
Darsono adalah anak dalang. Bapaknya adalah dalang Samin. Kakeknya dalang Kampyun. Jadi Darsono memang trah dalang. Tetapi untuk menjadi dalang kondang atau tenar tentu tidak mudah.
Begitu pun Darsono. Meskipun dia pernah mengikuti lomba dalang remaja dan menang. Tetapi semua itu tidak cukup untuk mendongkrak ketenarannya.
Karena bukan dalang kondang atau tenar. Maka wajar jika hidup Darsono senin kamis. Artinya pas-pasan. Karena jarang diundang. Kalaupun dia pentas. Seringnya hanya pentas untuk amal alias pentas tetapi tidak dibayar.
Selama ini Darsono mau karena dia ingin sekali namanya dikenal. Selain itu Darsono juga ikhtiar ke orang-orang sakti yang diharapkan mampu memberi solusi agar dia tenar.
Salah satunya ke Mbah Darmo yang tinggal di lereng Gunung Slamet.
"Jadi kamu pengin tenar atau terkenal ya..!?" Tanya Mbah Darmo kepada Darsono.
"Betul Mbah saya pengin tenar atau terkenal...sehingga hidupku tidak miskin seperti sekarang..!" Ungkap Darsono.
Bahkan dengan keadaannya seperti sekarang isteri Darsono yang kebetulan seorang perawat sempat selingkuh dengan dokter.
Awalnya Darsono dapat kabar dari teman-temannya. Dia kurang percaya. Kemudian dia menyelidiki sendiri kebenarannya. Dan ternyata isue itu benar.
Darsono sempat menemui dokter selingkuhannya. Tetapi sang dokter mengelak. Bahwa kedekatannya dengan Eva, isteri Darsono sebatas rekan kerja.
Darsono pun kroscek kepada Eva. Bukannya menyambut baik. Bahkan Eva marah-marah dan malah menggugat cerai.
"Kamu sudah jadi benalu. .aku yang cari makan...eh kamu nuduh dan ngatain orang yang bukan-bukan.
Jika kamu begitu terus-terusan. Ayo ceraikan aku saja...atau aku yang menggugat cerai kepadamu..!?" Ujar Eva dengan sengit kepada Darsono suatu ketika.
Bahkan sekarang Eva sudah benar-benar mengajukan gugatan cerai.
"Nah itulah akibat saya tidak laku dan tidak memenuhi tuntutan isteri. Sekarang saya digugat cerai Mbah..!" Papar Darsono dengan menitikan air mata.
Mbah Darmo trenyuh juga mendengar cerita Darsono.
"Baiklah...kalau begitu terpaksa kubuka saja hal ini. Asal kamu mantep dan resikonya adalah nyawamu. Kamu pasti akan jadi orang kondang kaya raya. Dan terkenal dimana-mana..!" Ungkap Mbah Darmo.
"Nah itulah yang saya harapkan Mbah. Saya ikhlas kalau harus mati asal tenar dan terkenal serta kaya raya..!" Ujar Darsono meyakinkan Mbah Darmo.
"Baiklah...jika tekadmu memang sudah bulat..!" Tegas Mbah Darmo dan dia mulai membuka amalan-amalan rahasia
Yakni mantera rahasia khusus untuk bersinergi dengan makhluk siluman berikut dunianya.
"Tetapi ini belum cukup kamu musti ke Gunung Srandil...ntar kutuntun. Kamu siap?" Tanya Mbah Darmo kepada Darsono.
"Jika kamu siap ntar Kamis Wage kita harus sudah disana. Sebab malamnya Jumat Kliwon kamu harus mulai meditasi dan baca mantera..!" Pesan Mbah Darmo dan Darsono hanya mampu mengucapkan sendiko dawuh (menurut tanpa menyangkal).
Hari Rabu Pon malam sekitar jam dua belasan Mbah Darmo mengajak Darsono ke Cilacap menuju Gunung Srandil.
Berangkat Rabu malam diharapkan sampai tempat tujuan Kamis Wage pagi. Dengan datang pagi hari mereka punya waktu banyak untuk persiapan tirakatan malam harinya. Yakni malam Jumat Kliwon.
__ADS_1
"Jadi kamu mulai tirakat malam Jumat ya. Kamu tirakat tiga hari. Dan mudah-mudahan satu malam kamu sudah berhasil ditemui..!" Ujar Mbah Darmo kepada Darsono.
Sebelum berangkat ke Srandil. Mbah Darmo sudah pesan kepada Darsono supaya berpuasa dari mulai Rabu Pon.
"Jika kamu puasa mulai Rabu Pon itu neptunya empat belas. Dan Kamis Wage itu neptunya dua belas. Serta Jumat Kliwon neptunya empat belas. Kamu puasa sama dengan empat puluh hari. Sebab tiga hari itu jika dijumlah neptunya empat muluh.
Jadi meskipun kamu puasa hanya tiga hari dalam hitung-hitungan spiritual. Sama saja kamu puasa empat puluh hari.
Dan jika kami berlanjut puasa sampe Sabtu Legi. Kamu sama saja puasa delapan puluh hari. Kok bisa? Ya hari ini sangat istimewa.
Dari Rabu sampai Jumat sama dengan empat puluh. Dan dari Kamis Wage Jumat Kliwon sampe Sabtu Legi juga empat puluh neptunya.
Karena itulah jika kamu puasa sampe Sabtu Legi. Kamu sama dengan puasa delapan puluh hari. Ini perhitungan Jawa dan tidak usah kamu bantah ya..!" Ujar Mbah Darmo saat itu kepada Darsono.
