
Juddo mencoba menaikan Aurie yang sudah batuk-batuk terus , ia pasti terminum air kolam. Juddo bingung ini tidak perlu nafas buatan kan? dia kan tidak pingsan hanya batuk-batuk saja , Juddo menatap geram kearah Danu yang membiarkan Aurie tenggelam begitu saja ia bangkit dan hendak ingin meninju wajahnya yang menyebalkan itu tapi dengan segera Aurie berusaha sekuat bangkit menghalangi Juddo was - was jika ia memukul kak Danu didaerah wajahnya , bisa bahaya itu aset satu-satunya kerjaan kak Danu . Sempoyongan ia berusaha berdiri menghalau Juddo .
" Juddo jangan pukul wajahnya , besok kak Danu punya jadwal pemotretan". Terbatuk pelan.
Juddo menghentikan langkahnya , ia masih terus menatap tajam kearah Danu yang diam saja tidak mengerti harus apa.
" Anjing lu ya , jangan pikir gue adik kelas lu gue takut sama lu ya. Jangan pernah lu deketin Aurie lagi !!! ". Ia menunjuk tepat didepan mata Danu .
" Saya gak deketin dia , dia yang dekati saya terus".
Aurie langsung menoleh kebelakang , ia menatap mata kak Danu . Teganya ... tiba-tiba perasaan dihati Aurie menjadi kacau dan sedih ia masih terbatuk-batuk karna masih sesak nafas akibat kaget tercebur begitu lalu saat mendengar perkataan kak Danu seperti itu entah mengapa rasanya sesak ini menjadi bertambah .
" Sialannnn ".
Juddo tidak tahan benar-benar rasanya ia sangat ingin memukulnya , Juddo tau Aurie menjadi sedih karna ucapannya tadi tapi belum lagi ia sempat memukul Aurie memeluk Juddo menghentikan langkahnya lagi. Juddo menatap kasar kearah Danu yang bingung mau berekspresi seperti apa , padahal didalam hatinya ia amat merasa bersalah sekarang ia tidak tau kalau Aurie itu tidak bisa berenang ia juga tidak tau kalau tadi sebenarnya ia tidak sedang akting melainkan tenggelam sungguhan. Ia ingin meminta maaf tapi entah kenapa suaranya tidak mau keluar , Ia melihat Juddo menggendong Aurie yang terdiam terus semenjak mendengar perkataan tadi Aurie tidak memandang dirinya lagi wajahnya ia benamkan kedalam dada Juddo .
Juddo menggendong Aurie ingin membawanya ke UKS , ia juga akan berusaha mencari meminjamkan kepada siapa sajalah baju untuk Aurie kenakan karna bajunya sudah basah kuyup. Juddo takut Aurie kedinginan maka ia mempercepat langkahnya sampai ia bertemu dengan seorang kakak kelas yang menghentikan langkahnya.
" Loh anak ini kenapa ?".
Aurie seperti mengenal suaranya tapi ia tidak ingin melihat ia terus menerus menutup matanya dan bersandar didada Juddo yang lebar .
" Kecebur dikolam renang sekolah".
" YaAmpun buruan Bawak ke UKS nanti saya susul bawain dia baju ganti ".
" Makasih kak".
Juddo terseyum kecil untuk membalas rasa terimakasih kepadanya , ia mempercepat langkahnya agar Aurie segera ke UKS dan berganti pakaian. Juddo dan kakak kelas tadi menunggu diluar sebentar karna penjaga UKS sedang membantu Aurie mengganti pakaiannya.
" Makasih kak atas bantuan baju gantinya".
" Sama-sama , panggil aja Dante rasanya aneh banget kalo dipanggil kakak sama adek kelas cowo".
Juddo terseyum , ia pun tadi sebenarnya sangat geli memanggilnya begitu.
" Kalian boleh masuk kalau mau liat"
Anak PMR yang sedang piket menjaga UKS itu mempersilahkan Dante dan Juddo untuk masuk , mereka masuk dan melihat Aurie rebahan dengan segelas teh manis panas disamping meja tidurnya . Juddo berjalan diluan masuk , Aurie yang melihat juddo masuk tersenyum dan mencoba untuk duduk.
" Bajunya gede banget Do ".
Aurie menunjukan baju olahraga yang ia kenakan .
" Bukan bajunya gede elu nya kecil gimana sih malah nyalahin baju orang ".
Aurie memanyunkan bibirnya kesal tapi benar apa yang dibilang Juddo ia yang kecil bukan bajunya yang besar .
__ADS_1
" Pake aja daripada kamu masuk angin nanti".
Aurie memandang anak lelaki yang baru masuk itu
" Kak Dante . Ohh ini baju kakak? makasih ya kak Aku pinjem dulu nanti aku cuci aku balikin deh ".
" Iya pake aja dulu ".
Juddo mengelus rambut Aurie , ia masih terbayang bagaimana Aurie begitu takut didalam air tadi , wajahnya amat panik tapi si gila itu malah diam saja tak membantunya.
