MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
PARKIRAN


__ADS_3

Suasana yang tadinya tidak enak, berkat Angga berubah menjadi suasana yang menyenangkan.


Kami tertawa dan bercanda bersama. tidak pernah terpikirkan oleh Gladis , teman kuliah pertamanya adalah Angga dan Dion. Dua orang pria yang sangat baik dan sopan.


Gladis selalu menjaga jarak dengan teman wanita maupun pria, ia lebih suka menyendiri dan menutup diri.


Ia lelah dengan pembicaraan wanita yang saling membicarakan kejelekan teman lainnya di saat mereka tidak ada , sedangkan untuk teman pria Gladis trauma dengan sifat keras Ayahnya.


Tidak terpikirkan oleh Gladis setiap manusia memiliki sifat yang berbeda.


Keadaan berkata berbeda ketika Gladis kuliah,


Gladis nyaman berada di dekat kedua pria tersebut. Mereka selalu membantu Gladis dan sering melemparkan guyonan-guyonan lucu yang membuat Gladis tertawa.


Saking nyamannya, tidak disadarinya mata Sakti yang mengawasi mereka.


Di tengah pembahasan kegiatan baru untuk para mahasiswa. Perasaannya tidak karuan melihat Gladis bersama pria lain selain dirinya.


" Program Bela Negara? Siapa saja anggotanya Sak? tanya Clara kepada Sakti.


" iya aku juga baru dapet surat dari yayasan kalau ada uji coba program bela negara. Dimana nanti akan diberlakukan program tersebut di kampus-kampus negeri dan masuk dalam sks. Tujuannya menyadarkan masyarakat khususnya generasi milenial agar bangga sebagai orang Indonesia. "


" Trus yang mewakili siapa saja? " tanya Anita.


" Kata Dekan sieh disuru kita-kita aja, tambahannya paling anak baru yang bantu kita ospek kemarin. cuma satu hari aja pelatihannya. Kan uji coba aja. "


Setelah mendapatkan nama-nama anggota yang akan mewakili kampus, Clara terlihat cemberut.


Ia sangat kesal karena nama Gladis juga masuk kesana.


Saktipun membubarkan pertemuan osis dan akan menempel pengumumannya keesokan harinya.


"Ang, rupanya kantinnya udah mulai sepi. Ga terasa udah dua jam kita ngbrol. " ucap Gladis kepada Angga, yang baru tersadar ketika mangkuk bakso mereka dijemput oleh si empunya kantin.


" Lah iya Dis, ga terasa ya.


Pulang yuk, besok lanjut lagi ngobrolnya.


Aku juga ada janji main basket 30 menit lagi . " sahut Angga.


" Ok! come on." Gladis bangkit dari duduknya.


Angga berjalan disebelah Gladis sambil memainkan handphonenya.


" Dis, mau kemana? " tanya Angga sambil menarik kemeja Gladis.


" Keparkir lah Ang. memang kamu parkir dimana?"


tanya Gladis sambil menghentikan langkahnya.


" itu mobilku. " jawab Angga sambil menunjuk ke arah ke mobil fortuner berwana hitam miliknya.


" hmmm.. ya udah sana. Aku parkirnya diluar Ang. Aku naik motor. Makasi banyak buat hari ini Ang, makasi juga kamu udah jadi temenku. Sampe ketemu besok ya... '' pamit Gladis kepada Angga.


" Sama-sama Dis, aku juga suka ketemu temen kayak kamu yang ga baperan. Jangan berubah ya."


Gladis tersenyum menanggapinya dan melambaikan tangan tanda perpisahan mereka.


Gladis sudah sampai di motor miliknya. Sesampainya disana ,terlihat sakti sedang berdiri di bawah pohon tepat sebelah motornya Gladis.

__ADS_1


" emmm.. enak ya ngbrolnya? " tanya Sakti sambil bermuka masam.



" eh, kak Sakti.. sudah lama disini? " tanya Gladis pura-pura tidak mendengar.


" Kamu ga boleh pacaran? tapi tadi aku lihat sangat dekat dengan Angga.


Apa kamu berpacaran diam-diam di belakang orang tuamu Dis? " tanya Sakti dengan ketus.


Gladis kesal mendengar itu. Padahal dari pagi ia mempersiapkan dirinya untuk Sakti. Ketemu-ketemu malah berwajah masam.


Gladis diam tidak menjawab. Sebenarnya dy juga bingung mau menjelaslan apa, karena Sakti juga bukan pacarnya.


" Kenapa kamu diam?Berarti iya, dia pacarmu?


Kamu membohongi orang tuamu? " tanya Sakti sangat marah kepada Gladis.


Gladis tertegun memandang Sakti. Ia tidak mengira Sakti sangat serius dengan hal ini.


