Menikah Dengan Adik Angkat Mama

Menikah Dengan Adik Angkat Mama
BAB 34


__ADS_3

Ada rasa bahagia di dalam hati Rein saat melihat Kenan dan Damian begitu dekat bahkan mereka tanpa canggung saling bertukar cerita.


Sambil mengunyah makanan nya,Rein terus menatap Kenan yang tertawa lepas karna candaan dari Damian.


Kini Rein tak lagi iri dengan Kenan yang lebih dekat dengan Damian dibandingkan diri nya.Ia malah bersyukur karna calon suami nya itu sudah akrab terlebih dahulu dengan Papa nya.


"Oiya Rein,Papa dan Kenan sudah memutuskan kapan pernikahan kalian akan diadakan."ucap Damian yang berada di sebelah Rein.


"Iya Pa."jawab Rein singkat.


"Hanya iya jawaban mu Rein?!kau tak ingin tau kapan kita akan menikah?"tanya Kenan sedikit kesal.


"Kau kenapa sih Rein?bukan nya kau juga menyukai Kenan?"tanya Damian menimpali.


"Hmm,..Rein hanya merasa belum siap Pa."


"Lalu apa Kenan harus menunggu mu hingga kau siap Rein?"


"Tidak Kak,aku tidak mau lagi menunda - nunda pernikahan ini.Aku tak bisa terus - terusan melihat Rein dekat dengan lelaki lain."


"Yasudah begini saja,kalian perlu membicarakan perihal pernikahan kalian ini lagi berdua.Bagaimana pun keputusan kalian nanti, Papa akan menyetujui nya Rein.!".ujar Damian sembari bangkit dari kursi nya.


Ia yang kebetulan sudah menyelesaikan makan malam nya itu bergegas meninggalkan meja makan.


"Kau sudah selesai makan Rein?"tanya Kenan.


"Sudah.Kenapa om?


"Ayo ikut aku.Kita harus membicarakan ini kembali."ajak Kenan.


Kenan pun berjalan menuju ke kolam berenang yang berada disamping rumah nya.Rein hanya mengikuti langkah Kenan dan berjalan di belakang nya.


"Apa yang membuat mu merasa belum siap untuk menikah dengan ku Rein?"tanya Kenan membuka pembicaraan.


"Aku hanya takut...om."


"Kau takut kenapa Rein?kau takut dijauhi oleh teman lelaki mu itu karna telah menikah dengan ku?"


"Bu..bukan begitu om."


"Lalu apa Rein?"


"Aku...aku takut jika... aku nanti nya akan hamil om."


"Astaga Rein..aku kira apa yang membuat mu hingga menjadi ragu seperti itu!?"ejek Kenan sembari tertawa kecil.


"Kalau pun kau hamil terus kenapa?"sambung Kenan.

__ADS_1


"Om,aku masih kuliah dan umur ku juga masih 18 tahun.Aku..aku tidak mau dan tidak siap om jika harus secepat itu untuk hamil."


"Reina ku sayang...lagian siapa juga yang menyuruh mu untuk hamil secepat itu?hah?!tidak ada kan sayang?kita hanya perlu menikah dan kau tak harus secepat itu untuk hamil."ucap Kenan lembut sembari mengelus rambut Rein.


Rein tertegun mendengar Kenan memanggil nya dengan sebutan khusus seperti yang sering ia lakukan dulu.Bahkan jantung Rein merasa berdebar cepat saat Kenan mengelus rambut dan menatap nya dengan lekat.


"Tapi...bagaimana jika secara tak sengaja aku tiba - tiba hamil om?bagaimana aku bisa melanjutkan kuliah ku?"


"Ya ampun Rein... Rein.Kau tak perlu sekhawatir itu.Akan ku pastikan kau tak akan hamil sampai kau sendiri yang merasa sudah siap untuk itu."


"Baiklah."


"Jadi kau setuju Rein akan menikah dengan ku?"tanya Kenan penuh semangat.


Rein pun mengangguk pelan dihadapan Kenan.Kenan yang begitu bahagia karna akhirnya bisa memiliki Rein,seketika langsung memeluk nya dengan erat.


**


Pagi hari nya Kenan yang sudah siap dengan setelan kemeja kerja nya,dengan sabar menunggu Rein yang belum keluar dari kamar nya.


