
Sakti menarik tangan Gladis dan menaruh handphonenya di genggaman Gladis.
" Terima ya Dis, aku tidak bisa tanpa kabarmu. Untuk menghubungiku kamu tinggal menekan angka satu agak lama maka akan tersambung langsung ke nomerku." jelas Sakti pada Gladis.
Gladis menganggukkan kepala tanda setuju, lagi-lagi ia melupakan larangan orang tuanya.
" Te.. ri.. ma kasih Sakti. " Sangat kelu lidah Gladis mengeluarkan kata terima kasih karena ia tidak pernah mau menerima apapun dari orang lain apalagi seorang pria. Gladis tidak ingin di cap sebagai wanita matre ataupun murahan.
Tapi kali ini berbeda, perasaan yang dirasakan oleh Sakti, juga Gladis rasakan. Rasa kangen, ingin menghubungi, ingin mendengar suaranya dan berbagi cerita dengannya juga Gladis rasakan.
Tidak ada cara lain selain menerima handphone yang diberikan oleh Sakti.
Sakti sangat senang karena Gladis menerima barang pemberiannya.
" Terima kasih juga sudah mau menerima pemberianku Gladis. " ucap Sakti senang.
Saktipun berbalik arah untuk kembali ke kelasnya. Gladis memandang punggung Sakti dari belakang. Rasanya ingin berlama-lama berbincang tapi itu tidak mungkin.
Pulang sekolah mereka hanya saling melihat, melempar senyum tanpa kata. Gladis tidak ingin terlalu kentara, ia takut hubungan mereka sampai di telinga orang tuanya.
Sesampainya di rumah Gladis cepat-cepat masuk kamar. Ia tidak sempat mengganti pakaiannya. Buru-buru ia mengambil handphone yang diberikan Sakti kepadanya dan segera membukanya.
Sungguh indah handphone yang diberikan oleh Sakti, ia telah mengganti casingnya sesuai dengan warna tas kampus Gladis, merah!
Mungkin Sakti berpikir Gladis menyukai warna itu. Tapi YA memang Gladis menyukai warna merah,
warna merah membuat ia terlihat lebih berani dan independent.
Gladis berjalan pelan mendekat ke pintu kamarnya.
" ceklek! " dikuncinya pintu kamarnya tersebut.
Ia mulai merebahkan dirinya di tempat tidurnya,
ada foto Sakti disana. Gladis tersenyum kangen.
" Ting! "
ada pesan masuk ke hanphonenya.
Gladis tertawa melihat nama yang Sakti cantumkan untuk dirinya sendiri.
" Masa Depanku " itu nama Sakti di handphone yang diberikan kepada Gladis.
Dibukanya pesan yang dikirimkan oleh Sakti.
Keajaiban
Aku hanya bisa menutup mataku
Menikmati setiap detik keajaiban yang kau berikan
Aku hanya bisa terdiam
Merasakan
Setiap detik hidupku lebih berarti
Setiap Mantra dan Keajaiban
Yang kau sihirkan padaku
Terasa Lebih merasuk kedalam jiwa
Setiap kalimat dan huruf
Yang terlantun dari mulutmu
Menjadi kata kata penyemangat dalam hidupku
Hidupku terasa lebih berarti
semenjak kau hadir dalam duniaku
Setiap apa yang kau lakukan
Menjadi keajaiban tersendiri
dalam Fantasiku
Kau pelangi dalam hidupku
Yang slalu memberi warna dan keajaiban
Disetiap disetiap detak denyut nadiku.
Begitu isi pesan yang dituliskan Sakti untuknya.
Gladis menghela nafas, ia merasa dicintai.
Gladis senang walaupun ada rasa takut yang menghantui.
Takut kehilangan,
Takut ketahuan,
__ADS_1
Takut ditinggalkan,
semua bercampur jadi satu.
Gladis terdiam dan menutup matanya. Ia mengafirmasi ke dirinya sendiri,
" Tenang Gladis, calm down... tidak akan terjadi apa-apa. Tuhan menyayangimu. Kamu berhak bahagia. " itu isi afirmasi Gladis kepada dirinya sendiri.
Gladis membuka matanya dan mulai membalas puisi Sakti.
