MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
Pantai Cinta


__ADS_3

Wajah mereka begitu dekat, sinar mata Sakti sayu menunggu jawaban dari gadis yang dicintainya.


Ketika tangan Sakti menggenggam tangan Gladis, bukan penolakan yang didapat namun penerimaan tanpa balasan. Tangan Gladis tidak menampiknya,namun kaku terdiam.


Bukan karena tidak suka, tapi ini pertama kalinya bagi seorang Gladis.


" Gladis, apakah hubungan kita bisa lebih dekat ? " tanya Sakti pelan terhadap Gladis. Ia tidak ingin memaksakan kehendaknya.


Gladis mengangguk setuju. Perasaan takut dengan ayahnya sirna ketika mendengar pernyataan cinta Sakti.


Sakti lebih mendekat ke arah Gladis, ia tersenyum dan memegang pipi Gladis. Wajah Sakti didekatkan ke arah Gladis, tanpa menciumnya hanya melepaskan rindu yang begitu mendalam pada Gadisnya..



Sakti sangat-sangat menyayangi Gladis. Bertahun-tahun hanya bayangan Gladis yang dilihatnya. Gladia hadir dalam mimpi-mimpinya.


Bagaimana Gladis dewasa nanti ?


Bagaimana Gladis jika nanti menjadi adik kelasnya?


Bagaimana nanti ketika pertama kali bertemu Gladis di universitas?


Hal-hal seperti itu sudah dipikirkan Sakti sejak dulu pada saat Sakti menunggu Gladis di bangku Universitas.


Mereka terdiam sesaat.


" Bukankah kamu tidak diberikan ijin oleh orang tuamu untuk berpacaran Dis? " tanya Sakti sambil tetap memegang pipi Gladis.


" iya kak, aku juga tidak tahu harus gimana. Tapi aku menyukai perasaan seperti ini. " jawab Gladis seadanya.


" Gak apa-apa kok Dis. Aku akan menjagamu, orang lain tidak perlu tahu tentang kita. Dan kamu tidak perlu terikat dengan perasaan ini. Aku akan menunggumu hingga kelulusan nanti. "


Jawaban Sakti sungguh menenangkan Gladis.


" Satu lagi karena sekarang kamu wanitaku , jangan panggil aku kak, panggil aku Sakti. Aku ingin lebih dekat denganmu " .


" ii.. iya.. Sakti. " Pipi Gladis terasa panas dengan kelakuan Sakti.


Sakti merebahkan badannya di pasir pantai, dan menyuruh Gladis mendekat ke arahnya. Ia menunjuk lengan kirinya tanda Gladis bisa merebahkan diri di lengannya.


Meskipun agak kaku, Gladis mengikutinya.


Sakti mengecup rambut Gladis yang wangi dan mengusapnya dengan lembut.

__ADS_1


" Gladis, aku akan ingat hari ini. Ini hari terindah di hidupku. Tidak pernah terpikirkan ini akan terjadi secepat ini. " ucap Sakti pada Gladis.


" Tetaplah di sampingku Gladis, aku akan menjagamu, mencintaimu dan menikahimu. " janji Sakti padanya.


Gladis mulai terbawa dengan perasaannya, dilingkarkannya tangannya di tubuh kekar Sakti. Gladis memeluk Sakti dengan erat tanpa mau melepasnya.


Sakti pun mulai berani untuk membalasnya, rasa cintanya sungguh mendalam terhadap Gladis. Mereka berdua saling berpelukan, saling menghirup wangi tubuh masing-masing dan melepaskan rasa. Namun mereka tetap tau batasnya.


Waktu sudah hampir sore, mereka mulai kembali ke mobil dengan menaiki tangga.


Tangan mereka tetap saling menggenggam dan selalu tersenyum. Rasanya hari ini waktu sungguh cepat berlalu, rasa selalu ingin berdua sudah merasuki mereka.


Gladis masuk ke dalam mobil duluan dan diikuti oleh Sakti. Mereka berdua tersenyum saling pandang, Sakti menyalakan mobilnya dan pergi meninggalkan pantai cinta mereka.


Sakti mengantarkan Gladis kembali ke kampus mereka, suasana kampus sudah mulai sepi.


Namun di kantin masih terlihat Angga dan Dion sedang duduk santai disana.


Masih di dalam mobil Gladis berfikir , tumben Dion tidak langsung pulang. Biasanya Dion diburu waktu.


Gladis mohon diri pada Sakti untuk menghampiri mereka, seketika ada rasa cemburu di hati Sakti.


" Dis, hubungan kita sekarang sudah dekat. Mohon jaga dirimu. Karena aku sakit jika melihatmu terlalu dekat dengan pria lain. " ujar Sakti tegas.


