
Mata bertemu mata,
dua sejoli yang saling penasaran.
hampir 4 ( empat ) bulan mereka tidak bertemu.
meskipun tak pernah tegur sapa, hati mereka tahu ada sesuatu yang tersimpan.
Gladis mulai melambatkan kakinya untuk memasuki warung bu Sumi,
sedangkan Sakti tidak bisa melepas pandangannya dari diri Gladis.
Sambil duduk di luar warung, menyandarkan kepala di tembok warung, dengan tampilan urakan khas anak SMA yang baru lulus , Sakti sangat tampan.
Matanya tajam memperhatikan Gladis,
Gladis mulai salah tingkah. Ia mulai menundukkan pandangannya, dan berjalan cepat masuk ke warung Bu Sumi.
" Bu Sumi, rokoknya satu seperti biasa . "
ucap gladis singkat.
Mata Bu Sumi tertuju pada wajah Sakti, terlihat rasa kangen yang tak terbendung bercampur gembira.
Sungguh lucunya anak muda ini , pikir bu sumi.
Pasti banyak wanita yang menyukainya, namun tidak satupun wanita-wanita tersebut menarik perhatiannya.
Setiap ada siswi-siswi yang berkunjung ke warung bu sumi , pasti sakti jadi perbincangan.
Pria tak acuh yang menarik perhatian.
Gayanya selengekan , tidak peduli tapi terlihat mahal.
siapapun akan tergila-gila padanya.
tatap matanya sangat tajam dan tegas .
membuat wakita enggan mengganggunya
Pernah suatu kali Gladis membeli rokok seperti biasa dan sakti memperhatikannya. Namun saat itu ada sekelompok siswi SMP sebaya dengannya menjadikan Gladis perbincangan.
" eh.. eh lihat deh Gladis sok kalem ya di sekolah,taunya mampir ke warung buat beli rokok." kata gadis pertama.
" haha, jangan- jangan sok kalem biar keliatan anak baik , taunya kelakuan dibelakang murahan hahaha...." timpal gadis ke dua.
Ke empat gadis itu tertawa bersamaan, rasanya sangat bahagia melihat kekurangan Gladis .
Sakti hanya diam memperhatikan dan mendengarkan.
Wajar mereka berpikir seperti itu,sama dengannya,
ketika pertama kali melihat gladis.
Memang ia wanita yang sangat menarik terutama di mata para pria.
Misterius, cantik, dan tidak pecicilan, pasti banyak wanita juga yang kesal dengan kepribadiannya.
Di jaman sekarang yang serba pamer dan butuh pengakuan,Jarang ditemui wanita seperti Gladis.
ia tidak peduli label apa yang diberikan orang kepadanya,ia sangat percaya diri dengan
ketidak peduliannya.
jadi ketika ada celah untuk membuatnya hancur, hal itu akan dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh kawannya sendiri.
Seumur-umur di warung Bu Sumi tumben Sakti menyapa wanita.
Sakti berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri segerombolan wanita yang duduk bercengkrama di bangku warung Bu Sumi.
" Haii...boleh gabung ga? "
ungkap sakti kepada 4 ( empat) gadis- gadis yang sedang duduk menikmati camilan.
mereka berempat salah tingkah dan tampak
__ADS_1
malu-malu.
satu diantara mereka langsung menjawab ,
" boleh kak, gabung aja sama kita, namaku Sinta. " ujar gadis yang pertama.
nama saya Gea, ujar gadis yang ke dua.
Bitu pula gadis ke tiga dan keempat bernama Amanda dan Caca.
sebenarnya satu namapun tidak ada yang ingin
Sakti ingat. ia hanya ingin informasi mengenai Gladis.
" oke, saya gabung ya...",
btw saya mau tanya nieh kalian kelas berapa?
soalnya tampangnya masih imut-imut".
puji Sakti sambil tersenyum menggoda.
Mereka tersenyum malu-malu,
" kita semua udah kelas 3 kak."
jawab sinta cepat.
" oh ya, berarti kalian satu kelas dong sama Gladis
yang barusan belanja di sini".ucap Sakti sambil
berpura- pura kaget.
" iya kak sekelas, kakak kenal Gladis? "
tanya Caca penasaran.
" cuma kenal karena belanja disini aja sieh. anaknya juga cantik. "jawab Sakti sambil manggut-mangggut.
itu anaknya pendiem, ga begitu bergaul.
