MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
OSPEK


__ADS_3

Suasana pagi yang sangat indah. Waktu


menunjukkan pukul 05.00 dini hari. Mentari pagi


masih enggan menampakkan sinarnya.


Gladis sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kampus.


Sebelum berangkat , Gladis masih


menyempatkan diri untuk mengecek semua


keperluan ayahnya.


rokok, korek ,dijadikan satu tempat di atas meja


tempah ayahnya biasa menghabiskan kopi.


Hari ini adalah hari pertama Gladis menerima


hukuman untuk menjadi asisten osis di


kampusnya. Ia tidak ingin mendapat masalah


karena terlambat.


Gladis menstarter motor supra jadulnya,


" hmmm,mati lagi! " ujarnya.


kembali Gladis turun dari motor jadulnya dan


mencoba dengan starter kaki .


Motorpun menyala, buru-buru Gladis


meninggalkan rumahnya menuju kampus.


Suasana kampus masih sepi, hampir tidak ada orang.


Gladis berjalan menuju aula tempat mereka berkumpul kemarin,


Bukankah jam ospek dimulai jam 06.00 pagi ini, kenapa belum ada yang datang. pikirnya.


Oke, Gladis duduk di aula dan menunggu selama 10 menit.


tidak ada tanda-tanda keriuhan mahasiswa datang.


Gladis beranjak dari duduknya, dia terhenti sejenak.


apa dia salah jadwal ?


buru-buru ia menurunkan tasnya,


membuka kertas jadwal yang dibagikan kemarin.


Ya Tuhan,,


rupanya dia salah tempat.


Hari ini harusnya ia menjadi supporter di Gedung Gelora untuk menyemangati senior-senior yang sedang berlomba.


Gladis lari ke tempat parkir, mengambil motornya dan tancap gas kesana.


Gedung Gelora sudah ramai, berbagai macam kampus sudah berkumpul disana.


Terlihat Sakti sedang memberikan arahan yel-yel untuk para mahasiswa dan mahasisiwi baru.


Gladis menarik nafas panjang,


apa ia harus lari dan kembali ke rumah atau maju ke depan dan menghadapi Sakti.


Ada rasa takut yang menghantui perasaan Gladis,


Sakti ketua osis bermata tajam.


Rasanya ingin lari jika ditatapnya.

__ADS_1


Gladis maju melangkahkan kakinya menuju kelompok MaBa.


Dari jarak jauh Gladis sudah melihat kumpulan mahasiswa baru yang sedang berlatih yel-yel beserta Sakti, Clara, Angga dan Dion.


Matanya tertuju pada Sakti,


pikira Gladis mulai berkecamuk,


Aku harus kemana? pikir Gladis.


Menuju ketua osis atau barisan MaBa?


kembali Gladis menarik nafas panjang..


Nafas Gladis serasa sesak melanjutkan perjalanan kesana.


Sesampai disana semua mata memandangnya, ada yang memandang kasihan ada juga cibiran.


Gladis tertunduk dan melihat Sakti. Sakti tidak memperdulikannya.


Mata Clara memandanginya dengan sinis sedangkan dua MaBa yang bersamanya kemarin, Dion dan Angga berada di sebelah Clara menatap kasihan pada Gladis.


Gladis mendatangi Clara, baru saja Gladis hendak mengeluarkan kata-kata sudah dipotong oleh Clara.



" Hei, anak baru... namamu Gladis ya?


Punya jam ga di rumah?


mau alasan apa?


macet?


bangun kesiangan atau ban motor kempes?


Anak-anak sudah kumpul dari tadi tapi kamu baru datang. Yang kayak gini mau jadi asisten kita?! "


Cerocos Clara di hadapan Gladis.


Gladis menunduk dan tetap diam.


" saya mau dengar alasan kamu apa? " sahut Clara sambil melipatkan kedua tangannya di hadapan Gladis.


Bersamaan dengan itu Sakti mendatangi mereka berdua.


" mohon maaf kak.. saya salah saya terlambat.


Silahkan kalau kakak mau menghukum saya, saya terima karena memang saya yang salah. " ucap Gladis sambil tetap menunduk.


" owhh, nantangin kamu yaaa...? kalau begitu kamu angkat semua konsumsi para mahasiswa dan mahasiswi beserta peserta lomba dan pulangnya kamu harus memastikan semua sampah sudah bersih tanpa ada yang tertinggal. " perintah Clara.


Dalam hati Clara sangat kesal dengan sikap Gladis, meski Gladis anak baru dan masih polos tapi Gladis memiliki daya tarik yang tidak dimiliki wanita lain. Semua orang bisa melihat itu.


Cantik, jujur, bertanggung jawab dan bukan wanita murahan.


Dari cara bicara, tingkah laku dan perilakunya sangat jelas terlihat.