"Rein belum siap juga Nan?"tanya Damian yang menghampiri Kenan di ruang tamu.


"Belum Kak,.Oiya Kak Damian mau kemana sepagi ini sudah rapi begitu?"


"Aku hendak menemui beberapa rekan bisnis ku Nan untuk mengabari mereka perihal pernikahan mu dan Rein!"


"Yasudah aku pergi dulu ya Nan.Nanti sampai kan pada Rein bahwa aku menemui rekan bisnis ku."


"Iya Kak,tenang saja."


Tak berapa lama Damian pergi,Rein pun keluar dari kamar nya.Kenan yang melihat Rein berjalan menuruni anak tangga seketika ternganga melihat penampilan Rein yang begitu mempesona di mata nya.


"Tidak bisa begini Rein."ucap Kenan yang menghampiri Rein.


"Kenapa om?"tanya Rein heran.


"Kau tidak boleh secantik dan semenarik ini pergi ke kampus!"


"Apaan sih om.Toh biasa nya aku juga seperti ini!"


"Tidak Rein.Pagi ini kau berbeda.Bisa tidak Rein jika kau ke kampus penampilan mu itu biasa saja?"


"Astaga om,ini juga sudah biasa.Sudahlah,ayo berangkat om!aku sudah telat ini!"ajak Rein sembari meninggalkan Kenan yang masih menatap Rein.


Bahkan saat berada di dalam mobil pun Kenan masih terus menoleh ke arah Rein.


"Cepat om!kenapa sih melihat ku seperti itu?"ucap Rein kesal.

__ADS_1


"Lagian siapa suruh kau secantik itu!"gumam Kenan sembari menyetir mobil nya.


"Oiya Rein,tadi Papa mu sudah pergi untuk menemui rekan bisnis nya.Seperti nya Papa mu sangat senang Rein melihat mu yang sebentar lagi akan menikah."ucap Kenan lagi.


"Aku sampai lupa bertanya om,hmm..memangnya kapan kita akan menikah?"


"Astaga iya Rein,aku pun bahkan lupa memberi tau mu bahwa Papa mu dan aku sepakat akan mengadakan pernikahan kita minggu depan."


"Minggu depan om?apa itu tidak terlalu cepat?"


"Tidak.Malah menurut ku itu terlalu lama."


"Haahh?!..."


"Untuk itu mulai dari sekarang berhenti lah memanggil ku "om"."


"Lalu aku harus memanggil om apa?"


"Ya terserah kau saja Rein.Yang terpenting jangan memanggil ku "om" lagi.Kan tidak lucu jika nanti nya kita sudah menikah kau tetap memanggil ku dengan sebutan seperti itu.Yang ada orang - orang akan mengira bahwa aku adalah sugar daddy mu."


"Apa ya?aku tak tau om.Aku sudah nyaman memanggil om dengan sebutan seperti itu."


"Banyak sebutan lain Rein.Kau bisa memanggil ku sayang,honey,baby,my husband atau apalah Rein,yang terpenting tidak memanggil ku om lagi."


"Baiklah om."


"Om...?!"


"Hmm...iya..maaf om..maksud ku...hmm..om maafkan aku,aku belum terbiasa memanggil om dengan sebutan lain."


"Yasudah lah Rein,tapi kau harus mencoba agar bisa mengubah kebiasaan mu itu."


Rein hanya mengangguk tak berani menjawab karna ia takut salah lagi dalam berucap.


Setelah sampai di depan kampus,Rein yang merasa canggung dengan Kenan langsung keluar begitu saja dari dalam mobil.


"Tunggu Rein.Nanti sepulang dari kampus hubungi aku ya.Karna aku ingin mengajak mu memilih cincin untuk pernikahan kita."


"Baiklah om."


Kenan hanya menghela nafas kesal melihat Rein yang masih saja memanggil nya dengan sebutan itu.


"Maaf om.."


"Sudah lah tak apa.Hmm..aku pergi ya Rein."


Rein pun mengangguk sembari tersenyum kepada Kenan.Ia tak langsung pergi sampai mobil Kenan benar - benar tak terlihat lagi di mata nya.

__ADS_1


**


__ADS_2