Gladis tertawa lucu, " Sakti, aku hanya menyukaimu. Dion dan Angga teman-temanku. Kamu juga kenal mereka kan? , tidak akan terjadi apa-apa. " jawab Gladis menenangkan Sakti.


Gladis berlalu pergi meninggalkan Sakti terlebih dahulu agar tidak terlalu mencolok, dan ia berjalan menuju kantin sambil tersenyum - senyum sendiri.


" Hai, Ang, Dion kenapa kalian belum pulang? " tanya Gladis sambil bergabung duduk di meja mereka.


" Lagi ada yang perlu dibahas, kamu darimana Dis ? Kirain udah pulang. " tanya Dion kepada Gladis.


" Tadi aku ke toko buku sebentar. By the Way tumben kamu Di, ga pulang duluan. Biasanya lari-larian sambil lihat jam . "


Dion hanya melihat Gladis, dan menarik nafasnya.


" Aku ingin santai hari ini, karena pekerjaanku semakin rumit dan membutuhkan pikiran yang tenang untuk mengerjakannya. " ucap Dion kepada Gladis.


" Kalau gitu kalian santai-santai saja dulu disini. Aku mau pulang duluan ya... " Gladis beranjak dari tempat duduk mereka dan berlalu pergi.


Dion dan Angga saling melihat dan suasana kembali hening. Hanya tatapan tajam yang terlihat dari mata mereka untuk Gladis.


Sesampainya Gladis di rumah ia langsung masuk kekamarnya untuk mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Gladis ingin membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa pasir pantai. Ia takut kondisinya saat ini akan membuat orang tuanya curiga.

__ADS_1


Di kamar mandi saat Gladis membersihkan tubuhnya, ia terus membayangkan sosok Sakti. Wangi tubuhnya, tangannya yang kekar, hidung mancungnya dan bibirnya membuat Gladis merasakan sesuatu yang aneh.


Ia merasakan keinginan untuk disentuh dan melakukan lebih jauh lagi. Ia ingin mencium bibir Sakti, memeluk badannya yang kekar dan dibelai dengan kasih sayang.


Hal tersebut wajar dirasakan oleh Gladis, karena untuk pertama kalinya ia merasakan cinta dan kasih sayang.


Ia terkungkung dalam suasana tanpa cinta dan penuh dengan kekerasan dalam keluarganya. Bertemanpun Gladis jarang, pacaran tidak pernah.


Ketika Gladis menemukan Sakti, adrenalinnya terpacu. Keinginan untuk disentuh, disayang, dibelai ingin ia dapatkan semua dari Sakti.


Sakti telah menjelma menjadi dunianya Gladis.


Keesokan harinya di Universitas. . .


Sakti sengaja melewati kelas Gladis untuk mencari wanitanya.


Dilihatnya Gladis sedang berbincang dengan Angga. Melihat Sakti ada diluar, Gladis buru-buru keluar untuk menyapa kekasih hatinya.


" Hai pagi .. Sakti " sapa Gladis malu-malu. Ia berdiri di depan Sakti dan merapikan rambutnya.


Sakti tersenyum dan menyapanya kembali,


" Pagi Gladis, bagaimana tidurmu kemarin ? " tanya Sakti sambil menundukkan wajahnya agar bisa melihat wajah Gladis lebih dekat.


" Enak dan bahagia." Senyum Gladis riang.


Sakti kembali tersenyum dan menurunkan tas nya dari punggungnya lalu mengeluarkan sebuah handphone baru.


" Ambil ini dan pakai. Kemarin aku sangat merindukanmu. Aku ingin tahu kabarmu, tapi aku tidak bisa menghubungimu. " wajah Sakti terlihat sedih.


Sakti melanjutkan,


" Mohon jangan ditolak karena ini menyiksaku. Kamu pakai saja Dis, nomer handphonenya sudah aku daftarkan. Dan buat perbulannya biar aku yang bayar. Yang penting selalu kabari aku dan jangan mengabaikan telponku. " pinta Sakti pada Gladis.


Gladis tergagap dan bingung!


Ia tidak pernah mau menerima barang dari siapapun dan ia tidak ingin dikira cewek matre.


Namun kondisinya saat ini berbeda,


Gladispun merasakan kerinduan yang mendalam kepada Sakti namun tidak bisa memberikan kabar.


Ia tidak punya uang yang cukup juga untuk membeli sebuah handpone dan tidak akan diberikan ijin.

__ADS_1


Apa ia harus menerima handphone ini ?


Bagaimana jika kedua orang tuanya tahu ?


__ADS_2