
Menurut dukun Uyip seorang dukun dari Kuningan, mengatakan. Bahwa kuntilanak adalah hantu perempuan yang membawa anak kecil dan rambutnya riap-riap dan bunyi "piak-piak-piak" seperti suara anak ayam.
Bagi Mas Kun, seorang lelaki kekar yang hidup melajang. Dia akan bertekad nguber kuntilanak.
Karena konon jika berhasil ketemu dan merebut selendangnya maka dengan selendang tersebut Mas Kun bisa menghilang.
Dalam benak Mas Kun jika berhasil mendapatkan selendang kuntilanak tentu enak sekali. Kepengin apa saja kesampean. Uang tidak bakal kekurangan.
Persoalannya kuntilanak saat dicari seperti hilang tidak berbekas.
Pernah Mas Kun dengar bahwa di komplek Makam Keramat Ki Gede Sebayu di Desa Desa Danawarih, Tegal, ada penampakan kuntilanak.
Terus terang Mas Kun hampir putus asa memikirkan kuntilanak. Apakah makhluk ini benar ada ataukah cuma dongeng, pikirnya.
Karena itu Mas Kun segera mencari gurunya Ustadz Ariefin.
"Kuntilanak itu ada. Dia sebangsa jin. Nah soal bentuknya kayak apa. Penampilannya bagaimana. Terus terang aku tak bisa menjelaskan.
Sebab yang namanya makhluk halus bentuknya mudah sekali berubah. Bahkan tidak jarang mengikuti alam pikiran kita..!" Ungkap Ustadz Ariefin.
Karena bentuknya sangat fleksibel. Sehingga Ariefin tidak berani menjelaskan bentuknya.
"Misalnya aku ngomong bentuknya wanita cantik kayak Maya Estianty...eh ternyata dia mengubah wujudnya jadi mirip Tessy Srimulat kan berabe. Dikiranya aku bohong..dan pembohong..!" Kilah Ustadz Ariefin.
"Apakah selendang kuntilanak benar-benar sakti...Pak.!?" Tanya Mas Kun.
"Kok tanya selendang untuk apa?" Jawab Ariefin balik tanya.
"Katanya kalau punya selendang itu. Kita bisa tidak tetlihat..!!!" Ujar Mas Kun.
"Ya kalau sudah tidak terlihat mau ngapain..!?" Tanya Ariefin.
"He-eh..untuk anu...Pak..!" Ujar Mas Kun terbata-bata malu.
"Yah...yah.aku mengerti. Orang memburu selendang itu karena akan digunakan untuk perbuatan jahat. Misalnya mencuri dan melakukan hal-hal buruk lain. Termasuk sampean ya Mas Kun..!?" Ujar Afiefin.
Ditanya seperti itu Mas Kun mati kutu. Tidak bisa menjawab. Tidak bisa berkata apa-apa.
"Ingat dosa Mas Kun..!" Tegas Arief.
"Orang nguber dan mencari selendang kuntilanak jika tidak untuk perbuatan jahat lantas untuk apa !?" Ujar Ariefin waktu itu kepada murid terkasihnya Mas Kun.
"Pasti ada niat jahat. Kalau tidak ya gak mungkin mencari dan memilikinya, karena itu Mas Kun sudah lupakan saja soal selendang masih banyak kerjaan yang lebih produktif..!" Terang Ariefin waktu itu.
Mas Kun manggut-manggut. Nampaknya hanya sekedar manggut-manggut. Faktanya dia tetap nguber kuntilanak untuk diambil selendangnya.
Penguberan kuntilanak sampai ke makam keramat Ki Gede Sebayu di Desa Danawarih Kecamatan Balapulang.
"Bagaimanapun caranya aku musti mendapatkan selendang. Apapun akan kuhadapi..!" Begitu kata Mas Kun dalam hati.
Maka begitu mendengar ada penampakan kuntilanak di sekitar makam keramat Ki Gede Sebayu Mas Kun segera meluncur kesana.
Sengaja dia berangkat hari Rabu Pon. Rabu Pon, Kamis Wage malannya Jumat Kliwon.
Makhluk-makhluk supranatural biasanya akan muncul pada hari-hari itu.
__ADS_1
Mas Kun mengambil waktu selama tiga hari sekalian nyepi dan tirakat di makam keramat tersebut.
