Menggauli Siluman Ular

Menggauli Siluman Ular
23. Penglaris Yang Menyusahkan (Bagian 3)


__ADS_3

Subur sadar dia harus jujur terbuka dan berbicara apa adanya kepada Fatimah.


"Baik..maaf saya memanggilnya Ibu boleh kan..!?" Ujar Subur kepada Fatimah, berhenti sebentar untuk melihat respon Fatimah.


Ternyata wanita itu diam saja ketika Subur memanggilnya Ibu. Sehingga Subur menganggap panggilan Ibu dianggapnya cukup tepat.


"Baiklah Ibu nama saya Subur. Saya seorang penarik becak. Saya nyepi disini karena mengharapkan bantuan Ibu. Agar saya selalu dapat penumpang. Becak saya laris. Tegasnya saya mengharapkan dapat penglarisan...! Ibu..!" Papar Subur kepada Fatimah yang menyimaknya dengan tenang.


"Ohw...begitu ya..tetapi kamu harus nyepi disini selama tiga hari. Ini baru hari pertama. Kamu kurang dua hari lagi. Dan selama nanti ada gangguan kamu jangan kabur ya..!?" Ujar Fatimah dan Subur hanya memgangguk.


Setelah itu "clap" Fatimah hilang berubah menjadi asap putih yang kemudian menghilang ke atap.


Esok pagi sekitar jam setengah tujuh Abah Ali datang menengok Subur.


"Bur kamu bisa keluar dulu mau mandi atau buang air...tetapi tetap puasa dan jika keperluanmu mandi mungkin nyuci baju sarung selesai. Masuk lagi ya..!?" Ujar Abah Ali dan Subur hanya mengiyakan.


Hari kedua atau malam kedua sungguh berat nian. Baru saja usai Isya tetapi seperti sudah larut. Maklum hujan deras disertai angin kencang dan petir yang menyambar-nyambar membuat orang malas keluar rumah.


Sementara di sekitar khalwat tidak ada penerangan sama sekali, kecuali nyala upet (upet adalah sejenis tambang terbuat dari sabut buah kelapa kering yang dipilin jadi tambang dan dibakar).


Dengan upet inilah Subur mengusir nyamuk yang luar biasa banyaknya. Selain upet Subur juga nyalain dupa China ( Hio swa) untuk menambah kekhusuan dia dalam membaca mantera pemberian Mbah Cokro.


Karena suara hujan cukup keras. Sehingga Subur tidak memperhatikan jika hari sudah tengah malam. Hujan tetap masih turun.


Tetapi tidak sederas tadi sore. Suara petir pun masih ada. Tetapi sudah agak jarang.


Ketika alam mulai tenang. Justeru ketegangan dalam kamar dimulai.


Entah darimana datangnya tiba-tiba muncul lipan atau kelabang yang cukup besar. Sebesar bantal guling kakinya yang banyak. Benar2 menyeramkan dan menjijikan.


Ingin rasanya Subur lari keluar meninggalkan


Khalwat. Namun dia sadar bahwa inilah jalan satu-satunya untuk mengubah nasibnya.


Subur juga ingat petunjuk Mbah Cokro, ingat pula pesan marbot masjid Hasan. Dan juga ingat pesan juru kunci makam Abah Ali dan juga Fatimah.


Sehingga dia biarkan saja lipan atau kelabang itu menggerayangi suluruh tubuhnya. Adegan mencekam berlangsung hampir satu jam.


Tiba-tiba "clap" kelabang hilang eh ganti ular kobra yang mendesis-desis mau menerkamnya.

__ADS_1


Tetapi Subur ingat dengan petunjuk Mbah Cokro.


"Jika di dalam tapamu kamu di datangi makhluk apa saja. Biarkan jangan dilawan. Dia yang pasti tidak mencelakakanmu. Itu cuma godaan saja..!" Ujar Mbah Cokro saat memberi nasehat Subur.


Jadi Subur keukeuh. Dia membiarkan semuanya itu berlangsung. Dan tidak terasa fajar telah menyingsing. Suara Adzan Subuh dari surau berkumandang.


Dengan terdengarnya adzan Subuh. Makhluk-makhluk seram itu pun hilang tanpa jejak. Entah karena takut setengah mati sehingga Subur pergi ke sendang sekalian beol dan mandi untuk sholat Shubuh.


Seperti biasanya setengah tujuh pagi Abah Ali mengunjungi Subur yang saat itu sedang membersihkan abu bekas upet dan dupa.


"Bagaimana Bur, semalam...!?" Tanya Abah Ali kepada Subur.


"Wah luar biasa Bah. Sangat-sangat serem. Tetapi berkat pesan dan petunjuk Abah Ali. Saya berhasil melewati itu semua Bah..!" Jawab Subur.


"Syukurlah...mudah-mudahan malam nanti adalah malam terakhir untukmu ya Bur..!? Tetap semangat..!" Ujar Abah Ali mengingatkan sekaligus memberi semangat kepada Subur.


