Menikah Dengan Adik Angkat Mama

Menikah Dengan Adik Angkat Mama
BAB 28


__ADS_3

Udara pagi yang begitu dingin berhasil menusuk hingga ke kulit Kenan dan membuat nya terbangun.Sembari memicingkan mata dan memegang kepala nya yang terasa sakit,Kenan mencoba bangkit dari atas kasur.


Namun betapa terkejutnya Kenan saat melihat Rein yang berada di sampingnya.Ia yang akhirnya menyadari tak mengenakan sehelai benang pun seketika berusaha mengingat apa yang telah terjadi dengan diri nya semalam.


Kenan yang masih sulit mengingat atas apa yang telah terjadi pun menduga jika ia telah melakukan sesuatu dengan Rein.Kenan lalu menarik selimut yang menutupi tubuh Rein.Tubuh mungil Rein yang juga tak tertutupi oleh sehelai benang pun serta bercak darah yang berada di atas kasur nya, semakin menguatkan dugaan Kenan bahwa pasti sudah terjadi sesuatu dengan nya bersama Rein.


"Apa yang telah ku lakukan kepada Rein?"sesal Kenan dalam hati.


Ia pun lalu menutupi tubuh Rein kembali dengan selimut.Kemudian dengan sempoyongan Kenan berjalan ke toilet untuk membersihkan diri.


Rein yang akhirnya terbangun langsung merasakan nyeri pada aset nya yang semalam di dobrak paksa oleh Kenan.


Ia lalu mencoba bangkit dari atas kasur dan dengan perlahan ia memungut pakaian nya yang berserakan di lantai.Dengan susah payah Rein memakai kembali pakaian nya itu lalu dengan tertatih ia berjalan keluar dari kamar Kenan menuju ke kamar nya.


Sesampai di kamar nya,ia langsung menbersihkan diri nya di toilet.Dibawah shower Rein kembali menangis mengingat kejadian di kamar Kenan semalam.Ia tak menyangka bahwa Kenan akan melakukan hal itu kepada nya dalam keadaan mabuk.


Ia memang mencintai Kenan namun ia membenci cara Kenan mengambil mahkota nya yang berharga itu.Setelah selesai membersihkan diri,Rein hanya duduk termenung di atas kasur nya.Dilirik arloji yang berada di atas meja belajar nya yang sudah menunjukkan jam setengah 8.


Rein pun mengurungkan niatnya untuk pergi ke sekolah.Selain karna ia sudah terlambat,juga tak mungkin bagi nya ke sekolah dalam keadaan menahan rasa perih di aset nya itu.


Tiba - tiba pintu kamar Rein diketuk hingga beberapa kali oleh Kenan.Namun Rein tak membuka nya.Rasa nya ia enggan untuk melihat wajah Kenan saat ini.


"Rein bukalah!ada yang ingin ku katakan kepada mu.."


"Rein..."


"Reina,izinkan aku masuk!"


Akhirnya Rein pun membukakan pintu kamar nya untuk Kenan.Saat pintu kamar terbuka,Kenan langsung menatap Rein dengan tatapan bersalah.


"Maaf kan aku Rein!aku benar - benar tak sadar hingga aku melakukan hal itu kepada mu!"


Rein tak menjawab dan hanya menatap Kenan datar.


Tiba - tiba Bi Ati datang ke kamar Rein untuk menanyakan kenapa Rein tidak ke sekolah hari ini.


"Non Reina kenapa tidak ke sekolah?"tanya Bi Ati.


"Saya tidak enak badan Bi"jawab Rein mencari alasan.


"Saya buatkan bubur ya Non?"tawar Bi Ati.


"Tidak usah Bi,karna saya akan mengajak Rein untuk berobat".cegah Kenan.


"Baik lah Den.Saya permisi!"ujar Bi Ati.


Setelah Bi Ati pergi berlalu dari hadapan Kenan dan Rein,Kenan seketika menarik lengan Rein hingga masuk kedalam kamar nya.


