
Jam telah menunjukkan pukul 12 malam lewat. Sepulang Camila dari Zendaya Hospital ia sangat bahagia, bayangan Xander terus berputar dikepalanya.
Xander... Xander... aku jadi suka menyebut namanya
Camila berlari-lari menaiki tangga dengan wajah yang berseri-seri sambil menyanyikan thank you for loving me ..... sambil memainkan kunci mobil di tangannya
Ternyata ada seseorang yang memperhatikannya dari atas lantai 2.
Camila sepertinya sangat bahagia
Jacson berdiri di atas anak tangga terakhir dan menghadang Camila, sontak saja Camila kaget"oiiiiii... bocah ngapa yak??" Jacson menaruh telunjuknya di dahi Camila "kamu kenapa??"
"isss kakak" Camila menepis tangan Jacson dan melangkah ke sisi kiri Jacson melanjutkan langkahnya "mau tau aja"
"hei...." Jacson penasaran lalu mengikuti Camila menuju kamarnya
"minggir kak, aku mau tutup pintuku, aku capek nggak mau di ganggu ok!!" Camila mendorong Jacson dan menjulurkan lidahnya mengejeknya
"yaa!!! ya!! hehe.... kenapa kamu terlihat berbeda dari biasanya, ayo cerita, biar ku tebak... Xander!" Jacson menahan pintu kamar Camila dengan Kaki kanannya sehingga masih bisa terbuka setengah.
Camila berusaha menutupnya tapi tidak bisa akhirnya ia menyerah dan membiarkan Jacson masuk " masuk... penasaran ya??" Camila berbalik dan menaruh tasnya di meja lalu mempersiapkan baju tidurnya
"apa yang telah dikatakan Xander? tapi Xander nggak ngapa-ngapain kamukan??" Jacson duduk di sofa
"yaa nggak la kak, Xander bilang mencintaiku" ucap Camila pelan karena sedikit malu pada Jacson
"syukurlah. cuma' ngetes doang, aku tau kok Xander orangnya baik, kamu senangkan??"
Camila hanya mengangguk lalu melanjutkan langkahnya ke toilet.
Akhirnya apa yang selalu diusahakan Jacson selama ini berhasil, Ia turut merasa bahagia mendengar kabar ini.
"kalau gitu kurangin merokok dan minum, Xander nggak suka perempuan seperti itu, kalau perlu jangan lagi.... ok!!! teriak Jacson lalu beranjak dari sofa kembali ke kamarnya
one step closer
Mendengar itu Camila menghentikan sejenak menyikat giginya, ia tersenyum lalu melanjutkannya lagi
Baiklah akan aku coba, kurangi lalu hentikan hehe tapi butuh waktu...
*****
Jam setengah 6 pagi dering ponsel Camila berbunyi dimeja samping tempat tidurnya yang membuat tidur Camila terganggu.
Camila kemudian mengumpulkan tenaganya mulai menggerakkan tangannya mengambil ponselnya dan menaruhnya di telinganya
" ya?" Camila menerima telfon masih setengah sadar dan masih memejamkan matanya
"Camila" Suara lelaki yang tidak asing lagi
__ADS_1
Seketika mata Camila terbelalak, ia segera bangun dan duduk "halo, Xander?"
"pagi Camila"
"pagi" Camila tersenyum sendiri mengingat wajah Xander
"jangan memikirkanku terus, bersiap-siaplah pergi kuliah"
"enak aja, siapa juga yang mikirin kamu" Camila mengelak " bagaimana kondisi Ibumu? "
"yaa lumayan udah agak baikan"
"Syukurlah kalau gitu, salam ya untuk Ibumu"
"untukku ??"
"nggak, nggak ada salam-salam untukmu, udah ya aku siap-siap dulu. Terima kasih telah membangunkanku "
"hmmm yaa.."
sudah sangat lama aku nggak merasakan sesuatu seperti ini, menyenangkan sekali. hmmm aku nggak sabar bakal cerita ke Jesi pasti dia senang.....
****
Di kampus
"Camila, kemarin kamu ijin kemana si sebenarnya? udah main-main rahasiaan ni ceritanya?" Tanya Jesi sembari bercermin memperbaiki tatanan rambutnya
Belum sempat Camila melanjutkannya, Jesi memotong kalimat Camila "what??" Jesi segera menaruh cermin di meja dan menghadap pada Camila yang duduk di sampingnya "kenapa kamu nggak bilang?"