" Juddo kok gak ganti baju sih , ini bajunya kan masih basah nanti masuk angin".
Aurie memegang bajunya yang masih lembab itu.
" Kamu pergi kekelas aku aja pinjem baju olahraga sama kakak kelas disana".
Kak Dante menatap Juddo yang sepertinya tidak perduli dengan bajunya , ia terus memandangi Aurie yang wajahnya sekarang menjadi pucat itu.
" Iya sebentar lagi aja".
" Kalo kamu masih khawatir sama dia biar aku aja yang pergi minjemin bajunya kamu jaga aja dia disini oke ".
" Wahh makasih banget ya kak Dante , maaf ngerepotin ". Aurie terseyum kecil.
" Santai aja , tunggu ya aku pergi pinjam dulu".
" Lu minum setengahnya ya , lu kan juga nyebur kekolam ".
" Gua nyebur gua bisa berenang lu kan enggak jadi elu aja yang minum".
" Makasih ya Do , maaf banget kalo buat lu jadi ikutan kuyup ".
" Santai aja , lu mau gue permisiin pulang? lebih baik pulang aja deh lu istirahat ya".
Aurie menganggukkan kepalanya menyetujui saran Juddo .
" Lu kok bisa kekolam renang sih kan tadinya elu yang mau tiduran disini ".
" Gue tadi mau balikin jepit rambut lu ternyata masuk kesaku baju gue , pas gua kesana eh elu udah buat gua khawatir banget".
" Hah jepitan rambut ? ".
Aurie buru-buru memegangi kepalanya , kanan kiri iya benar-benar tidak ada jepitannya. Kini wajahnya kembali jadi khawatir Juddo yang melihat Aurie panik buru-buru menenangkannya.
" Udah Ah stop".
Juddo mengenggam kedua tangan Aurie agar berhenti memegang kepalanya sendiri.
__ADS_1
" Do jepitan itu dari mama gue , gue gamau itu ilanggggg ".
" Nanti gue cari oke , mungkin jatuh dikolam renang waktu gue nyebur karna tadi gue letakin disaku baju".
Aurie terdiam , ia mencoba mengatur nafasnya agar menjadi santai.
" Gue permisiin lu pulang ya , abis ini gue janji gue bakal cari jepitan rambut bunga matahari lu itu".
Aurie mengangguk pelan , disatu sisi ia tidak ingin merepotkan Juddo untuk nyebur kembali kekolam renang tapi disatu sisi itu adalah barang yang penuh kenangan tidak boleh hilang begitu saja.
Selesai melihat bang Ari menjemput pulang Aurie , Juddo dengan segera berlari menuju kolam renang kembali untuk mencari jepitan kesayangan Aurie itu. Semua ini dia lakukan agar Aurie merasa tenang , sampainya dikolam ia sudah tidak menemukan Danu disana sepertinya ia sudah kembali kekelas. Bodo amatlah Juddo membuka baju olahraga yang dipinjamkan kak Dante tadi dan langsung nyebur kedalam kolam untuk mencari jepitan rambut itu.
Diruang perpustakaan Danu terduduk sendiri menenggelamkan wajahnya dikedua tangannya yang ia lipat , sekarang ia merasa bersalah ia bingung harus apa ia tak sengaja ia tak tak kalau Aurie benar-benar tak bisa berenang. Bagaimana bisa ia bisa setega itu tadi , pikirannya sekarang amat lah kacau bingung sekali rasanya harus melakukan apa untuk membalas perbuatannya tadi , atauuuu kirimkan ia pesan ? langsung ditelfon bagaimana? Aduhhhhh bingung sekali padahal hanya tinggal meminta maaf saja .
" Parah banget ".
Danu mendengak melihat kearah sumber suara itu.
" Lu mau bunuh anak orang? ".
" Lo bisa cabut gak dari sini? ".
" Lu mau ada berita dengan judul seorang siswa model membunuh gadis cantik?".
" Gua bilang cabut dari sini".
" Lah emang ni perpus punya bapak Lo?".
" Jangan sampe lu gua hajar disini" .
" Atau lu mau judul berita seorang siswa model berprilaku kriminal dengan seorang siswa lainnya?".
Danu menatapnya tanpa ekspresi
" Gue heran kenapa lu mau bunuh pacar lu anak kelas satu itu? ".
" Dia bukan pacar gue ".
" Wuuiihh gausah ngelak gosip lu pacaran udah kesebar disatu sekolah dengan judul besar Danu simanusia berdarah dingin model kebanggaan sekolah pacaran dengan anak kelas satu yang cantik".
" Udah gue bilang dia bukan pacar gue".
Bentak Danu dengan nada geram , ia benci diomongin orang ia tidak suka jika muncul gosip seperti sekarang ini. Ya benar ia manusia yang tidak suka dengan orang lain ia hanya ingin sendirian itu sudah cukup.
" Oke bukan masalah kalo gue deketin berarti ".
Dante pergi dengan senyum meledek , Danu menatapnya tajam kali ini .
__ADS_1