Gladis hanya tidak bisa bersosialisasi dan terkesan introvert.


terkadang hal itu yang membuat lelaki penasaran, tidak terlewatkan juga seorang Sakti.


Clara curiga Sakti tertarik pada Gladis,


banyak hal yang tidak biasa yang dilakukan oleh Sakti akhir-akhir ini setelah kedatangan Gladis.


" Kamu terlambat..? " tanya Sakti kepada Gladis.


" iya kak, maaf. " jawab Gladis datar.


" oke, terima hukumannya. " Ujar Sakti meninggalkan Gladis.


Clara sangat senang dengan reaksi Sakti.


Clara mengira Sakti tidak akan membiarkan Gladis di hukum olehnya,rupanya pikiran Clara salah..


Sakti sama sekali tidak membela Gladis dan mendukung tindakan Clara.

__ADS_1


Gladis mulai menurunkan konsumsi dari dalam mobil bak yang terparkir agak jauh dari tempat duduk para mahasiswa baru.


Sakti mendatanginya, melipat kemeja lengan panjangnya hingga siku dan membantu mengangkat konsumsi tersebut.


" Kak, biar saya saja.. ini hukuman buat saya. " ucap Gladis merasa tidak enak.


Sakti tersenyum menjawab " saya tidak membantu kamu, kamu tetap lakukan hukumanmu..


saya hanya menjalankan perintah ibu saya, jika melihat wanita susah jangan dibiarkan. Anggap itu Ibumu dan tolonglah mereka.


Jadi saya sekarang sedang menjalankan perintah ibu saya. " jawab Sakti.


Gladis hanya terdiam..


apa maksudnya..


tidak pernah jelas..


tidak lama berselang Dion dan Angga pun datang untuk membantu Gladis.


" Kita bantu ya Dis, kita sama-sama. " ucap Dion sambil mengangkat kerdus-kerdus itu dari tangan Gladis.


Mereka berempat melakukannya dengan cepat, setelah semua selesai,


Gladis lari ke warung untuk membeli empat botol air mineral dan memberikannya kepada mereka.


Yang pertama Gladis berikan kepada dua temannya,


Dion dan Angga.



Gladis mengulurkan tangan berkenalan.


" perkenalkan, saya Gladis. ini minumannya. "


Uluran tangan Gladis disambut baik oleh Dion dan Angga.


Mereka mengucapkan terimakasih kepada Gladis.


" Kami tadi takut banget kamu dihukum berat Dis,


waktu kamu datang dan disambut oleh Clara. " cerita Dion pelan.


" iya bener, kamu tau kan Clara kayak nenek lampir. "


sambung Angga menimpali.


tanpa sadar Gladis tertawa bersama mereka.


" Dis, lain kali kamu telephone aja kita kalau kamu telat.


Karena kita senasib sepenanggungan.. hahaha.. " ucap Angga lagi.


" by the way boleh tahu nomer handphonemu Dis? biar kita bisa saling kabar kabari gitu. "


lanjut Angga sambil mengeluarkan handphonenya.


Gladis hanya terdiam, dilihatnya muka Gladis yang datar oleh Dion dengan rasa tidak enak.


" kalau ga boleh juga gak papa kok Dis. " ujar Dion cepat.


Dion berpikir mungkin Gladis tidak ingin memberikan nomer handphonenya.


Gladis tersenyum kecut , " bukan ga boleh, cuma aku ga ada handphone. kalau kalian mau nomer handphone, aku cuma ada nomer handphone ayahku. " jawab Gladis datar.


Dion dan Angga saling bertatapan. Sangat minimalis sekali wanita ini, pikir mereka. Mana mungkin kita menghubungi ayahnya Gladis. Apa dia tidak mengerti PDKT.


" ouh gak apa-apa kok Dis, nanti kita ngbrol-ngbrolnya dikampus aja.. nyaman juga kok. Ginj aja udah seneng. hahaha..." jawab angga mencairkan suasana yang kikuk.


" oh ya, aku permisi dulu ya.. mau antarkan minum ke kakak Senior. " Gladis berlalu pergi mencari Sakti.


Terlihat dari jauh Sakti duduk dengan kancing kemeja terbuka dua kancing dari atas, lengan panjangnya masih digulung hingga siku. Sakti duduk sendirian, sepertinya lelah dan kepanasan karena dia yang paling banyak mengangkat konsumsi dan merapikannya. Hampir 70 persen Sakti yang kerjakan.


Gladis mendatangi Sakti, berdiri dihadapannha dan mengucapkan terimakasih.


" Kak, mohon diterima minumannya. terimakasih sekali bantuannya. " unar Gladis tersenyum malu.

__ADS_1


Sakti mengambil minumannya dan menjawab dengan sombong " thanks! "



__ADS_2