Jarak Sakti dan Gladis sangat dekat. Tercium aroma parfum yang familiar di hidung Gladis. Wangi maskulin yang memabukkan.


Sakti sangat menawan dihadapannya, jantung Gladis serasa ingin copot.



Sakti menarik pinggang Gladis hingga tubuhnya mereka berdua menempel.


" Mulai hari ini, aku akan bersaing secara gentle dengan siapapun yang mendekatimu. Dan kamu pasti akan menjadi milikku. " bisik Sakti kepada Gladis.


Sakti melepaskan pelukannya dan meninggalkan Gladis.


Ia tidak berani mendekati Gladis karena takut Gladis mendapat masalah oleh orang tuanya karena dia.


Tapi melihat Gladis dekat dengan pria lain membuatnya berubah pikiran.


Sakti akan mengejar Gladis bagaimanapun caranya dan ia akan mendapatkannya.


Ia tidak peduli akhirnya akan bagaimana, yang terpenting Gladis menjadi miliknya.


Sakti melepaskan tangannya dari pinggang Gladis, membuang nafas dan pergi.


Gladis terdiam kaku di tempat.


Apa yang barusan terjadi? tanyanya dalam hati.


Bagaimana bisa Sakti cemburu padanya?


Pikirannya masih berkecamuk.


Gladis menyalakan motornya dan melaju dengan cepat.


Sesampainya di rumah Gladis merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Ia tidak berselera makan, ada hal aneh yang mengganggunya.


Sambil memejamkan mata, Gladis memikirkan Sakti.


Begitukah rasanya jika kita mencintai seseorang?

__ADS_1


Tidak ingin orang yang dicintai dekat dengan orang lain?


Seandainya ada kesempatan aku ingin sekali mencoba berpacaran.


Pikir Gladis kembali.


" tok.. tok.. tok! " suara ketukan pintu terdengar dari luar kamar Gladis.


Ibu Gladis masuk ke kamar dan duduk di bibir tempat tidur.


" Dis, ada apa? tumben ga makan? " tanya ibunya sambil melihat muka Gladis.


Gladis terbangun dari tidurnya dan menyandarkan dirinya di kepala dipan.


" Ibu... " Gladis menghentikan ucapannya.


" Kenapa Dis, kamu ada masalah di kuliah ?sekarang kamu sudah dewasa, jangan gegabah ambil tindakan, Ingat masa depanmu! Kamu juga tau kan bapak galaknya kayak gimana?


Jaga diri Dis, jangan sampai salah jalan.


Kamu kenapa?


Ayo cerita.. Ibu deg-deg an kalau lihat kamu kayak gini. Jangan-jangan kamu buat kesalahan. "


" Gak bu, Gladis gak buat kesalahan.


Gladis cuma bingung sama perasaan Gladis.


Gladis suka sama seseorang tapi Gladis gak boleh pacaran. Gladis pengen sekali coba berpacaran kayak anak-anak yang lain. " jawab Gladis kepada Ibunya ,matanya berkaca-kaca menahan tangis.


Gladis sudah bisa merasakan suka kepada lawan jenis, rasa penasaran dan ingin memiliki telah mempengaruhinya.


Ibunya diam melihat Gladis.


" Dis, kamu baru semester awal kan? perjalanan kamu masih panjang. Ibu takut kalau ayahmu tahu kamu berpacaran, kamu akan diselesaikan kuliahnya.


Coba kamu tahan dulu perasaanmu. Mungkin karena ini pertama kali kamu suka sama lawan jenis , jadinya begini.


Ibu sudah capek melihat kemarahan ayahmu. Kita jangan cari masalah lagi Dis. " Ibunya berusaha menenangkan Gladis dengan nasehatnya.


Gladis mengangguk pasrah.


Ia ini mungkin rasa penasarannya, karena Gladis sebenarnya juga tidak tahu rasa apa yang dia miliki ke Sakti.


Yang selalu terjadi adalah ketika ia melihat Sakti jantungnya berdebar dan ingin terus melihatnya.


Ibunya mengusap kepala Gladis dan menyuruhnya tidur. Dimatikannya lampu kamar Gladis bersamaan dengan keluarnya Ibunya dari kamar Gladis.


Anaknya sudah dewasa, pikirnya.


Ada rasa takut yang muncul di hati ibunya.


Mereka keras pada Gladis ketika kecil hingga kuliah untuk menjaga Gladis dari pergaulan yang tidak sehat.Sekarang Gladis sudah besar, dan ibunya mulai sadar cara seperti itu tidak akan ampuh untuk menjaga Gladis.


Semakin Gladis di kekang ia akan semakin lari.


Umurnya sudah tidak kecil lagi.


Ibunya tidak ingin ayahnya tahu apa yang Gladis rasakan.

__ADS_1


Semoga Gladis tidak gegabah dalam bertindak.


__ADS_2