
Malam saat Camila mengantar xander, Jesi sangat tidak tenang memikirkannya dalam kamar, ia terus berjalan dari ujung pintu kamar berputar-putar memikirkan rencana apa yang akan di lakukan agar mereka tidak saling menyukai nantinya.
Kali ini aku sudah sangat yakin bahwa Jacson memang menginginkan Camila dan Xander bisa bersama. Bagaimana denganku?? kenapa Camila selalu beruntung dari dulu?? Aku bahkan sering iri dan cemburu padanya.
Sebenarnya dari SMA Jesi mulai iri dan Cemburu jika ada laki-laki yang ia sukai justru menyukai Camila, hanya saja dulu ia hanya menyimpannya rapat-rapat di hatinya. tapi entah mengapa sekarang soal Xander ia sangat menginginkannya.
rencana apa yang harus aku lakukan?? bagaimana ini? Rehan?? yaa Rehan.
Rehan lelaki jahat yang dulu selalu menganggu kehidupan Camila. Pikirnya Rehan bisa jadi penghalang Xander dan Camila. Tapi sebenarnya Jesi juga takut padanya namun ini jalan satu-satunya menurutnya. Ia kemudian mencari nomornya di teman-teman clubnya dan tak butuh waktu yang lama untuk mendapatkannya dari salah satu temannya.
Jesi kemudian memberanikan diri menelfonnya sekarang juga namun beberapa kali di telfon tidak di angkat. ia kemudian menelfonnya setengah jam lagi dan langsung di angkat.
"hallo.. dengan siapa?" tanya Rehan mengangkat telfon khas dengan suara beratnya.
"hallo Rehan, iii i ini Jesi sahabatnya Camila, kamu ada waktu nggak? aku mau bicara mengenai Camila" Jesi sedikit gemetar berkomunikasi dengannya.
Rehan langsung tertawa lepas mendengar nama Camila, ia sangat bergairah membahas ini.
"katakanlah!!"
Tawa Rehan yang terdengar oleh Jesi sangat membuatnya takut.
"hmmm... Kamu masih menyukai Camilakan?"
"owww jelas!! ayolah jangan membuang-buang waktu katakanlah cepat soal Camila" Nampaknya Rehan sudah sangat tidak sabar
"begini, aku rasa Jacson kakaknya Camila menginginkan Xander dan Camila bisa bersama, jadi ku harap kamu bisa menghalangi mereka atau setidaknya mengambil hati Camila sebelum Xander mendahuluimu. Kalau boleh aku jujur sebenarnya aku juga menyukai Xander" jelas Camila memberanikan diri
Rehan kembali tertawa ia sangat menyukai permainan ini
pas!! jadi Jesi bisa ku manfaatkan.
Padahal Jesi berfikiran begitu juga bahwa ia akan memanfaatkan Rehan.
Mereka langsung menyusun rencana malam itu juga.
Setelah itu Jesi membereskan semua pakaiannya dan pakaian Camila agar mereka tidak bermalam di hotel dan pulang saja. Ini bagian dari rencana Jesi.
Tak lama kemudian terdengar ada yang mengetuk pintu dan segera Jesi mengeceknya dan benar itu Camila lalu ia membukakan pintunya.
"hi jes.. sorry tadi kamu nggak ikut, kamu taukan kak Jacson sesuka hatinya mengaturku" Camila berjalan masuk dan duduk di sofa
"santai aja mil" ucap Jesi mengikutinya dan duduk di sofa juga.
Camila melihat semua barang-barangnya termasuk persiapan untuk mereka kuliah besok sudah rapi di dalam tas di atas kasur. "looo kok barang-barang kita di masukin tas semua??"
"aku di telfon sama mama di suruh pulang, karena mama baru aja nyampe' di rumah. Jadi aku nungguin kamu, kan aku sudah tau pasti kalau aku pulang kamu ingin pulang jugakan?? nanti sekalian ku antar pulang ya" jelas Jesi sembari tersenyum
Jesi berbohong karena mamanya tidak pernah menghubunginya untuk itu dan mamanya masih di luar negeri.
"ya ampun.. Jes sorry yaa kenapa kamu nggak duluan aja" Camila memegang tangan Jesi karena merasa tak enak padanya"kalau gitu ayo kita pulang"
"iya mil nggak apa-apa, ayooo...."
Mereka kemudian langsung bergegas dan segera tak lupa Jesi akan melancarkan aksinya dengan menginfokan Rehan jalan yang mereka akan lalui.
