MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
PELUKAN TAK TERLUPAKAN


__ADS_3

Wangi tubuh mereka bersatu dalam dekapan.


Sakti melepas semua rindunya,


rasanya sulit untuk melepaskan tangannya dari tubuh indah Gladis.


Waktu yang lama,


Gadis yang sama,


berdiri dalam dekapannya.


Sakti hilang akal, ia tidak bisa menahan lagi.


" Kak, apa bisa dilepaskan? " , ujar Gladis lirih.


Sakti tertegun , kembali tersadar dengan apa yang dilakukannya.


" Gladis maaf ! " , ujar Sakti bersamaan dengan melepaskan pelukannya.


Gladis hanya terdiam tidak bisa menjawab.


Ia tidak pernah berfikir akan terjadi seperti ini,


dipeluk oleh orang yang menurutnya masih asing.


Mereka tidak ada hubungan sama sekali, pacarpun tidak!


Suasana menjadi hening, Gladis dan Sakti hanya terdiam dan saling pandang.


Gladis menarik nafas panjang dan mempercepat langkahnya untuk sampai ke motor tuanya.


Sakti masih diam di tempat, melihat Gladis semakin samar menjauh tertutup gelapnya malam.


_______*****_______


Hari terakhir ospek.


Para Mahasiswa dan Mahasiswi Baru antusias menyambut hari terakhir mereka.


Setelah ini mereka akan memulai kehidupan perkuliahan, banyak asa dan harapan yang ingin mereka raih.


Gladis masih seperti hari sebelumnya , tetap menjadi asisten ketua osis bersama dengan Dion dan Angga. Sementara Clara, memiliki kebencian yang mendalam terhadap Gladis. Hari dimana Gladis melihatnya ditolak oleh Sakti menjadi salah satu alasan.


Clara sangat benci kelemahannya diketahui orang.


Semakin hari Clara semakin mempersulit Gladis.


Sedangkan Sakti,


masih sama.....


Diam-diam memperhatikan Gladis namun tetap menjaga jaraknya.


Setelah malam itu, suasana menjadi canggung.


Gladis masing terngiang-ngiang ucapan Sakti di malam itu.


𝘭𝘊ð˜Ūð˜Ē ð˜ĩð˜Ēð˜Đð˜ķð˜Ŋ 𝘭ð˜Ēð˜Ūð˜Ēð˜Ŋ𝘚ð˜Ē....


ð˜ļð˜Ēð˜ģð˜ķð˜Ŋð˜Ļ 𝘉ð˜ķ 𝘚ð˜ķð˜Ū𝘊....

__ADS_1


ð˜Ēð˜ąð˜Ē𝘎ð˜Ēð˜Đ ð˜Ģð˜Ķð˜Ŋð˜Ēð˜ģ ð˜īð˜Ķ𝘭ð˜Ēð˜Ūð˜Ē 5 ( 𝘭𝘊ð˜Ūð˜Ē) ð˜ĩð˜Ēð˜Đð˜ķð˜Ŋ 𝘚ð˜Ē𝘎ð˜ĩ𝘊 ð˜Ūð˜Ķð˜Ŋð˜ķð˜Ŋð˜Ļð˜Ļð˜ķ𝘎ð˜ķ? ð˜Ēð˜ĩð˜Ēð˜ķ ð˜Đð˜Ēð˜Ŋ𝘚ð˜Ē ð˜Ļð˜ķð˜ģð˜Ēð˜ķð˜Ēð˜Ŋ ð˜Ģð˜Ķ𝘭ð˜Ē𝘎ð˜Ē 𝘎ð˜Ēð˜ģð˜Ķð˜Ŋð˜Ē ð˜Ĩ𝘊ð˜Ē ð˜Ūð˜Ķ𝘭𝘊ð˜Đð˜Ēð˜ĩ𝘎ð˜ķ ð˜ļð˜Ēð˜Ŋ𝘊ð˜ĩð˜Ē ð˜ąð˜°ð˜­ð˜°ð˜ī ð˜Ĩð˜Ēð˜Ŋ ð˜Ģ𝘰ð˜Ĩ𝘰ð˜Đ??


ð˜Ēð˜ąð˜Ē𝘎ð˜Ēð˜Đ 𝘊ð˜Ē 𝘊ð˜Ŋð˜Ļ𝘊ð˜Ŋ ð˜Ūð˜Ķð˜Ūð˜Ēð˜Ŋ𝘧ð˜Ēð˜Ēð˜ĩ𝘎ð˜Ēð˜Ŋ𝘎ð˜ķ?


