Menikahi Janda Tetangga

Menikahi Janda Tetangga
Keributan di Pagi Hari


__ADS_3

"Malam ini, aku pulang agak telat ya, Mas... Ada meeting sampai malam."


Aditya menghela nafas berat, lalu menghembuskannya dengan kasar. Dia sengaja mengacuhkan ucapan sang istri, Rania, yang disampaikan dengan cara sedikit berteriak dari dalam kamar. Ini bukan untuk yang pertama kalinya, tapi sudah hampir 4 tahun terjadi. Sejak Rania bekerja, dia lebih sering pulang ke rumah hampir tengah malam. Satu tahun terakhir ini, adalah hang paling parah. Rania tak pernah lagi pulang sebelum magrib atau isya, layaknya pegawai perusahaan yang lain. Mungkin karena sudah bosan, Aditya sengaja tak mau berkomentar apa pun setiap kali istrinya itu meminta izin pulang malam.


"Ini, Pak."


Aditya tersentak dari diamnya, begitu mendengar suara sang asisten rumah tangga yang mengantarkan secangkir kopi panas untuknya.


"Terima kasih, Mbak."


"Sama-sama, Pak."


Sang asisten rumah tangga yang dipanggil "mbak" pun berlalu meninggalkan Aditya, kembali ke ruang kerjanya, yaitu dapur.


"MAS!!"


Aditya melonjak kaget mendengar teriakan Rania yang tiba-tiba, dia langsung berbalik badan menghadap sang istri. Rania sedang berdiri di ambang pintu kamar dengan berkacak pinggang dan kedua mata melotot marah menatap Aditya.


"Kamu dengar aku bicara nggak sih?! Kenapa diam saja?! Lagi asyik memandang si Mbak, ya?!"


"Astaghfirullahaladzim, Dek!! Omonganmu kenapa ngelantur gitu sih?!"


"Habisnya, kamu diajak ngobrol nggak ngerespon!! Malah asyik ngobrol sama si Mbak!! Udah jatuh bangdt seleramu sekarang, Mas?!"


Aditya yang kesal dituduh melakukan sesuatu yang tidak dia lakukan, segera berbalik badan dan kembali menatap roti bakar buatan si mbak sambil mendengus kesal. Lekas diangkatnya roti bakar tersebut dan dibawanya masuk ke dalam mulut.

__ADS_1


"Jadi bener? Kamu itu tertarik sama si Mbak?! Iya?!"


Tiba-tiba saja Rania sudah berada di samping Aditya, berdiri dengan pongah masih dengan membawa amarah yang tak beralasan.


"Bener-bener kamu ya, Mas!! Aku selalu setia ke kamu!! Aku mati-matian bekerja dan menjaga penampilan untuk kamu!! Bisa-bisanya kamu lebih tertarik pada pembantu!!"


Pakkk


Aditya melempar roti bakar yang tadi sedang dia nikmati ke atas meja, lalu bangkit dan menghadapkan tubuh ke arah Rania.


"Kemarin kamu tuduh aku main mata dengan istri tetangga!! Minggu lalu, kamu tuduh aku ada main dengan sekretarisku!! Hari ini, kamu menuduh aku menyukai si Mbak!! Ada apa dengan kamu, Ran?!"


Aditya tak memanggil Rania dengan panggilan "Adik" lagi, emosinya sudah memuncak, dia mulai muak melihat tingkah sang istri.


"Jangan sampai aku mewujudkan semua tuduhan-tuduhanmu itu, Ran!! Aku sedang sarapan dan kau meminta aku fokus pada ucapan-ucapanmu!! Setiap hari lembur!! Setiap hari sibuk!! Sudah empat tahun, Ran!! Sejak kamu mulai bekerja, kedua tanganmu tak pernah lagi kau gunakan untuk melayaniku!! Istri macam apa kamu?!"


"Aku kan kerja, Mas!! Mengertilah!!"


"Kalau begitu, berhentilah bekerja!! Gajiku masih cukup untuk menanggung semua kebutuhanmu dan rumah tangga kita!!"


Rania terdiam, dia sama sekali tak mau berhenti bekerja. Selain karena dia tak mau menghabiskan waktunya hanya dengan mengurusi rumah tangga, dia juga tak mau waktunya memadu kasih dengan lelaki pujaan hatinya jadi hilang.


"Enak saja!! Nggak mau!! Aku nggak mau berhenti bekerja!!"


Aditya mendengus kesal, dia sudah tahu kalau Rania akan menjawab seperti itu.

