
TIji Tibeh, Barji Barbeh. Ini pepatah Tegal yang artinya mati siji mati kabeh, bubar siji bubar kabeh (jika ada yang mati yang lain musti harus mati, jika bubar maka yang lain juga harus bubar).
Ungkapan semacam ini menjadi semacam patron masyarakat Pantura bila merasa dirinya terusik. Dengan kata lain jika kamu mencubitku. Maka kamu harus siap kucubit.
Seperti hari biasanya, Toni menggelar dagangan ayam bakar setiap sore. Setiap pukul 17.00 Toni mulai buka. Dan ayam bakar Toni cukup laku. Karena harganya cukup terjangkau. Ayam satu potong enam ribu rupiah. Ceker dijual per potong seribu. Kepala dia jual tiga ribu.
Biasanya Toni sudah beres-beres jam delapan malam. Tetapi hari ini, Senin Legi dagangannya masih banyak. Cuma laku beberapa potong. Sehingga meskipun sudah jam sepuluh malam Toni masih jualan.
Bahkan sampe pukul sebelas malam baru laku seperempat saja dagangannya. Karena sudah larut Toni terpaksa menutup dagangannya.
Besoknya, nyaris tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya. Ayam bakar Toni tidak laku. Dan terus seperti itu sampai hari ketujuh barulah Toni mengevaluasi.
Toni menganggap bahwa dagangannya kurang laku karena ada warung yang juga jual ayam bakar.
Mungkin pembelinya lari kesitu. Apalagi warung itu persis berhadapan dengan Toni.
Asumsi ini dibantah Darkoni teman Toni yang berjualan es kelapa muda di sebelahnya.
"Kayaknya menurutku sih bukan karena saingan dan pelanggan lari. Tidak Bung..!" Ujar Darkoni kepada Toni.
Sebab menurut Darkoni warung ayam bakar baru itu pun sama saja. Jarang ada pembeli. Apalagi harganya cukup mahal. Satu potong dua puluh lima ribu rupiah.
"Jadi aku kira bukan karena ada saingan terus pelanggan beli ayam di warung baru..Bung!" Ujar Darkoni lagi. Toni sendiri pikirannya masih kacau. Dia belum bisa berpikir jernih.
"Terus kenapa ya..!?" Ujar Toni seperti bertanya kepada dirinya sendiri.
"Apa gak sebaiknya Ente tanyakan ke dukun Ton..!?" Saran Darkoni kepada Toni. Darkoni benar ini musti ke Mbah Sueb dukun langganan Toni.
Mbah Sueb adalah seorang paranormal yang sangat menguasai ilmu kejawen. Mbah Sueb kerap menjadi rujukan bagi warga desa yang sakit aneh-aneh.
Juga sering menjadi rujukan untuk menentukan hari untuk pernikahan dan keperluan keluarga lainnya. Termasuk bila ada orang diganggu setan atau makhluk halus atau kesurupan.
Tetapi setelah direnungkan Toni menganggap belum perlu ke Mbah Sueb. "Ntar saja kalau waktunya tepat..!" Ujar Toni membathin.
Tetapi hari ini atau sore ini Toni dengan terpaksa tidak jualan. Bukan soal dagangannya kurang laku. Tetapi isterinya mendadak sakit. Kepalanya kliyengan (pusing sekali). Sehingga Toni lebih mementingkan merawat isterinya daripada jualan.
__ADS_1
Toni sudah beli bodrex maupun paramex untuk meredakan sakit kepala Wasri isteri Toni. Namun sakit itu tidak kunjung hilang. Karena esok paginya Toni membawa Wasri ke dokter.
Dokter yang memeriksa Wasri geleng-geleng kepala karena tidak berhasil mendiagnosa penyakit Wasri. Dokter hanya menduga bahwa Wasri sakit migran. Oleh sebab itu dokter hanya memberi obat anti nyeri dan anti migran.
"Obat ini untuk tiga hari ya Bu...setelah tiga hari kemari lagi ya Bu..!" Ujar dokter kepada Wasri yang didampingi Toni.
Selang sehari dari dokter Wasri masih mengeluh kesakitan. Bahkan sampe hari ketiga Wasri masih mengeluh.
Maka seperti saran dokter Roni kembali membawa isterinya berobat. Dan kembali dokter memeriksanya dan seperti sebelumnya dokter hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Maaf Ibu.. karena rumah sakit peralatannya lebih komplit. Maka saya sarankan ibu ke rumah sakit untuk dirawat. Ntar saya buatkan surat pengantarnya..!" Ujar dokter. Wasri dan Toni saling pandang.
"Ya kita mesti ke rumah sakit..!" Ujar Toni. Setelah dibuatkan surat pengantar oleh dokter. Toni dan Wasri pulang naik becak.
Untuk biaya rumah sakit terpaksa Toni harus menjual motornya. Karena uang tabungan cukup terkuras karena dagangannya tidak laku. Ya motor dijual dengan semboyan harta bisa dicari tetapi kalau nyawa mau nyari atau beli dimana.
