Menggauli Siluman Ular

Menggauli Siluman Ular
8. PESUGIHAN KERA RANDUSANGA


__ADS_3

Ini kisah dua pemuda Rahmat dan Yadi yang penasaran terhadap kisah-kisah orang yang mencari pesugihan.


Rahmat pengin sekali bertemu makhluk supranatural, bangsa jin atau siluman.


Nah, tujuan Rahmat dan Yadi adalah lokasi pesugihan Keték Randusanga, Brebes.


Setelah tanya kepada sesepuh Kampung Randusanga, Rahmat dan Yadi menuju ke makam keramat Syekh Junaedi Al Bagdadi.


Makam ini berjarak seratus meter dari bibir pantai. Makam terletak didalam bangunan yang menyerupai mushola.


Konon di tahun 1970-an, tempat pesugihan itu hanya berupa tugu yang selalu disembah dan dipuja orang.


Tidak jelas mengapa sekarang beralih ke makam Syekh Junaedi. Menurut keterangan Mbah Darmo orang pinter di Desa Randusanga. Bahwa itu bukan makam dalam artian tempat dikuburkannya Syekh Junaedi Al Bagdadi.


"Itu bukan kuburan Syekh Junaedi. Makam asli beliau ya di Irak sana. Itu hanya suatu tempat yang pernah disinggahi beliau. Lha untuk menghormati dan mengabadikan beliau, dibuat makam..!" Ujar Mbah Darmo saat ditemui Rahmat di kediamannya.


Dan tugu pesugihan letaknya tidak jauh dari makam Syekh Junaedi.


"Tugu itu telah dibongkar para santri disini karena dianggap tempat musyrik. Ini terjadi sekitar tahun 1980-an !" Ungkap Mbah Darmo.


Selanjutmya bongkaran tugu dibawa ke komplek makam Syekh Junaedi  oleh seseorang. Entah siapa orangnya Mbah Darmo tak tahu pasti.


Tetapi sejak tugu dipindahkan. Terus masyarakat menganggap bahwa tempat Pesugihan Ketek Ogleng ikut pindah kesitu.


"Dan sejak itulah. Maka setiap orang yang berusaha mencari pesugihan Ketek  Ogleng pasti datang ke makam Syekh Junaedi.


Demikian keterangan Mbah Darmo. Dan siapa yang dipercaya jadi juru kunci makam adalah Mbah Tarban pria kurus berusia 65 tahun.


Kulit Mbah Tarban sawo matang. Tinggi badan sekitar 160 sentimeter. Bicaranya ceplas-ceplos.


"Ada keperluan apa Mas mencari saya..!?" Tanya Mbah Tarban kepada Rahmat dan Yadi yang menemuinya.


"Begini Mbah...kami bermaksud mau menyepi disini. Bolehkah?" Ujar Rahmat.


"Ohw..silahkan..!" Mbah Tarban mempersilahkan.


"Tapi kalau kita pengin ketemu penunggu sini bagaimana caranya Mbah? Apa syaratnya?" ujar Rahmat terus terang.


"Disini tidak ada syarat khusus...yang penting  niat sampean. Dan badan harus bersih. Niat harus tulus..!" Terang Mbah Tarban.


"Maksud Mbah..!?" Tanya Rahmat belum paham.


"Maksudku kamu musti puasa atau tirakat tinggal pilih yang kalian mampu lakukan yang mana?" Ujar Mbah Tarban.


Tirakat bisa berpuasa seperti biasa. Bisa tirakat tidak makan nasi tetapi makan pisang atau singkong. Bisa gak tidur tiga hari tiga malam.


Rahmat dan juga Yadi sepakat menjalani laku puasa selama tiga hari seperti perintah Mbah Tarban.


Puasa di komplek makam Syekh Junaedi cukup menguntungkan. Tempatnya jauh dari warung. Jadi jauh dari gangguan makanan.


Sedang untuk buka dan sahur. Rahmat sudah minta keponakan Mbah Tarban, untuk memasak. Jadi aman.


"Jangan lupa setelah sholat Isya kalian baca sholawat 1300 kali ya !" Pesan Mbah Tarban yang diiyakan mereka berdua.


Dengan kusyu akhirnya keduanya berhasil menyelesaikan puasa selama tiga hari. Sekarang giliran semalam suntuk malam Jumat Pon mereka harus melek tidak tidur.


Sesudah bùka puasa dan sholat Isya Rahmat dan Yadi diharuskan wirid sholawat nabi sebanyak 13 ribu tanpa putus.


Mbah Tarban duduk di pojok bersila sembari mengawasi mereka.