Makanya jarang ada temannya kak!
Dia juga ga pinter- pinter amat makanya
cita-citanya cuma ingin jadi ibu rumah tangga!
Ha.. haha... haa.... , "
tawa Sinta mengejek dan diikuti oleh
teman-temannya.
" memang kalian tau darimana cita-citanya begitu? "
tanya sakti kembali, ada rasa penasaran yang menghinggapinya.
" ya taulah kak, dulu waktu kelas 2 SMP , kita semua disuruh kedepan bacain cita-cita masing-masing , si Gladis aneh sendiri.. masa jadi IRT( ibu rumah tangga) bikin malu aja,
mungkin karena dia ga disukain kali ya sama ibu bapaknya. " imbuh Gea.
" memang Gladis ga pengen kuliah gitu? " tanya sakti kembali.
" owh dulu juga bu guru tanya begitu, katanya pengen kuliah ekonomi keuangan gitu kayanya di universitas Negeri buat atur keuangan rumah tangganya, lucu ya dan aneh banget cuma buat rumah tangga aja sampe kuliah! "
timpal caca sambil menyeruput es teh yang baru diantarkan oleh Bu Sumi.
" kok jadi ngomongin gladis ya, mending ngomongin kita kak... kalau aku dulu cita-citanya ingin jadi pramugari kak, kan keren."
Caca menjelaskan dengan bangga,
tapi terlihat Sakti tidak tertarik dengan
pembahasan tersebut.
__ADS_1
Di kepalanya sudah terlintas fakultas mana yang akan dipilihnya nanti agar bertemu Gladis.
" ih kamu keren deh Ca jadi pramugari, kalau aku pengen jadi sekretaris.. karena selalu cantik dan seksi ."ucap Gea sambil mendekatkan diri pada Sakti.
Sakti terlihat ingin segera mengakhiri obrolan yang tidak penting tersebut. menurutnya sudah tidak ada lagi bahan pembicaraan yang berkualitas yang mereka bahas.
" oke kalau begitu makasi banget ya kalian udah
mau ngobrol- ngobrol sama saya.
Lain kali kita ngbrol lagi kalau ada waktu.
Saya permisi dulu ,mau balik ke sekolah untuk
pelajaran tambahan." pamit Sakti berbohong kepada ke empat gadis yang masih duduk senang dihampiri pria setampan Sakti.
Dibalik rak dagangannya Bu Sumi tersenyum, ada-ada saja nak sakti. Demi seorang gadis tumben mau sapa gadis-gadis lain yang biasanya tidak dipedulikannya.
Pasti info tentang wanita tersebut sudah didapatkannya makanya dia mohon diri.
terlihat sakti mulai menjauh meninggalkan warung bu sumi.
-----***------
Gladis membalikkan badan bersiap pulang setelah membayar rokok kepada Bu Sumi.
ingin rasanya segera pergi karena tatapan seseorang membuat gladis kikuk.
ketika Gladis membalikkan badan,sudah berdiri Sakti dibelakangnya.
" boleh kenalan ga?" tanya sakti.
Gladis tersenyum kaku lalu berlari meninggalkan Sakti.
Sakti bukannya terkejut malah tersenyum .
Sesuai dengan harapan, Gladis bukan gadis gampangan yang mudah dibodohi oleh tampang dan harta.
Oke, tekadku sudah bulat!
Universitas Negeri adalah tujuanku saat ini.
oleh sebab itu Sakti belajar tanpa henti untuk
mengejar Gladis disana.
Orang tuanya pasti ingin mengirimnya ke luar negeri, mereka merasa sangat disayangkan anak sepintar Sakti tidak disekolahkan ke luar negeri.
Sakti pamit pada bu Sumi,
mohon doa dan pergi meninggalkan warung yang menjadi tempat saksi bisu pertemuannya dengan seorang Gladis.
tanpa kata, tanpa perkenalan...
setiap hari dilaluinya hanya sekedar melihat,dan itu sudah membuat sakti puas.
jam pulang sekolah adalah waktu yang paling ditunggu,
warung bu sumi adalah tempat yang selalu dituju,
dan seorang Gladis adalah sebuah penantian.
Gladis yang murni,
Gladis yang tidak tersentuh,
aroma rose segar ,
rambut hitam tergerai,
badan tinggi semampai,
dan cita-cita yang sederhana.
__ADS_1