Subur hanya mampu mengucapkan terima kasih dan Abah Ali lantas seperti biasanya meninggalkan Subur yang terus bersih-bersih.


Dan malam ketiga ini berbeda dengan malam pertama atau kedua. Kebetulan cuaca cerah. Angin pun bertiup lembut. Dan Subur merasakan kenikmatan yang luar biasa.


"Apakah ini pertanda keinginanku akan terkabul?" Tanya Subur dalam hati.


Pukul satu tengah malam. Tiba-tiba muncul asap putih kayak di malam pertama. Dan Subur sudah menduga Fatimah yang datang.


Asap putih yang diduga menjadi Fatimah ternyata bukan. Asap putih itu jadi macan yang mendengus seram. Kali ini Subur tidak setakut sebelumnya. Karena dia tahu endingnya pasti begitu.


Macan itu terus mengaum dan mengancam. Tetapi Subur tetap tenang. Sampai akhirnya macan itu "clap" hilang berubah ujud jadi Fatimah.


Dan Fatimah berujar kepada Subur. "Aku anggap kamu lulus..kamu bisa mengakhiri tapamu dan kamu boleh pulang. Tetapi aku minta kamu mulai detik ini jangan makan makanan yang bernyawa.


Ingat pesanku ini...dan setiap Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon kamu harus libur tidak boleh narik penumpang ya..! Ingat-ingat pesanku ini. Silahkan kamu boleh kembali ke rumah..!" Tegas Fatimah dan Subur mengucapkan terima kasih berkali-kali.


Setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih kepada Abah Ali dan Hasan. Subur pulang ke rumah.


Sesampe di rumah Subur langsung diberondong pertanyaan isterinya. Dan Subur menceritakan semua apa yang dialaminya dari A sampe Z.


"Ya mudah-mudahan berkah dan seperti yang kuharapkan..!" Ujar Subur.


Setelah beristirahat cukup di rumah Subur kembali memulai aktivitasnya sebagai penarik becak.

__ADS_1


Dan betapa tercengangnya Subur begitu keluar rumah langsung dapat penumpang.


"Alhamdulillah...ini benar-benar berkah.!" Katanya dalam hati.


Usai ngantar penumpang begitu jalan beberapa puluh meter ada yang memanggilnya. Subur benar-benar senang.


"Wah kalau begini terus sih bisa kaya..! " ujar Subur dalam hati lagi.


Karena belum sarapan setelah ngantar penumpang kedua Subur ke warteg langganannya. Dan belum sempat dia masuk warung kembali dipanggil calon penumpang. "Setelah ini aku sarapan dulu ah..!" Janjinya kepada dirinya.


Dan benar setelah ngantar penumpang dia langsung ngebut masuk warteg untuk sarapan.


"Cepat Mbak..aku sangat lapar. Sekalian teh manisnya ya..!?" Ujar Subur kepada Mbak Erna yang punya warteg.


"Sebentar Mas ..tehnya yang kental ya..!?" Tanya Erna.


"Ya seperti biasanya..!" Jelas Subur.


Dan begitu teh baru diminum seteguk di luar warung sudah ada calon penumpang yang menunggu.


"Ini becaknya siapa ya..Narik gak..!?" Tanya seorang ibu calon penumpang.


"Narik Ibu...itu becak saya. Tetapi saya mau makan dulu..ya!? Atau sebaiknya ibu cari becak lain saja..!" Ujar Subur agar Ibu tadi pake becak lain saja sehingga dia bisa makan dengan tenang dan nyaman.


"Ohw..nggak ah. Sama becak sampean saja. Saya tunggu ya..!?" Ibu tetap ngotot maunya naik becaknya Subur. Meskipun dia harus nungguin Subur makan.


Seharian ini benar-benar Subur tidak bisa istirahat. Karena penumpang seperti tidak pernah kosong.


Sore harinya benar-benar tenaga Subur terkuras habis. Memang dapat penumpang banyak dan dapat duit banyak. Tetapi tenaganya benar-benar terkuras habis.


Hari berikutnya sama saja seperti sebelumnya. Sampe akhirnya Subur mengeluh kepada isterinya.


"Ternyata becak laris tidak selalu menyenangkan ya....ini aku benar-benar kewalahan dan kecapean luar biasa. Apa sebaiknya kubatalin saja keinginanku...biar seperti dulu saja. Normal-normal saja..!" Ujar Subur kepada isterinya.


Mendengar keluhan Subur dan melihat kesehatan dan kondisi Subur. Warni, isteri Subur tidak bisa berkata apa-apa.


"Terserah kamu saja Mas...ini juga pelajaran untuk kita semua. Kita wajib bersyukur dan mensyukuri apa yang kita dapatkan. Dan tidak semua dapat uang banyak menyenangkan. (tamat)


Happy reading..

__ADS_1


Jika ingin Kisah mistik lainnya .. vomentnya dulu yang banyak ya guys..🙏🙏🙏


__ADS_2