
Tumben seumur hidup badan Gladis menempel pada seorang lelaki. Rasanya hangat namun kikuk.
Sakti membawanya ke pinggir kolam dan mengurut kakinya.
Diselonjorkannya kaki Gladis, tanpa canggung Sakti menyentuh dan mengurutnya pada bagian yang keram. Gladis hanya meringis kesakitan.
"Gladis nanti kamu aku antarkan pulang saja. Jangan naik motor sendiri." ucap Sakti tegas kepada Gladis sambil terus mengurut kakinya.
Gladispun langsung menolaknya. Ia tidak. ingin menjadi santapan ayahnya.
" Gak apa-apa kok kak, Gladis bisa bawa motor sendiri. Nanti kalau ditanya orang tua Gladis bagaimana. Apalagi motornya itu motor kesayangan Bapak. Nanti Gladis dimarahi. " ucap Gladis kepada Sakti.
Sakti terlihat cemas mendengar jawaban dari Gladis.
" Aku bener-bener ga yakin loh kamu bisa naik motor dengan kondisi begini? " jawab Sakti.
Terlihat wajah Sakti yang cemas.
Tiba-tiba dari arah belakang Angga menjawab, " Dis, nanti aku aja yang anter. Aku tinggal mobilku disini trus aku boncengin kamu pulang. ok? " tanya Angga kepada Gladis.
Muka Sakti langsung berubah kesal menatap tajam pada Gladis.
" gak apa-apa kok Ang, aku kuat sendiri. Udah biasa juga. " jawab Gladis menolak Angga halus.
Muka Sakti berubah lebih kalem setelah mendengar jawaban Gladis.
Suasana menjadi panas diantara dua pria yang menawarkan bantuan, sedangkan Dion hanya terdiam dan melihat jam tangan anti airnya.
Sepertinya Dion diburu waktu. Tidak sepatahkatapun keluar dari mulutnya, hanya sesekali saja Dion memperhatikan Gladis.
Setelah semua selesai. Anggotapun dibubarkan.
Gladis sudah berganti baju bersamaan anggota lainnya. Kakinya sudah mulai membaik, tidak ada sakit yang terlalu berarti.
Sakti tidak mau menjauh dari Gladis. Selesai Gladis berganti pakaian Sakti langsung berlari ke arahnya, hal itu membuat Angga dan Dion terhenti untuk pergi ke arah Gladis dan segera pulang.
Gladis ditemani oleh Sakti ke tempat parkir.
Diambilkannya motor Gladis dan dinyalakannya.
" Kamu duluan saja, nanti aku dibelakang akan mengikutimu. Jangan ngebut tetap hati-hati. Aku akan mengikutimu sampai gang depan rumah. Setelah itu aku langsung pulang. " Jelas Sakti kepada Gladis.
Mereka belum berpacaran tapi perhatian Sakti sudah sangat intim dan membuat Gladis makin menyukainya.
Diperjalanan pulang Sakti tidak melepaskan pandangannya sedikitpun dari Gladis. Ia ingin memastikan wanita yang dicintainya sampai dengan selamat.
Keesokan harinya,
Gladis terbangun dengan ceria, hati yang penuh warna cinta dan rasa penasaran.
Baru bangun tidur pikirannya sudah dipenuhi oleh Sakti.
Bagaimana jika ia berpacaran dengan Sakti?
Bagaimana jika ia menjalani hubungannya dengan diam-diam dan tersembunyi?
Toh orang tuanya juga tidak tahu.
__ADS_1
Gladis tidak mampu menahan perasaanya, ini pertama kalinya ia merasa jatuh cinta dan dicintai.
Semangatnya ke kampus dua kali lipat bertambah dari hari-hari sebelumnya.
Gladis berubah. Ia berusaha tampil secantik dan semenarik mungkin. Kepolosannya mulai terkikis.
Ia menjadi lebih berani dan sangat cemburu kepada Clara.
Sakti makin hari makin mendekatinya.
Sepulang dari kampus pasti Sakti sudah menunggunya. Dua insan manusia tersebut sudah mabuk kepayang.
Sakti tidak ingin melepaskan Gladis. Sudah sangat lama ia menginginkannya!
Ia mencintai Gladis, menyayangi Gladis
dan ingin memilikinya.
Saat inilah kesempatannya.
Hari ini waktunya pulang cepat, untuk pertama kalinya Sakti mengajak Gladis jalan-jalan.
" Dis, hari ini kamu mau pergi kemana ? ,
Aku antar ya.. " bujuk Sakti padanya.
