
Gladis terduduk lesu di depan ruang ICU, matanya sembab menatap nanar dinding berwarna putih pucat yang ada di depannya. Ia memilih menjauh dari ayahnya, hatinya masih kesal dan kecewa. Entah siapa yang harus disalahkan, hanya satu pintanya
Ibunya terselamatkan.
Satu jam sudah berlalu, suasan sepi dan hening. Yang terdengar hanya dorongan kereta tidur rumah sakit yang menyanyat hati.
Belum ada satupun tenaga medis yang keluar dari ruangan operasi. Lampu emergency masih menyala,
Gladis sangat cemas, air matanya menetes kembali.
Dilihatnya ayahnya bolak balik di depan pintu ruang operasi sambil memegang handphonenya, seperti menunggu seseorang. Ayahnya masih menggunakan kaos oblong dan sarung yang berisi bercak darah ibunya. Mukanya pucat ketakutan, tidak terlihat kemarahannya tadi siang.
Gladis tidak bisa menentukan perasaanya lagi, apakah membenci atau mencintai ayahnya. Semuanya sangat tipis, rasa yang ada di dalam dirinya berkecamuk tak pasti.
Kembali ia melihat ayahnya yang sibuk melihat handphonenya.
Mungkin ayahnya sedang menghubungi semua keluarga mereka. Sekarang baru dilihatnya rasa takut akan kehilangan ibunya pada diri ayahnya.
Gladis tidak kuat untuk membayangkan apa yang selanjutnya terjadi, lebih baik ia berdoa dan berdoa.
Ia memejamkan mata dan mencakupkan tangannya di dada, ia memohon kepada Tuhan untuk keajaiban.
Ketika terdiam dan menutup mata, pikirannya kembali melayang kemana-mana. Diingatnya kembali pembicaraan tadi siang dengan ibunya. Ibunya masih sehat walaupun menangis, dengan gagah beraninya ibunya menyuruhnua pergi dari rumah meninggalkan mereka. Gladis tidak tahu bahwa ibunya sangat rapuh dan takut. Pikirannya waktu itu egois untuk cintanya kepada Saktim
Seandainya saja ia tidak membicarakan tentang keinginannya untuk pergi dari rumah, seandainya saja ia langsung mengiyakan rencana pernikahannya tanpa tangisan, seandainya saja ayahnya tidak berhutang, dan seandainya yang lain.
Tangisnya pecahhh, ia membuka matanya. Waktu tidak bisa diulang, nasi telah menjadi bubur. Penyesalan Gladis tidak berguna, semuanya sudah terlambat. Ia menangis kembali.
Tiba-tiba dari kejauhan tampak sosok yang dikenalnya sedang berlari. Dua orang yang sangat familiar. Mereka menuju ke arah Gladis. Gladis terheran-heran melihat mereka.
Dengan baju yang tak biasa yang digunakan Angga, setelan jas rapi dan rambut memakai Gel. Sedangkan Dion seperti biasanya. Mereka berdiri di hadapan Gladis dan menyapanya.
Gladis melihat mereka dengan kaget, untuk apa mereka datang kemari?
Siapa yang memberitahu?
__ADS_1
Apa mereka tidak sengaja melihat Gladis disini.
Dion melihat Gladis dan menyuruhnya tenang, sedangkan Angga mendatangi Ayah Gladis . Gladis lebih kaget melihat hal itu. Kenapa mereka bisa saling kenal?
Angga berbicara serius dengan ayah Gladis, sedangkan Dion hanya duduk disebelah Gladis dan terus memandanginya.
" Di.. on.. ada apa kamu datang kemari? " tanya Gladis dengan penasaran.
" Aku tahu kondisi Ibumu dari ayahmu dan segera kemari. Bagaimana keadaanya Dis? " tanya Dion terlihat cemas.
" Bagaimana kamu kenal dengan ayahku? " tanya Gladis penuh dengan kecurigaan dan tidak dipedulikannya pertanyaan dari Dion.
" Ayahmu bekerja diperusahaanku. " jawab Dion singkat.
" Maksudnya? kalian berteman? " hati Gladis semakin gusar dibuatnya.
" Ya, bisa dibilang begitu. "
Tiba-tiba lampu ruangan operasi sudah padam pertanda operasi yang dilakukan sudah usai. Tenaga medis mulai keluar, seorang doker menghampiri angga dan ayah Gladis.
