Menikah dengan Lelaki Pilihan Kakak

Menikah dengan Lelaki Pilihan Kakak
Ancaman


__ADS_3

Rombongan Mobil mewah keluar dari basement Rumah Sakit, terlihat seorang lelaki yang di jaga ketat oleh bodyguardnya, rupanya siang ini Rehan telah diperbolehkan pulang.


tunggu pembalasanku kalau perlu aku akan membunuhmu Xander.


Dalam perjalanan pulang Rehan teringat akan Jesi dan mengingatkan akan rencana mereka lagi, sepertinya ada yang perlu dimantap lagi. Ia lalu mengambil ponsel dalam sakunya dan langsung menghubungi Jesi


"Halo, bagaimana dengan rencana kita?"


"Ha.. halo, hmm Sorry Rehan aku masih dikampus, hmm sepertinya nggak sesuai dengan rencana kita, sepulang kampus Camila akan ke Zendaya karena Ibunya Xander dirawat disana dan aku nggak tau cara mengajaknya" Terdengar suara Jesi bergetar karena takut penjelasannya itu membuat Rehan marah


Benar saja mendengar itu Rehan marah "pokoknya aku nggak mau tau, kamu harus bisa melakukan apa yang ku perintahkan, Jangan coba-coba bermain-main denganku kalau kamu masih ingin hidup tenang!!"


"tapi.....halo.. halo!! Rehan??"


Ternyata telfonnya sudah di tutup Rehan. Jesi menatap layar ponselnya "sial!! udah di tutup aja" ia jantung Jesi berdetak kencang karena merasa terancam.


kenapa jadi gini si?? gimana ni? aku harus berbohong


Jesi kemudian masuk keruangan dan berbisik pada Camila agar tidak terdengar oleh siapapun termasuk dosennya di depan.


"Mil, tadi Rehan nelfon, ngancam aku" Bisik Jesi


"ha??" Camila langsung menyerong menatap Jesi


Mau apa lagi lelaki itu, sial!!


"ussttt!! pelan mil, makanya aku takut, aku harus bagaimana?? kamu nemenin aku ya Mil" Jesi memasang wajah memelas pada Camila


Mendengar itu Camila sudah tidak bisa berkonsentrasi ke pelajaran


"ya udah, kamu tenang ya selesai ini kita bicarain lagi"


****


Selepas perkuliahan selesai Jesi dan Camila masih duduk dalam ruangan dan membiarkan mahasiswa lainnya keluar duluan.


Camila memegang tangan Jesi "ayo katakan maunya Rehan itu apa?? "


Jesi menyentak pelan tangannya hingga genggaman Camila terlepas dari pergelangannya, ia lalu berdiri dan memegang kepalanya "aku capek Mil di teror mulu', Rehan bilang kalau kita nggak ke tempatnya hari ini ia bisa saja mencari kita dan.... dan jelas kita dalam bahaya, kamu taukan seperti apa??"


Camila lalu berdiri dan memegang pundak Jesi merasa bersalah


ini semua salahku, kalau saja aku nggak ganti nomor pasti akan baik-baik saja


"Maaf ya Jes, ini karena salahku ganti nomor. jadi kita harus bagaimana???"


Jesi lalu berbalik dan bernafas dalam-dalam "Rehan maunya kita ke rumahnya"


camila menutup mata sejenk mendengar hal itu, seketika hal buruk mengenai perlakuan Rehan terhadapnya minggu lalu terlintas lagi dipikirannya.


aku harus melakukan sesuatu


"hei..Mil gimana? kita kesana sekarang?"


Camila hanya mengagguk "ayoo... mobilku biar aku tinggalin aja nti aku nelfon supir ngambil, nanti di titip di satpam depan aja kunci mobilku, oke.."


"oke..." jawab Jesi dengan lega


mari melaksanakan permainan ini Camila


Mereka kemudian mengambil tasnya di meja dan bergegas pergi.


Dalam perjalan ponsel Camila berdering, telfon dari Xander


"Halo, Xander nti kayanya aku nggak le rumah sakit de, aku baru selesai kuliah dan aku sama Jesi ...... "


Sambil menyetir Jesi yang mendengar itu langsung berbisik pada Camila "bilangin kita ada urusan bentar, tugas kuliah"


"aku sama Jesi ada urusan bentar, tugas kuliah bareng teman-teman yang lainnya juga " jelas Camila pada Xander

__ADS_1


"owww gitu, ya udah hati-hati"


"Iya, thank you"


Xander lalu menutup telfonnya. Ponsel Camila lalu berbunyi lagi tanda pesan wa masuk, pesan dari Xander yang menyuruh Camila share loc


apa aku share loc aja ya sama Xander?? nggak bakalan tau juga dia kalau aku akan ketemu Rehan


Tanpa pikir panjang Camila mengirimnya.


