MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
SAKTI " Deng Dong " " Deng Dong "


__ADS_3

Alarm pagi menggema mengusik kesunyian pagi,


Sakti meraba tempat tidurnya mencari arah sumber datangnya suara.


Ia membuka matanya sedikit seakan mengintip.


" aah, masih jam 06.00 pagi. "


Hari minggu pagi yang menenangkan membuat Sakti enggan bangun dari tidurnya.


Dari arah luar pintu terdengar suara ketukan pintu tiga kali.


" Tok.. tok.. tok ! "


Sakti kembali terjaga, siapa yang tega mengganggunya di pagi hari yang tenang ini!


Ia Tidak peduli, namun suara ketukan pintu datang kembali.


" Tok.. tok.. tok.. tok. . tok.! "


Kali ini lebih lama dan sangat mengganggu.


Sakti beranjak bangun dari tidurnya, dengan bermalas-malasan dan mata masih setengah mengantuk, Sakti berjalan menghampiri pintu kamarnya.


Ketika ia berdiri di depan pintu ada wangi parfum yang khas , yang sangat ia rindukan menyapa lembut ke dalam hidungnya. Cepat-cepat ia memutar kunci kamarnya ke kanan dan....


Sakti terpekik, seorang wanita cantik, seksi, anggun dan berambut panjang berdiri di hadapannya.



" Kak Aleeexandraaaa! " , ia melompat memeluk dan mencium kakak kesayangannya yang sudah sangat lama tidak ditemuinya. Sakti berubah menjadi anak kecil yang manja dan ingin perhatian.


Kak Alex tersenyum sambil mengusap-ngusap kepala Sakti.


" Sudah manja-manjanya, kamu mandi dulu gih terus kebawah buat sarapan bareng keluarga. " ucap kakaknya yang tersenyum melihat kelakuan adiknya yang tidak berubah.


Sakti buru-buru ijin mandi dan pergi meninggalkan kakaknya yang masih berdiri di depan kamarnya.


" Dasar anak manja, semuanya masih sama. Tidak diajaknya aku masuk ke kamarnya.


Sambil menunggu Sakti mandi, Kak Alex masuk dan berkeliling melihat-lihat kamar Sakti.


Kesukaannya masih sama, buku-buku yang dibacapun tidak berubah. "

__ADS_1


Kak Alex duduk di pinggiran tempat tidur Sakti dan merebahkan dirinya disana. Sangat lelah penerbangan dari luar negeri untuk kembali ke Jakarta tempat tinggal mereka.


Ketika Kak Alex merebahkan badannya, terdengar suara handphone berbunyi tepat diatas kepalanya. " Hadueh anak ini tidak berubah juga , handphone masih dibawanya tidur. Apa dia tidak takut radiasi. Nanti akan aku omelin lagi seperti dulu. " ucap Alex sendiri pada dirinya.


Alex mengambil handphone yang masih berada di tempat tidur Sakti. Handphonenya terkunci, tapi ada notifikasi yang terlihat.


" Gladis wanitaku. " begitu nama yang tertera di sana.


Kak Alex tersenyum kecil dan menaruh handphone Sakti kembali ke tempat semula.


" Rupanya namanya Gladis. Ha.. ha.. ha.. nanti akan aku interogasi anak kecil itu. "


Kak Alex beranjak dari tidurnya dan berlari ke bawah menghampiri meja makan.


Di meja makan,


Sudah menunggu wanita paruh baya yang keanggunannya membuat setiap mata terkagum-kagum. Dia adalah ibu dari Sakti dan Alex.


Badannya terawat layaknya anak gadis, duduknya anggun dan tatapannya setajam Sakti.


" Alex, makanan kesukaanmu sudah mama siapkan. Jangan buru-buru makan jika tidak ingin tersedak. Ayo duduk di sebelah mama sayang. "


ajak Ibunya sambil mengecek kembali apakah semua makanan yang diperintahkan sudah ada di meja makan.


Kedua tangannya memegang surat kabar, dan menatapnya tanpa berkedip.


Alexsandra duluan menghampirinya sebelum berlari ke ibunya. Dilingkarkannya ke dua tangannya di leher ayahnya dan mencium ayahnya penuh kemanjaan.


" HA.. HA.. HA.. " suara ayahnya menggelegar di ruangan tersebut. Sirna sudah kewibawaan yang menakutkan jika anak perempuannya sudah bermanja-manja padanya.


