MENIKAH ! ITU JALANKU

MENIKAH ! ITU JALANKU
Rencana pernikahan Gladis


__ADS_3

" Brakkk! "


Terdengar suara barang dilempar dari dalam rumah. Gladis terkesiap! Berlari menuju arah datangnya suara.


Ditaruhnya motornya disembarang tempat, ia takut terjadi sesuatu kepada orang tuanya.


Dilihatnya ibunya menangis di lantai ,terdapat pecahan piring berserakan dan ayahnya berdiri memasang muka sangat marah dan kesal.


Gladis takut, tapi ia tetap berjalan menghampiri ibunya. Ayahnya dengan masih menggunakan kaos oblong dan sarung meninggalkan mereka.


Gladis memapah ibunya yang masih menangis ke kamarnya, dibiarkannya barang-barang hasil pertengkaran mereka berserakan di bawah.


Ini bukan yang pertama kalinya, tetapi jarang sekeras ini. Gladis menarik nafas panjang lalu menghembuskannya. Ditidurkannya ibunya di kasurnya, Gladis memeriksa badan ibunya apakah ada yang terluka. Ia terdiam dan masih belum berani bertanya. Ibunya pun masih terdiam dan sesekali terdengar sesenggukan.


Tiba-tiba ibunya memeluk dirinya.


" Gladisss... Gladissss anakkuuu.. " ucap ibunya sambil menangis.


Gladis terdiam kebingungan.


" Ibu ada apa? apa ada yang sakit? " tanya Gladis sambil melihat wajah ibunya.


" Maafkan ibu nak, ibu adalah ibu yang jahat. Kamu tidak pernah berbahagia bersama kami, dan sekarang hanya kamu satu-satunya yang bisa menyelamatkan kami. " ucap ibunya sambil terus memeluknya.


" Ada apa denganku ibu? kenapa hanya aku? " Gladis masih kebingungan.


" Ayahmu nak, ayahmu mengambil hutang yang sangat besar kepada rentenir, dan ia menjual taksi perusahaan untuk membayarnya. Jika tidak dikembalikan ia akan masuk penjara nak. hu.. hu.. hu.. hu. " ibunya menangis tersedu-sedu kali ini bersimpuh di kaki Gladis.


" Hanya kamu yang bisa membantu kita Dis , kita tidak memiliki apa-apa lagi, dan ayahmu memberikanmu sebagai jaminan. " ucap ibunya.


Tidak terasa air mata jatuh tanpa permisi di pipi Gladis, tidak berhenti dan terus mengalir.


Dosa apa ini, dosa apa yang telah ia lakukan?


Baru saja ia senang dan mencintai seseorang, sekarang ia harus menanggung semuanya.


Apa boleh ia memiliki rasa marah?

__ADS_1


Apa boleh Gladis mengamuk?


Gladis diam menatap ibunya dengan wajah lemas ia bertanya kembali,


" A.. apa...? Siaa.. pa ibu?


Apa yang harus kulakukan dan siapa yang akan aku nikahi? " tanya Gladis terbata-bata.


" Ibu juga tidak tahu pasti Gladis. Yang pasti boss ayahmu ingin menjadikanmu istrinya. Ayahmu sudah berjanji sebelum kamu kuliah dan ibu baru mengetahuinya. Mungkin kamu akan dijadikan istri kedua atau ketiga. Ibu sangat sakit membayangkannya. " Kembali Ibu Gladis nangis sesenggukan.


Gladis hanya diam tidak menjawab apa-apa , tatapannya kosong tanpa arti.


Ibunya sedih melihatnya,


" Dis...Dis.......jangan seperti ini nak! " kembali menetes air mata ibunya.


" Dis , jika kamu tidak ingin menikah tidak apa-apa. Ibu yang akan berbicara dengan ayahmu. Pergilah dari sini Dis, kejar impianmu. "


Gladis hanya diam menatap ibunya. Apa yang harus ia lakukan, apakah pergi dari rumah ?


tapi ia tidak tahu arah. Pikiran Gladis berkecamuk.


" Hari minggu ini Dis, itu hari yang telah ditentukan. Ibu tidak tahu nasib kuliahmu. Jika kamu mengiyakan maka hari minggu kamu sudah harus siap menjadi istri orang. "


Kembali air mata Gladis mengalir dengan derasnya. Bagaimana ini, baru saja ia mulai pendekatan dengan Sakti. Ia sangat mencintainya. Tidak ada lelaki yang lebih sempurna dari seorang Sakti. Gladis diam tanpa arah.


