
"Kriiiing..... "
"Kriiiiiing.... "
"Kriiiiiing.... "
Jam weker di kamar Gladis berbunyi.
Gladis masih sulit membuka mata. Dilihatnya jam weker berwarna hitam miliknya, " ya ampun sudah jam tiga pagi. " keluh Gladis kesal.
" Diputarnya kembali jarum merah yang bertugas untuk membunyikan waktu, " ok! setengah jam lagi. " Lanjut Gladis sambil memeluk kembali gulingnya.
dan ia kembali tertidur.
Setengah jam sudah berlalu Gladis bangun dari tidurnya , dengan masih menggunakan piyama.
Ia duduk di bibir dipan mengumpulkan tenaga dan segera berjalan mandi.
Dua jam kemudian. . .
Suasana sangat dingin menusuk kulit.
Gladis telah tiba di Gedung Bimacakti , tempat mereka berlatih.
Terlihat anggota mahasiswa pilihan sudah berkumpul disana.
Ada yang aneh kalau dipikir-pikir, jumlah prianya ada delapan orang sedangkan wanitanya hanya dua, yaitu Gladis dan Clara. Seperti dipaksakan untuk membuat Gladis masuk menjadi anggota. Dan Clara tidak boleh ditinggalkan.
Padahal jika boleh memilih Gladis tidak ingin terlibat dengan urusan kemahasiswaan, ia lebih memilih hidup tenang, kuliah dan selesai.
Gedung Bimacakti sangat luas, ada lapangan tembak, kolam renang, lapangan sepakbola, tenis dan berbagai olahraga lainnya.
Sudah berdiri dua petugas kepolisian yang akan mengajarkan mereka. Petugas tersebut tergolong masih muda sekitar umur 30an , berbadan tegap, dan terlihat tegas.
Gladis berlari menuju barisan, Dion dan Angga juga sudah berada disana.
" Pagi cantik , " sapa Angga kepada Gladis.
Gladis tersenyum melihatnya dan juga Dion.
" Pagi, Ang.. Pagi Dion.. " sapa Gladis.
Dion hanya tersenyum simpul. Akhir-akhir ini Dion memang lebih pendiam dan terkesan sibuk. Sudah tidak ada kesempatan lagi bisa berkumpul seperti waktu ospek dulu.
Dion seperti jauh diatas kita, mungkin karena umurnya berbeda empat tahunan dari kita. Dion terlihat dewasa dan juga intelek. Hanya Angga yang bisa mengganggu dan membuatnya tertawa.
Para anggota mahasiswa sudah bersiap dilapangan membentuk barisan bersama dengan wakil kepolisian.
Tetapi ada yang kurang, Sakti tidak terlihat.
Tumben banget Sakti telat, pikir Gladis.
Mata gladis melirik kanan dan kiri penasaran.
__ADS_1
Yang lainnya sudah bersiap termasuk juga Clara. Gladis pura-pura tidak melihat, lebih baik begini. Ia mulai bersikap tidak peduli dan tak acuh padanya.
Beberapa saat kemudian,
dari kejauhan seorang lelaki yang tidak asing lagi wajahnya , datang bersamaan dengan satu orang wakil dari kepolisian.
Sakti datang dengan memakai kaos hitam, celana taktikal dan rompi kepolisian.
Bergetar rasanya setiap orang yang melihatnya.
Tampan, cool, ganteng, tegap, semua pujian rasanya pantas untuknya.
Gladis ingat kembali kata-kata Sakti yang ingin mengajaknya berpacaran. ?
Andai saja ayahnya memberi ijin, pasti Gladis sudah menjadi wanitanya.
Betapa butanya ia waktu SMP, sama sekali tidak memperhatikan Sakti.
Clara melihat Sakti dan melemparkan senyum yang nakal, sungguh mengesalkan melihat mimik wajah Clara.
Gladis sudah berubah menjadi wanita yang cemburuan dan menggilai cinta.
Sakti telah sampai di depan para anggota. Terpancar ketampanannya dari berbagai sudut , aroma parfum yang tidak asing lagi, semerbak memenuhi barisan.
Wakil kepolisian yang ada disebelah Sakti memberi aba-aba siap dan memberikan ceramah.
" Selamat Pagi semua, terimakasih semua sudah hadir pada pelatihan hari ini.
Nanti Sakti tetap yang akan memimpin, hal ini bertujuan untuk diturunkannya ilmu yang kalian dapatkan disini kepada mahasiswa yang belum mendapatkan pelatihan. Tanpa banyak basi-basi kita mulai pelatihan hari ini. Siaaaapppp!!! " jelas polisi yang tampak lebih tua dari yang lainnya.
