MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
Sahabat Gladis


__ADS_3

Gladis telah sampai di kampusnya!


Ia berjalan santai mencari kelasnya, dilihatnya sekeliling.


Para murid baru , terlihat berbeda saat ini.


Mereka sudah terbebas dari aturan ospek, hari ini mereka memperlihatkan diri mereka.


Pakaian yang sesuai dengan pilihan mereka,


gaya rambut, dan juga cara berdandan.


Dari kejauhan dua pria yang tak asing lagi


melambaikan tangannya,


" Gladis... Gladiis..!" panggil Angga..


Gladis menatap tersenyum sambil membalas lambaian tangan Angga .


Dilihatnya penampilan mereka berdua,


mereka terlihat berbeda...


Dion dengan kacamata minus, baju kemeja putih, dan berdasi.


Ia menjelma menjadi sosok yang dewasa dan tampan.


Sepertinya Dion bukan anak orang biasa,


terlihat dari jam tangan, sepatu dan gaya berpakaiannya .



Sedangkan Angga menjelma menjadi sosok ceria dan luwes, yang nantinya pasti akan menjadi incaran gadis-gadis centil.



" Dis, ntar kita duduknya deketan ya..., " ucap Angga kepada Gladis.


" oke! " jawab Gladis singkat.


Mata Gladis beralih ke arah Dion dan langsung bertanya,


" Dion penampilan kamu berubah seperti orang yang sudah dewasa dan bekerja. " ucap Gladis kepada Dion.


Dion tersenyum memandang Gladis,


" Dis, aku memang sudah bekerja. Kemarin-kemarin aku ambil cuti untuk ospek. Seru-seruan bersama kalian, merasakan jadi anak muda kembali. Sekarang aku harus kembali bekerja dan juga kuliah. Aku ingin mendalami ilmu ekonomi untuk melanjutkan usaha ayahku. " jelas Dion kepada Gladis.


" Wah Dion hebat! " puji Gladis kepadanya.


" Dia memang hebat Dis, " sahut Angga sambil bergaya hormat ke Dion.


Dion tertawa sinis melihat gaya Angga.


Kelas mereka sudah ramai,


tempat duduk yang tersisa hanya di baris depan.


Baris tengah dan belakang sudah penuh.


" Dis, kita bener deketan! " ucap Angga.


" Se baris nie, di depan semua. Hahahaha" canda Angga kepada mereka berdua.

__ADS_1


Dion dan Gladis tersenyum melihat kelakuan Angga.


Dosen pertama yang kami tunggu belum memasuki kelas.


" Pelajaran pertama apa Dis, " tanya Angga.


" Dasar-dasar akuntansi Ang. Memang kamu ga liat jadwal?" tanya Gladis kepada Angga.


" Jadwal? buku aja aku ga bawa Dis. hahahaha.. "


Angga tertawa renyah.


Bagaimana Angga bisa diterima di Universitas Negeri padahal jadwal saja tidak tahu pikir Gladis.


Dosen pertama memasuki kelas.


Kelas yang tadinya ramai menjadi hening.


Seorang Bapak-bapak paruh baya sekitar umur 45 tahun, bertubuh gemuk, tidak terlalu tinggi dan berkacamata minus memasuki kelas.


" Selamat Pagi semua saya Bapak Sutejo Rachman, bisa dipanggil Tejo. Saya yang akan mengajar dasar-dasat akuntansi selama satu semester ini. Mohon diperhatikan dan disiplin absensinya. " Ucap Bapak Tejo.


Semua mahasiswa mengiyakan dan pelajaran pun dimulai.


Selama pelajaran dimulai Angga dan Dion sangat aktif.


Selalu bertanya juga menjawab.


Tidak terlihat hawa-hawa mahasiswa bodoh dari gaya mereka.


Gladis terbelalak kaget, hebat sekali dua anak ini


sepertinya mereka akan menjadi bintang kelas.


Jam kuliah telah usai, Dion lari keluar melihat jam tangannya sambil menghampiri mobil mercedez benz e -class versi terbaru.


Terlihat seorang lelaki berumur 30 tahun menyapanya dan mempersilahkan masuk.


Gladis terkejut melihat pemandangan itu,


waktu ospek Dion tidak begitu mencolok dan terlihat seperti mahasiswa biasa.


Namun hari ini begitu berbeda, sangat, sangaaat berbeda.


" Heiii!!!! " panggil Angga mengagetkan Gladis.


"eh , ya Angga.. " jawab Gladis tergagap.


" Liatin apa Dis? Dion ya? Kamu naksiiir yaaa..? hahaha. " Angga tertawa mengejek disamping Gladis.


