Menggauli Siluman Ular

Menggauli Siluman Ular
17. Mbah Giri Dibanting Genderuwo


__ADS_3

Dalam beberapa hari ini keluarga Heru selalu gelisah. Mereka tidak tahu penyebabnya. Tetapi anak perempuan Heru yang bernama Nina merasa seperti ada orang memperhatkan.


Demikian juga Lies, isteri Heru. Dia merasa tidak nyaman karena seperti ada kehadiran orang lain disekitar mereka.


Secara fisik mereka memang belum diberi penampakan. Tetapi anak lelaki Heru yang bernama Reno sempat menjerit dan menangis saat dia ke belakang, melihat makhluk hitam tinggi besar sedang duduk.


Karena terus-terusan dilanda kegelisahan. Heru akhirnya pergi ke Mbah Giri seorang paranormal yang berada di kampungnya.


"Assalamualaikum....!" Heru menyampaikan salam begitu sampai di rumah Mbah Giri. Rumah Mbah Giri cukup sederhana. Masih model rumah khas warga Tegal jaman dulu.


"Waalaikumsalam....monggo masuk...!" Jawab suara dari dalam yang ternyata Mbah Giri sendiri.


"Inggih Mbah...!" Jawab Heru dan dia melangkah masuk disambut Mbah Giri.


"Ohw, tumben Mas Heru, ada perlu apa ya...!?" Mbah Giri langsung tanya ke pokok persoalan.


Karena sudah ditanya begitu setelah duduk. Heru langsung menceriterakan perihal yang mengusik rumah tangganya. Mbah Giri mendengar paparan Heru dengan seksama.


"Ya ntar saya kontrol rumah Mas Heru dulu ya..!? Setelah itu baru saya akan bicara apa saja yang musti kita lakukan..eh monggo diminum...ini si Dar udah bikin minuman...ayoh diminum dan dimakan ala kadarnya...!" Ujar Mbah kepada Heru sembari nyeruput kopi dan mengambil potongan singkong rebus bikinan Mbah Dar isterinya.


"Terus kapan Mbah Giri bisa ke rumah saya...!?" Tanya Heru.


"Kalau bisa secepatnya Mbah..!!!" Tambah Heru. Setelah menenggak minuman sambil mengunyah singkong rebus Mbah Giri menjawab.


"Mungkin besok siang...bar Duhur aku ke Mas Heru..!"


"Baiklah kami tunggu Mbah....jangan lupa ya..!" Ujar Heru.


"InsyaaAllah...!" Mbah Giri meyakinkan Heru.


"Kalau begitu saya mohon pamit Mbah..!" Heru lantas bangkit dan menyalami Mbah Giri sembari menyelipkan amplop.


"Kok buru-buru, Mas...minum dulu...!" Mbah Giri berusaha mencegah Heru pulang. Tetapi Heru tetap pulang.


"Terima kasih Mbah...besok kan ketemu lagi..!!" Ujar Heru dan ngeloyor pergi.


Sampai di rumah Lies, isteri Heru menanyakan suaminya. " Bagaimana Mas...ketemu Mbah Giri...? Terus apa menurut beliau...!?" Mendapat pertanyaan nyerocos begitu dari Lies Heru cuek bebek. Sampe Lies sedikit marah.


"Kamu ditanya kok diam...gak jawab? Kenapa sih Mas..!?" Tanya Lies sembari mbuntuti Heru dari belakang. Karena sudah tidak tahan terhadap berondongan pertanyaan dari Lies. Akhirnya Heru buka suara juga.


"Sikapmu yang egois...benar-benar membosankan...mau tanya boleh-boleh saja. Tetapi lihat dong situasinya..!" Ujar Heru dengan nada keras.


"Lihat dulu aku sedang ngapain..baru bertanya. Pasti kujawab. Ini baru saja datang nyerocos tanpa henti...mikir!!!" Bentak Heru.

__ADS_1


Kalau sudah begini Lies kecut juga. Nyalinya langsung melorot. Tidak nanya lagi. Membiarkan Heru cerita.


