
Danu keluar dari kamar Aurie , menuruni tangga dengan pelan dibawah ia melihat bang Ari , Juddo dan Dante duduk bertiga . Semua mata tertuju padanya Danu bingung harus apa .
" Berdiri doang lu kek patung idup , duduk sini ".
Danu menuruti perkataan Juddo ia duduk dan menatap mereka bertiga , kini raut wajah bang Ari sudah lebih baik ia sudah kelihatan memiliki darah lagi tidak pucat seperti tadi .
" Gak lu apa apainkan dia didalem ? awas lu kalo berani ".
Dante mengeplak kepala Juddo
" Aduhh apaansi ".
" Kenapa lu tuduh-tuduh begitu sih".
" Lah tumben ngebela dia lu ".
" Aurie gimana? ".
Bang Ari bertanya dengan datar , ia sudah bingung mau mengeluarkan ekspresi seperti apa lagi.
" Dia udah tidur , tadi katanya jangan pergi sampe dia bener-bener tidur ".
Hening , seketika suasana menjadi hening .
" Terus mau pada ngapain lagi Lo semua hah?".
bang Ari menatap Danu , Juddo dan Dante . Mereka bertiga saling menatap bingung sebenernya udah ga ada hal lain lagi sih.
" Saya pulang diluan ".
Dante menatap Danu yang bangkit diluan .
" Heh , gamau bareng ? ".
Danu tidak menggubrisnya dan lansung berjalan keluar saja .
" Idihh kok ada ya manusia begitu ".
Juddo menatapnya heran .
" Sama gue aja ayok gue nebeng ".
" Kagak , naik ojek online Lo sana Lo".
Dante membungkukkan kepalanya menghadap bang Ari tanda permisi. Bang Ari dan Juddo saling menatap.
" Hehe duduk bentar ya disini bang sampe ojek onlinenya Dateng".
...****************...
Malam ini terasa dingin , Aurie duduk diam disofa depan sambil memandang jepitan rambut bunga matahari itu pemberian dari mamanya waktu ia masih kecil. Kenapa ya mama tidak ingin mengakuinya ? kenapa mama pergi meninggalkan keluarganya sendiri hanya demi pria lain ? kenapa tadi mama tidak ingin bicara dengannya? dia punya adik perempuan? adik yang cantik pikirnya. Ia tersenyum sendiri saat teringt bahwa adik tirinya tadi juga mengenakan ikat rambut bermotif bunga matahari juga , mamanya mencinta bunga matahari?.
Lamunan Aurie menjadi buyar saat bang Ari tiba-tiba datang dan memberikan handphone kepada dirinya , ia menatap bang Ari yang sedang mengisyaratkan bahwa panggilan itu dari papa mereka berdua dengan segera Aurie mengambil nya.
" Hallo pa , eemmm it's okay i'm good ".
Bang Ari duduk disamping adiknya , ia melirik tangan Aurie yang sedang memegang jepitan bunga matahari itu.
" Okayy Byee paa , love you too ".
__ADS_1
Aurie menutup telfonnya dan memberikannya ke bang Ari . Bang Ari mengelus kepala Aurie dengan lembut , Aurie tersenyum manis .
" Kita punya adik perempuan , namanya Luna ".
Bang Ari diam saja , ia tau betapa terlukanya Aurie mengetahui itu pasti. Aurie menatap lantai dengan tatapan kosong sakit , sakit sekali dari bertahun lamanya ternyata mama masih disatu kota yang sama dengan mereka , tapi tidak sekalipun pernah berjumpa. Paling berat pasti dengan Aurie karena ia waktu itu masih kecil dan tidak mengerti apapun ditinggal begitu saja ia tumbuh tanpa seorang ibu , setelah bertemu malah tidak diakui. Bang Ari memeluk Aurie yang berusah terlihat tegar tidak ingin menangis lagi , bahkan menangispun ia sudah lelah.
...****************...
Danu berdiam diri sambil terus menatap ponselnya , kirim pesan atau tidak? daritadi dia ragu sekali . Ia ingin menghibur Aurie sebagaimana Aurie menghiburnya disekolah tapi ia benci berbicara , ia melihat kearah jam tangannya bel pelajaran selanjutnya akan segera dimulai kirim pesan atau langsung samperin ke kelasnya ya? . Danu berdiri dari bangku taman , Dateng langsung aja kali ya ke kelasnya? ahhh beranikan diri sajalah!
" Aurie ga masuk sekolah ".
Juddo menyilangkan tangannya didada sambil menatap datar Danu yang kini berdiri didepan pintu kelasnya.
' Ahhh sialan'. Batin Danu .
Seperti biasa tanpa berkata apapun ia pergi meninggalkan kelas itu dan naik ketangga menuju kelasnya sendiri .
" Yeee manusia berdarah dingin , serem banget dah bisa gitu ya orang irit banget kalo ngomong".
Juddo menatap kepergiannya lalu masuk kembali kedalam kelasnya.
...****************...
Ada abangnya kagak ya dirumah? Juddo masih berdiri didepan pintu dan belum menekan bel pintu rumah sama sekali. Ia ingin bertemu dengan Aurie dan memastikan keadaannya baik-baik saja karna ia tadi tidak masuk sekolah tanpa kabar apapun ditelfon juga tidak diangkat ia takut Aurie merasa kesepian . Duhh bimbang sekali pikirnya , ia berjalan ke kanan dan ke kiri sambil terus berfikir sampai akhirnya ...