Di rumah Sakti,
Sakti mondar-mandir di kamarnya untuk menunggu balasan dari Gladis. Ia terus mengambil dan menaruh kembali handphonenya. Sakti takut ada kata-kata yang tidak disukai Gladis atau terlalu mencolok sehingga mengganggunya.
Lama sekali Gladis membalasnya,
Apa Gladis tidak bisa memakai handphonenya?
Atau dia tertidur?
Apa aku terlalu lebay?
Pikir Sakti saat itu.
Tidak lama muncul notifikasi dari handphonenya,
" Ding Dong! " begitu bunyi yang keluar dari handphone Sakti.
Ia buru-buru mengambil handphone yang baru saja ditinggalkannya hanya untuk sekedar minum, hampir saja ia terpeleset dan terjengkal ke lantai.
Dibacanya pesan dari Gladis,
" Mencari Makna Cinta
Embun pagi telah mengering
Pancaran mentari membuat dedaunan menguning
Mataku tertegun menatap langit
Melepas hati yang terbelit
Kini ku bisa tersenyum
Melihat dunia penuh rasa kagum
Setelah kian lama hatiku menangis
Akan cinta yang kian terkikis
Manjalani hidup dengan orang tercinta
Setelah jiwaku berduka
Merintih dan tersiksa
Aku bersyukur
Api cinta tak membuatku hancur
Kini ku ingin hidup kembali
Mencari makna cinta sejati. "
Sakti tertegun membacanya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Gladis adalah seorang Gladis,
wanita yang spesial, mahal, pintar dan berattitude baik.
Tidak ada alasan untuk tidak mencintainya.
Pikir Sakti, aku tidak akan melepaskannya.
Gladis menutup hanphonenya, merubah notifikasinya menjadi senyap. Handphone merah pemberian Sakti disimpannya kembali di dalam tasnya, kemudian ia berjalan menuju pintu kamarnya. Ia memutar kuncinya ke kiri dan membuka lebar pintunya.
Gladis takut orang tuanya akan curiga karena ia tidak pernah menguncinya.
Sudah cukup mereka berkirim pesan, karena Gladis tidak mau semua menjadi runyam.
Saat- saat yang penuh kegembiraan!
Gladis mulai menghayal bagaimana jika mereka bertemu esok hari?
Di kamar Sakti....
Sakti tidak tahu mau membalas apa. Sudah banyak arti yang tersirat dalam puisi Gladis.
Ia mulai berkhayal bagaimana nanti setelah mereka berpacaran lama, dan mereka masing-masing sudah bekerja.
Sakti akan berjuang untuk sukses dan akan menikahi Gladis. Mengeluarkan Gladis dari rumahnya yang tanpa cinta dan menjadikannya ratu di hatinya. Gladis pasti akan menjadi ibu rumah tangga yang baik dan menunggunya pulang kerja dengan sabar.
Anak-anak mereka pasti lucu dan menggemaskan.
Mereka akan tinggal di rumah yang dibeli Sakti dengan keringatnya sendiri. Menyantap makanan buatan Gladis dan berbahagia bersama.
__ADS_1
Akhir hidup yang menyenangkan, pikir Sakti sambil mesem-mesem sendirian.
Sakti mengambil earphone apple miliknya , mencari galeri musik dan memilih lagu yang mewakili rasanya saat ini.
Ia merebahkan badannya di tempat tidur miliknya, satu tangannya diangkat untuk menjadi tumpuan kepalanya. Sakti memejamkan matanya dan menikmati lagu yang diputarnya.
Andmesh - Cinta Luar Biasa
Waktu pertama kali
Kulihat dirimu hadir
Rasa hati ini inginkan dirimu
Hati tenang mendengar
Suara indah menyapa
Geloranya hati ini tak kusangka
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Hari-hari berganti
Kini cinta pun hadir
Melihatmu, memandangmu bagai bidadari
Lentik indah matamu
Manis senyum bibirmu
Hitam panjang rambutmu anggun terikat
Rasa ini tak tertahan
Hati ini selalu untukmu
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Tulus padamu
Oh-ho huu
Terimalah lagu ini
Hm-mm
Dari orang biasa
Terimalah lagu ini
Dari orang biasa
Tapi cintaku padamu luar biasa
Aku tak punya bunga
Aku tak punya harta
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Yang kupunya hanyalah hati yang setia
Terimalah cintaku yang luar biasa
Hm-mm
Tulus padamu.......
__ADS_1