Darsono yang sudah mata gelap tidak banyak berpikir yang penting baginya bisa kaya dan terkenal habis perkara.
"Nah kita sudah sampe. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah meditasi. Kamu harus singkirkan segala macam pikiran.
Fokus saja kepada tujuanmu. Dan kalau nanti ada godaan apapun. Kamu harus tabah. Jangan takut. Pasrah saja. Jika kamu nanti ditemui perempuan dan dia ngajak begituan sama kamu.
Jangan kamu tolak. Bahkan dia akan minta kawin sama kamu. Karena dialah yang bakal membantumu menjadi terkenal dan kaya. Siap..!!!" Pesan Mbah Darmo.
Darsono hanya bisa mengangguk pasrah. Tekadnya sudah bulat. Kata-kata isterinya yang membentak dengan ucapan-ucapan menyakitkan membuat tekadnya semakin kuat.
"Kalau saja aku tidak ingat anakku...si Gunarso yang masih balita pasti sudah kuceraikan..!" Ujar Darsono membatin.
Hari sudah menjelang malam. Di gua di Gunung Srandil keadaannya gelap gulita. Karena jauh dari keramaian suasana benar-benar sunyi.
Sehingga gemiricik air di gua sangat terdengar nyaring. Bahkan tetesan-tetesan air dari langit-langit gua juga terdengar sangat kencang.
Setelah bersih-bersih diri dan mandi besar. Darsono diminta Mbah Darmo yang terus mendampinginya untuk semedi di pojok gua dengan menghadap ke Selatan.
Darsono duduk bersila diatas tikar dengan tangan pada posisi ngapurancang (menyembah).
Detik demi detik. Jam terus bergeser. Dan untuk melihat waktu Darsono sengaja membawa HP.
Dan tidak terasa waktu menunjukan jam 24.00 WIB. Suasana makin sunyi asap dupa yang dibakar Darsono makin terasa.
Sementara suara burung hantu di luar gua makin riuh. Disertai lolongan srigala yang menyayat hati.
Menyeramkan, menakutkan namun hati Darsono yang sudah mati rasa akibat dihina isterinya mengalahkan semua itu.
Dan barangkali sudah menjadi suratan takdir Darsono. Tepat pukul satu tengah malam dihadapannya muncul ular aneh cukup besar.
Ular itu mendesis desis dengan menjulurkan lidahnya. Dan gerakannya seperti hendak menerkam Darsono.
Darsono melihat itu semua. Tetapi dia tetap tenang dengan posisi bersila dan tangan menyembah.
__ADS_1
Ular itu terus menggoda Darsono tetapi dia tetap istiqomah. Setelah ular, gantian muncul seperti anjing liar dengan mata menyorot merah seperti nyala api.
Anjing itu pun melakukan gerakan seolah-olah akan menyerang Darsono. Namun Darsono tetap istiqomah seperti tidak terusik sama sekali.
Akhirnya anjing itupun menghilang begitu saja digantikan sekarang wanita muda dan cantik dengan tubuh sintal dan jangkung.
Wanita itu langsung membelai Darsono yang tetap diam membatu. Akhirnya wanita itu buka suara.
"Mas kenalkan nama saya Sarinten...boleh tahu nama Mas yang ganteng siapa?"
Mendapat pertanyaan demikian Darsono menjawab dengan posisi duduk seperti semula.
"Namaku Darsono...terus kamu namanya Sarinten ya..!? Kamu siapa dan ada apa kamu menemuiku..!?" Tanya Darsono.
"Ya namaku tadi sudah kusebutkan Sarinten. Aku anak buah Nyi Blorong. Aku disini diutus beliau untuk menemuimu. Dan melayani keinginanmu..!" Ujar wanita yang bernama Sarinten sambil membelai Darsono.
Darsono yang sudah sekian lama tidak tidur bareng sama Eva akibat ekonomi yang memburuk dan cekcok terus-terusan.
Mendapat belaian yang demikian mesra dari seorang wanita cantik seperti Sarinten kelelakiannya pun bangkit.
Apalagi Sarinten membelai Darsono di bagian-bagian yang sensitif. Akhirnya terjadilah hubungan terlarang.
Sungguh di mata dan dalam pandangan Darsono dia tengah bercumbu dengan seorang wanita muda yang sangat cantik.
Namun sesungguhnya Darsono tengah bergumul dengan sejenis ular laut yang cukup besar.
Darsono terus menciumi ular laut itu. Dan baru berhenti setelah kelelahan. Dan Sarinten atau ular laut itu mengatakan.
"Karena kamu sudah menggauliku...kamu harus mengawiniku. Dan ntar di rumah kamu harus punya kamar sendiri yang tidak boleh dimasuki orang lain.
Kamar itu khusus hanya untuk kita. Ntar semua keinginanmu terkabul. Aku akan membantu biar kamu tenar dan kaya..!"
Darsono mengangguk dan dia menanyakan.
"Jadi aku sudah bisa pulang besok ya..!?"
"Ohw iya kamu bisa pulang...jangan lupa sediakan kamar spesial untuk kita ya..!?" Tegas Sarinten.
Mbah Darmo yang mengamati Darsono dari kejauhan ikut tersenyum senang bahwa harapan Darsono terkabul.
Dan setelah matahari terbit Mbah Darmo mengajak Darsono untuk pulang setelah membersihkan diri dengan mandi besar.
"Syukur...syukur kehendakmu cepet kesampean. Dan tolong patuhi apa yang jadi keinginannya..ya..!" Ujar Mbah Darmo.
"Tentu Mbah, akan saya laksanakan apa yang dimauinya, " janji Darsono. (●─●)
Bersambung ke bagian 2
__ADS_1