__ADS_1


"Kalau begitu, jangan salahkan aku jika aku mencari istri lagi untuk melayani semua kebutuhanku. Dan juga... Jangan salahkan aku jika uang gajiku kupakai untuk perempuan itu!!


Aditya langsung keluar dari kursi makan, beranjak menjauh dari sang istri yang masih kaget dengan ucapannya.


"MAS ADIT!! APA MAKSUDMU?!"


Rania mengejar langkah Aditya, kemudian menahan langkah Aditya dengan cara menarik salah satu tangan suaminya itu saat dia berhasil menyamakan langkah.


"Jelaskan kepadaku apa maksud ucapanmu itu?! Kamu ingin menikah lagi?! Kamu ada main dengan wanita lain di belakangku?! Iya, Mas?!"


Aditya menatap nyalang wajah sang istri yang sombong, lalu menyunggingkan senyuman jahat untuk istrinya itu.


"Aku menikah untuk hidup bersama dengan perempuan yang aku cintai dan juga mencintai aku, perempuan yang rela melihat tangannya menjadi kasar dan kukunya menjadi rusak, hanya untuk mengurusi semua kebutuhanku."


Aditya diam sejenak, menahan air mata yang hendak mengalir dari kedua bola matanya yang lelah. Sudah empat tahun dia memahami kesibukan sang istri, tak pernah sekali pun protes atau menuntut terlalu banyak perhatian dari istrinya itu. Tapi, Rania semakin hari malah semakin menjadi-jadi. Bahkan sudah tak mau lagi mengurusinya, sekali pun hanya membuatkan sscangkir kopi untuk sarapan pagi ssbsljm ke kantor.


"Aku butuh ditemani perempuan yang rela waktu istirahat malamnya terganggu untuk sama-sama menuntaskan hasrat dan berbagi cinta denganku. Ngobrol banyak hal hingga ke hal-hal yang terkecil sekalipun, mendengarkan kegelisahanku, memberikan semangat untukku dalam bekerja dan memelukku dengan hangat setiap aku pulang bekerja."


"Apa kau bisa memberikan semua hal itu kepadaku, Ran? Tidak, bukan? Kau sibuk bekerja, sibuk dengan dirimu sendiri, bahkan jika kau ingat, sudah hampir enam bulan kau tak memberikan hak ku sebagai suami. Kau semakin sombong dan tak bisa kusentuh... Dan aku sudah MUAK!!"


"Kita bersama, tinggal di bawah satu atap, tapi sibuk dengan urusan masing-masing. Aku rasa, hubungan kita semakin hari semakin tidak sehat! Selama ini aku diam, bukan berarti aku setuju dengan waktu bekerjamu yang tak beraturan seperti ini! Aku justru jadi bertanya-tanya, berapa kau digaji perusahaanmu selama ini, hingga kau mau saja bekerja setiap hari hingga larut malam!"


"Aku capek, Ran!! Aku membutuhkanmu! Tapi, kau justru tak peduli pada apa yang aku mau. Sekarang terserah!! Terserah apa yang mau kau lakukan!! Tapi ingat!! Jangan pernah halangi apa pun yang mau aku lakukan!! Hidup saja sendiri-sendiri!! Urus diri masing-masing dan nafkahi diri sendiri-sendiri juga! Kau tak pernah lagi menjalankan kewajibanmu sebagai istri, maka aku tak perlu lagi menjalankan kewajibanku sebagai suami!!"


Aditya lekas menghadapkan tubuhnya ke arah pintu rumah yang terbuka lebar, kemudian melanjutkan langkah menuju mobil miliknya yang sudah stand by di garasi. Beberapa menit kemudian, suara mesin mobil menyala, lalu menghilang bersama derunya yang hampir tak terdengar.

__ADS_1


"Heh!! Banyak sekali keinginanmu, Mas!! Coba saja kalau kau berani mengkhianati aku, kupastikan kau akan menyesal!!"


Rania kembali berbalik badan, lalu berjalan menuju kamar yang sudah hampir setahun ditempatinya sendiri. Tak ada yang tahu kalau kedua pasangan suami istri ini sudah setahun pisah ranjang. Itu karena Aditya mulai terganggu dengan jam pulang bekerja sang istri yang selalu larut malam. Di saat sang suami sudah terlelap, baru lah Rania sampai di rumah. Tentu saja setelah bersenang-senang dengan sang kekasih, sekaligus memberikan kenikmatan duniawi pada kekasih gelapnya itu.


__ADS_2