Menggauli Siluman Ular

Menggauli Siluman Ular
22. Penglaris Yang Menyusahkan (Bagian 2)


__ADS_3

Sesampai di komplek makam kuno terutama komplek makam Pangeran Purboyo Subur langsung menuju Masjid Kasepuhan.


Masjid ini dibangun sekitar 500 tahun yang lalu dan telah mengalami berulang kali renovasi.


Perubahan besar-besaran terjadi tahun 2000. Jika masjid ini dulu tidak mempunyai lantai bawah. Tahun 2000 dibangun lantai bawah untuk para pemukim. Disamping itu dibangun kantor sekretariat masjid.


Kesitulah Subur mencari juru kunci makam Kalisoka Abah Ali.


"Maaf Pak....apakah saya bisa ketemu juru kunci disini..!?" Ujar Subur ketika sampai masjid Kasepuhan dan ketemu marbot Hasan yang sedang menyapu.


"Ya biasanya Abah Ali disini...tetapi sampean datang ke pagian ini masih jam delapan. Beliau belum datang...sebentar jam sembilan atau sepuluhan..!" Ujar Hasan kepada Subir.


Juru kunci makam namanya Abah Ali, beliau mantan preman Tanjung Priuk Jakarta. Sekarang telah bertobat kembali ke Tegal dan terpilih jadi juru kunci makam.


Subur mendapat banyak keterangan dari marbot masjid Hasan. Dia diberi tahu siapa Abah Ali dan bagaimana harus menemuinya.


Hasan juga menjelaskan tempat-tempat yang bisa digunakan untuk bertapa. Jika tujuannya untuk mendapat ridlo Allah atau mencari ketenangan jiwa cukup itikaf di masjid dan sering tawasul di makam Pangeran Purboyo.


Hasan juga menjelaskan bahwa nama asli Pangeran Purboyo adalah Sayid Abdul Gofar seorang ulama yang sakti mandraguna.


"Nah sampean jika ingin kaya atau penglaris...jangan disini. Sanpean memilih meditasi di gua bibir sungai ini..!" Ujar Hasan kepada Subur sembari menunjuk tebing sungai yang ada guanya.


"Tapi perlu sampean ingat jika ke gua itu sampean akan ditemui Mak Lampir, atau Grandong, atau juga Nyi Blorong..!" Terang Hasan. Mau tidak mau bulu kuduk Subur merinding juga.


"Wah serammm...!" Gumam Subur.


"Ohw sampean takut ya....atau di khalwat saja...tetapi tetap saja ntar sanpean akan ditemui Fatimah dan sejenisnya..!" Jelas Hasan.


"Mohon maaf Fatimah itu apa dan siapa..!?" Tanya Subur ingin tahu.


"Dia sebangsa siluman...kan tujuan sampean pengin becaknya laris...ya sampean musti bertemu dan berbicara kepada mereka...paham..!?" Tegas Hasan.


Subur hanya mampu tertunduk diam. Dalam hatinya berkata.


" Ah sudah terlanjur..mantap-mantap. Tetap aku pilih di khalwat saja..!" Katanya membatin.


"Jika sampean sudah mantap dan retap mau nyepi atau tetapa. Sampean musti ketemu Abah Ali. Karena khalwat itu ada di dalam kamar yang terkunci. Dan kuncinya yang membawa Abah Ali.


Sampean katakan terus terang apa adanya kepada Abah Ali. Jangan ada yang disembunyikan. Abah Ali tahu dan sampean bisa kena marah..!" Urai Hasan menasehati Subur.


Hasan juga menjelaskan Abah Ali orangnya tegas dan orang menyebutnya galak.


"Sebenarnya beliau tidak galak...beliau tegas dan sangat pemberani jadi sampean jangan macem-macem. Kalau jam sepuluh tidak kemari.


Sampean bisa ke rumahnya...rumahnya dekat TK..ya..!?" Ujar Hasan dan Subur mengiyakan.

__ADS_1


Jam sepuluh Abah Ali tidak datang ke sekretariat. Subur akhirnya ke rumahnya. Rumah Abah Ali berada di ujung jalan utama Kalisoka di sebelah TK.


Dan Subur tidaklah kesulitan menemukan rumahnya. Kebetulan Abah Ali sedang ada tamu. Sehingga Subur langsung bisa ketemu. Dan seperti keterangan Marbot Hasan Abah Ali pun menjelaskan hal yang sama.


"Kalau kamu mau di khalwat...ini kamu bawa kuncinya. Kamu buka dan bersihkan yang harus dibersihkan. Ntar aku habis Dhuhur kesana...ketemu kamu di lokasi..ya.!?" Ujar Abah Ali sembari menyerahkan kunci kamar khalwat kepada Subur.


Dan dengan mengucapkan terima kasih Subur langsung menuju khalwat.


Khalwat itu berada di sebelah selatan masjid kasepuhan Kalisoka. Letaknya berada di bawah rerimbunan pohon kepuh dan pohon bambu.