" Sembarangan kamu Ang, aku cuma terkejut aja.. perubahan Dion begitu drastis. Ga kusangka dia memiliki fasilitas seperti itu. Aku mengira dia bukan pekerja sesibuk itu. " jawab Gladis masih bertanya-tanya.


" Kamu kemana aja Dis, padahal kita ospek selalu bertiga. Kamu sie dihukum terus sama Clara jadinya ga perhatiin sekitar.


Dion dari awal ospek juga fasilitasnya sudah wow Dis, cuma memang karena pakaian jelek kita yang kayak anak-anak tawanan jadi dia ga kelihatan.


Aku sempet tanya usahanya, tapi dia ga mau bilang.


yaah.. privasi sieh... yang terpenting dia ga sombong dan kita bertiga bisa jadi sahabat yang baik. okeee..?! " tutup Angga sambil melihat ke arah Gladis yang serius mendengarkan ceritanya.


" Oke.. by the way kamu juga lebih cakep loh Ang..


berbeda banget pada saat kita ospek. " ucap Gladis sambil nyengir.


" Aku bergaya seperti ini untuk menarik perhatian Gladisku.. si cantik tanpa kata. " jawab Angga bercanda.

__ADS_1


Gladis memasang muka datar " sudah kuduga kamu akan menjadi pria seperti apa 😒. "


Angga tertawa melihat respon Gladis , " Sudah kuduga kamu akan menjawab apa.. hahaha...


kamu susah ditaklukan Dis..


Aku jadi lapar berdebat denganmu,ayo ke kantin kita makan bakso sebelum pulang,


Bos Angga yang traktir! " ajak Angga sambil menunjuk sombong ke dirinya.


" Sip Boss,ayokkk! " Gladispun berjalan bersama Angga menuju ke kantin kampus.


Kantin kampus terletak di dekat parkir mobil mahasiswa. Bangunannya termasuk luas dan terbuka.


Banyak pohon rindang dan tempat duduk yang bertebaran disana.


Pantas saja ini disebut Universitas Negeri favorit. Kantinnya saja penataannya bagus dan nyaman.


Banyak mahasiswa yang duduk sambil membuka laptop untuk mencari wifi gratis.


Saat akan melangkahkan kaki masuk kesana,


mata Gladis tertuju pada sekelompok Osis yang sedang berbincang-bincang. Entah apa yang dibicarakan.


Mata Gladis terhenti pada sosok ketua Osis yang sedang menjelaskan.


Mata mereka beradu, Gladis salah tingkah.


𝘺𝘢.. 𝘪𝘵𝘶 𝘚𝘢𝘬𝘵𝘪..


𝘋𝘢𝘳𝘪𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘢𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢..


𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢...


𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩...


ujar Gladis pada dirinya.


Terlihat Clara langsung membuang muka ketika Gladis masuk.


" Ang, aku pulang dulu aja deh ya.. aku ada perlu. " ucap Gladis berbisik ke arah Angga sambil membalikkan badan.


Angga memegang pundak Gladis , membalikkan badannya dan merangkulnya.


Angga berbisik ke arah Gladis, " Nona Manis, jangan hiraukan orang lain. Aku tau kamu kaget ketemu nenek lampir. Tapi santai, ada tuan Angga yang akan menjagamu. " canda Angga sambil tersenyum sombong.


Tangan Angga menarik tangan Gladis untuk masuk ke dalam dan duduk di tempat yang telah ia pilihkan.


" santai Dis, duduk! " bisik Angga kembali berusaha menenangkan Gladis.


Gladis merasa tidak nyaman dengan suasana seperti tadi, apalagi ada Sakti yang dari kemarin dipikirkannya, membuat Gladis kikuk dan tidak tau harus bagaimana.


Mata Sakti terus mengikuti gerak Gladis dan Angga, matanya tajam ketika melihat Angga merangkul dan memegang tangan Gladis.


Gladis menatap Angga dan tersenyum senang. pertama kalinya Gladis memiliki teman pria yang baik seperti Angga.


Sambil mengaduk baksonya Gladis berkata " Ang, aku senang deh punya teman kamu dan Dion. Bersyukur kita dipertemukan waktu ospek. Kalian bener-bener buat aku tambah semangat kuliah. " ucap Gladis pada Angga.



" ish Dis jangan bilang gitu, ntar kamu tergila-gila sama kita berdua. Aku kayak gini aja kamu bisa tergila-gila, apalagi aku keluarkan jurus rayuanku. Bisa ga pulang kamu Dis... " canda Angga pada Gladis.


" hedeeuh , memang kamu ga bisa diajak ngomong serius. Tapi aku tetep suka jadi temenmu. Jangan berubah ya Ang.. " Gladis tersenyum memandangnya.


Mereka tertawa berdua sambil menghabiskan semangkuk bakso yang sangat lezat.

__ADS_1


__ADS_2