingga pas hari Kamis Legi Rina menghembuskan nafas terakhir.


Herman sangat terpukul bathinnya karena isteri yang dicintainya meninggalkannya untuk selamanya. Herman sempat gak doyan makan. Tidak mandi. Sehingga Simin, sahabatnya mendatanginya.


"Maaf ya Mas...sebaiknya sampean makan dan mandi....soal Mbak Rina mungkin itu jalan yang terbaik menurut Allah ikhlaskan saja Mas....tatap masa depan yang lebih baik..!" Ujar Simin menasehati Herman.


Herman seperti tersadar kemudian dia mengatakan, "Ya aku sudah ikhlas...aku sudah rela Rina meninggalkanku...tetapi yang membuatku sedih dan menyesalkan ... sampe dengan kematiannya aku tidak tahu penyakitnya..Dek..!" Keluh Herman kepada Simin.


Simin melenguh sebentar kemudian dia bertanya lagi. "Lho kan sudah pernah dirawat di rumah sakit...apa kata dokter Mas..!?".


"Itulah...rumah sakit atau dokter ambigu. Mereka tidak tahu penyakitnya..!" Jelas Herman.


"Ohhww...terus ada upaya lain Mas...? Misalnya ke orang pintar paranormal ustadz atau kyai menanyakan penyakit Mbak Rina?" Kejar Simin.


"Ohhw...maaf ya Mas. Mas Herman apa punya musuh atau pernah cekcok atau ribut dengan seseorang...!?" Tanya Simin Tajam kepada Herman.


"Ohw..ya itu pernah. Dengan rentenir aku ribut. Dan dia sempat mengancam...tunggu saatnya nanti..! Katanya..!" Terang Herman.


" Nah..ini mungkin penyebabnya Mas..!" Jelas Simin.


"Ah...aku sih kurang percaya hal-hal yang kayak gituan Dek...apalagi sekarang aku gak punya apa-apa untuk biaya atau ongkos..!"


Herman memang termasuk orang yang tidak percaya segala macam jenis guna-guna, santet, teluh dan tenung.


Mendengar jawaban Herman, Simin cuma bisa tersenyum kecut. Mungkin sudah takdir, kata Simin dalam hati.


Akhirnya Simin pamitan meninggalkan Herman yang seperti orang linglung.


Dua pekan setelah pertemuannya dengan Herman, Simin mendapat kabar duka bahwa anak Herman yang bernama Rendy meninggal dunia dengan tanda-tanda penyakit seperti yang di derita Rina.


Herman tentu saja semakin terpuruk. Simin yang mendengar kabar itu segera menemui Herman.

__ADS_1


"Mas...aku ikut berbelasungkawa ya...atas kematian Rendy..!" Ujar Simin.


"Terima kasih Dek..!" Balas Herman.


"Maaf kalau boleh tahu...sakit ananda Rendy apa Mas..!?" Tanya Simin kepada Herman.


"Sakitnya mirip dengan Rina...!"


"Eeeiitt...ini tidak boleh dibiarkan ini santet ganas...! Aku punya kenalan orang pintar di Tegal...apakah Mas Herman bersedia ke Tegal bersama saya menemui orang pintar tersebut..!?" Ujar Simin menawarkan jasa kepada Herman.


"Maaf ya Dek...bukan aku tak mau ke Tegal untuk menemui paranormal yang adek sebutkan. Tetapi karena saat ini aku sudah tidak punya apa-apa lagi..!!!" Jelas Herman.


Mendengar kepasrahan Herman, sebenarnya Simin sangat iba. Tetapi dia pun dalam keadaan susah.


"Baiklah Mas...aku akan telpon..konsultasi dulu dengan temanku di Tegal. Sekaligus aku mohon pamit Mas..!" Ujar Simin.


"Monggo...!"


Sepulang dari rumah Herman, Simin segera menelpon sahabat paranormalnya. Untung HP teman Simin sedang online. Jadi begitu Simin telpon langsung diangkat.


"Hallo...ini Mas Kun ya..!?" Tanya Simin lewat HP.


"Benar...ini pasti Mas Min....!? Ada apa Mas? Ada yg bisa kubantu..!?" Tanya Abah Kun seorang paranormal cukup beken di Desa Talang Kabupaten Tegal.


" Iya Mas..saya mau minta tolong....tolong lihatkan secara spiritual...apa yang menyebabkan keluarga temanku yang bernama Herman meninggal dunia secara beruntun..!" Jelas Simin.


"Coba jelaskan nama lengkapnya siapa alamatnya dimana...syukur dengan hari kelahiran dan binnya siapa. Saya tunggu..!" Ujar Abah Kun.


Untuk mendapatkan data-data tersebut Simin menghubungi Herman. Setelah mendapat data lengkap. Simin kembali mengontak Abah Kun.


Dengan kemampuan spiritualnya Abah Kun menjelaskan kepada Simin. Bahwa dia akan membantu mengembalikan santet ganas itu kepada pemiliknya. Tetapi Abah Kun berpesan bahwa untuk membersihkan aura santet itu perlu mengorbankan ternak. Kalau bisa sapi. Minimal kambing. Sebab santet itu telah bekerja dan harus segera dilakukan. Jika tidak nyawa Herman pun tidak bisa diselamatkan.


Mendengar keterangan Abah Kun, bulu kuduk Simin merinding. Dia berniat akan memenuhi syarat yang diminta Abah Kun. Tetapi dia sendiri sedang susah. Berita itu disampaikan kepada Herman ya dia cuma pasrah.


Tiga hari setelah Abah Kun bicara bahwa santet ganas telah dikembalikan. Simin mendapat kabar dari Herman bahwa Rontho orang yang diduga menyantet Herman meninggal dunia secara mendadak. Katanya serangan jantung.


Selang satu pekan setelah kematian Rontho, Simin kembali mendapat kabar duka. Bahwa Herman dikabarkan menghembuskan nafas terakhir dengan gejala seperti kematian Rina dan Rendy. Simin hanya bisa melongo.


Menyesal karena dia tidak mampu menolong sahabatnya. Kisah ini menjadi semacam pelajaran buat Simin tentang perlunya menjaga hubungan dengan siapapun. Jangan karena harta, nyawa melayang sia-sia.

__ADS_1


...*****...


__ADS_2