Khalwat itu bangunan seperti dan sebesar pos ronda atau bangunan ukuran tiga kali empat.


Bangunan tembok itu cuma berpintu satu. Di dalam bangunan terdapat lubang seperti untuk pemakaman. Lubang itu ukuran satu kali dua meter dengan kedalaman satu meter.


Itulah yang disebut khalwat. Subur setelah membuka pintu bangunan itu. Kemudian dia membersihkan khalwat. Dan menaruh tikar di dalamnya.


Dia juga sudah menyiapkan kendi. Kendi itu tempat air minum yang terbuat dari tanah.


Juga menaruh barang-barang bawaannya di sebelah khalwat.


Di khalwat itu tidak ada penerangan. Bahkan kalau malam juga tidak diperbolehkan menyalakan lilin atau lampu minyak. Memang harus gelap.


Tidak terasa bersih-bersih khalwat sampai jam dua belas. Dan tidak lama kemudian Abah Ali datang.


"Sudah Bah....!" Jawab Subur.


"Nah ntar malam sehabis Maghrib...kamu masuk khalwat. Jangan pake penerangan apapun..!" Jelas Abah Ali.


"Inggih Bah..!"


"Selama di dalam khalwat jika ada suara apapun. Ada penampakan apapun. Kamu jangan takut. Jangan kabur. Jangan meninggalkan khalwat ya..!?" Tegas Abah Ali.


"Inggih Bah..!"


"Kamu disini sendirian saja...kalau takut. Kamu bisa pulang sekarang. Aku akan kesini lagi nanti sehabis Maghrib. Dan kesini laginya besok Subuh untuk melihatmu ya..paham!?" Ujar Abah Ali.


"Inggih Bah..!". Setelah itu Abah Ali kembali meninggalkan Subur.


Sebelumnya Abah Ali menjelaskan bahwa sebelum masuk khalwat Subur diminta mandi besar di sendang yang ada di bibir sungai. Dan Subur diminta sholat disebelah khalwat.


Pukul 17.30 WIB Subur pergi ke sendang untuk mandi besar. Sendang itu tidak begitu jauh dari khalwat. Sendang itu airnya bening dan airnya sangat segar.


Setelah mandi Subur cari warung untuk makan sebelum dia akan berpuasa esok hari.


Tepat sebelum Maghrib Abah Ali datang lagi memberi petunjuk kepada Subur sebelum masuk khalwat.

__ADS_1


Setelah itu Subur ditinggal sendirian.


Malam mulai menggerogoti saat itu mulai muncul suara-suara binatang malam.


Diawali suara gagak yang berbunyi memekakkan telinga. Kemudian suara bence.


Bence adalah buruh puyuh kecil yang suaranya cukup keras berbunyi "nye..!nye..!"


Mau tidak mau Subur bergidik juga.


Namun karena dia sudah tekad bulat dia tetap duduk bersila di khalwat.


Udara di khalwat cukup panas jadi cukup kontras dengan udara luar yang cukup dingin.


Isya sudah lewat. Subur juga sudah sholat Isya kemudian masuk lagi ke khalwat.


Jam nampaknya berjalan lambat sekali. Subur memang membawa jam beker untuk melihat waktu.


Sementara di luar sangat gelap kebetulan gerimis. Suara aneh dan mengerikan terus bergema. Subur masih melek dan membaca mantra yang diajarkan Mbah Cokro.


Tidak terasa weker telah menunjukan pukul satu. Tiba-tiba dari atap keluar asap putih. Gumpalan asap putih lama-lama membentuk sosok tubuh manusia.


Ya tubuh wanita dan wanita itu kemudian berbicara kepada Subur.


”Hai manusia ada keperluan apa kamu menemuiku...ayoh jawab..!?"


Subur yang ditanya dengan tiba-tiba darahnya seolah berhenti. Dia masih kaget.Schock sehingga belum bisa berkata-kata apa-apa sehingga sosok wanita tadi kembali mengulang pertanyaannya.


"Wahai manusia...kamu menemuiku ada keperluan apa..ayoh jawab..!?"


Sekarang Subur sudah bisa mengendalikan diri. Dia mulai ada keberanian.


"Maaf andika siapa...dan andika golongan apa?" Tanya balik Subur kepada wanita itu. Setelah menyibakan rambutnya ke belakang wanita itu menjawab.


"Kenalkan...aku Fatimah...yang menjaga tempat ini. Jawab pertanyaanku tadi cepet..!" Bentak wanita yang bernama Fatimah kepada Subur.


Subur sempat gentar juga mendapat pertanyaan dengan nada membentak dari Fatimah.


Fatimah sudah pernah diceritain Marbot Hasan. Bahwa Fatimah adalah nama lain dari Rara Ganti isteri Pangeran Purboyo atau Syekh Sayid Abdul Gofar.


Konon begitu Roro Ganti meninggal dia masuk ke dalam alam jin dengan nama Fatimah. Sehingga dia pantas mengaku sebagai pemilik tempat ini.


...(●─●)...


Bersambung ke bagian 3..

__ADS_1


__ADS_2