__ADS_1


Tidak terasa malam telah larut. Peronda kampung membunyikan tiang listrik satu kali. Berarti hari menunjukan pukul satu malam.


Bersamaan dengan berakhirnya mereka berdua wirid.


"Sudah selesai baca wirid sholasat 13 ribu kali Mas..!?" Tanya Mbah Tarban.


"Sudah Mbah..!" Jawab Yadi.


"Belum batal kan wudhlunya!?" Tanya Mbah Tarban.


Dijawab Yadi dengan mengatakan belum. Namun demikian Yadi minta permisi dulu mau buang air kecil. Dan wudhu kembali. Mbah Tarban mempersilahkan.


Maka Yadi yang diikuti Rahmat segera ke kamar kecil dan mengambil air wudhu.


Air rasanya dingin seperti es. Maklum udara pantai memang terasa dingin menusuk tulang.


Setelah wudhu mereka segera menemui Mbah Tarban.


"Nah sekarang kalian musti ngikuti aku mutari makam ini sembari membaca sholawat ya.!?" Ujar Mbah Tarban.


Yadi dan Rahmat mengiyakan.


Kemudian ketiganya berdiri secara beruntun. Paling depan Mbah Tarban. Di belakanya Yadi baru paling buncit Rahmat.


Setelah memberi isyarat Mbah Tarban segera berjalan memutari makam diikuti Yadi dan Rahmat.


Lamat-lamat terdengar bacaan sholawat meskipun tidak keras. Namun karena suasana sepi dan hening. Sehingga suara nafas mereka pun terdengar sangat kencang.


Tidak terasa telah tujuh kali putaran. Dan di hitungan ketujuh itu Yadi yang berada di belakang Mbah Tarban tiba-tiba terjengkang ke belakang.


Untung Rahmat yang waspada berhasil menangkap tubuhnya. Untungnya lagi tubuh Yadi kurus.


"Ini kenapa Mbah...!?" Ujar Rahmat kepada Mbah Tarban.


Rahmat menidurkan Yadi dengan posisi terlentang. Sementara Mbah Tarban mengambil air sembari mulutnya komat kamit baca mantera.


Setelah itu dia cipratkan air dingin ke muka Yadi sembari mulutnya mengucapkan.


" Subhanallah.....!!!".


Dan tidak lama Yadi mulai sadar. Dia mengucak matanya dan mulutnya menguap. Rahmat yang tidak sabaran segera menanyai Yadi pengin tahu.


"Kenapa Mas ... kok sampean semaput. Sedang saya tidak apa-apa..!?" Ujar Rahmat.


Yadi diam. Masih belum bicara justeru yang menjawab Mbah Tarban dengan mengatupkan tangannya ke mulut. Tanda supaya Rahmat diam dulu.


Setelah menunggu sekitar lima menit. Yadi mulai membuka mata dan senyum kepada Rahmat.


"Tadi kenapa Mas?" Tanya Rahmat ingin tahu.


"Ah tadi saya seperti mimpi....!" Ungkap Yadi.


"Saya seperti di suatu tempat ... rasanya bukan di dunia ini. Semua orang terlihat muda. Cantik dan ganteng. Tidak kulihat sekalipun orang tua..!" Papar Yadi.


Disana Yadi berkenalan dengan cewek. Orangnya cantik. Kulitnya kuning bersih. Cewek itu minta nikah. Tetapi Yadi menolak.


Sebab dia masih berduka sebab isterinya belum 40 hari meninggal dunia. Juga dia punya anak lelaki satu-satunya yg dia titipkan kepada Ibunya.


Dengan penolakan Yadi itu si cewek marah. Wajah cantiknya mendadak berubah menyeramkan.

__ADS_1


Wajahnya jadi kayak monyet putih. Taringnya menyembul keluar.


Tidak cuma cewek tadi yang berubah. Semua orang yang dilihatnya pun berubah. Mereka semua tiba-tiba berubah jadi semacam monyet. Ketek.


Bahkan alam yang sebelumnya indah berubah jadi menyeramkan.


Semuanya gelap dan ada cahaya justeru karena kobaran api. Disana diujung tempat itu dia melihat banyak manusia yang menjerit-jerit minta tolong dengan tangan kaki terikat.


Sementara monyet-monyet itu dengan semena-mena mencambuki orang itu.


Karena itu Yadi ketakutan dan lari minta tolong. Sampai akhirnya dia sadar.


Saat dia lari dia memihat sosok Mbah Tarban. Kakek tua itulah yang menolongnya.


Rahmat mengikuti kisah Yadi dengan mulut melongo tidak mengerti. Mbah Tarban rupanya tahu isi hati Rahmat.