Dalam perjalan pulang Jesi mulai gelisah
maafkan aku Camila tapi ini jalan satu-satunya
Jesi yang tidak ingin terlihat tegang bersikap seperti biasanya dan mengajak Camila berbicara
"btw kak Xander baik-baik ajakan?" tanya Jesi
"hmmm iya" seketika bayangan Camila muncul lagi mengenai Xander yang menarik tangannya dan jatuh kepelukan Xander. "nggak usah bahas Jes aku nggak suka"
"hmmmm ... ok ok" Jesi tersenyum
apa telah terjadi sesuatu??? aaa tidak tidak!!! mana mungkin Camila mau seperti itu, lagi pula bila ia mengatakan tidak suka berarti memang ia tidak menyukainya.
Jalan sudah sangat sepi karena sudah jam 3 subuh tiba-tiba beberapa mobil dari arah yang sama melaju di depan mereka dan langsung memalang jalan dan 1 mobil lagi berhenti tepat di belakang mobil Jesi.
__ADS_1
Jesi langsung berhenti dan pura-pura takut " kenapa ini?"
"Jes bagaimana ini???" Camila sangat ke takutan
tak lama kemudian keluarlah orang-orang yang tak di kenal berseragam hitam dan memakai masker dari dalam mobil itu dan segera membuka pintu mobil Jesi.
Terlihat Camila berusaha menahan pintu di sebelahnya. " Jes kunci mobilnya!!!"
terlambat! orang-orang itu sudah membukanya dan segera menarik paksa Camila dan Jesi keluar
"mau apa kalian? lepaskan!!!" teriak Camila
Tapi orang-orang itu tak menjawab dan justru segera mengikat kuat tangan dan menutup mulut Camila dan Jesi dengan lakban. Meski mereka berusaha melawan tapi tetap saja tak ada gunanya.
Camila dan Jesi dipindahkan ke belakang dengan di dampingi 2 orang tersebut dan salah satu orang lainnya mengambil alih dan menyetir mobil Jesi
Dalam perjalanan Camila mengamuk-amuk dan menangis tapi sama sekali tak di hiraukan. Jesi juga bertingkah seperti itu.
Mereka dibawah ke rumah mewah yang sangat asing. Ketika sampai mereka di turunkan paksa meski menolak dan mengamuk-amuk lagi namun lagi-lagi tidak ada gunanya.
Sesampainya dalam rumah Jesi di tahan di ruang tamu oleh beberapa orang dan 1 lagi membawa Camila naik ke atas dan menuju Kamar dan setelah di buka Camila sangat kaget melihat Rehan menyambutnya dengan senyum di pintu.
"hallo sayang" sambut Rehan dan dengan tertawa lalu menarik Camila masuk
Anak buah Rehan melepaskan lakban ditangan dan mulut Camila dan segera berbalik keluar lalu menutup pintu dari luar.
Camila yang sudah tidak bisa menahan emosinya segera menampar Rehan
"kenapa?? kamu sudah gila??" ucap Camila dan menamparnya 1 kali lagi
Rehan dengan pasrahnya di tampar justru ia langsung memeluk Camila.
"sayang, aku suka caramu"
Camila berusaha melepaskan pelukan itu tapi tidak berhasil "lepaskan!! lepaskan aku!!"
Rehan tetap bertahan memeluk Camila
"Tolong Rey lepaskan aku!!" Camila terus berteriak hingga orang-orang yang ada di bawa mendengar.
Ketika perempuan-perempuan di club mendambakan ingin tidur dengan lelaki kaya raya ini tapi justru sama sekali Camila tidak tertarik padanya. Camila justru sangat jijik dengan tingkahnya yang terlalu menggila.
Pintu kamar itu dibuka sedikit saja, ada orang di balik itu dan tidak di sadari oleh Camila.
Rehan melepas pelukannya dan dengan segera Camila memukul dadanya dan mengamuk lagi tapi Rehan menahannya dan menorongnya ke tembok dan menindih badannya.
"jangan coba-coba melawan!! aku bisa saja berbuat nekat lebih dari ini bahkan temanmu Jesi juga bisa di habisi anak buahku" ancam Rehan
"tolong Rey jangan lakukan apa-apa pada Jesi" Camila terlihat sangat memohon pada Rehan, air matanya terus bercucuran.
"jangan melawan!!" Rey melepaskan tangan Camila dan mulai menghapus air mata Camila. sesekali Camila menoleh ke kanan dan ke kiri agar wajahnya tidak di sentuh lelaki itu
"berhenti bermain-main Camila!!" Teriak Rehan, "diamlah" sambungnya.
Camila hanya diam tidak mengatakan apa-apa lagi, tapi ia sama sekali tidak suka di perlakukan seperti ini.
"sayang liat mataku" ajak Rehan namun Camila justru menunduk "liat aku!!!!" teriak Rehan
Camila kemudian menurut dan menatap mata Rehan. Rehan sangat senang "Jangan melawan" Rehan langsung mengecup Camila yang hanya terdiam dan Rehan menutup matanya memperdalam ciumannya, kedua tangannya bergerak naik ke leher Camila.
