
Tidak benar seluruhnya jika dukun dijuluki Penggorohan artinya tukang goroh ( goroh: bhs Jawa artinya bohong). Mungkin benar ada dukun-dukun yang tukang bohong, tukang ngibul, ngibul sana ngibul sini.
Tetapi ada juga satu dua orang dukun yang jujur dan benar. Bahkan tidak jarang dukun yang digolongkan lurus dan benar-benar punya ilmu kerap dikibuli.
Diantara dukun yang baik tetapi suka dikibuli adalah Mbah Uyip. Mbah Uyip tinggal bersama isteri anaknya yang ragil disebuah rumah tembok sederhana.
Untuk menunjang hidupnya Mbah Uyip mengandalkan jasa tambal ban sepeda dan motor dengan dibantu anaknya.
Siang itu Mbah Uyip kedatangan tamu atau pasien seorang pengusaha bioskop di Kota Tegal. Tommy namanya.
"Selamat siang Mbah..!" Sapa Tommy begitu jumpa Mbah Uyip.
Setelah membalas salamnya Mbah Uyip mengajak Tommy masuk.
"Ada keperluan apa ya Pak..!?" Tanya Mbah Uyip kepada Tommy yang berpakaian necis. Sebaliknya Mbah Uyip cuma pakai kaos oblong dekil dan topi haji yang sudah bulukan.
"Anu Mbah...saya datang kesini mau minta bantuan agar usaha saya maju. Saya pengusaha bioskop dan biasa menyewakan alat-alat bioskop..!" Papar Tommy kepada Mbah Uyip.
Si Mbah menyimak cerita Tommy dengan seksama. "Sekarang ini saya menyewa sekaligus empat gedung bioskop Mbah. Tiga di Kota Tegal dan satu di Pagongan Kabupaten Tegal.
Nah maksud saya kesini mau mohon bantuan Mbah agar bioskop saya selalu dipadati penonton..!" Lanjut Tommy.
"Ohw begitu...tidak masalah. Saya bisa bantu Pak..!" Ujar Mbah Uyip.
"Terus syaratnya apa Mbah...dan berapa Mbah minta imbalan atas jasa Mbah ini..!?" Tanya Tommy.
"Imbalan....berapa ya..!? Aku hanya minta keikhlasan sampean saja sesuai dengan manfaat apa dari bantuan aku ini..nah untuk syaratnya aku minta disediakan kepala kambing bakar dan nasi liwet bogana serta sesajian yang lain. Itu boleh sampean beli sendiri. Boleh juga titip saya...monggo..!" Urai Mbah Uyip.
"Bagaimana jika Mbah saja yang beli sesaji itu. Dan berapa saya harus bayar..!?"
"Jika aku yang siapkan...aku hanya minta dana sepuluh juta saja..!" Jelas Mbah Uyip.
"Baik saya sediakan uang dua belas juta sekalian untuk jasa Mbah. Dan uang jasa ini akan saya kasih rutin setiap pekan satu juta rupiah kepada Mbah. Jika usaha saya benar-benar berjalan sebagaimana yang saya inginkan..!" Janji Tommy kepada Mbah Uyip. Dan si Mbah hanya diam saja mendengarkan janji pasiennya itu.
Setelah dirasa cukup. Tommy pulang dan Mbah Uyip segera ke pasar beli perlengkapan sesaji. Juga mampir ke penjual sate kambing untuk beli kepala kambing. Sekaligus minta dibakarkan sekalian.
Sehingga sampe rumah Mbah Uyip tinggal menata sesaji untuk memulai ritual agar bioskop milik Tommy laris. Dipadati penonton.
__ADS_1
Ya soal penonton bioskop saat ini memang jadi dilema. Akibat HP android dan youtube. Orang lebih suka menonton bioskop di HP daripada di gedung bioskop.
Sebab banyak keuntungan menonton di HP. Asal punya kuota cukup. Kita bisa nonton kapan saja. Bisa malam bisa siang. Bisa pagi bisa sore bebas.
Kita juga bisa nonton sambil makan siang, sarapan pagi atau sembari minum kopi.
Pokoknya seenak kita dan se sempat kita.
Inilah sehingga tidak heran pengusaha bioskop banyak yang gulung tikar.
Tommy termasuk pengusaha nekad. Dia berani menyewa empat gedung bioskop sekaligus. Karena dia sudah terlanjur basah. Sehingga sekalian mandi dan minta jasa bantuan spiritual Mbah Uyip.
Hari menunjukan pukul lima sore. Mbah Uyip menyiapkan sesaji di kamarnya. Setelah semuanya kelar barulah Mbah Uyip istirahat. Baru nanti usai Isya Mbah Uyip melakukan ritual sampe tengah malam.
Pukul setengah delapan malam Mbah Uyip mulai bakar hio (dupa China) dan lilin untuk menggantikan penerangan listrik di kamarnya.
Memang setiap ritual semacam itu tidak boleh menggunakan listrik. Harus pakai lilin atau lampu minyak.