"Motor Yamaha NMax kita ini dijual saja. Ntar ada rejeki beli lagi..!" Ujar Toni kepada Wasri yang terus meringis-ringis menahan sakit.
Setelah menjual motor Toni membawa Wasri ke RSUD Kardinah Tegal.
Wasri dirawat dengan penyakit yang belum diketahui dan Toni terpaksa tidak jualan ayam bakar. Warung dibiarkan tutup lebih satu pekan. Toni pun sudah lupa akan saran Darkoni supaya pergi ke dukun atau orang pintar.
"Jadi sakit isteri Ente apa kata dokter, Ton..!?" Tanya Darkoni kepada Toni.
"Dokter masih ragu2...kayaknya migran tetapi bukan...entahlah..Dar!?" Ujar Toni seperti pasrah.
"Mustinya kamu jangan cuma ke dokter. Coba hubungi dukun atau penyembuh alternatif..siapa tahu itu memberi jalan keluar..!" Ujar Darkoni lagi. Mendengar ucapan Darkoni terakhir. Toni langsung ingat Mbah Sueb.
"Iya yah...kamu benar Dar. Pulangnya aku bonceng ya...tolong antar aku ke Mbah Sueb..ya Dar!?" Pinta Toni. Darkoni mengiyakan.
Akhirnya mereka berdua ke rumah Mbah Sueb. Mbah Sueb kesehariannya jualan warung nasi. Namun jika ada pasien selalu didahulukan.
Begitupun saat Toni dan Darkoni datang. Warungnya dia tinggal, pilih menemui Toni dan Darkoni.
"Maaf sampean siapa darimana ada keperluan apa?" Tanya Mbah Sueb.
__ADS_1
"Mbah saya Toni orang sini...memang saya baru ketemu Mbah. Ini teman saya Darkoni...tetangga desa..ya kami datang kesini mau minta tolong Mbah..!" Ujar Toni kepada Mbah Sueb.
"Jadi kamu Toni ya..!? Kamu anak muda jadi aku kurang paham. Bapakmu atau Mbahmu siapa ya...? Mungkin aku kenal..!" Ujar Mbah Sueb.
"Bapak saya Kardi...orang-orang menyebutnya Kardi Bujel. Dan Mbah saya Darman. Mbah Darman dokar...kenal Mbah !?" Jawab Toni.
"Ohw iya aku ingat Kardi Bujel...juga Darman Dokar. Tetapi Mbahmu mungkin sudah almarhum. Bapakmu sehat..!?" Ujar Mbah Sueb.
"Alhamdulillah sehat Mbah..!"
"Terus maksudmu kesini ngapain?" Tanya Mbah Sueb kepada Toni, lantas Toni menceriterakan bahwa dagang ayamnya tidak laku dan terpaksa nutup. Sekarang malah isterinya sakit tetapi dokter tidak tahu penyakitnya.
"Karena itu saya mohon bantuan Mbah untuk mengatasi persoalan saya ini..!" Papar Toni.
"Owh begitu ya...tunggu sebentar ya aku masuk kamar dulu untuk melihat itu semua..!" Mbah Sueb pamit masuk kamar. Setengah jam kemudian dia keluar lagi.
"Aduh...untung kamu cepet kemari...!" Ujar Mbah Sueb.
"Emangnya kenapa Mbah..!?" Tanya Toni ingin tahu.
"Aku mau tanya...apa depan warungmu ada yang jualan ayam bakar juga..ya atau tidak!?" Tanya Mbah Sueb. Toni mengiyakan. " Apakah setelah ayam bakarnu tidak laku isterimu sakit? Jawab ya atau tidak..!?" Tanya Mbah Sueb lagi. Toni hanya mengangguk membenarkan.
"Ini karena saingan bisnis...yang dagang depan warungmu ingin kamu bangkrut ... Ton..!" Tegas Mbah Sueb.
"Tetapi kok harus mencelakai isteri saya Mbah..!?" Kilah Toni.
"Ya itu mustinya bisa kamu terima...sebab supaya kamu tidak jualan ya isterimu dibikin sakit...paham..!!??" Ujar Mbah Sueb dengan suara agak keras.
"Kok jahat banget ya Mbah..!?" Ujar Toni pelan.
"Ya setiap persaingan bisnis itu kejam Ton. Sekarang kamu maunya apa..!?" Tantang Mbah Sueb kepada Toni.
Mendapat tantangan seperti itu Toni hanya minta tolong agar isterinya sembuh. Dan kalau orang tersebut menghendaki dirinya bangkrut atau bubar. Toni minta nek Tiji Tibeh, Barji Barbeh.
"Jika itu maumu...kamu lihat saja apa yang bakal terjadi nanti Ton..!" Ujar Mbah Sueb.
__ADS_1
Seminggu setelah minta bantuan Mbah Sueb Wasri sudah mendingan dan bisa pulang ke rumah. Sementara itu warung ayam bakar saingan Toni akhirnya tutup karena harus nombok terus dan sewa lapaknya mahal.
...*******...