" Mau maling lu ya ".
Juddo kaget dan berbalik menghadap kearah sumber suara .
" Lah ngapain lu ada disini ".
" Mondar mandir mo ngerencanain pencurian lu ya ".
" Enggak ! pikiran lu kotor banget sama kek muka lu ".
" Enak aja muka lu tu kotor kek gudang berdebu".
" Dih kagak lucu ".
Dante menyikut pelan lengan Juddo karna kesal.
" Gak ada orang apa ? lu kok cuman diem didepan?".
" Ohh iya kagak ada orang , mending lu balik dah sana ".
" Terus kenapa lu sendiri masih disini kalo enggak ada orang? mo nipuin gue ya? lu adek kelas songong banget yak" .
Dante menyikut lengan Juddo lagi .
" Ini gua mau balik aelah udah lu balik Luan aja sono ".
Juddo kesal karna Dante tidak juga kunjung pergi sangat susah sekali dikibulin pikir Juddo , ia mendorong pelan Dante tapi Dante tetap kekeh tidak ingin pergi sebelum Juddo juga pergi tiba-tiba suara pintu depan terbuka , Juddo dan Dante kaget dan langsung melihat kedalam , wajah datar bang Ari sudah menyambut mereka didepan pintu , bang Ari menatap kedua bocah tengil itu yang siang-siang begini sudah ada didepan rumahnya .
" Gua udah yakin suara ribut didepan itu lu pada , ngapain sih siang-siang hebo banget".
" Hehe mau ini bang apa ye ... mwehehe".
Juddo menggaruk pelan kepalanya sambil cengengesan , malu rasanya jika bilang ia sebenarnya mengkhawatirkan adiknya bang Ari . Spontan bibir atas Dante naik sedikit pertanda tiba-tiba ia jijik dan najis melihat Juddo bersikap seperti itu , lagi - lagi ia menyikut lengan Juddo erghhh ilfeel sekali melihatnya seperti itu arghhh ..... Bang Ari melirik paper bag yang Dante bawa , hemm sepertinya bau-bau kelezatan.
__ADS_1
" Apa tuh dalemnya?".
" Ohh ini bang , ice cream buat Aurie kita Mao Liii ...".
" Masuk ".
Belum lagi menyelesaikan kalimatnya , bang Ari sudah menyambar paper bag Dante yang ternyata berisi ice cream tersebut. Bang Ari lalu masuk diluan tanpa memperdulikan keduanya ia berjalan masuk menuju dapur hendak memakan ice cream kan enak ya makan ice cream siang bolong begini.
" Dih itukan buat Aurie ".
Dante melongo pasrah , Juddo yang melihat itu cuman menepuk pundak kiri Dante sambil mengangguk pelan bertanda menyuruhnya harus bersabar .
" Udah yuk masuk , lu tutup pintu ".
Juddo berjalan diluan masuk mendahului Dante .
" Ahh sialan , padahal gue beli ice creamnya ukuran besar ".
Dante masuk kedalam dan menutup pintu dengan kesal.
...****************...
Dante , Juddo , Danu dan Aurie saling menatap diam suasana didapur menjadi hening mereka berempat duduk dimeja makan padahal rame tapi entah kenapa menjadi terasa canggung . Juddo tidak henti hentinya melirik Danu begitupun dengan Dante ia terus melirik kearah Danu sementara Danu diam saja menundukan kepalanya ia tidak ingin melihat wajah Dante dan Juddo . Aurie melirik mereka semua , ramai sekali pikirnya padahal ia tidak dikunjungi dia tidak sakit dia hanya tidak ingin pergi kesekolah hari ini tapi mereka semua malah datang kesini.
" Gercep juga ya lu ". Juddo memandang Danu datar .
Danu diam saja tak menggubrisnya , ia meminum jus jeruk dingin yang ia diberikan Aurie tadi.
" Udah lama lu disini ?".
Dante melirik kearah Danu , tak menyangka juga ada Danu disini sangat diluar nalar melihat dia mengunjungi seseorang.
" Dia udah lama disini Au?".
" Iya lumayan ".
" Dihh ". Juddo melirik Danu , tapi Danu tidak sedikitpun meliriknya .
" Kalian gak ciuman kan ? "
Danu dan Aurie spontan melotot kaget menatap Dante , Juddo dengan tidak senangnya menyikut Dante argghh buat over thingking saja pikirnya.
" Apaan sih ada bang Ari mana bisa ". Aurie malu.
" Berarti kalo gak ada bang Ari mau?".
Danu melirik kearah Aurie , pipi Aurie seketika merah mendengarnya tapi Juddo naik pitam mendengarnya .
" Gue pukul lu ya ".
" Eitss sabar , sabar ".
Dante menahan Juddo yang cemberut tidak ingin Aurie disentuh oleh Danu .
" Kalian udah pada makan siang ?".
Tiba-tiba bang Ari datang sambil memegang seember ice cream yang Dante beli spesial untuk Aurie , sialan juga ni orang langsung seember diambil batin Dante . Mereka berempat menggeleng pelan , bang Ari memasang wajah kecut ' Sialan ni anak-anak tengil , gua kan tuan rumah otomatis gua dong yang bayarin makan siang mereka malah rame banget lagi ' batin bang Ari .
" Kita pesen makan aja ya , soalnya hari ini kami enggak masak . Pada mau pesen apa nih?".
__ADS_1
Aurie mengangkat handphone nya bersiap mencari restoran online cepat saji.