"Rein,sekali lagi maafkan aku ya.!"mohon Kenan sembari menatap wajah Rein dan memegang kedua bahu nya.

__ADS_1


"Sudah lah om.semua juga sudah terjadi."lirih Rein datar.


"Maaf Rein,saat aku mabuk semalam ada ingatan yang terlintas di kepala ku bahwa aku dan kau pernah saling.....


Aku tidak tau apakah itu hanya khayalan ku saja atau tidak,karna itu terasa begitu nyata bagi ku Rein."


Seketika Rein tersentak menatap Kenan."Apa ingatan om Kenan mulai kembali?"gumam Rein dalam hati.


"Apa om percaya jika aku dan om saling mencintai?"tanya Rein memberanikan diri mengulik ingatan Kenan yang hilang.


Kenan diam sejenak,berusaha mengingat apa yang dikatakan Rein.


"Tapi bagaimana mungkin aku mencintai mu Rein?kau sendiri adalah keponakan ku!",ujar Kenan berusaha menyangkal hati nya yang sebenarnya mulai membenarkan pernyataan Rein bahwa mereka dulu nya saling mencintai.


"Bukan kah om tau jika kita tidak memiliki hubungan darah hingga akhirnya kita saling mencintai?"


"Aku tau Rein kita tidak memiliki hubungan darah,namun aku tak mungkin....."


Belum selesai Kenan menyelesaikan ucapan nya,seketika ia memegang kepala nya yang mulai terasa sakit.


"Jangan paksa untuk mengingat itu om jika memang belum bisa!"ucap Rein sedikit panik melihat Kenan.


Sambil memegang kepala nya yang terasa sakit,Kenan berjalan menuju kasur.Lalu ia berbaring di atas kasur Rein sembari meringis menahan sakit di kepala.


"Aku panggilkan dokter ya om?"tanya Rein.


"Tak usah Rein.Aku tak apa!.Ambilkan saja obat yang berada di atas meja ku"jawab Kenan dengan suara bergetar.


"Minum lah om"suruh Rein sembari membantu Kenan untuk menenggak obat nya.


Setelah beberapa saat,sakit di kepala Kenan mulai meredah,ia pun bergegas keluar dari kamar Rein.Kenan tak ingin rasa bersalah nya terhadap Rein semakin besar.Apalagi ia sudah berjanji kepada Damian untuk menjaga Rein bukan menodai nya.


Dan sejak peristiwa itu,Kenan seakan menjauh dari Rein.Bahkan sekarang ia sangat jarang pulang ke rumah dan sering kali ia sengaja ke luar kota dengan alasan perjalanan bisnis.


Kini Rein merasa dicampakkan begitu saja oleh Kenan.Rein yang masih mencintai Kenan,sering mengutuk nya tatkala ia sering merasakan rindu sendirian tanpa pernah Kenan membalas perasaan nya itu.


**


Lima bulan pun berlalu sejak kejadian Kenan merenggut mahkota berharga milik Rein.Namun ia bukan nya mencari cara bagaimana menebus kesalahan nya itu terhadap Rein,ia malah lebih sering menghabiskan waktu nya dengan Windy berharap perasaan bersalah nya terhadap Rein segera menghilang.


Ternyata hubungan Kenan dan Windy masih belum berakhir.Windy yang kian hari semakin berharap Kenan mau menikahi nya,berusaha mencari cara agar bisa menjebak Kenan.Berkali - kali ia selalu mencari kesempatan untuk bisa melakukan percintaan dengan Kenan,namun selalu saja gagal.Entah mengapa ada sesuatu dari dalam hati Kenan yang menolak itu.


Walau Kenan ingin lari dari perasaan bersalah nya terhadap Rein,namun wajah dan suara Rein saat berada di bawah kungkuhan nya sejak lima bulan lalu masih terpatri jelas di dalam kepala nya.


