
Pagi kembali menyapa...
Hari ini Gladis terbangun dengan perasaan yang berbeda,
Ketika membuka mata, terbayang wajah Sakti di pelupuk matanya.
Pagi yang membawa semangat,
tumben sesemangat ini untuk berangkat ke kampusnya.
Gladis beranjak dari tidurnya, mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu dan berjalan menuju kamar mandi.
Lama Gladis membersihkan tubuh di kamar mandi , memakai sabun jepang kirei favoritnya, menyikat gigi dan mencuci rambutnya.
Selesai mandi ,Gladis melilitkan handuk berwarna cokat di badannya serta mengeringkan rambutnya yang basah.
Tercium aroma bunga dari tubuh indahnya . Wewangian itu menambah semangat hari-harinya.
Gladis kembali ke kamarnya dan berdiri di depan kaca panjang yang menempel terpaku di tembok.
𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬?
𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬?
Pikirnya, ketika melihat dirinya di depan kaca.
Dibukanya handuk yang masih terlilit di tubuhnya.
Gladis mengamati dirinya di kaca,
Rambut hitam tergerai lurus menutupi punggungnya,
Hidung kecil mancung dan bibir berwarna pink menghiasi wajahnya,
Badan ramping,
leher jenjang, dan
dada yang terukir indah di badannya.
Pertama kalinya Gladis mengamati semua yang ia miliki,
kembali terbersit pertanyaan,
𝘪𝘯𝘪𝘬𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘥𝘢𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘳𝘪𝘬 𝘚𝘢𝘬𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢?
Gladis mulai mengambil set pakaian dalam kebanggaannya, ia
mulai memilih mana yang membuatnya percaya diri.
Sungguh hal yang tidak biasa yang dilakukan Gladis.
Namun ada perasaan ingin tampil dan terlihat menarik.
Ia memilih pakaian dalam berwarna beige, yang membuat kulit putihnya menjadi kalem dan menawan.
dipakainya set celana dalam dan branya.
Sungguh indah tubuhnya, baru kali ini Gladis tidak ingin menutupi tubuhnya dengan baju.
Adrenalin rasa suka yang pertama kali dirasakannya merubah Gladis menjadi wanita yang berbeda.
Ia sekarang memiliki gairah untuk tampil menawan dan menarik lawan jenis.
Yang ada dipikirannya hanya Sakti.
Waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi..
Masih lama waktunya ke kampus,
Gladis duduk di meja rias sambil memperhatikan dirinya.
Sambil mematut diri di kaca, diusapkannya body lotion aroma mawar ke seluruh tubuhnya,
Kakinya panjang dan jenjang,
Berkulit putih dan mulus,
__ADS_1
Ia tersenyum kecil,
Kemana ia selama ini, sampai tidak
memperhatikan keindahan tubuhnya yang ia
miliki?
Ayah Gladis memang sangat galak mengenai cara berpakaian Gladis.
Gladis diharuskan memakai pakaian yang sopan dan tidak memperlihatkan bagian tubuhnya yang dapat membuat kaum adam terpesona.
Gladis paham maksud ayahnya, karena ingin menjaga Gladis dari hal-hal negatif yang dapat merugikan dirinya.
Dan ia pun memiliki prinsip yang sama,
tidak ingin terlihat murahan dan menjadi wanita yang menyerahkan mahkotanya untuk satu lelaki yang sangat dicintainya dan mau menikahinya.
Gladis mulai mengenakan pakaian, diambilnya baju putih lengan panjang dan celana abu-abu panjangnya.
Rambutnya tetap tergerai panjang, ia mengenakan lip tint berwarna orange dan sedikit bedak tabur agar terlihat fresh.
Sinar matahari mulai memasuki jendela kamar,
Cahayanya membuat Gladis silau namun pantulan kecantikan dirinya di cermin membuat siapapun yang memandangnya lebih silau.
Wajah yang berseri-seri membuatnya makin cantik.
Gladis keluar dari kamarnya lebih telat dari biasanya.
tapi ia tidak melupakan kewajibannya,
membuat kopi untuk ayahnya, menyiapkan rokoknya dan berdoa.
" Dis, udah mau berangkat nak? " , tanya ibunya yang sedang menyiapkan sarapan.
Setelah perbincangan dengan ibunya kemarin, Gladis merasa bahwa orang tuanya menyayanginya dengan cara yang tidak biasa.
mereka terpenjara di dalam pernikahan yang menurutnya tidak bahagia.
Siapa yang mau disalahkan?
Latar belakang pendidikan, cara pandang, juga didikan keluarga sangat mempengaruhi pila pikir mereka.