" Siaaaaaaaaaap! " jawab kami bersamaan.
Pelatihan dimulai, kami berbaris, berlari, membuat kelompok dan sebagainya.
Sakti memimpin dengan tegasnya, semua pria disini tampak keren dan tampan. Badan mereka tegap dan tinggi. Sepertinya mereka sengaja dipilih karena badan mereka yang tergolong sempurna.
Mata Sakti beradu pada Gladis. Gladis menundukkan wajahnya pura-pura tidak lihat Sudah beberapa hari ini ia menghindari Sakti. Antara takut dan juga malu. Akhirnya hari ini bertemu dan tidak bisa menghindar.
Sakti terus memandangi Gladis berlari, terlihat Gladis terengah-engah dan dikalahkan oleh Clara. Sakti tersenyum lucu melihatnya.
Hal itu membuat Gladis malu dan kesal. Untuk apa dia terpilih di dalam kegiatan ini. Hanya membuat malu saja. Padahal nilai olahraganya dulu sangat jelek.
Setelah pemanasan para anggota mahasiswa dikumpulkan kembali,
Sakti memberikan arahan ,
" Untuk yang wanita Clara dan Gladis. Kalian berdua akan saya ukur kecepatan larinya dalam mengitari lapangan ini. Setelah selesai kalian langsung ganti pakaian dan bersiap untuk lanjut ke kolam renang dan segera latihan teknik penyelamatan diri di air.
Untuk yang pria, kalian akan berlari dua kali putaran lapangan bersama saya setelah itu lanjut ke kolam renang setelah para wanita selesai melaksanakan pelatihannya. Siaaap! "
"Siaaap! " jawab mereka serentak.
Petugaa kepolisian terus mendampingi Sakti untuk memberikan arahan.
__ADS_1
Gladis dan Clara hampir selesai melaksanakan pelatihan penyelamatan di kolam renang,
para pria sudah selesai berlari dan bersiap untuk berenang.
Mereka mulai bersiap membuka baju atasan mereka.
Sungguh pemandangan yang tidak bisa dimaafkan dan harus dinikmati. Kenapa tidak setiap hari mereka seperti ini.
Wajah Gladis memerah melihatnya, pertama kalinya Gladis melihat pria bertelanjang dada, dengan badan yang tergolong sempurna paripurna.
Dion dan Angga juga benar-benar merupakan pahatan yang sempurna.
Mereka masih berdiri menunggu Gladis dan Clara selesai melakukan pelatihan.
Sedangkan Sakti masih menggunakan kaos hitamnya dan melihat-lihat cara Gladis dan Clara dilatih.
Clara memperlihatkan kepiawaiannya dalam berenang , membuat Gladis minder .
Tiba-tiba, pada saat Gladis mempraktekkan gaya kupu-kupu yang diajarkan oleh pelatihnya. Kakinya terasa mengeras, seperti tersetrum dan Gladispun oleng.
Sakti yang melihat itu langsung menceburkan dirinya ke kolam, dan menarik Gladis ke pelukannya.
Rupanya bukan Sakti saja yang menceburkan diri.
Dion pun reflek menceburkan dirinya.
Dion mundur karena Sakti sudah memeluk Gladis terlebih dahulu dan naik kembali ke pinggir kolam.
Angga menatap Dion dengan curiga.
Aneh jika dipikir, Dion dari tadi berbicara pada Angga tanpa terlihat memperhatikan Gladis.
Namun ketika tiba-tiba Gladis keram, Dion dengan cepat tanggap memberikan pertolongan padahal Gladis belum berteriak. Angga saja tidak menyadari jika Sakti belum menceburkan diri.
Apakah Dion daritadi diam-diam memperhatikan Gladis? pikir Angga .
Berbeda dengan Sakti yang sangat terlihat memperhatikan Gladis dengan detail. Matanya tidak pernah terlepas dari Gladis .
Clara seperti nyamuk yang tidak dipedulikan, padahal jika dilihat Clara sangat cantik dan berbakat. Dari gaya dan kekayaanya Sakti cocok dengan Clara.
Namun Sakti tidak pernah memperdulikannya. Mungkin karena Clara mudah emosi seperti nenek lampir.
Angga pun sebagai laki-laki waras tidak akan mau memilihnya.
Mata Clara menahan benci melihat Gladis.
Gladis sudah tidak peduli apapun, kakinya keram, tidak bisa bergerak.
Tapi ada sesuatu yang dirasakan oleh Gladis,
badan sakti begitu keras berotot, membuat tubuh Gladis menjadi kaku karena malu dan deg-degan.
__ADS_1