
Gladis hendak kembali ke barisan, meninggalkan Sakti yang sedang duduk beristirahat .
Urusannya sudah selesai, memberikan minum sebagai tanda terimakasih.
" Mau kemana? "
tanya Sakti ketika melihat Gladis segera berbalik setelah memberikan air mineral.
" Kembali Kak, ke barisan anak-anak. " jawab Gladis polos.
" Bukannya kamu dihukum untuk menjadi asisten saya?! " tanya sakti sengaja untuk mengingatkan Gladis tentang hukumannya.
" Oh iya. " jawab Gladis kikuk masih berdiri di depan Sakti.
" Ya udah kalau Gitu, saya ketua nya, saya minta kamu temani saya disini dulu. Ada yang harus saya bicarakan. " perintah Sakti sambil tangannya menepuk lantai yang mengisyaratkan Gladis duduk disebelahnya.
" iya kak. " Gladis berjalan ke sebelah Sakti dan terduduk kaku di sampingnya.
Wangi parfum Sakti memabukkan pikiran .
Lembut, segar dan maskulin.
Sakti dilahirkan dengan rahang yang tegas, kulit bersih dan terawat.
Ada sedikit rasa malu dan kikuk jika berada disebelahnya.
" Kita pernah ketemu kan? " tanya Sakti padanya.
" iya, kayaknya. " jawab Gladis datar
" bukan kayaknya, Saya cowok yang selalu nongkrong di warung bu Sumi. " jelasnya.
" oh. " hanya itu kata yang keluar dari mulut Gladis.
" kenapa oh? " tanya Sakti penasaran.
" oh iya, benar. " jawab Gladis kembali.
" Hanya itu?! " tanya Sakti serius.
" harusnya jawab apa ya? " Gladis nampak kebingungan.
sebenarnya jawaban apa yang diinginkan Sakti. pikirannya bingung memikirkannya.
" ya udah gpp. Nanti pulangnya tunggu saya, kamu dapat hukuman kan dari Clara untuk membersihkan semuanya? , nanti setelahnya jangan pulang dulu.oke??! " Sakti menoleh ke arah muka Gladis untuk meyakinkan.
Karena duduk mereka sangat dekat membuat wajah Sakti hanya berjarak 10 cm dari wajahnya.
Astaga jantung Gladis berdetak cepat, pertama kalinya ada pria yang sedekat ini dengan wajahnya.
" i.. i.. iyaaa kak.. ". jawab Gladis malu lalu berdiri tegang.
" ayo kembali. " Sakti pun berdiri dari duduknya.
Mereka berdua kembali ke kumpulan Mahasiswa baru, berserta Clara , Dion dan Angga.
Terlihat wajah Clara kesal melihat Sakti dan Gladis kembali bersamaan.
" Darimana Sak? " tanya Clara ketus. Matanya menatap kesal Gladis yang berada di samping Sakti.
" baru istirahat Clara. Gimana Anak-anak? Ga ada masalah kan? " tanya Sakti pada Clara.
Gladis bingung harus kemana, ia ingin pergi ke Dion dan Angga yang sedang bercengkrama santai sambil mencatat absen. Sedangkan ia tidak enak meninggalkan Sakti dengan suasana yang terasa panas.
Gladis baru akan meninggalkan Sakti, tangan sakti menarik pergelangannya.
" mau kemana? " tanya Sakti masih memegang pergelangan Gladis.
" ah, eh, itu mau ke Dion dan Angga Kak. " Gladis tidak enak menepis tangan Sakti.
__ADS_1
" kamu telatkan? kamu ga dapet kelompokkan? , biarkan temanmu ya.. sekarang kamu harus selalu disebelah saya menjadi asisten saya! Jangan kemana-mana tanpa izin dari saya! " jelas Sakti sambil melepaskan tangan Gladis.
Clara terkejut melihatnya,
bertahun-tahun Clara bersama Sakti. Tidak pernah sekalipun Sakti memegang tangannya, apalagi menyuruhnya berada di sampingnya. Padahal ia wakil ketua osis.
Clara semakin marah dan kesal. Ia pergi meninggalkan Sakti dan Gladis.
Lomba sudah selesai, waktu menunjukkan pukul 18.05 , Gladis terlihat membereskan sampah-sampah bekas konsumsi tadi siang.
Gedung Gelora sudah mulai sepi, Sakti dan Clara sudah bersiap-siap untuk pulang . Begitu pula dengan Dion dan Angga.
" Kalian pulang duluan aja, saya masih nungguin Gladis menyelesaikan hukumannya. " ucap Sakti.