Makam keramat itu terletak di sebelah Sungai Gung yang alirannya bermuara di Kota Tegal.
Airnya mengalir deras dan jernih. Di seberang Barat Sungai hutan yang berbaur dengan pemukiman. Di sebelah Utaranya areal persawahan.
Di Timur dan Selatan hutan. Suasana tenang karena terletak agak jauh dari pemukiman. Juga lumayan jauh dari jalan kampung.
Untuk sampai kesini musti pakai kendaraan sendiri. Karena tidak ada angkutan. Warung pun cukup jauh dari sini. Jadi benar-benar tempat ideal untuk tirakat.
Kabar adanya penampakan kuntilanak diperoleh Mas Kun dari sahabatnya si Udin Boneng. Udin Boneng adalah seorang penjelajah makam.
Setiap harinya Udin Boneng tidur dari makam keramat yang satu ke yang lain.
Menurut Udin Boneng, kuntilanak menampakkan diri di hutan sebelah Barat Makam. Tetapi yang namanya makhluk seperti itu bisa muncul kapan saja dan dimana saja.
"Cuma agar Pak Kun bisa ketemu ya ke sana pas Jumat Kliwon..!' Ujar Udin Boneng kepada Mas Kun.
Tidak hanya harus malam Jumat Kliwon. Tapi makhluk itu akan muncul pada saat malam hari saat bulan purnama tetapi gerimis kecil. Itulah waktu favorit kuntilanak.
Karena itu Mas Kun sudah menyiapkan jaket. Jas hujan. Sarung tangan dan tidak lupa bawa masker. Maklum saat ini sedang pandemi Corona karenanya musti jaga-jaga dan waspada.
Mas Kun juga tetap puasa. Biar lebih jos, pikirnya. Dan tidak lupa Mas Kun juga berdoa. Mudah-mudahan malam Jumat gerimis.
Untungnya malam Jumat ini tepat tanggal 14 penanggalan Jawa. Biasanya pada tanggal-tanggal tersebut bulan akan muncul dengan sempurna.
"Mudah-mudahan ntar malam turun hujan. Pasti sempurna...!" Pikir Mas Kun.
Kali ini Mas Kun sendirian. Memang tekadnya sudah bulat.
"Aku musti dapatkan itu selendang..!" Katanya dalam hati sembari sholawatan.
Sementara saat ini Mas Kun sedang naksir janda beranak satu penjual warteg. Kalau dia mendekati dan melamarnya tetapi tidak punya apa-apa dia kuatir di tolak.
Itu sebabnya dia musti mendapatkan selendang tersebut nantinya akan digunakan untuk mengambil harta para koruptor.
"Dengan mengambil harta para koruptor dan kemudian disodaqohkan..mungkin dapat pahala...meskipun nyuri tetap dosa.
Namun Allah Maha Tahu Maha Pengasih dan Penyayang pasti akan mengampuni dosaku..!" Ujar Mas Kun dalam hati membenarkan niatnya.
Bahkan mungkin, katanya lagi, gurunya Ustadz Ariefin akan bisa memahami tindakannya tersebut. Karena itu semangat Mas Kun semakin menggebu.
Dengan semangat 45 Mas Kun pakai jaket. Bawa ransel berisi jas hujan. Tidak lupa pake masker dan sarung tangan. Siapa tahu kuntilanak yang diubernya terkena Corona.
"Bismillah...!" Guman Mas Kun berangkat melewati jembatan kampung menuju ke seberang Barat sungai.
"Mudah-mudahan berhasil...!" Katanya dalam hati. Malam menunjukkan pukul 23.00 WIB. Malam telah senyap. Nyaris tidak ada orang gentayangan.
Apalagi jalan ke hutan. Mas Kun merasa makin nyaman. Sebab tidak ada manusia. Berarti tidak akan ada yang merecokinya.
Bulan meskipun tanggal 14 tapi sinarnya riam-riam tidak terang karena mendung tipis.
Namun Mas Kun tidak perlu senter. Sebab sinar sudah cukup. Lagi pula dia punya HP android yang bisa digunakan sebagai senter.
Sampai di sebelah Barat sungai, Mas Kun mengendap-endap mencari tempat duduk. Dicarinya pohon yang paling rindang agar jika gerimis turun bisa untuk berteduh.