Kamar Mbah Uyip segera dipenuhi asap dupa. Sementara angin musim kemarau mulai merambat masuk melalui celah jendela.
Terlebih malam ini adalah malam Jumat Kliwon. Malam yang sangat mistis.
Mbah Uyip duduk bersila menghadap ke Utara. Dia bersila di tengah kamar dihadapan sesaji dan hembusan.
Laku ini adalah cara Mbah Uyip dalam memanggil kehadiran Nyi Dewi Rantansari Ratu lelembut yang menguasai Pantai Utara Jawa.
Nyi Dewi Rantansari adalah sosok wanita cantik berkulit kuning langsat berusia sekitar tiga puluh lima tahunan.
"Nyai Dewi Rantansari hamba Uyip mohon kehadirannya disini...Nyai Dewi Rantansari hamba Uyip mohon kehadirannya disini....Nyai Dewi Rantansari hamba Uyip mohon kehadirannya disini....Disini hamba sediakan kelangenan (kesukaan) sang Dewi..!" Ujar Mbah Uyip lirih.
Mantera itu akan diucapkan terus menerus sampe sosok Nyai Dewi Rantansari benar-benar muncul.
Dan Mbah Uyip biasa melakukan ini setiap minta bantuan Nyai Dewi Rantansari.
Juga dia biasa dialog dengan Nyai Dewi. Biasanya Nyai Dewi akan muncul dengan terlebih dahulu hembusan angin dingin yang menusuk tulang sumsun.
Hari sudah menunjukan pukul 24.00 WIB tengah malam. Saat krusial disaat-saat seperti inilah biasanya Nyai Dewi Rantansari muncul.
__ADS_1
Sementara mulut Mbah Uyip masih terus menyebut-nyebut nama sang Dewi.
Tiba-tiba lilin padam karena terpaan angin dingin yang cukup kencang.
Sampe daun jendela kamar Mbah Uyip terbuka. Sehingga dari situ terlihat langit yang gelap agak mendung.
"Hmmm...ada apa kamu memanggilku...!?" Mbah Uyip terkejut begitu mendengar suara perempuan yang sudah dikenalnya.
"Terima kasih Nyai Dewi sudah hadir disini.. ya saya mau minta tolong kepada Nyai Dewi agar mengerahkan pasukannya untuk mengajak manusia menonton di bioskop...!" Ujar Mbah Uyip menjekaskan secara lebih rinci bioskop-bioskop yang musti ditonton.
"Ohw begitu..!? Itu perkara mudah. Kamu sediakan apa untukku..!?" Tanya Nyai Dewi Rantansari. Mbah Uyip dengan cukup hati-hati menjelaskan semua sesaji yang disiapkan.
"Mohon Nyai Dewi..bilamana ada kekurangan ngomong saja. Pasti hamba segera penuhi...!" Ujar Uyip dengan suara yang sangat merendah.
"Kukira untuk saat ini cukup...aku tak boleh lama-lama disini...karena ini malam Jumat Kliwon jadwalku sangat padat.
Permintaanmu segara kukabulkan..aku pamit dulu..! " Ujar Nyai Dewi Rantansari yang langsung hilang lenyap tanpa bekas.
Mbah Uyip segera nyalain lampu kamar dan menutup jendela yang tadi sempat terbuka saat Nyai Dewi Rantansari hadir.
Apa yang diinginkan Tommy jadi kenyataan. Bioskopnya selalu dipadati orang. Namun saat dia harus memenuhi janjinya. Yakni setiap pekan akan membagi keuntungannya kepada Mbah Uyip sebesar satu juta rupiah.
Sikap tamak Tommy mulai muncul. "Enak sekali...si Uyip kagak modal minta jatah satu juta rupiah tiap pekan..!" Omel Tommy dalam hati.
Sehingga jatah dia mengasih Mbah Uyip satu juta dia pangkas jadi lima ratus ribu rupiah.
"Sayang kalau satu juta..!" Tommy masih ngedumel sembari naik motor PCX ke rumah Mbah Uyip.
Dia sengaja menyiapkan lembaran ratusan dia tukar dengan pecahan lima puluhan dan dua puluhan. Sehingga dimasukin amplop kelihatan banyak.
"Biar si Uyip senang dikiranya kukasih uang banyak...tahunya...hahahahaha..!!" Tommy tertawa ngakak sendiri. Dan begitu sampe Tommy tidak perlu lama-lama di rumah Mbah Uyip. Dia langsung pamit pulang.
Sedang Mbah Uyip sangat riang. Melihat amplop yang dikasih Tommy cukup tebal. Sambil nyanyi ndangdut Mbah Uyip buka amplop pemberian Tommy.
"Wuaah semprul Tommy...kok ngibuli aku. Uang cuma lima ratus ribu saja padahal dia janji sendiri mau kasih satu juta...wuah bener-bener tukang kibul..!" Ujar Mbah Uyip sambil bersungut-sungut.
-------
__ADS_1