" Anak gadisku tidak pernah berubah. Berapa umurmu sekarang nak, bagaimana kamu bisa menjadi seorang istri jika bersikap manja seperti ini ? " Ayahnya membalas ciuman Alex di pipinya.


" Aku tidak mau menikah ayah! Kalau aku dipaksa menikah akan aku bawa bibi Marni untuk ikut denganku. "


" Hahahaha.. " ayah dan Ibunya tertawa bersamaan.


Bibi Marni adalah Asisten Rumah Tangga keluarga yang sangat dipercaya di rumah itu. Orangnya sangat detail ,sopan, terencana dan setiap pekerjaan yang dilakukan selalu sempurna.


" Sayang Alex, nanti kalau kamu nikah di rumah suamimu pasti juga ada bibi. Masa kamu mau bawa bibi dari sini. Ada-ada saja kamu ini. Liat itu adikmu, tidak kalah manja denganmu, kalau sampai kamu bawa bibi Marni , si Sakti bisa ngambek ga mau pulang. " ucap ibunya sambil menyendokkan nasi ke piring mereka satu-satu.


Terdengar langkah Sakti berjalan menuruni tangga menuju meja makan. Sesampainya di meja makan Sakti tersenyum sumringah. Ia mencari tempat duduk di dekat kakaknya.


" Pagi semua...

__ADS_1


Keluarga kesayanganku.


Sakti sangat bahagiaaaa hari ini.


Semua berkumpul!


Biasanya Sakti sendirian, mama tugas, papa tugas, kakakpun tak ada. " keluh Sakti sambil melihat manja kakaknya.


" Dasar anak manja, sebentar lagi mama akan mengundurkan diri menjadi pramugari nak. Karena papa suruh mama fokus ke keluarga. Lagian mama sudah tua . Dan kakakmu sebentar lagi menikah. " jelas ibunya kepada Sakti.


Sakti dan Alexandra bersamaan kaget mendengarnya.


" Papaaaa.. beneran gak apa yang mama katakan???!!!


Kata papa alex pulang untuk ngelanjutin usaha kita. " Alexandra merajuk ke papanya.


" Ya memang lanjutin usaha papa bareng suamimu sayang. Nanti deh papa kenalin ya..


Makanya nanti setelah sarapan Alex dandan ke kantor papa, ada yang nunggu disana. " Pinta papanya pada Alex.


Sakti terkekeh mendengarnya, meskipun kaget tapi Sakti suka kakaknya menikah karena mereka tidak akan berpisah lagi.


" Apa coba kamu ketawa Sakti, dasar pria yang lagi dimabuk cinta! " ucap Alex kesal.


Sakti tersedak mendengarnya, " Kakak jangan asal ngomong deh! " intonasi Sakti mulai tinggi.


" Ya memang bener kan? tadi kakak lihat di hanphonemu ada pesan dari Gladis wanitaku. Ha.. ha... ha.. " Tawa Alexsandra sangat senang membalas Sakti.


Wajah Sakti memerah menahan malu, ia malu diejek di depan orang tuanya. Lagipula Sakti tidak pernah membicarakan mengenai wanita kepada orang tuanya.


" Siapa Alex ? Gladis Wanitaku? " tanya ibunya penasaran.


" Alex rasa begitu Ma, namanya Gladis Wanitaku. " jelas Alex kepada ibunya sambil melirik


" Wah..wah..wah. .


anak mama sudah dewasa, ayo diajak main kesini sayang. Mama pengen tau selera anak mama kayak gimana. sebentar lagi mama pensiun, pasti pengen dong ada yang nemenin mama di rumah. " canda ibunya kepada Sakti.


" Masih belum pasti Ma, dia anak rumahan. Tidak diperbolehkan pacaran oleh orang tuanya. Sakti juga belum berani ke orang tuanya. " jawab Sakti sedih.


" Wah berarti dia wanita baik-baik anakku. Kalau begitu mending tunggu dia lulus dulu daripada kamu mencari masalah. Ayah percaya pilihanmu. " sambung Ayahnya.


Kembali mereka melanjutkan acara makan keluarga mereka. Penuh canda dan tawa, sangat bertolak belakang dengan keluarga Gladis yang sepi dan menakutkan ketika mereka berkumpul untuk makan ataupun acara lainnya.

__ADS_1


Itulah perbedaan antara Gladis dan Sakti.


__ADS_2