Camila terdiam karena terkejut dengan reaksi Jesi seolah menunjukkan kekhawatirannya yang terlalu berlebihan
kenapa Jesi seperti ini?? pertanda apa ini??
"hmmm ya sorry kemarin aku buru-buru, tapi kata Xander Ibunya udah agak baikan kok"
Mendengar kalimat itu Jesi merasa tenang "syukurlah, kapan-kapan kita jengguk yuk. emang dimana, RS atau?
"di Zendaya"
di Zendaya?? kemarinkan aku juga ke sana. Hampir aja aku ketemu Camila disana bisa jadi masalah besar kalau aku ketahuan
"oww ya udah, kapan-kapan kita kesana ya? "
"nanti sepulang kuliah, gimana?" tawar Camila
"hmmmm" Jesi memikirkan sesuatu
mati!!! mau jawab apa, Rehan masih di sana
__ADS_1
"hmmmmm... aduww kalau nanti kaya'nya aku nggak bisa Mil, lain kali ya "
"hehe nggak apa-apa kok Jes, kabari aja kalau besok-besok kamu mau ikut ok.."
"ok de"
Mereka kemudian menyiapkan buku - bukunya di atas meja, setelah itu Jesi melirik Camila yang terlihat tidak seperti biasanya, Camila terlihat sedang mengkhayalkan sesuatu.
"Hei.. kenapa? " Jesi membuyarkan khayalan Camila yang membuatnya kaget
"hehe... mau tau nggak? Xander bilang mencintaiku" Camila kemudian meletakkan tangannya di meja dan bertopang dagu menatap langit-langit membayangkan kembali tadi malam bersama Xander
"apa????? Jadi sekarang apa?? kalian pacaran? kamu jawab apa??" Jesi spontan memegang pundak Camila dan menepuk-nepuknya
kenapa jadi begini si??? gawat aku harus gerak cepat ni
Mendengar Jesi dengan suara yang besar, Camila lalu berbalik "Usssstt!!pelan-pelan ngomongnya"
"ya udah, jawab pertanyaannku tadi" Dari gerak-gerik Jesi sangat jelas ia tidak sabar dengan jawaban Camila
"Xander nggak bilang kita pacaran si tapi aku juga bilang mencintainya juga" Camila menutup matanya tertawa kecil merasa malu dengan ceritanya ini.
"Jess pasti kamu senangkan?? " Tanya Camila dengan menaikkan kedua alisnya menunggu jawaban Jesi
senang?? kamu bilang senang?? aku hancur bukan senang Camila!!
"heiii Jes... kenapa diam???" Camila memegang kedua tangan Jesi
"ee... sorry, sorry Mil" Jesi segera tersadar bahwa ia harus memperlihatkan kesenangannya juga meski hatinya sakit mendengarnya "aku merasa senang kamu akhirnya bisa saling mencintai dengan Xander"
Mereka berdua berpelukan, Camila sama sekali tidak tau sebenarnya bagaimana perasaan sahabatnya itu sekarang, sementara Jesi sedang berusaha menahan air matanya dengan sedikit mendongakkan kepalanya ke atas langit-langit.
jangan salahkan aku Camila kalau aku berbuat lebih nekat lagi, aku juga ingin bahagia, aku juga ingin sepertimu
Tanda pelukan mereka berdua terlihat sangat tulus, namun jauh di dasar hati masing-masing ada satu diantaranya tidak menyadari ada hati yang terluka.
Jesi melepas pelukannya, terlihat matanya memerah
"Jes kamu kenapa?" tanya Camila menyentuh kelopak mata bawa Jesi seolah sedang menyapu air mata, dan jelas saja saat Jesi menutup matanya air mata itu jatuh, "Jes??"
Jesi cepat-cepat menepis pelan tangan Camila dan menghapus sendiri air matanya
"nggak apa-apa Camila, ini karena aku terlalu bahagia, akhirnya usaha kak Jacson selama ini nggak sia-sia untuk kalian berdua"
"Jes udah, jangan nangis.. Terima kasih ya kamu sahabat terbaik yang pernah ku miliki, ee tapi kamu memperhatikan juga ya Jacson berusaha mengurus aku dan Xander??"
Jesi hanya mengangguk
bagaimana aku nggak tau?? jelas-jelas tiap aku ingin mendekati Xander, kakakmu selalu menghalangiku
__ADS_1
Berselang beberapa menit dosen masuk.
BERSAMBUNG....