Setibanya mereka di depan pagar rumah mewah milik Rehan, Satpam segera membukakan pintu dan mempersilahkan masuk seperti sudah mengetahui dari awal akan kedatangan mereka.


Bebera Bodyguard telah menunggu diteras dan ketika mobil berhenti 1 dari orang berjas hitam itu segera membuka pintu untuk mobil.


"silahkan nona turun" sambut bodyguard itu setelah membukakan pintu mobil itu untuk Camila.


waaa... perlakuan mereka begitu manis jauh berbeda minggu lalu, andai saja aku puya kekuatan ku balas kalian.


Jesi juga turun dari mobil dan segera mempercepat langkahnya mendapati Camila dan berdiri di sisinya


"dimana bos kalian??" Tanya Jesi pada para bodyguard yang berjejer berdiri sembari tunduk seolah sedang menyambut tuan rumah.


"mari silahkan saya antar ke dalam" orang itu mempersilahkan dengan menunjukkan jalan menuntun mereka masuk, Camila dan Jesi mengikuti orang tersebut


Namun salah 1 dari bodyguard itu spontan menahan Jesi "maaf anda tidak boleh masuk, hanya nona Camila yang masuk" jelasnya


" kenapa?? nggak bisa gitu dong" Jesi memasang wajah emosinya seakan tidak terima perlakuan pria itu terhadapnya


Camila menoleh ke arah Jesi "aku nggak apa-apa Jes, kamu dia luar aja biar aku aja yang masuk"


Ini urusanku, aku harus sebisa mungkin tidak melibatkan Jesi, aku kasian padanya


"tapi Mil... heii Mil" Jesi lalu berhenti memanggil Camila saat pintu itu di tutup


ini di luar rencana awal, aku jadi sedikit khwatir pada Camila


Sementara itu Camila diarahkan menuju kolam renang belakang, nampak seorang pria duduk di kursi panjang tepi kolam sedang menikmati jus dengan memakai handuk, sepertinya habis berenang, ya itu Rehan.


Belum sempat Bodyguard yang mengantarnya itu mempersilahkam Camila mendekati tuannya, Camila lalu melangkah cepat dan mendahuluinya, Rehan yang melihat keberaniannya itu lalu segera berdiri menyambut Camila dengan senyum.


Diluar dugaan sesampainya Camila di hadapannya sebuah tamparan keras diterima Rehan, bodyguardnya langsung memegang kedua tangan Camila "nona anda lancang sekali!!" tegurnya


Rehan memegang pipinya yang terlihat memerah "lepaskan dia, keluar semuanya" perintah Rehan pada para bodyguardnya.


Kini hanya ada mereka berdua di tepi kolam itu.


"Rey apa maumu?? aku nggak mau sama kamu, aku nggak suka perlakuan kamu! aku nggak suka kamu ngancam-ngancam Jesi!!" Teriak Camila sambil mengentakkan kakinya didepan Rehan


Mendengar itu Rehan hanya mengerutkan dahinya lalu tertawa kecil merasa lucu dengan tingkah Camila itu


"usstt!! pelankan suaramu" Rehan lalu berbalik dan meninggalkan Camila menuju kamarnya


"hei... heiii!!!" Teriak Camila lagi


apa ia pikir aku akan mengejarnya?? cuii!! ini kesempatanku segera pulang


Camila lalu cepat-cepat berlari keruang tengah lalu mendapati pintu yang ia lewari tadi, namun sayangnya terkunci. Camila lalu menyusuri tiap sudut rumah besar dan mewar itu untuk mencari jalan keluar namun tidak didapatinya juga


sial!! gimana caranya aku keluar??


"heii!!!" Tegur Rehan dari lantai 2 yang telah berganti pakaian, ia lalu turun dan berjalan menuju Camila yang berdiri di sudut dekat dapur "aku belum mengijinkanmu pulang sayang"


"jangan mendekat" Camila mulai khawatir


"kenapa? aku rindu" goda Rehan


"nggak" Camila menggeleng-gelengkan kepalanya dan semakin mundur ke belakang untuk menghindari tangan Rehan yang mulai menyentuh wajahnya "tolong Rey, kita bisa bicara baik-baik, tapi jangan menyentuhku" Camila semakin mundur hingga punggungnya terbentur ke tembok.