Kenan sering merasa gusar saat ada hasrat ingin melakukan hal itu lagi bersama Rein.Bagi nya hanya Rein lah yang bisa membangkitkan gairah nya dan hanya ia juga yang benar - benar mampu memuaskan hasrat nya yang gila itu.


Andai saja saat ini ingatan Kenan terhadap Rein sudah kembali,mungkin ia sudah menepati janjinya untuk menikahi Rein hingga ia bisa memuaskan hasrat nya itu kapan pun dan dimana pun ia mau.


**

__ADS_1


"Seperti nya kau betah tinggal di hotel ini Nan!"ucap Mario sembari menoleh ke arah Kenan yang hanya termenung menatap jendela kaca hotel.


"Siapa bilang aku betah disini.Setelah pikiran ku tenang aku akan kembali!"ujar Kenan datar.


"Apa sih yang membuat pikiran mu tak tenang?Reina?!"


Kenan yang mendengar nama Rein di sebut pun seketika membelakan mata nya,dada nya kembali bergemuruh saat wajah Rein terlintas di ingatan nya.


"Andai ingatan mu kembali Nan,mungkin kau tak akan pernah meninggalkan Rein selama sebulan seperti ini!"


"Maksud mu apa Mario?"


"Kau tau,sebelum kecelakaan itu terjadi kau pernah ke luar kota selama seminggu.Namun baru saja 3 hari,kau sudah sibuk ingin pulang agar bisa bertemu dengan Rein."


"Apa benar Mario bahwa aku dulu nya sebegitu menyukai Rein?"


"Kau jangan tanya aku,tapi tanya lah hati mu yang lebih tau Nan!"


"Jika aku memang menyukai Rein,lalu mengapa aku masih bersama Windy?kau tau kan bahwa aku bukan tipe pria yang menyukai 2 wanita sekaligus."


"Bicara tentang Windy,menurut ku lebih baik kau tinggalkan saja dia, Nan.Windy itu sudah mengkhianati mu!"


"Tidak mungkin Windy mengkhianati ku Mario!kurang apa aku hingga ia melakukan itu!"


"Sadarlah Nan!Windy itu juga dekat dengan pria lain.Entah siapa yang menjadi selingkuhan nya,kau atau pria itu,aku tak tau Nan!Namun aku pernah melihat nya dengan kedua mata kepalaku bahwa Windy bergandengan tangan dengan seorang pria bahkan mereka hingga check ini di satu kamar hotel."


"Aku tak percaya Mario!"


"Terserah kau saja Nan!Inti nya aku sudah memberi tau mu.Lagi pula untuk apa wanita materialistis seperti Windy kau pertahankan.Ini ya Nan,jika kau memberi ku 10 wanita seperi Windy,aku pasti sudah jelas akan menolak nya mentah - mentah!"


"Yakin pria mesum seperti mu menolak?Mario...Mario...sejak kapan kau sudah bertobat dari perilaku mesum itu?"


"Jangan salah sangka kau Nan,karna aku sudah lama bertobat dari perilaku menyimpang ku itu!"


"Kau yakin?siapa akhirnya wanita yang meluluhkan hati mu itu?hah...?!"


"REINA?!"


"Apa..?Rein...kata mu?jangan pernah ya kau berani menyentuh Rein!"


"Idihh...santai boss..garang amat.Lagi pula Rein itu bukan milik mu,jadi siapa pun berhak lah mendekati nya."


"Rein itu milik......"


"Milik siapa..?!milik mu?!...bukan kan Nan?!jadi izinkan aku memiliki Rein ya."


"Hentikan Mario.Jangan pernah kau berharap bisa memiliki Rein.Karna ia adalah milik ku.!"


Mario pun seketika tersenyum puas mendengar pernyataan Kenan.Sebenarnya ia juga tak mungkin menikung teman dekat nya yang kehilangan sebagian ingatan nya itu.Ia melakukan itu hanya karna ingin membuat Kenan mengingat Rein yang memang sejak dulu sudah menjadi milik nya.

__ADS_1


**


__ADS_2