__ADS_1
Kebetulan ada pohon mangga pakel yang cukup besar dan rindang pohonnya. Entah berapa puluh tahun umur pohon ini. Yang jelas sudah nampak tua.
"Ah disini saja lah...!" Ujar Mas Kun kepada dirinya sendiri.
Untuk mengusir dingin Mas Kun nyalain rokok kesukannya. Sembari ngisap rokok matanya mengawasi sekitar.
Terus terang bagi orang kota terlebih yang duitnya banyak. Pastilah malas melakukan perbuatan semacam ini. Malam-malam. Dingin. Di hutan. Sendirian lagi. Dikasih uang sejutapun rasanya ogah. Apalagi tidak dikasih. Ngapain sih? Kurang kerjaan saja.
Namun tidak demikian dengan Mas Kun. Dahulu dia adalah anak lelaki satu-satunya juragan ayam di Pasar Pagi Tegal. Hidup orang tuanya cukup makmur. Mas Kun juga hidup enak. Bukan di desa tetapi di kota yang cukup ramai.
Namun entah mengapa saat ini tidak tersisa sedikitpun harta warisan orang tuanya. Bahkan Mas Kun sendiri tinggal di rumah kontrakan. Di desa agar dapat kontrakan rumah murah.
Kondisi semacam inilah yang membuat Mas Kun tekad bulat mendapatkan selendang kuntilanak.
"Krosak..krosak..!!!" Lamunan Mas Kun buyar. Matanya memandang ke arah suara mengagetkan itu. Ohw ternyata hanya suara anjing kampung yang tengah mencari mangsa.
"Hmmm...sabar..sabar..!!" Gumam Mas Kun.
Pandangannya coba alihkan ke arah selatan. Ohw disana terlihat sekelebatan bayang melayang di udara.
Mas Kun bangkit mendatangi pohon randu alas yang cukup besar. Bayangan tadi sekelebatan arah kesini. Ke randu alas.
Mata Mas Kun segera menulusuri pohon tua tersebut. Ohw ternyata bayangan yang tadi melayang itu cuma kalong, hewan sejenis kelelawar yang berukuran cukup besar.
Sementara waktu sudah meunjukan pukul 24.00. Sudah tengah malam. Tetapi kuntilanak belum muncul juga.
"Memang belum muncul kuntilanak. Tapi aku harus semangat. Tidak boleh putus asa atau menyerah...!" Ujar Mas Kun memompa semangatnya.
Kali ini ada lagi bayangan putih. Melayang dengan cepat melewati dedaunan. Dan bayangan putih panjang itu hilang digerombolan bambu.
Mas Kun tidak dapat memastikan apakah itu kuntilanak atau bukan. Namun begitu tetap saja Mas Kun mendatangi gerombolan bambu itu.
Setelah ditelisik dengan seksama. Mas Kun tidak menemukan apapun. Kecuali suara tikus hutan yang lari kaget ketakutan karena ada manusia.
Sementara di pojok sebelah barat daya di gerombolan semak belukar seperti ada nyala api. Tetapi Mas Kun tidak tertarik.
Mas Kun sangat hati-hati. Dia tidak ingin terjebak karena kecerobohannya.
Nyala api itu mungkin kemangmang atau pun banaspati. Suatu makhluk supranatural yang bisa berubah menjadi nyala api.
Banaspati lebih dan sangat berbahaya. Karena itu Mas Kun tidak mau menelisik nyala api itu.
"Ah biarin saja...yang jelas itu bukan kuntilanak..!" Ujar Mas Kun kepada dirinya.
Waktu terus merangkak. Tidak terasa menjelang waktu subuh. Pukul 04.00 WIB.
"Sudah pagi tak mungkin kuntilanak muncul subuh-subuh. Lebih baik kusudahi saja ah...!" Kembali Mas Kun berkata kepada dirinya.
Dan kakinya terus melangkah meninggalkan hutan untuk kembali ke makam keramat. Kebetulan disitu ada mushola kecil yang memang diperuntukan orang-orang yang mukim atau tirakat di tempat itu.
Mas Kun bebersih siap-siap untuk melaksanakan sholat subuh.
"Ini bukan gagal tetapi hanya belum berhasil..!" Mas Kun mencoba menghibur diri.
--
__ADS_1
--
--