Haah..., Gladis menghela nafas dan tidak ingin pernikahannya berakhir seperti orang tuanya.
Gladis melihat kembali wajah ibunya yang sedang sibuk menyiapakan makanan keluarga dan ayahnya yang sedang mencuci taksi di depan rumah.
Mereka tidak salah, mereka hanya tidak mengerti.
Pertengkaran yang sering terjadi,
Perbedaan pendapat,
Cara berfikir yang masih kolot,
hanya membuahkan hasil yang tidak baik.
dan juga..
ada satu korban yang mereka tidak pernah pikirkan
yaitu " ANAK ".
Anak, tidak pernah ingin dilahirkan di keluarga seperti itu.
Jika boleh memilih, seorang anak tidak mungkin memilih orang tua yang tidak harmonis.
Seorang anak hanya ingin cinta,
dicintai dan dihargai atas kehadirannya.
Dinanti dan disayangi,
bukan rasa tidak suka akan kelaminnya yang iapun tidak tahu bahwa jenis kelamin membuat ia diperlakukan berbeda.
__ADS_1
Jika boleh memilih, iapun ingin keluarga yang membawa rasa hormat di masyarakat. Agar hidupnya lebih mudah.
Mengapa banyak orang tua sangat memikirkan perasaan mereka , tapi tidak dengan perasaan anak mereka.
Ego yang mereka rubah dengan kata, menghasilkan kata " BERTAHAN"
Bertahan agar terlihat harmonis,
Bertahan untuk anak,
Bertahan untuk keluarga.
Padahal dibalik kata bertahan banyak penderitaan.
Gladis berjalan menghampiri ibunya dan menciumnya.
" Selamat pagi ibu.. " sapanya. Ibunya menatapnya bingung.
" tumben kamu..., kayak orang lagi jatuh cinta aja."
ujar ibunya yang sudah duduk di meja makan.
Gladis terdiam ,,
𝘑𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 .....?
𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢......?
Pikir Gladis kembali.
Rasa sukanya kepada Sakti sudah merubahnya menjadi wanita yang lebih peka dan lembut.
" Galah bu , Gladis kan belum lulus kuliah. Juga bapak ga akan ijinin Gladis pacaran. " jawab Gladis kepada ibunya.
" Ya ga harus pacaran dulu baru jatuh cinta Dis , kadang di umur-umurmu segini kita sering merasakan cinta. " jawab ibunya.
"sttt udah diem Dis, ayahmu dateng nanti kita dimarahin ngomongin ginian.. " , ibunya langsung terdiam dan menyiapkan makanan untuk ayahnya.
Suasana menjadi hening dan sepi , hanya suara dentingan sendok dan piring yang terdengar.
Begitulah suasana makan di rumah Gladis.
Ayahnya sangat ditakuti, dan membuat suasana mencekam.
" Ayah, ibu Gladis berangkat dulu. " pamitnya tanpa mencium tangan orang tuanya.
Gladis sebenarnya ingin mencium tangan ayahnya seperti yang anak-anak lain lakukan.
Namun pernah ketika kecil ia melakukan hal itu yang diajarkan ibunya kepadanya,
ayahnya menjawab,
"Ngapain kamu Dis, kayak mau perang aja pamit beginian segala. " jawab ayahnya ketika itu sambil menolaknya.
Gladis kecil menarik tangannya kembali, berbalik lari ke pangkuan ibunya dan tidak ingin melihat wajah ayahnya.
Ibunya terdiam, menatapnya kasihan dan memeluknya tanpa kata.
Hal itu membuat Gladis takut dan tidak ingin melakukannya lagi.
Ayahnya dididik sangat keras oleh kakeknya yang bekerja sebagai angkatan. Tanpa cinta untuk membuat kuat, tanpa manja-manjaan agar tidak cengeng.
Begitu pula didikan ayahnya pada Gladis, diturunkan begitu saja tanpa difilter.
Mereka berasumsi cara seperti itu akan menghasilkan anak yang kuat dan hebat.
namun mereka salah..
Bukan anak kuat yang mereka hasilkan, namun anak yang keras dan tidak bisa menunjukkan cinta.
Gladis menstarter motor supra jadulnya, dipakainya jaket hitam berukuran dua kali lebar tubuhnya, tidak lupa helm dan masker untuk menutupi wajahnya.
Gladis siap berangkat!
Angin pagi yang sejuk masih terasa di tubuhnya,
ia telah sampai di kampusnya, tempat yang akan dijadikan awal untuk menggapai mimpinya.
__ADS_1