"Aku tadi sudah ketemu Mbah Giri. Sudah kusampaikan semua permasalahannya. Namun Mbah Giri belum komentar apa-apa. Beliau akan ngomong jika sudah datang kesini. Besok bada Dhuhur Mbah Giri janji akan kemari. Tadi aku di Mbah Giri dikasih minum kopi sama singkong rebus. Kalau besok Mbah Giri kemari. Tolong kamu sediakan susu sama apalah..pokoknya yang pantas dan enak...ya Lies..!" Ujar Heru kepada isterinya.


Lies tidak menjawab cuma melengos pergi setelah apa yang ingin dia ketahui ternyata suaminya belum bisa menjelaskan.


Keesokan harinya Heru benar-benar telah menyiapkan segala sesuatunya. Lies sudah beli getuk lindri dan susu sapi. Kalau Mbah Giri datang tinggal manasin susunya.


Tepat sehabis Dhuhur Mbah Giri dengan sepeda motor Honda Supra Hitam datang ke rumah Heru.


"Monggo Mbah masuk...! Sudah kami tunggu...terurama Lies yang ingin tahu dan dengar ucapan Mbah Giri..!" Sapa Heru. Mbah Giri cuma senyum kecil. Setelah menstandar motornya Mbah Giri masuk ngikuti tuan rumah.


"Mas Heru...coba saya cek ya semua ruangan yang ada...!" Ujar Mbah Giri minta ijin melakukan pengecekan kepada Heru.


"Monggo Mbah...anggap rumah sendiri..!" Ujar Heru mempersilahkan. Satu persatu ruangan diperiksa dengan mengerahkan tenaga prana. Ruang utama yakni ruang tengah dan kamar Heru diperiksa dengan tangan Mbah Giri membuat gerakan silat.


"Ruang ini aman...kosong. Bersih tidak ada apa-apa!!" Ujar Mbah Giri. Dua kamar yang lain juga diperiksa, Mbah Giri bilang aman. Memang Lies maupun anak-anaknya tidak pernah mendapat gangguan di sekitar tempat itu.


"Nah ini baru...ada aura negatif..!" Ujar Mbah Giri begitu sampai dapur.


"Tetapi ini hanya tempat persinggahan saja...lokasi persisnya ada di sumur dan kamar mandi..!" Jelas Mbah Giri. Dalam hati Lies membenarkan ucapan Mbah Giri.


Karena anaknya Reno tahu makhluk tinggi besar di tempat itu. Lies dan anak perempuannya merasa diawasi sesorang ya disekitar itu.


Lies dan lainnya yang melihat kejadian itu cukup tegang. Mereka tidak berani bertanya apa-apa. Cuma melihat saja tindak tanduk Mbah Giri.


Tiba-tiba mereka dikagetkan setelah Mbah Giri beteriak dan tiba-tiba tubuh gemuknya seperti terlontar ke belakang. Mbah Giri terjengkang kebelakang dengan suara gedebug cukup keras.


"Stop...! Mbah Giri membuat gerakan supaya berhenti kepada sesuatu yang tak nampak..! Setelah itu Mbah Giri mengajak semuanya meninggalkan tempat itu.


Heru, Lies, Nina dan Reno ikut di belakang Mbah Giri. Sesampai di ruang tamu Mbah Giri cerita apa sebenarnya yang terjadi.


Saat tadi Mbah Giri memeriksa sumur dan kamar mandi Mbah Giri ketemu Gandarwo penunggunya. Mbah Giri berusaha mengusir makhluk itu. Tetapi makhluk itu menolak pergi. Bahkan menantang Mbah Giri. Dan mereka akhirnya berkelahi. Adu ilmu.


"Dan saya tadi dibanting dia...kamu lihat kan..!?" Ujar Mbah Giri. Menurut Mbah Giri Genderuwo itulah yang selama ini mengganggu keluarga Heru.


Mbah Giri sudah mencoba membujuk dengan cara halus atau kasar kepada Genderuwo tadi. Tetapi dia menolak dengan alasan sebelum ada rumah Heru. Sebelum ada keluarga Heru tinggal disitu. Makhluk itu sudah ada. Bahkan jauh sebelum ada manusia tinggal disitu. Genderuwo itu sudah ada disitu. Jadi dia bilang bagaimanapun dia tidak mau meninggalkan tempat tersebut.