Rehan semakin mendekatnya "aku menyukaimu, tapi kau telah menyakitiku, aku bisa maafkan perkelahian aku dengan Xander gara-gara kamu tapi aku kecewa kamu mengganti nomormu" Mimik wajah Rehan semakin serius, ia kemudian meraih dagu Camila "kamu nggak mau aku menghubungimu??"

__ADS_1


Camila memegang tangan Rehan berusaha melepas tangan Rehan dari dagunya tapi tidak bisa mengalahkan tenaga Rehan.


Rehan lalu mengecup lembut Camila. Camila hanya terdiam


"kamu ingin aku membalas menciummu???" tanya Camila


Rehan belum menjawab pertanyaan itu, Camila lalu mencium Rehan. Camila memperdalam ciumannya hingga tak lama kemudian Camila berpindah menciumi leher Rehan.


Rehan sangat menikmatinya sementara hati Camila tidak bisa berbohong, air matanya bercucuran sambil meneruskan mencium leher Rehan.


Tiba-tiba Camila melepas ciumannya dan mendorong keras Rehan lalu meludah ke lantai


"yang seperti itukan yang kau inginkan??? kamu nggak cinta Rey sama aku, aku tau sifat aslimu dari dulu, kau bukan orang yang setia. kau hampir tiap malam ke club berganti-ganti wanita disana, apa kamu belum puas dengan mereka??"


Rehan mengangguk-angguk tersenyum seolah setujuh dengan perkataan Camila


"yaa ... tapi aku sungguh mencintaimu, atau kita menikah saja?? akan ku tunjukkan padamu caraku mencintaimu"


"kau sudah gila, aku ingin pulang" Camila melangkahkan kakinya menuju pintu


Rehan lalu berjalan kearahnya dan menarik Camila, dan menamparnya hingga terjatuh ke lantai.


"ini akibatnya kalau kau berani-berani berkata seperti itu padaku"


Rehan lalu mengangkat Camila ke belakang menuju Kolam dan menghempaskannya ke kursi panjang "jangan berani-berani melawanku!!"


"Aku mau pulang" Teriak Camila


Rehan membuka bajunya namun dari arah belakangnya seseorang menendang kepalanya hingga terjatuh kelantai.


Tanpa sepatah kata pun Xander yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi segera menendang Rehan membabi buta dan menginjak lehernya.


Menyaksikan itu Camila sangat ketakutan, ia segera memeluk Xander dari belakang "tolong sudah, sudah!!! Xander bawa aku keluar dari sini"


Xander tidak memperdulikan Camila dan terus menendang Rehan yang sudah tidak berdaya hingga mengeluarkan darah segar dari mulutnya. Camila lalu menarik paksa Xander namun di tepis keras.


"Xander!!!" teriak keras Camila, air matanya kembali bercucuran.


Dari arah belakang Jesi datang berlari dan segera memegang Camila "Mil kamu nggak apa-apa??"


Mendengar suara Jesi, Xander lalu menghentikan tendangannya pada Rehan dan berbalik menunjuk Jesi "aku tau kamu!! hati-hati denganku, pulanglah"


Xander lalu menarik Camila dan membawanya keluar dari rumah itu. Camila semakin ketakutan ketika didapatinya para bodyguard Rehan tergeletak tak berdaya di lantai.


Xander lalu menuju mobil Jesi dan mengambil tas Camila.


"Mil, Mil!! " panggil Jesi dari dalam rumah


"Xander, apa maksudmu menarikku seperti ini??" Camila tidak mengerti dengan ucapan Xander terhadap Jesi tadi.


"Diamlah" Xander terus menggenggam tangan Camila dan memaksanya mengikutinya menuju mobilnya lalu membukakan pintu mobil untuknya, Camila menurut dan masuk dalam mobil itu.


Segera mereka meninggalkan tempat itu.


Xander menyetir dengan sangat laju, ia masih sangat emosi. Di tengah perjalanan ia lalu menepi dan memarkir mobil, ia menatap lurus mengatur nafasnya yang masih menggebu-gebu


"Xander" sebut Camila pelan menyentuh jemari Xander diatas stir mobil.


Xander luluh dengan itu, ia kemudian menyerong menatap Camila "kamu nggak apa-apa?? lain kali jangan berbohong, jangan kesana lagi" Xander lalu mendekat pada Camila dan memeluknya "jangan membuatku takut Camila"


Camila melingkarkan kedua tangannya pada Xander dan memeluknya erat " aku minta maaf, tadi... "


"ussst!! udah-udah jangan bahas itu lagi" Xander mengelus-elus punggung Camila berusaha menenangkannya "Aku akan mengantarmu pulang, oke?"


Camila mengangguk "terima kasih"


"hmmm iya"


BERSAMBUNG....

__ADS_1


__ADS_2