ð˜Ēð˜ĩð˜Ēð˜ķ ð˜Đð˜Ēð˜Ŋ𝘚ð˜Ē ð˜ąð˜Ķ𝘭ð˜Ēð˜Ūð˜ąð˜Šð˜Ēsð˜Ēð˜Ŋ ð˜Ēð˜Ūð˜Ēð˜ģð˜Ēð˜Đ 𝘎ð˜Ēð˜ģð˜Ķð˜Ŋð˜Ē ð˜Ĩ𝘊ð˜Ē ð˜Ģð˜Ķð˜ģð˜ĩð˜Ķð˜Ŋð˜Ļ𝘎ð˜Ēð˜ģ ð˜Ĩð˜Ķð˜Ŋð˜Ļð˜Ēð˜Ŋ 𝘊𝘭ð˜Ēð˜ģð˜Ē?


segala macam kemungkinan terlintas di benak Gladis.


Ia berfikir tidak mungkin pria seperti Sakti menyukainya.


" Gladis.. Sinii... " , panggil Angga yang disertai senyuman Dion dibelakangnya.


Gladis melihat mereka tapi masih ragu untuk kesana , karena tugas yang Clara berikan belum selesai ia kerjakan.


Dion dan Angga melihat keraguan Gladis untuk mendatangi mereka, akhirnya mereka pun menghampirinya.


" Dis, baca ini deh! " ,perintah Dion sambil menyodorkan kertas pengumuman pembagian kelas mahasiswa baru.


Gladis mencari-cari namanya dan ada, begitu juga nama Dion dan Angga!


Gladis terpekik bahagia " Yess, kita sekelas! "


tanpa sadar mereka bertiga tertawa dan berpelukan.


Sakti memandang mereka dari kejauhan,


ada sekelumit rasa kesal dan cemburu ketika melihat Gladis tertawa bersama pria lain.


" Hello... keributan apa ini? , apa tugas yang saya berikan sudah selesai?! " tanya Clara sambil memandang sinis pada Gladis.


Dion dan Angga buru-buru meninggalkan Gladis karena mereka tidak ingin menambah masalah pada Gladis. Mereka tidak tahu apa masalahnya tapi mereka tahu Clara sangat tidak menyukai Gladis.


Gladis selalu diberikan tugas yang lebih susah oleh Clara tapi Gladis tidak pernah mengeluh.


" Gladis! " , terdengar suara yang tidak asing lagi memanggil dirinya.


" ia, Kak Sakti.." , jawab Gladis gugup.


" Nanti setelah acara selesai aku tunggu di tempat parkir ya ! ada yang mau aku bicarakan. " jawab Sakti singkat.


" ok! setelah ini Gladis kesana Kak. " sambil menata kembali rekap absen yang sudah diurutkan Gladis tersenyum.


ð˜Ē𝘎ð˜Đ𝘊ð˜ģð˜Ŋ𝘚ð˜Ē ð˜Ĩ𝘊ð˜Ē ð˜Ūð˜Ķð˜Ŋ𝘚ð˜Ēð˜ąð˜Ē ð˜Ŧð˜ķð˜Ļð˜Ē, ð˜ąð˜Šð˜Žð˜Šð˜ģ 𝘎𝘭ð˜Ēð˜Ĩ𝘊ð˜ī.


Walaupun Gladis tidak peduli dengan sekeliling tapi dia tidak suka suasana canggung yang membuatnya tidak nyaman.


Pembubaran ospek sudah selesai, waktunya semua yang ada disana untuk kembali pulang.


Gladis berjalan senang menuju parkir, rasanya senang sudah menyelesaikan semuanya.


Semuanya sudah berakhir, mulai besok ia akan jauh dari Clara dan tekanan suasana yang tidak nyaman.


sesampainya di parkiran, terlihat Sakti sedang duduk di motor Gladis, sambil tersenyum melihat kedatangannya.


Gladis melambaikan tangan untuk menutupi rasa canggungnya.


" Mau aku bonceng? " tanya Sakti sambil meminta kuncinya pada Gladis.


" hah, maksudnyaa? " Gladis terlihat bingung.


" Minta kuncinya, aku bonceng pulang.. " ucap Sakti santai.