" Ibu, jika aku memilih untuk pergi apa yang akan terjadi dengan ibu? " tanya Gladis takut. Karena ia sangat hapal dengan sikap keras ayahnya.


" Ibu tidak akan apa-apa Dis. Ibu sudah tua dan mampu menghadaii ayahmu. Pergilah jika engkau ingin, hanya itu yang bisa ibu berikan kepadamu. " Ibunya tersenyum menghapus air mata Gladis yang mulai mengering.


" Bisa tinggalkan aku sebentar ibu. Aku ingin berfikir. Jika aku benar-benar pergi apa ibu akan ikhlas? " Gladis meyakinkan kembali.


" Sangat ikhlas sayang! " Sambil tersenyum meyakinkan ibunya mengelus kepala anak gadis satu-satunya.


" Terimakasih ibu. Aku akan memikirkannya. " Ada perasaan sedikit lega di hati Gladis. Ibunya pergi meninggalkan kamar Gladis, sedangkan Gladis mulai menyusun rencana. Apa ia harus menghubungi Sakti terlebih dahulu? atau ia meminta perlindungan terhadap Sakti?


Gladis bangun dari tempat tidurnya dan mengambil handphone pemberian Sakti.

__ADS_1


Ia mengirim pesan singkat yang berisi :


" Selamat siang Sakti.. apakah besok kita bisa bertemu? " tanya Gladis dalam pesannya.


Hanya mengirim pesan seperti itu saja sudah membuat perasaan Gladis berbunga-bunga.


Sakti belum membalasnya. Sambil menguatkan perasaannya, Gladis keluar dari kamarnya untuk membersihkan rumah karena pertengkaran tadi.


Ditinggalkan handphone miliknya di dalam tasnya.


Ia mulai membersihkan pecahan piring yang ada di lantai, mencuci piring sisa masakan ibunya dan menyiram halaman. Gladis baru menyadari kalau daritadi ibunya tidak terlihat sama sekali.


Gladis mulai mencari ibunya, ia ingin mengatakan siapa orang yang dicintainya dan Gladis akan pergi bersama orang tersebut. Walaupun belum ada kepastian Gladis yakin Sakti akan membantunya.


" Ibu.. Ibu.. " panggil Gladis di seluruh rumah. Tidak ada jawaban sama sekali, terdengar air kamar mandi yang menyala dari tadi. Ia berfikir ayahnya yang mandi, tapi dilihatnya ayahnya sedang diluar memberi makan ayam kesayangannya.


Gladis kembali ke kamar mandi dan mengetuk pintunya. " Ibu.. Ibuu.. " kali ini agak sedikit berteriak, namun tidak ada jawaban.


Gladis mulai panik, didobraknya pintu kamar mandi yang terbuat dari pvc. Tidak susah sama sekali. Dilihatnya ibunya sudah pingsan, dengan tangan kanan memegang pisau dan pergelangan tangan kirinya bersimbah darah berceceran.


Gladis berteriak meminta pertolongan. Ayahnya segera berlari menghampirinya dan sangat kaget dengan apa yang telah dilakukan ibunya. Gladis dan ayahnya segera memeriksa nafas ibunya, sangat lemah tetapi masih ada.


Mereka berusaha mengangkat ibunya ke luar kamar mandi, dan dibaringkannya di sofa. Gladis segera menelpon ambulan. Dengan gemetar ia memencet angka 118, suaranya parau meminta ambulan segera datang.


Di sofa, Ayahnya berlari mengambil perban P3K, mengikat pergelangan tangan ibunya dan terus menepuk-nepuk pipi ibunya.


Gladis tidak bisa berfikir lagi. Sambil menunggu ambulan ia terus melihat ayah dan ibunya. Apa yang baru diperbuatnya.


Apakah ia bodoh?


Seharusnya ia tidak egois untuk berkata akan pergi meninggalkan rumah?


Gladis pasti tahu apa yang akan terjadi pada ibunya jika berani melawan ayahnya?


Apakah ini semua salahnya?


Jika ibunya meninggal, penyesalan seumur hidup akan ditanggungnya.

__ADS_1


Tidak lama suara ambulan datang. Dengan cekatannya diturunkannya kereta untuk membopong tubuh ibunya. Nafas ibunya semakin tidak terdengar, denyut nadinya sangat lemah. Tim medis segera mereka memindahkan ibunya ke dalam mobil. Gladis dan ayahnya ikut masuk ke dalam ambulan yang akan menunu ke rumah sakit.


Di dalam mobil ia sangat membenci ayahnya, mengapa sungguh tega ayahnya menyiksa mereka berdua.


__ADS_2