Maka dia kemudian menjelaskannya. "Bahwa apa yang dialami Mas Yadi itulah wujud dunia lain. Dunia yang penuh tipu daya..!" Ungkap Mbah Tarban.


Jadi semua yang terlihat di dunia lain itu selalu terbalik. Semua bohong-bohongan, Tipuan. Jadi apa yang dilihat pertama kali oleh Yadi itu jebakan setan.


Kelihatan indah itu palsu. Baru pemandangan kedua itu yang bener. "Apa yang dialami Mas Yadi itulah fakta sesungguhnya. Artinya bahwa bersekutu dengan setan apa pun alasannya tidak baik.


Apalagi mencari pesugihan dengan cara tidak wajar" ungkap Mbah Tarban. Rahmat dan Yadi hanya manggut-menggut mendengar paparan Mbah Tarban.


Dua orang jurnalis Rahmat dan Yadi masih menghadap Mbah Tarban, juru kunci makam Syekh Junaedi Al Bagdadi dengan Takzim.


Mereka masih mendengar cerita petuah dan petunjuk Mbah Tarban. Pengalaman Mas Yadi itu penting untuk bahan cerita. Bahkan untuk bekal kehidupan kita.


Jadi apa yang Mas Yadi lihat dan saksikan adalah fenomena umum di dunia sana. Seperti yang kalian lihat tulang kering dan tidak ada dagingnya sama sekali.


Itu di dunia mereka bisa nampak sebuah daging yang enak. Bahkan ular yang menjijikan dan menakutkan bisa terlihat seperti lelaki ganteng atau wanita cantik!" Papar Mbah Tarban panjang lebar.


Itulah dunia iblis yang penuh tipu daya. Jika wanita cantik atau lelaki ganteng jejadian naksir manusia. Mereka minta nikah dan berhubungan badan.


Saat berhubungan yang kita lihat wanita cantik ataupun lelaki ganteng. Padahal sesungguhnya mereka mahluk siluman.


Mereka bisa berupa buaya, ular atau kelabang. Juga bisa berupa monyet, **** hutan ataupun hewan-hewan yang lain.


"Nah setelah berhubungan badan mereka akan memberi emas atau barang berharga lainnya. Atau mereka akan membantu usaha kalian agar laris..!" Ujar Mbah Tarban.


Namun kalian jangan senang dulu. Sebab mereka akan mengikat kita dengan suatu perjanjian. Umur kita tidak akan sampe lima puluh tahun. Sebab mereka ingin agar kita ikut dalam alam atau dunia mereka.


"Nah disini orang menyebutnya kita mati. Padahal tidak. Kita tidak mati hanya ganti alam saja. Ikut ke dalam alam siluman" ujar Mbah Tarban.


Karena itu Mbah Tarban selalu mengingatkan. Agar manusia tidak menempuh jalan iblis. Jalan sesat. Seorang juru kunci jangan dulu dinilai dan dimaknai negatif.


Juru kunci justeru adalah palang pintu terakhir agar orang tidak sesat. Karena itu menjadi kewajiban juru kunci untuk menjelaskan sedetil mungkin untung ruginya berinteraksi dengan setan.


Kejadian yang menimpa Yadi adalah suatu peringatan dan pelajaran hidup yang baik bagi kehidupan. Yadi bisa selamat dan lolos dari jebakan iblis karena pertolongan Allah.


"Yang pertama niat Mas Yadi memang bukan untuk mencari kekayaan. Yang kedua Mas Yadi menjalankan puasa sunnah dengan benar dan mengamalkan sholawat!" Ujar Mbah Tarban.


Jadi, kata Mbah Tarban melanjutkan petuahnya, meskipun kita nantinya bisa kaya. Itu semata hanya ilusi belaka. Sebab setelah kita mati atau diajak si siluman ke dunia mereka. Maka semua harta yang kita miliki akan hilang atau kembali kepada mereka.


"Harta hasil dari pesugihan tak akan bisa sampe anak cucu..!" Ungkap Mbah Tarban.


Entah bagaimana namun harta itu akan habis. Entah kebakaran atau dicuri; ditipu. Mungkin juga musibah lain yang membuat harta itu habis.


"Nah hal-hal seperti itu apakah kalian ... manusia masih ingin kaya dengan cara sesat semacam itu !?" Ujar Mbah Tarban cukup keras suaranya.

__ADS_1


Melihat sikap Mbah Tarban, Rahmat segera bicara. "Ya benar Mbah. Kami pun tidak minat mencari kekayaan dengan cara seperti itu. Kami sudah merasa cukup dengan apa yang kami punyai..!" Kilah Rahmat yang diamini Yadi.


-----


__ADS_2