"Aku terus terang angkat tangan..gak sanggup!" Ujar Mbah Giri sembari mengatakan kepada Heru supaya minta bantuan kepada Ustadz Arief, seorang ustadz yang dikenal memiliki ilmu hikmah.


"Coba kamu ke Ustadz. Bilang aku yang nyuruh...Insya Allah dia mau membantumu ... mungkin dengan ilmu hikmah Ustadz Arief bisa mengusirnya dari situ.


Kediaman Ustadz Arief tidak begitu jauh. Dia berada di tetangga desa. Ustadz Arief dikenal orang yang soleh dan tergolong sufi. Hidupnya sederhana tetapi ilmu agamanya cukup tinggi. Bahkan dia disegani kawan maupun lawan karena kedalaman ilmunya, terutama ilmu hikmah.

__ADS_1


Banyak siluman, dedemit dan siluman yang berhasil ditaklukannya. Karena Mbah Giri sangat menghormatinya.


Untuk mencari kediaman Ustadz Arief sangat mudah. Karena semua orang tua muda besar kecil mengenalnya.


Ustadz Arief adalah sosok pribadi yang baik. Dia suka sekali menolong terutama mereka yang diganggu makhluk jahat. Ustadz Arief selalu menjadi rujukan semua orang. Karena tadi ketinggian ilmu hikmahnya.


Heru sudah berada di depan rumah Ustadz Arief. Dia sempat nanya kepada seseorang tentang rumah Ustadz Arief.


"Assalamualaikum...!!" Heru mengucapkan salam langsung dibalas. Ya ternyata Ustadz Arief seperti telah menunggunya.


"Monggo Mas...masuk..!!" Ujar Ustad Arief kepada Heru.


Heru masuk dan setelah dipersilahkan duduk Ustadz Arief yang mendahului buka suara.


"Rupanya sampean disuruh kemari oleh Mbah Giri...ya!? Bagaimana kabar beliau? Sehat ya...!? Syukurlah..!"


Mendengar omongan Ustadz Arief Heru terlongong bingung sampe dia tidak mampu berkata apa-apa.


"Inggih Ustadz..!" Hanya itu suara yang keluar dari Heru. Karena dia masih kaget sebab Ustadz Arief sepertinya telah tahu semua maksud dan tujuan dia datang ke rumahnya.


"Kenapa bengong Mas..!? Ini hal yang biasa..!" Kilah Ustadz Arief. Dan Heru seperti mati langkah. Sehingga dia lebih memilih diam daripada banyak omong. Sebab Ustadz Arief ini sungguh luar biasa. Orang semacam ini benar-benar menguasai ilmu marifat.


"Kok diam Mas..!?" Tegur Ustad Arief. Heru tidak bisa berkata apa-apa.


"Maaf Ustadz sepertinya apa yang hendak saya sampekan sudah diketahui semua oleh Ustadz. Selanjutnya saya hanya tinggal nunggu perintah Ustadz saja..!" Ujar Heru memberanikan diri.


Ustad Arief sepertinya tidak ambil pusing dengan sikap Heru. Dia minta diri kepada Heru untuk masuk ke kamarnya. Sekitar seperempat jam kemudian Ustadz Arief keluar sembari menyerahkan bungkusan.


"Ntar kalau sampe rumah...isi bungkusan ini dibuka dan tolong isinya ditaburkan ke tempat yang diduga dihuni makhluk jahat tadi ya...jika perlu minta bantuan Mbah Giri..!" Pesan Ustadz Arief.


Heru mengiyakan dan langsung pamit sekaligus menuju rumah Mbah Giri.


Singkat cerita Heru ketemu Mbah Giri dan semua pesan Ustadz Arief disampaikannya.


Kemudian bersama Mbah Giri Heru pulang dan Mbah Giri langsung menuju sarang Genderuwo menaburkan isi bungkusan pemberian Ustadz Arief. Dan begitu bungkusan itu dibuka dan ditaburkan.


Mbah Giri melihat Genderuwo yang pernah membantingnya lari tunggang langgang.


"Wah..wah pada kabur Sudah aman sekarang..!" Ujar Mbah Giri kepada Heru. Luar biasa ilmu hikmah Ustadz Arief. Mbah Giri dan Heru cuma geleng-geleng kepala takjub.


...******...


Happy reading....

__ADS_1


__ADS_2