MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
MIMPI SEORANG GLADIS


__ADS_3

Gladis..


seorang gadis muda berumur 19 tahun, wajahnya cantik dan menarik. sorot matanya tajam menggambarkan kehidupannya tidak melulu diisi dengan kebahagiaan.


Tingginya 167 cm , beratnya 55 kg sangat ideal. kulitnya kuning langsat,bersih terawat. Jarang pria tidak terpesona dan penasaran dengan tatapannya.


Gladis bukan gadis yang supel untuk bergaul. ia cenderung introvert ( istilah psikologi yang diberikan kepada orang yang diberi stigma punya kepribadian pendiam dan penyendiri). Banyak lelaki yang ingin berkenalan dengannya namun tidak bisa mendekatinya.


banyak wanita yang iri padanya, Sombong adalah kata yang sering gladis dengar. tadi ia tidak peduli.


Gladis hanya peduli pada dirinya.


ia tidak peduli bagaimana ia terlihat diluar, yang ada dipikirannya hanya bagaimana ia bertahan hidup, bagaimana ia dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat, dan hilang dari keluarganya.


ya.. hilang dari keluarganya.


mungkin sedikit terdengar aneh ,


namun itulah mimpinya.


Gladis adalah anak pertama dan satu-satunya, ia tinggal bersama Ayah dan ibunya.


kehidupan gladis tidak seperti kehidupan remaja pada umumnya.


Matanya yang memancarkan kekerasan adalah hasil dari didikan ayahnya yang keras.


tidak ada kasih sayang yang ia dapatkan, gladis hanya disuruh mengikuti aturan di rumah tanpa adanya kasih sayang yang utuh.


jika gladis melakukan kesalahan maka pukulan yang di dapat, jika gladis mengikuti aturannya tidak ada pujian dan terimakasih.


Mereka menganggap memang sepantasnya seorang anak melakukan itu.


Sangat kasihan nasibnya dari sejak kecil. Ibunya hanya mencintai ayahnya, tidak terpikirkan anak gadis yang lahir dari rahimnya. keinginan orang tua gladis adalah memiliki anak lelaki namun tidak kunjung diberikan.


keinginan memiliki anak lelaki berpengaruh terhadap perlakuan untuk anak perempuannya. mereka mendidik anak gadis mereka begitu keras, tangguh dan disiplin.


Gladis kecil sangat menyukai dongeng, dan gemar membaca. sering ia berkhayal bagaimana jika ia bertemu dengan pangeran impiannya,


sangat membahagiakan jika ia terlepas dari sifat otoriter ayahnya.


sebenarnya ibunya sangat menyayangi gladis namun karena ibunya merasa tidak bisa memberikan penerus keluarga untuk ayahnya,gladispun terbengkalai.


suatu pagi, saat matahari mulai menampakkan sinarnya, gladis kecil terlihat sangat taat berdoa.


Di pagi hari ia bangun dan membersihkan rumah, gladis menyapu daun-daun kering yang berjatuhan di halaman rumahnya.


Sambil menghirup udara pagi yang menyegarkan dan tetesan embun pagi gladis mengayunkan sapunya dengan cekatan.


sungguh cantik anak gadis itu jika dilihat dari kejauhan. wajahnya riang, tatapannya masih polos,tubuhnya langsing dan menyejukkan.


Bagaimana jika ia besar nanti?


sangat disayangkan jika ia tidak mendapatkan cinta dan kasih sayang yang baik.


Anak gadis yang malang.


Mengapa ia dilahirkan di keluarga yang kolot dan tidak memiliki cinta.


Jika saja ia diasuh oleh keluarga yang benar, pasti masa depannya sangat cerah.


' gladiiissss....!"


terdengar suata teriakan dari dalam rumah.

__ADS_1


Terlihat sosok pria setengah baya duduk di bangku kecil yang terbuat dari kayu dan sedang mencari-cari sesuatu diatas meja.


Gadis kecil itu lari mendekat dengan tergopoh-gopoh ia menghampiri ayahnya.


" ada apa ayah?" tanyanya terengah-engah.


" carikan ayah korek". pinta ayahnya.


Dengan sigap gladis lari ke dapur membuka laci paling atas tempat ia menyimpan korek dan lilin .


Gladis segera kembali ke ayahnya dengan membawa korek.


" ini ayah." orang tua itu hanya mengambil tanpa ucapan terimakasih.


" buatkan ayah kopi! ", lanjut ayahnya.


Gladis kembali dengan sigap lari ke dapur mengambil gelas yang sudah dicuci kemarin malam, dan menuangkan kopi hitam favorit ayahnya tanpa gula tambahan.