" Beruntung sekali pak, istri bapak bisa diselamatkan. Nyaris nadinya putus, namun perlu perawatan yang lebih intensif dan jangan sampai istri bapak mendengar berita-berita yang membuat dirinya down. Usahakan selalu membuat dirinya happy untuk mempercepat kesembuhannya. " Ujar Dokter yang menangani operasi ibunya.
Mendengar berita dari dokter serasa ada batu besar yang diangkat dari tubuh Gladis. Ia lemas dan terdiam. Dion tersenyum melihatnya.
Ayah Gladis tergopoh-gopoh mendatangi Dion dan mengucapkan terimakasih.
" Terimakasih Bapak sudah meluangkan waktu untuk datang. " ucap ayah Gladis kepada Dion.
Gladis melihat mereka bertiga dengan wajah penuh tanya,
" Bapak? Siapa yang ayah panggil Bapak? Kenapa ayah bisa kenal dengan mereka? " tanya Gladis kepada ayahnya dengan nada agak melengking.
" Dialah bos ayah Gladis yang akan menikah denganmu. " ujar ayah Gladis dengan mantap.
" Apaaaa? Dion adalah orang yang akan menikahiku? lalu Angga , kenapa bisa bersama dengan Dion? " matanya menatap Angga penuh dengan kekesalan.
__ADS_1
" Angga adalah sekretaris pribadi Dion. Sudahlah Dis, bukan waktunya untuk bertanya. Hormat sedikit dengan bos ayah. " jawab Ayahnya.
" Kalian berdua membohongiku? Kalian berpura-pura menjadi temanku? Kalian s*mpah! " ujar Gladis marah dan pergi meninggalkan mereka.
Dion dan Angga hanya terdiam memahami perasaan Gladis.
Satu tahun yang lalu...
Ayah Gladis dihadang oleh lintah darat karena selalu menghindar dari kewajibannya membayar hutang.
Ayah Gladis bingung dan tidak tahu apa yang harus diperbuatnya, iapun ditipu oleh sahabatnya yang mengajaknya berbisnis ponzi yang katanya bisa menggandakan uang. Dengan iming-iming keuntungan berlipat ganda yang akan merubah hidupnya ia mengambil langkah berani.
Ayah Gladis berhutang kepada lintah darat dengan bunga 20 persen.
Setelah ayah Gladis menyerahkan uangnya yang berjumlah seratus juta kepada temannya, mimpinyapun lenyap bersama uang dan keberadaan kawannya.
Dengan sangat frustasi ayah Gladis menjalani hidup, gajinya tidak cukup untuk membayar pokoknya, hanya bunga yang bisa ia tutup. Bulan berjalan dan ia menyerah, debt collector
yang ditugaskan untuk menagih hutang akhirnya mengambil taksi milik perusahaan ayahnya.
Ayah Gladis tidak bisa berbuat apa-apa, menyesalpun tiada guna. Ia pergi ke kantornya dan menyerahkan diri kepada managernya. Managernya tidak bisa berbuat apa-apa dan keputusan ada pada pemilik langsung.
Ayah Gladis bertemu dengan CEO Black Bird yang tegas, muda dan berwibawa.
" Apa yang anda lakukan terhadap perusahaan saya? saya mempercayai anda sebagai karyawan namun anda merugikan kami. Bagaimana anda menggantinya ?! " tanya Dion dengan tegas.
" Maafkan saya pak, saya salah. Apapun yang bapak minta saya berikan. " ujar Ayah Gladis ketakutan.
" Saya hanya meminta ganti rugi terhadap taksi yang bapak hilangkan. Itu saja! " jawab Dion ditemani Angga yang selalu berdiri disebelahnya.
" Saya benar-benar tidak memiliki uang pak. Apa yang harus saya kerjakan. "
" Oke, anda punya tenaga. Namun satu tenaga tidak akan cukup untuk membayar kembali taksi yang anda hilangkan. Saya melihat profil bapak disini, apakah anak anda bisa bekerja untuk membantu anda? " tanya Dion.
" Bisa pak, apapun bisa ia lakukan. Saya akan menyuruhnya bekerja kepada Bapak. Sekarang ia tamat SMA dan akan kuliah. Saya tidak akan membiarkan ia kuliah dan menyuruhnya langsung bekerja. " janji Ayah Gladis kepada Dion.
__ADS_1
" Siapa namanya? Saya ingin tahu apakah ia layak untuk membantu ayahnya membayar hutang anda? " tanya Dion.
" Namanya Gladis pak. Ia pasti layak di mata bapak! " ujar ayah Gladia yakin.