Air mata Camila kembali bercucuran dan mengenai pipi Rehan seketika Rehan berhenti dan melepaskan ciumannya.
"Jangan menangis sayang, apa kamu tidak menyukai seperti ini?
Camila berusaha melawan lagi
"Camila!! diam !! apa perlu Jesi ku bawa ke sini dan ku habisi di depanmu??" ancam Rehan lagi
"Rey tolong rey, jangan lakukan apa-apa padanya" Camila memohon lagi
"kalau begitu cobalah menciumku" tawar Rehan
__ADS_1
Camila menolak dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya
Rehan kemudian memegang kuat dagunya sementara tangan kirinya dimasukkan ke dalam baju Camila di belakang.
" satu!!!..... dua!!!!!...."
Demi apa Camila segera mengecupnya walau hanya sekejap tapi ia tidak punya pilihan lain.
Rehan segera memeluknya
bodoh sekali kau Camila sayang, karena ketidaktahuanmu kau sangat perduli dan khawatir pada sahabatmu sendiri, kau tidak tau siapa dibalik jebakan ini......
Rehan berbalik ke sofa dan duduk sementara Camila masih berdiam diri menunduk di tembok.
Rehan kemudian mengambil sebatang rokok dan merokok sambil menatap Camila
"heiiii kamu perokokkan, apa kamu mau??"
Camila hanya menggeleng-gelengkan kepalanya menolak
"bagus!! bagus!! memang seharusnya tidak, kamu sungguh cantik tidak cocok bagi wanita cantik merokok" Puji Rehan sambil mengembulkan lagi asap rokoknya ke udara.
Kemudian Rehan mengambil Hpnya di meja dan menyebut nomor Camila untuk memastikannya.
"itu nomormukan sayang?? jangan coba-coba menggantinya" ancam Rehan
Camila tidak menjawab dan tetap berdiam diri, ia mengusap-usap bibirnya
aku tidak terima di perlakukan seperti ini, kenapa ini terjadi padaku?? dan dimana ia mendapat nomorku????
"pulanglah" ucap Rehan
Rehan menaruh rokoknya di asbak dan berjalan mendekat ke Camila dan membantu memperbaiki rambutnya
"jangan coba-coba menjauh dariku apalagi dekat dengan lelaki lain kalau tidak Jesi dan kamu akan dalam bahaya!! mengerti?!!!"
Camila hanya mengangguk pelan
Seseorang di balik pintu segera menutup pintu dengan pelan.
Rehan kemudian menelfon salah satu anak buahnya dan pura-pura berkata "lepaskan Jesi, jangan apa-apakan dia!!!"
Mendengar itu Camila sedikit lega, Rehan mempersilahkan Camila keluar dari kamar itu. Saat ia menuruni tangga Jesi berlari dan menghampirinya dengan menangis, Camila lalu memeluk Jesi
"Jes kamu nggak kenapa-napakan??" tanya Camila khawatir
"iya mil aku nggak kenapa-napa, justru aku yang khawatir jangan sampai kamu kenapa-napa di atas" ucap Jesi melepas pelukan dan memegang tangan Camila memasang muka khawatir dan air matanya terus brcucuran.
Ya ini hanya acting semata dari Jesi
"jangan menangis Jes" Camila menenangkannya
"matamu juga sembab karena abis nangiskan mil, sorry ya kalau saja kita tidak pulang mungkin tidak terjadi apa-apa"
"nggak apa-apa Jes, ayo kita pulang" Camila berusaha tenang.
Salah seorang anak buah Rehan mengembalikan kunci mobil Jesi. Mereka berduapun keluar dari rumah yang mengerikan itu dengan berjalan seperti orang yang tidak berdaya.
Saat mobil mereka keluar dari pagar Rehan memperhatikannya dari jendela
untuk mengambil hatimu Camila aku akan mencoba lebih halus lagi memperlakukanmu.
Dalam perjalan pulang Camila danJesi sepakat untuk tidak memberitahukan masalah ini pada siapapun.
Terlebih pikir Camila apa yang dikatakan Rehan dan semua yang terjadi di atas ia tidak mau Jesi mengetahuinya.
mungkin Rehan tau kalau partyku akan di adakan lagi di hotel itu sama seperti tahun-tahun lalu dan mungkin Rehan sudah menunggu di basement saat mereka pulang dan diam-diam mengikutinya, lalu nomorku?? dimana Rey mendapatkannya???
Camila sama sekali tidak menyadari Jesi yang telah berperan dalam jebakan ini.
BERSAMBUNG....
__ADS_1