" Ga kemana sie kak, biasanya langsung pulang. Memangnya kenapa? " tanya Gladis.
" Pengennya ajak kamu jalan. Itu sie kalau kamu mau? " jawab Sakti.
Sakti mengiyakan lalu mengajak Gladis naik ke mobilnya.
Mobil Sakti sangat nyaman, interiornya sangat menggambarkan Sakti. Semua di set serba hitam bercampur abu. Terdapat satu hiasan kecil yang unik. hiasan rokok dan seorang gadis anime berbaju sekolah.
Gladis menatapnya aneh.
Sakti tahu apa yang dilihat oleh Gladis.
" kenapa bengong? itu kamu lho." jawab Sakti.
Gladis mengernyitkan dahi bingung.
Sakti melanjutkan,
" Aku menyandingkannya dengan rokok yang selalu kamu beli untuk ayahmu,dimana rokok dan gadis berpakaian sekolah ini, selalu menjadi penghiburku di saat siang dulu.
Dulu waktu aku main ke jepang, aku melihat patung ini dan mengingatkanku padamu. Aku langsung membelinya dan mencari hiasan rokoknya. Dengan ini aku merasa kamu menemaniku setiap saat. "
jelas Sakti kepada Gladis.
Gladis terdiam tidak menyangka. Terkadang Gladis meragukan Sakti. Tidak mungkin seorang pria seperti Sakti menunggu gadis seperti dirinya.
Masih banyak wanita yang mau dengannya.
Tapi dengan melihat apa yang dilakukan Sakti untuknya, ia mulai yakin akan keseriusan Sakti.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Gladis terdiam, hal itu membuat Sakti tidak enak.
" Gladis, apa aku ada salah bicara? " tanya Sakti kepadanya.
" Ga ada kak, cuma agak aneh aja mendengar penjelasan kakak. " jawab Gladis.
" Loh, aneh dimananya? " Sakti melambatkan laju mobilnya.
" aku ga nyangka kakak seserius itu. Apakah kakak bener-bener suka sama aku? "tanya Gladis kembali.
" Gimana cara aku membuktikannya? akan aku buktikan! " jawab Sakti.
Gladis hanya tersenyum, ia senang mendengar jawaban Sakti. Sudah tidak perlu pembuktian, masa menunggu Sakti yang cukup lama untuk Gladis sudah menjadi bukti betapa seriusnya Sakti padanya.
" Sekarang kita mau kemana? tempat mana yang kamu inginkan. Aku akan mengantarnya. " tanya Sakti menoleh ke arah Gladis.
" Gladis jarang keluar kak, jadi Gladis tidak tahu tempat mana yang bagus. " jawab Gladis lirih.
" No problem, aku ajak kamu kepantai. Mau ga? Kita pilih yang sepi dimana kita bisa leluasa ngobrol dari hati ke hati. " ajak Sakti.
Sakti mempercepat laju mobilnya dan telah sampai di pantai yang indah.
"Ayo turun, kamu pasti akan menyukai pantainya. "
Sakti berjalan menuju pintu mobil Gladis, membuka pintu dan mengajaknya turun.
" Pas banget kamu memakai sneakers, kita akan menuruni tangga lumayan banyak. "
Gladis turun dari mobil Sakti dan mengikuti Sakti di belakangnya.
Mereka menuruni tangga yang jumlahnya lumayan banyak. Sakti memandu Gladis dengan bahagia.
Mereka sudah sampai di pantai. Pantainya sangat sepi, hanya ada dua orang wisatawan yang surfing di pantai tersebut. Kanan kiri pantai terdapat banyak tebing-tebing raksasa.
Air pantainya masih jernih seperti jarang terjamah oleh manusia.
" Indah sekali kak. " ucap Gladis terkesima.
" Kita duduk yuk. Nikmati pemandangan ini. " Sakti duduk sangat dekat dengan Gladis.
Pemandangannya begitu indah, begitu juga yang menemaninya.
Pantai yang tenang, laut yang biru, pasir putih dan juga Sakti pria impiannya.
Mereka duduk terdiam sesaat, hanya menikmati suara deburan ombak pantai yang menenangkan pikiran.
Gladis menoleh Sakti dengan canggung. Sakti tersenyum dan meraih tangan Gladis.
" Aku...
sangat sangat sangat cinta kamu Gladis. Bagaimana denganmu? " Sakti memandang lekat-lekat pada Gladis.
Deg...
Jantung Gladis terasa mau copot. Genggaman tangan Sakti lembut menyentuh tangannya.
Wajah Sakti begitu dekat, menunggu jawabannya.
__ADS_1