" Ya udah aku juga ga pulang, aku disini! " ucap Clara memandang Sakti.
" kalau gitu kita permisi dulu ya kak. " kata Dion dan juga Angga berpamitan.
Mereka juga merasa lelah dan capek.
" oke. Dion, Angga, terimakasih bantuannya. "
Sakti tidak memperdulikan Clara, dan pergi menjnggaljannya untuk mencari Gladis.
Clara sangat marah dan menarik tubuh Sakti.
" maksudmu apa sih Sak?!
Kamu naksir sama anak baru itu yaa?!
Kamu tau kan perasaanku?! " bentak Clara kepada Sakti.
Clara menarik tubuh sakti untuk mendekat ke wajahnya dan menciumnya.
saat itu Gladis datang untuk melaporkan bahwa pekerjaannya sudah selesai.
Gladis terlihat kaget,
Gladis memasang wajah pura-pura tidak peduli.
Clara tetap menarik wajah Sakti dan menempelkan bibirnya ke bibir Sakti.
Sakti diam tanpa balasan.
Dipegangnya tangan Clara untuk melepaskan tubuhnya.
Terlihat air mata menetes dari wajah Clara.
Gladis masih memandangi mereka.
" Clara, sudah..
berhenti lakukan ini. ini sia-sia. " ujar Sakti menenangkan Clara.
Sakti tidak ingin lebih menyakiti Clara karena penolakannya. Sakti tau sudah bertahun-tahun Clara menyukainya.
Clara menangis dan kaget melihat Gladis sudah didepannya.
Clara pergi berlari meninggalkan mereka.
Huh, sepertinya ini hari naasnya. Pikir Gladis.
Sudah terlambat, melihat orang berciuman pula.
Gladis hanya memandang Sakti tidak tahu harus bagaimana.
" Ayo kita pulang. " ujar Sakti kepada Gladis sambil berlalu.
__ADS_1
" iya kak. " jawb Gladis sambil mengikutinya.
Tidak ada penjelasan apapun yang dilakukan oleh Sakti.
Menurut sakti kejadian tadi tidak perlu dijelaskan, dan Sakti tidak ingin Clara lebih tersakiti karena ditolak di depan Gladis.
Mereka berjalan berdua di Stadion Gelora yang semakin gelap.
Parkirannya cukup jauh namun tidak ada kata yang terucap.
terdengar helaan nafas Gladis .
" haaaahhh..... " hela Gladis.
" kenapa..? " tanya Sakti.
" Ga kenapa..., hanya ingin bernafas.. cepat sekali waktu berjalan. sekarang sudah malam. " ucap Gladis.
" ohh... " Sakti menjawab singkat. Terlihat berbeda dari Sakti yang tadi siang. Sakti terlihat lebih pendiam.
Sakti menarik tangan Gladis,
lalu menghadapkannya di depannya.
" yang tadi kamu lihat, jangan diceritakan ke maba lainnya atau siapapun.
saya tidak ingin menyakiti siapapun.
biarpun saya menolak Clara tapi saya tidak ingin dia tersakiti dengan gunjingan orang.
Saya ingin Clara tetap dilihat sebagai Clara yang cantik dan tangguh.
tetap populer tanpa penolakan. " ujar Sakti pada Gladis sambil menatap matanya.
Gladis hanya mengangguk karena tidak tahu apa yang harus dikatakan.
Tiba-tiba Sakti memeluknya. menekan tubuh Gladis semakin dalam dan erat.
Gladis sangat terkejut.
Apa-apaan pria ini.
apakah dy pria cabul..? pikir Gladis sambil bergerak menolak.
Sakti semakin erat memeluknya, 5 ( lima) tahun penantiannya untuk bisa bertemu kembali dengan Gladis.
Masuk ke universitas yang dicita-citakan Gladis dan selalu menunggu kedatangan Gladis.
Dari awal Ospek Sakti sudah melihatnya dan tidak tahan ingin berlari memeluknya.
Melepaskan rindu yang begitu dalam,
ingin berbicara dengannya dan mengenal lebih jauh tentang dirinya.
Sakti merengkuhnya,
" Kak, lepaskan... " ucap Gladis lirih.
" sebentar saja, mohon sebentar saja Gladis.
aku sudah tidak bisa menahannya lagi. 5 tahun yang lalu dari warung bu sumi .
aku tertarik padamu. " ungkap Sakti sambil mencium kepala Gladis dan tangannya masih merengkuh pinggang Gladis.
Gladis terdiam...
ya terdiam....
karena Gladispun penasaran dengan Sakti.
__ADS_1