Dengan lihai ia seduh dengan air panas dan meletakkan di atas lepekan kecil.


Gladis berjalan menghampiri ayahnya. terlihat tanpa beban, hanya gerakkannya begitu cepat, apapun yang dilakukan gladis begitu cepat dan sigap.


seperti tidak ingin melakukan kesalahan dan diburu waktu.


' ini ayah kopinya." ucap gladis singkat.


Ayahnya tidak mengeluarkan kata sedikitpun, dengan melanjutkan hisapan rokok terakhirnya ayahnya meniup2 kopi yang dibuat oleh gladis.


Gladis pergi meninggalkan ayahnya dan melanjutkan membersihkan halaman.


Setelah bersih ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan melanjutkan doa pagi.


Gladis anak polos yang taat KeTuhanan.


Walaupun ayahnya mendidik dengan keras gladis tidak pernah melawan, jika tidak sesuai dengan hatinya gladis tetap melakukan perintah ayahnya. sungguh-sungguh anak yang penurut .


Namun sifat keras ayahnya mempengaruhi gladis dalam pergaulan. gladis menutup diri dan tidak percaya pada siapapun. ia lebih nyaman sendirian dan berkeluh kesah hanya pada Tuhan.


siang hari yang panas,gladis menutupi kepalanya dengan kamus tebal yang dibawanya untuk pelajaran bahasa inggris.


Ia berjalan dengan cepat untuk menghindari sengatan sinar matahari,


dari ujung jalan terlihat sepasang mata memperhatikan langkahnya.


anak sma ,memakai celana panjang abu-abu dan kemeja putih. terlihat emlem sekolah swasta favorit di kanan lengannya.


Sakti, itu nama panggilannya.


sakti sering nongkrong di warung ujung jalan ketika bolos sekolah.


seorang pria tampan, berhidung mancung,kulit putih dan gagah. anak orang kaya kata teman-temannya. ayahnya menjabat sebagai kepala pertamina di daerahnya dan ibunya adalah seorang pramugari.


suatu hari gladis mampir ke warung untuk membeli rokok,


" bu, rokok seperti biasa satu! " , ucapnya.


ibu warung lalu mengambilkan rokok marlboro dan memberikannya.


Sakti tersenyum sinis, sungguh anak jaman sekarang, tampang saja polos tapi perokok hebat. dimana anak smp ini belajar untuk merokok?


sakti memperhatikan raut muka gladis.


Datar, dan tanpa semangat.

__ADS_1


gladis membuka retsleting tasnya dan memasukkan rokoknya menuju ke arah rumahnya yang tidak jauh dari sana.


hari - hari berikutnya pun sama,


sebelum pulang ke rumah gladis selalu mampir untuk membeli rokok .


tanpa sadar ibu warung yang biasa dipanggil bu sumi menegur sakti.


" lihat apa nak sakti...?" ,ujar bu sumi tersenyum.


" Tiap kali nak gladis mampir kelihatannya nak


sakti tertarik. kenapa ga diajak kenalan to!


itu anak polos, cuantik, dan penurut."


ujar bu sumi kembali sambil merapihkan dagangannya.


sakti tersenyum sinis,sambil meminum teh yang dipesannya sakti menjawab


" bukan tipe bu sumi, saya lebih suka yang baik.


Anak-anak jaman sekarang kecil-kecil sudah


merokok, apa karena dia ngerasa cantik ya bu jadi


pergaulan bebas dan membohongi orang tuanya".


Bu sumi tertawa terbahak-bahak.


" nak sakti kalau tidak tahu gimana orangnya


jangan sembarangan menilai to, itu nak gladis


beliin rokok buat bapaknya..,


itu anak penurut sekali sama orang tuanya, gak


pernah keluar rumah, rajin sekali.


Banyak tetangga-tetangga yang ngomongin nak


gladis,cuma sayangnya nak gladis itu tertutup.


mungkin takut sama bapaknya."


ujar bu sumi.


Tidak tau rasa apa yang datang, tapi keesokan harinya ingin rasanya selalu menunggu seorang anak SMP membeli sekotak rokok marlboro dan berlari menuju rumahnya.


Sakti melirik jam tangan rolexnya, itu hadiah dari ibunya ketika liburan di Swiss.


Jam tangan mahal tersebut menunjukkan pukul 12.45,


biasanya jam segini pasti dia sudah datang,pikir Sakti.


disaat yang bersamaan terlihat seorang gadis


SMP menutupi kepalanya dengan kamus berlari


menuju warung bu sumi.


Entah rasa darimana tapi jantung sakti berdegup

__ADS_1


kencang menati kehadirannya.


__ADS_2