__ADS_1


" Ga kak, saya mau pulang sendiri aja " , ucap Gladis.


Sakti mengambil kunci yang ada di tangan kiri Gladis,


" naik atau aku tinggal " , perintah Sakti kepadanya.


Gladis merasa canggung tapi akhirnya dia naik ke atas motornya sendiri.


ð˜Ēð˜ąð˜Ē-ð˜Ēð˜ąð˜Ēð˜Ēð˜Ŋ 𝘰ð˜ģð˜Ēð˜Ŋð˜Ļ 𝘊ð˜Ŋ𝘊! ð˜ąð˜Šð˜Žð˜Šð˜ģ 𝘎𝘭ð˜Ēð˜Ĩ𝘊ð˜ī


𝘎ð˜Ķð˜Ŋð˜Ēð˜ąð˜Ē ð˜Ē𝘎ð˜ķ ð˜Đð˜Ēð˜Ŋ𝘚ð˜Ē ð˜Ūð˜Ķð˜Ŋð˜ķð˜ģð˜ķð˜ĩ ð˜īð˜Ēð˜Ŧð˜Ē.


Sakti mengemudikan motor Gladis menuju warung Bu Sumi.


Sudah sangat lama ia tidak melewati jalan ini,


suasananya tidak banyak berubah namun warung Bu Sumi terlihat lebih jadul.


Sakti memegang pergelangan tangan Gladis dan mengajaknya masuk ke dalam warung.


Gladis hanya diam mengikuti.


" Bu Sum, aku datangg! " panggil Sakti kepada Bu Sumi.


Terlihat seorang wanita paruh baya memakai daster dan rambutnya di gelung ke atas.


Mukanya keriput dan jalannya mulai lambat.


" Astaga Ya ampun nak Sakti , benerr ini nak Sakti yaaa? tambah guanteng, kereenn.. kangen banget aku mass .... " , ucap Bu Sumi dengan mata berbinar-binar dan senyum bahagia.


Bu Sumi memegang lengan Sakti dan menariknya ke kursi,


sambil berbisik Bu Sumi bertanya, " sejak kapan mas? hi.. hi.. hi udah berhasil to ya..


kaget aku dateng-dateng bawa nak Gladis.


Mau gak percaya tapi udah di depan mata . " ucapnya sambil tersenyum.


Gladis tidak mengerti,


kenapa Sakti harus mengajaknya kemari.


Sakti menyuruhnya duduk disebelahnya, dan mulai membuka pembicaraan.


" Gladis, sini duduk disebelahku. " pintanya.


Sambil memberi tatapan penuh tanya Gladis duduk di sebelah Sakti.


Di depan mereka sudah duduk Bu Sumi yang senyum mesem-mesem melihat ke dua anak tersebut.


" Gini Bu Sum, saya pengen Gladis tahu betapa saya serius sama dia. Kemarin saya sempat peluk dia dan bilang bahwa saya sudah nunggu dia begitu lama. Saya tidak ingin Gladis meragukannya dan setidaknya dia bisa memikirkan apakah saya layak untuknya. " jelas Sakti di depan Gladis.


Gladis hanya diam mendengarkan, tapi ada rasa aneh yang timbul di dalam dirinya. Untuk pertama kalinya ia merasa dihargai.


" Bener nak Gladis, nak Sakti dari awal liat nak Gladis itu langsung tertarik dan serius. Bu Sum juga gak nyangka sampe kuliah ditungguin. Kalau saya jadi nak Gladis langsung mauuu nak. " Sambil menjawab Bu Sumi terkekeh. Terlihat renggang giginya yang sudah sedikit ompong.


Sakti memandang sendu ke wajah Gladis, ingin rasanya Sakti mendengar jawaban positif dari mulut Gladis.


" Kemarin aku peluk kamu, bukan main-main Dis. Aku beneran kangeeeeen...


Aku bingung dengan situasi kemarin, kamu melihat Clara menciumku. Itu sangat menggangguku. Aku takut kamu menjauh, aku ga mau kamu salah paham.

__ADS_1


Aku bingung harus jelasinnya darimana, aku takut kamu mengira aku cowok gampangan.


Semoga penjelasan dari Bu Sumi bisa merubah pandanganmu terhadapku. " Jelas Sakti dengan wajah serius sambil menatap lekat-lekat ke wajah Gladis.


__ADS_2